Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Tak Bertemu


__ADS_3

Aisyah berjalan menyusuri lorong hotel bersama Ainun, hingga ia berhenti tepat di depan pintu kamar di mana Ainun berdiri.


"Ini kunci kamarmu." Ainun menyerahkan sebuah key card lain kepada Aisyah.


"Loh, bukannya kita sekamar yah seperti biasanya?" tanya Aisyah sedikit heran.


"Iya sih, tapi itu dulu sebelum kamu nikah, sekarang kan kamu punya suami, nanti kalau dia mau nginap sama kamu kan aman, aman untuk jomblo sepertiku," seloroh Ainun disertai tawa kecil di belakangnya yang seketika memunculkan semburat merah di wajah wanita bercadar itu.


Suami? Aisyah hampir saja lupa jika dia sudah memiliki suami lantaran tidak pernah sekali pun berkomunikasi dengan pria yang harusnya ia panggil suami itu.


"Udah-udah, sebaiknya kamu masuk di kamarmu untuk istirahat dulu, 30 menit lagi kita ke rumah sakit." Tanpa aba-aba, Ainun mendorong Aisyah menuju kamar yang berada tepat di samping kamarnya, tak lupa ia membukakan pintu untuk Aisyah.


Di sisi lain, Akmal tampak sedang bersiap-siap untuk terbang ke Indonesia malam ini. Karena besok pagi, ia memiliki meeting dengan rekan bisnisnya yang mengharuskan dirinya langsung bertemu dan tidak bisa diwakilkan.


"Ma, Akmal berangkat dulu. Tolong kabari Akmal perkembangan Bang Zafran, yah," pamit pria itu sembari mencium tangan Ibu Shalwa lalu berlanjut ke tangan Ibu tangan Sofi.


"Tante, Akmal berangkat dulu, insya Allah setelah pertemuan besok Akmal akan langsung kembali ke sini," ucapnya dan langsung mendapat anggukan dari Ibu Sofi.


"Akmal, kamu tahu kan ke mana kamu harus tinggal di sana nanti?" tanya Ibu Shalwa memberi ultimatum secara tidak langsung, karena selama ini ia merasa anak dan menantunya itu masih saling canggung.


"Di rumah Aisyah kan?" jawab pria itu pelan agar tak terdengar oleh Zafran yang sedang bercerita dengan Aira.


"Bagus," ucap wanita paruh baya itu singkat.


Setelah berpamitan dengan Ibu Shalwa, Ibu Sofi, Zafran, dan Aira, Akmal langsung pergi meninggalkan rumah sakit menuju bandara.


Tak berselang lama, Aisyah dan Ainun tiba di rumah sakit. Mereka hanya datang berdua, sementara Khaira tinggal bersama Ibu Lina dan Kiai Rahman, sebagaimana saran mereka sendiri yang keberatan jika anak kecil seperti Khaira di bawa kesana-kemari lintas negara.


"Assalamu 'alaikum," ucap Aisyah masuk ke dalam kamar tersebut diikuti oleh Ainun di belakangnya.


"Wa'alaikum salam," jawab semua orang yang ada di situ.

__ADS_1


"Aisyah, Ainun," Ibu Sofi dan Ibu Shalwa langsung berdiri saat kedua wanita itu menghampiri dan mencium punggung tangan mereka secara bergantian.


"Loh? Apa kamu tadi ketemu dengan Akmal?" tanya Ibu Shalwa kepada Aisyah.


Wanita bercadar itu mengerutkan kening sembari menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ma," jawabnya.


"Astaga," ucap Ibu Shalwa langsung menarik tangan Aisyah untuk berbicara berdua. "Apa kalian tidak pernah berkomunikasi? Akmal baru saja meninggalkan rumah sakit untuk pergi ke Indonesia," lanjutnya dengan kening yang mengerut dalam.


Ekspresi terkejut terlihat jelas di mata Aisyah, tapi ia tak tahu harus berkata apa saat ini, lidahnya bahkan terasa kelu untuk hanya sekadar menjawab pertanyaan dari mertuanya itu.


"Jujur sama mama, Nak," pinta Ibu Shalwa.


"Ma-maaf, Ma. Aisyah takut menghubungi Akmal, sepertinya dia tidak menyukai pernikahan ini," cicit Aisyah sembari tertunduk.


Ibu Shalwa membuang napas kasar sembari menggelengkan kepalanya.


