
"Kenapa berhenti tertawa?" tanya Akmal mengerutkan keningnya.
Aisyah semakin merasa terintimidasi oleh tatapan tajam Akmal, ia bahkan tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun saat ini.
"Padahal aku suka lihat kamu tertawa, loh," tukasnya dengan ekspresi wajah yang kini berubah 180 derajat, ia bahkan tertawa pelan di akhir kalimatnya.
"Maksud kamu?" tanya Aisyah sedikit bingung, dan lagi-lagi terdengar suara tawa dari pria itu.
"Maaf yah, aku tadi hanya bercanda, tapi aku serius saat mengatakan aku suka melihatmu tertawa, kamu semakin cantik, meski hanya mata yang bisa terlihat," puji Akmal, membuat wajah putih Aisyah kini memunculkan semburat merah di balik cadarnya.
"Baiklah kita kembali ke topik, Aisyah terima kasih karena kamu sudah mau memberiku kesempatan untuk belajar menjadi suami yang baik untukmu, aku menerima pernikahan ini, dan aku sangat bahagia." kali ini Akmal benar-benar tak bisa menutupi raut kebahagiaan di wajahnya.
"Kamu bahagia? Kenapa? Bukannya ini pernikahan mendadak untukmu? Kamu juga tidak mengenalku dengan baik, kan? dan kamu juga tahu kalau kamu menikahi seorang janda, bukankah pria muda seperti kamu memimpikan pasangan yang sepadan denganmu, usiamu juga mungkin lebih muda dariku? cecar Aisyah memberondong Akmal dengan pertanyaannya.
Akmal tersenyum sejenak mendengar deretan pertanyaan sang istri yang bagaikan kereta api. "Ini memang pernikahan mendadak untukku, tapi aku bahagia karena sudah lama aku tertarik padamu, bahkan sejak pertama kali aku melihatmu di dermaga," jelas Akmal.
Aisyah sejenak diam sembari mengingat kapan pertama kali ia melihat Akmal, dan kini terlihat ia menganggukkan kepalanya. "Oke, I see," jawabnya.
"Aku memang belum terlalu mengenalmu, tapi bukankah sekarang aku jadi memiliki lebih banyak waktu untuk mengenalmu?" ujar Akmal dan di angguki oleh Aisyah.
"Aku memang pria lajang sebelumnya, tapi aku sama sekali tidak mempermasalahkan status kamu sebelumnya, sebab pada akhirnya status kita sama, aku suamimu dan kamu istriku." Entah kenapa jawaban Akmal kali ini terdengar begitu manis di telinga Aisyah.
"Dan terakhir, usiaku 28 tahun, dan kamu masih 24 tahun, iya kan?" Mata Aisyah membola mengetahui usia Akmal yang ternyata lebih tua 4 tahun darinya.
"Iya, maaf, kupikir kita seumuran," cicitnya merasa bersalah karena selama ini ia selalu memanggil Akmal dengan menyebut langsung namanya.
"Karena kamu sudah tahu, maka sebaiknya panggil aku Mas, atau Kakak, atau Abang."
"I-iya, Mas aja yah," jawab Aisyah patuh.
Ya, setelah beberapa hari mereka lalui dengan sedikit ketegangan karena kesalahpahaman, akhirnya perasaan keduanya mulai lega karena masalah diawal pernikahan mereka akhirnya bisa diluruskan, meskipun keduanya masih belum berani menyatakan perasaan mereka secara gamblang. Biarlah semuanya mengalir apa adanya lebih dulu, sembari memupuk perasaan mereka satu sama lain sebelum nantinya siap untuk diungkapkan.
Tring
Deringan ponsel Akmal seketika membuat keduanya tersadar dari lamuman mereka.
"Assalamu 'alaikum, iya, Ma?" ucap Akmal.
"..."
__ADS_1
"Apa? Baiklah, Ma. Kami akan ke sana."
"..."
"Wa'alaikum salam."
Akmal pun mengakhiri teleponnya, lalu kembali menatap sang istri.
"Ayo kita ke rumah sakit, Bang Zafran mencari kita," ajak Akmal dan di angguki oleh Aisyah.
Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di rumah sakit. Akmal mengetuk pintu lalu masuk ke dalam kamar rawat Zafran, di ikuti oleh Aisyah di belakangnya.
"Loh, Kak Aisyah? Bukannya tadi kak Aisyah udah pulang bersama Kak Ainun yah?" tanya Aira langsung menghampiri kakak iparnya itu.
