Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Bertemu Via


__ADS_3

Akmal menggandeng tangan Aisyah keluar dari mobil. Mereka berjalan bersama menuju ke gedung di mana pesta Pak Andreas sedang berlangsung.


"Halo Aisyah, Akmal, ternyata kalian datang juga," sapa Via yang berada di depan pintu masuk dengan begitu ramah.


Akmal menatap tajam wanita itu, ia mengerutkan alisnya melihat sikap Via yang tiba-tiba berubah seolah sangat menerima kehadiran Aisyah dan dirinya, padahal kemarin ia sengaja ingin melakukan sesuatu yang bisa meretakkan rumah tangganya.


Berbeda dengan Akmal, Aisyah justru memperlihatkan senyumannya kepada wanita itu.


"Sementara Akmal berbincang-bincang dengan Pak Andreas, kita ke sana yuk, kebetulan di sana banyak rekan kerja wanita, biar aku memperkenalkanmu kepada mereka," ujar Via sembari menunjuk ke arah teman-temannya.


Akmal mengeratkan genggamannya pada tangan Aisyah, membuat wanita bercadar itu menoleh ke arahnya. Terlihat gelengan kecil dari pria itu.


"Akmal, apa kamu mau istri cantikmu ini menjadi pusat perhatian di tengah kaum adam sana? Iya kalau pikiran mereka baik, kalau kotor gimana? tutur Via.


Akmal masih bergeming, apa yang dikatakan Via memang benar, Akmal harus menyapa si pemilik acara terlebih dahulu, tapi ia tidak ingin istrinya berada di tengah kaum adam yang sedang berkumpul bersama Pak Andreas. Namun di sisi lain, ada rasa khawatir kepada sang istri jika ia pergi bersama Via tanpa dirinya.


Padahal niat awalnya ia hanya ingin menghindari fitnah jika pergi seorang diri karena ia tahu Via pasti akan hadir. Tapi setelah datang di sini, rasanya ia ingin segera pulang.


Aisyah tersenyum menatap Akmal yang tampak berpikir keras. Diusapnya dengan lembut lengan sang suami hingga membuat pria itu menatap ke arahnya.


"Nggak apa-apa, Mas. Pergilah menyapa Pak Andreas sementara aku akan menunggumu bersama mereka," ujar Aisyah sembari menganggukkan kepala.


"Ya udah, kalau gitu, aku akan menyapa Pak Andreas sebentar, lalu kita akan pulang." Akmal mengusap lembut kepala Aisyah yang tertutup kerudung, lalu pergi.


Via menatap punggung Akmal yang semakin menjauh lalu beralih menatap Aisyah. "Yuk," ajaknya sembari menarik tangan wanita bercadar itu.


"Hay guys, kenalin, ini istrinya Pak Akmal, namanya Aisyah." Via memperkenalkan Aisyah kepada teman-temannya yang memakai gaun seksi seperti dirinya.


Kehadiran Aisyah membuat mereka saling memandang satu sama lain, satu per satu dari mereka menatap Aisyah dari atas ke bawah seolah sedang menjadi juri busana.


"Pak Akmal yang dari PT. ZK itu yah?" tanya salah satu temannya.

__ADS_1


"Iya," jawab Via sembari melihat ponselnya. "Eh aku angkat telepon dulu yah, kalian kenalan aja dulu," ucap Via lalu pergi meninggalkan Aisyah bersama teman-temannya.


"Aku dengar kamu udah nikah siri duluan yah sebelum resepsi pernikahan kalian, kenapa?" tanya salah satu wanita itu.


"Jangan bilang kamu tekdung duluan," selidik temannya yang lain.


"Nggak kok, kami punya alasan sendiri kenapa nikah siri lebih dulu," jawab Aisyah tetap tenang.


"Kok bisa sih Pak Akmal mau sama kamu, kalau di bandingkan dengan Via, dia itu jauh lebih cantik dan seksi loh," ujar salah satu dari mereka.


"Kenapa Via?" tanya beberapa temannya.


"Hah? Memangnya kalian nggak tahu, Pak Akmal itu mantan terindahnya Via, malahan mereka hampir nikah loh."


"Wah, sayang sekali padahal mereka serasi sekali jika dilihat."


