
Subuh yang begitu sejuk dengan alunan suara santri yang membaca Al-Qur'an setelah sholat subuh, semakin menambah kesejukan hingga sampai ke hati.
Aisyah duduk bersama kedua orang tuanya di ruang keluarga sembari berbicara serius. Ia menceritakan tentang perkataan Zaid kepadanya kemarin tanpa ada yang di tutupi.
"Ummi, Abi, Aisyah ingin meminta izin untuk menolong anak itu," ucap Aisyah hati-hati.
"Tidak!" tolak Ibu Lina tegas. "Ummi tidak sudi darahmu mengalir di dalam darah anak dari pria pengkhianat itu, Aisyah," lanjutnya.
"Tapi, Ummi. Anak itu sangat membutuhkan bantuan Aisyah sekarang, nyawanya bisa saja dalam bahaya jika tidak segera di operasi," ujar Aisyah.
"Tapi dia anak Zaid, Sayang. Ummi benar-benar tidak sudi kamu membantu mereka, biarkan saja, anggap itu adalah hukuman untuk Zaid," tolak Ibu Lina.
"Maaf, Ummi. Bukannya Aisyah ingin menggurui, Zaid memang salah, tapi anaknya tidak. Dia mana tahu jika ayahnya seperti itu? Apakah anak sekecil itu harus menerima konsekuensi dari perbuatan yang tidak pernah ia lakukan?" tanya Aisyah, membuat Ibu Lina terdiam.
"Tapi Sayang, ..."
"Yang dikatakan Aisyah benar, Ummi. Kita mungkin masih kecewa dengan pria itu, tapi kita tidak bisa memberikan perlakuan yang sama dengan anaknya, walau bagaimana pun juga dia tidak tahu apa-apa, dan yang terpenting, selagi masih bisa membantu untuk kebaikan, kenapa tidak? Kita berdoa saja, semoga anak itu keĺak menjadi anak sholeh sehingga saat ia beribadah, Aisyah bisa ketularan pahala kebaikannya," terang Kiai Rahman menyela perkataan istrinya.
Ibu Lina membuang napas lesu, jujur saja ia masih keberatan, tapi ia juga membenarkan apa yang dikatakan suami dan putrinya.
"Hufth, baiklah. Jadi kapan kamu akan ke sana? Dan sama siapa? Ummi tidak akan mengizinkan jika kamu hanya pergi sendiri apalagi berdua sama pria itu." Sebuah ultimatum langsung dilayangkan oleh Ibu Lina kepada Aisyah.
"Iya, Ummi. Insya Allah Aisyah akan berangkat pagi ini bersama Ainun," jawab Aisyah dengan senyum bahagia. "Terima kasih, Ummi, Abi," lanjutnya sembari memeluk kedua orang tuanya dengan sayang.
Saat matahari pagi mulai memancarkan sinarnya dan menyebarkan kehangatannya, seorang gadis cantik dengan pakaian muslimahnya memasuki halaman rumah Kiai Rahman. Senyuman indah tak pernah lepas dari wajahnya tatkala menyadari sebentar lagi ia akan bertemu dengan sahabatnya sejak masih menimba ilmu di pesantren.
Aisyah yang sejak tadi menantikan kedatangan Ainun langsung menghambur memeluk sahabatnya itu saat ia tiba di depan pintu rumah yang sengaja di buka.
"Assalamu 'alaikum," sapa Ainun sembari membalas pelukan Aisyah.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam, akhirnya setelah sekian lama hilang dari bumi, kamu muncul juga," jawab Aisyah di sertai candaan sambil melepas pelukannya.
"Apaan sih? Namanya juga fokus kuliah, jadi no hape hape, kecuali untuk orang tua. Bahkan sampai sekarang aku masih single juga karena itu," ujarnya sembari tertawa pelan.
Cukup berbincang sebentar, Aisyah membawa Ainun untuk bertemu dengan ayah dan ibunya yang saat ini sedang bersantai di ruang keluarga.
"Assalamu 'alaikum Abi, Umi," ucap Ainun lalu mencium punggung tangan Ibu Lina.
"Wa'alaikum salam," jawab Kiai Rahman.
"Wa'alaikum salam, Ainun, akhirnya datang juga. Makin cantik aja kamu, Nak," jawab Ibu Lina disertai pujian tentu saja.
"Ah, Ummi bisa aja, mau bagaimana pun tetap Aisyah yang paling cantik dan istimewa, buktinya udah jadi istri sholehah dia," ujarnya sembari mengerlingkan mata kepada Aisyah.