"Nak, mama tahu kalian nikah mendadak tanpa persiapan hati, tapi jika kamu seperti ini, dan Akmal pun melakukan hal yang sama, kapan kalian bisa dekat, bahkan kata akrab pun akan mustahil bagi kalian." Ibu Shalwa menghentikan perkataannya sejenak saat melihat menantunya tertunduk dalam tak berani mengangkat wajahnya.


"I-iya, Ma. Insya Allah Aisyah akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Akmal. Mohon doanya, Ma," lirih Aisyah.


"Pasti, Nak," jawab Ibu Shalwa.


Tak lama setelah itu, Aira ikut menghampiri ibu dan kakak iparnya.


"Maaf, Ma, Akmal kenapa kembali ke Indonesia?" tanya Aisyah hati-hati.


"Ingin bertemu kakak, dong. Tapi sepertinya takdir belum mengizinkan kalian bertemu," celetuk Aira menjawab pertanyaan Aisyah.


"Huss, kamu itu!" Ibu Shalwa menegur putri bugsunya itu agar tidak sembarangan saat bicara.


"Akmal besok akan meeting dengan rekan bisnisnya. Mama suruh dia untuk tidur di rumah kamu, tapi kamu malah di sini."

__ADS_1


"Biarin aja, Ma. Biar tahu rasa Kak Akmal, siapa suruh nggak hubungi Kak Aisyah dulu," ujar Aira yang langsung mendapat teguran lagi dari Ibu Shalwa.


Sementara itu Ainun langsung mengajak Ibu Sofi untuk berbicara mengenai maksud kedatangannya mereka.


"Bu, maaf sebelumnya, apa Pak Zafran sudah menemukan donor ginjal?" tanya Ainun. Ia dan Ibu Sofi saat ini sedang duduk di samping tempat tidur Zafran yang sudah terlelap beberapa menit sebelum mereka datang.


Ibu Sofi tampak membuang napas lesu. "Belum, Nak. Kami masih berusaha mencarinya."


"Begini, Bu. Saya memiki teman di Kairo seorang dokter. Kebetulan di sana ada pasiennya yang mengalami mati otak selama lebih 5 tahun. Oleh kedua orang tua, mereka sudah mengikhlaskan kepergiannya, dan mereka bersedia untuk menjadikankannya pendonor organ, mereka ingin anaknya itu bisa memberikan manfaat kepada orang lain hingga akhir hayatnya, sebagaimana saat ia masih hidup dulu," terang Ainun.


"Benarkah? tapi apa ginjalnya cocok?"


"Tenang saja, Bu. Mereka sudah melakukan pemeriksaan sebelumnya dengan bekerja sama dengan dokter di sini, dan alhamdulillah hasilnya cocok. Bahkan pasien itu sudah datang kesini beserta teman saya," jelas Ainun.


Tanpa di sangka, Ibu Sofi langsung sujud syukur, lalu bangkit dan memeluk Ainun.


"Terima kasih, Nak. Alhamdulillah, Allah sudah menjawab doa ibu dan kesabaran Zafran," ucap Ibu Sofi masih berada di posisi yang sama dengan suara bergetar.


⚓⚓⚓


Di tempat lain, Akmal baru saja tiba di bandara. Ia masih begitu bingung kemana ia harus pergi di malam yang sudah mulai larut ini. Di tengah kebingungannya, notifikasi pesan masuk di ponselnya berbunyi.


Aisyah


Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Ini Aisyah, sekarang aku sedang di Singapura bersama Ainun, maaf karena tidak meminta izin kepadamu, kupikir kamu ada di sini, tapi ternyata kata Mama kamu sedang di Indonesia. Bermalamlah di rumah, biasanya Abi belum tidur saat jam begini, Khaira pasti merindukan kamu juga. Oh iya kamarku ada di lantai dua yah. Selamat beristirahat.


Akmal menarik kedua ujung bibirnya saat melihat pesan dari nomor yang selama ini telah ia simpan tapi tak berani menghubunginya. Ada rasa bahagia dan lega mendapat pesan itu, meski nanti ia tidak menemukan Aisyah di rumahnya, setidaknya ia tahu keberadaan istrinya itu jika saja sang mertua menanyakannya.


Benar, Aisyah memang wanita sholehah yang tahu bagaimana cara memposisikan diri meski berada di tempat yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2