Mereka kini berbicara seolah Aisyah tidak ada bersama mereka. Meski begitu Aisyah hanya menanggapinya dengan santai, ia berusaha keras untuk tidak terbawa perasaan apalagi sampai terpancing emosi.


Hingga salah satu dari wanita itu menghampiri Aisyah dan memegang cadarnya. "Kenapa kamu pakai ini? Apa kamu sedang menutupi wajahmu yang tidak se-good looking Via?" sarkasnya, membuat mereka semua tertawa mengejek ke arah Aisyah.


Aisyah mulai mengernyitkan alisnya saat apa yang ia pakai mulai mendapat cibiran.


"Aku tidak tahu dikalangan orang terpelajar seperti kalian masih ada yang pemikirannya primitif," ujar Aisyah, membuat semua wanita yang tadinya menertawainya seketika terdiam.


"Eh, kamu ngatain kami primitif?" tanya salah satu wanita itu sembari menatap tajam Aisyah.


"Jika pakaianku yang seperti ini kalian katakan ketinggalan zaman, lalu bagaimana dengan pakaian kalian yang katanya mengikuti perkembangan zaman tapi semakin lama semakin terbuka dan memperlihatkan tubuh? Jika seperti itu pemikiran kalian, berarti dia jauh lebih modern dari kalian," ucap Aisyah sembari menunjuk ke arah seekor kucing peliharaan yang di gendong oleh seorang anak kecil.


"Apa kamu bilang?" salah satu wanita itu menghampiri Aisyah dengan tatapan tajam.


"Maaf sebelumnya, aku tidak ada maksud menyamakan kalian dengannya, aku hanya membuat perumpamaan, semoga kalian bisa mengerti maksudku," lanjutnya dengan begitu tenang.

__ADS_1


"Dasar jal*ng, nyatanya Via jauh lebih cocok bersama dengan Pak Akmal, kamu tidak ada apa-apanya," cibir salah satu wanita itu yang mulai tersulut emosi dan hendak menarik paksa cadar Aisyah.


Sayangnya, tangan Aisyah jauh lebih cepat mencegah tangan wanita itu untuk menyentuh cadarnya.


"Jangan sentuh cadarku!" tegas Aisyah sembari menyentakkan tangan wanita itu.


"Kalian tidak perlu membandingkan aku dengan Via karena itu tidak akan mempengaruhi aku," ujar Aisyah lalu beranjak pergi.


"Aisyah, kamu mau kemana?" tanya Via yang baru saja tiba, membuat Aisyah menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Via.


"Aku ingin ke sana," ucap Aisyah sembari menunjuk ke arah Akmal.


"Dia masih berbicara dengan Pak Andreas, kemarilah dulu dan mimum ini." Via menyodorkan segelas jus jeruk kepada Aisyah.


Kebetulan saat ini kerongkongan Aisyah terasa kering setelah banyak berbicara tadi, membuatnya merasakan sedikit haus, dan tanpa rasa curiga sama sekali, Aisyah menerima jus jeruk itu.


"Terima kasih," ucap Aisyah. Wanita itu langsung mencari tempat duduk dan meminum jusnya hingga tersisa setengahnya.


Via dan teman-temannya tersenyum miring ke arah Aisyah. "Kita akan lihat pertunjukan memalukan setelah ini," bisik Via kepada teman-temannya, membuat mereka semua menatap Aisyah dengan tatapan tidak sabar


Benar saja, beberapa menit kemudian, Aisyah merasakan kepalanya mulai pusing dan ada rasa tidak nyaman di tubuhnya.


"Astaghfirullah, badanku kenapa yah?" batin Aisyah berusaha tetap tenang sembari melirik ke arah Via dan teman-temannya yang sejak tadi menatap ke arahnya seolah sedang menantikan sesuatu.


"Apa ini ulah Via? Apa dia memberiku alkohol?" batin Aisyah menerka sembari menahan tubuhnya agar tidak memperlihatkan reaksi apa pun.


"Kok nggak bereaksi sih?" tanya salah satu teman Via berbisik.


"Sabar, tunggu aja dulu," jawab Via ikut berbisik.


"Lama banget sih, aku nggak sabar loh mau lihat pertunjukan."

__ADS_1


"Sabar napa sih, paling juga obatnya udah mulai bereaksi."


-Bersambung-


__ADS_2