Namun, seketika senyuman di wajah Ibu Lina dan Kiai Rahman meredup, begitu pun dengan Aisyah.
"Emm, Ainun, kita ke kamarku dulu yah, aku mau cerita," ajak Aisyah sembari menarik tangan Ainun, namun gadis itu menolak.
"Ish, cerewet sekali sih gadis ini, sini cepat biar kamu nggak ngomong sembarangan terus." Aisyah menarik paksa tangan Ainun hingga gadis itu mau tidak mau mengikuti langkahnya sampai ke kamar.
Sesampainya di kamar, Aisyah mulai menceritakan semua yang terjadi selama dia pergi, mulai dari pengkhianatan Zaid hingga ia menerima lamaran Zafran.
Ainun menyimak cerita dari sahabatnya itu dengan berurai air mata, bahkan ia sampai menangis sesegukan dalam pelukan Aisyah.
"Maafkan aku karena tidak ada saat kamu terpuruk, hiks. Semoga calon suamimu kali ini adalah pria baik dan setia, Sya." Ainun kembali memeluk sahabatnya itu dan diaminkan oleh Aisyah.
"Oke udah dramanya, sekarang kamu siap-siap temani aku ke kota A, aku memiliki misi penting di sana," ujar Aisyah mengakhiri cerita sedihnya. Tanpa protes dan bertanya lagi, Ainun langsung menyeyujui permintaan Aisyah.
Setelah meminta alamat kepada Zaid yang sudah pulang terlebih dahulu, Aisyah dan Ainun langsung berangkat ke kota A menggunakan pesawat. Tak menunggu lama, mereka akhirnya tiba di bandara dan langsung dijemput oleh orang suruhan Zaid.
__ADS_1
Siang hari mereka telah berada di rumah sakit? Zaid dan istrinya mengantar Aisyah dan Ainun untuk melihat sejenak anak Zaid yang saat ini sedang di rawat.
Sepanjang perjalanan, mulut Ainun tak henti-hentinya komat-kamit karena ia baru mengetahui bahwa misi Aisyah kali ini adalah menolong anak Zaid. Meski pada kenyataannya hanya Aisyah yang dapat mendengar mantra-mantra Ainun itu, sebab ia berbicara dengan suara pelan.
"Ini kamar anak kami, kalian boleh melihatnya," ujar istri Zaid begitu ramah.
"Sepertinya wanita itu tidak mengetahui kalalu Aisyah adalah mantan istri suaminya," batin Ainun penuh selidik.
Mereka akhirnya masuk bersama ke dalam ruangan itu, tampaklah seorang anak kecil yang berusia sekitar 1 tahun sedang terbaring lemah di atas tempat tidur. Mata anak itu sedikit basah, sepertinya dia baru saja menangis.
"Kasihan kamu, Nak. Anak sekecil kamu sudah harus menderita seperti ini, semoga Allah mengangkat penyakitmu yah, Sayang," lirih Aisyah sembari mengusap lembut pucuk kepala anak itu.
⚓⚓⚓
Di tempat lain, Zafran sedang melakukan cuci darah sebagaimana jadwal yang telah di atur oleh dokter. Sementara Akmal sedang menunggu di luar ruangan.
Saat dokter yang menangani Zafran keluar dari ruangan itu, Akmal segera menghampirinya. Pria itu meminta kesempatan untuk berbicara sejenak dengan dokter itu secara empat mata.
"Dokter, apa tidak ada cara lain untuk mengobati penyakit saudara saya?" tanya Akmal.
"Cuci darah itu tidak akan mengobati gagal ginjal saudara Bapak, ia hanya membantu mengambil alih tugas ginjal yang sudah tidak mampu berfungsi dengan baik. Jika ingin sembuh, satu-satunya cara adalah melakukan tranplantasi ginjal," jelas dokter.
"Kalau begitu, tolong periksa saya, Dokter. Ginjal saya insya Allah sehat, dan mungkin saja ginjal saya cocok karena kami masih keluarga dekat," ujar Akmal menawarkan diri.
"Apa Bapak yakin?" tanya dokter itu.
"Iya, saya yakin Dokter," jawab Akmal yakin.
"Kalau begitu silahkan ikuti saya, sebelum transplantasi ginjal, kita harus melakukan rangkaian tes untuk mengetahui kecocokan ginjalnya. Jika cocok, maka kita akan mulai melakukan proses tranplantasi, tapi jika tidak, maka kita tidak bisa melakukannya, dan harus mencari ginjal lain yang cocok," terang dokter panjang lebar dan di angguki oleh Akmal.
__ADS_1
-Bersambung-