"Nggak jadi, tadi aku hanya nganterin Ainun saja," jawa Aisyah beralasan.
"Aisyah, kok Ainun pulang nggak bilang-bikang sih?" tanya Ibu Sofi sedikit kecewa.
"Maaf, Bu. Pagi ini Ainun memiliki jadwal mengajar di pesantren jadi dia harus pulang lebih awal. Tadi dia sempat titip salam untuk Ibu dan Pak Zafran," ujar Aisyah.
"Wa'alaikum salam." Ibu Sofi melirik ke arah Zafran yang juga menjawab salam tapi tanpa ekspresi.
"Akmal, tadi dokter mengatakan bahwa ginjalku sudah mulai berfungsi dengan baik. Jadi, untuk saat ini pulanglah ke Indonesia bersama tante dan Aira, biar Mama yang menemaniku di sini," ujar Zafran.
"Memangnya tidak apa-apa? Aku bisa mengurus perusahaan sambil menemanimu di sini Bang," ujar Akmal sedikit menolak.
"Jangan keras kepala Akmal, pulanglah nanti. Aku sudah memesankan tiket untuk kalian siang ini," tegas Zafran membuat Akmal hanya diam dan mengangguk patuh.
⚓⚓⚓
Ainun baru saja tiba di rumahnya. Ia bergegas bersiap untuk segera pergi ke sekolah. Minggu sebelumnya ia telah menjanjikan anak muridnya sebuah quiz sehingga ia berusaha keras untuk hadir menepati janjinya.
Tidak menunggu waktu lama, kini Ainun telah sampai di halaman sekolah sambil memarkirkan motor matic kuningnya. Secara bersamaan, ustadz Ridwan juga baru saja tiba dan memarkirkan motornya tepat di samping motor Ainun.
"Assalamu 'alaikum, selamat pagi Ustadzah Ainun, ada jadwal ngajar pagi yah?" sapa Ustadz Ridwan basa-basi.
"Wa'alaikum salam, iya Ustadz, kalau gitu saya duluan yah, Pak. Udah di tungguin soalnya," ujar Ainun langsung pamit pergi, membuat Ustadz Ridwan hanya bisa menatap wanita berkerudung panjang itu dengan lesu.
"Masya Allah, sepertinya aku telah menemukan wanita yang cocok untuk menjadi istriku. Dia cantik dan belum pernah menikah," batin Ustadz Ridwan tersenyum lalu segera pergi menuju kantor para guru.
__ADS_1
Beberapa jam berlalu begitu cepat, waktu belajar-mengajar kini telah usai. Ainun berjalan keluar dari kantor menuju ke halaman parkir untuk mengambil motornya. Tapi lagi-lagi ia bertemu dengan Ustadz Ridwan di sana.
"Udah mau pulang, Ustadzah?" tanya pria itu kembali basa-basi.
"Iya Ustadz," jawab Ainun sembari menaiki motornya.
"Oh iya, Ustadzah, boleh saya minta nomor hapenya, yaa siapa tahu suatu saat saya memiliki urusan dengan Ustadzah atau pun sebaliknya," pinta Ustadz Ridwan sembari menampilkan senyuman terbaiknya.
"Oh, iya, boleh Ustadz," sahut Ainun.
Gadis itu pun akhirnya menyebutkan nomornya dan langsung di catat oleh Ustadz Ridwan di ponselnya.
"Udahkan Ustadz? Kalau gitu saya permisi dulu," ujar Ainun lalu melajukan motornya meninggalkan halaman sekolah.
⚓⚓⚓
Di rumah Kiai Rahman, Khaira begitu tidak sabar menantikan kedatangan Aisyah, ia sudah menunggu di depan rumah sejak wanita itu mengabarkan bahwa ia akan sampai dalam beberapa menit lagi.
"Nenek, kok Ummi lama banget sih." Gerutu Khaira yang entah sudah berapa kali keluar dari mulut kecilnya tiap kali melihat Ibu Lina yang keluar dari rumah untuk memastikan keadaannya.
Padahal Ibu Lina sudah menyarankan agar Khaira menunggu di dalam rumah saja, tapi gadis kecil itu tetap bersikeras ingin menunggu di luar rumah. Hingga tak lama kemudian, sebuah taksi terlihat berhenti di depan pagar rumah itu, seorang wanita bercadar dan seorang pria tampan keluar dari sana.
"Ummiiiiii!" teriak Khaira sembari berlari mengahampiri wanita bercadar itu dan langsung memeluknya.
"Assalamu 'alaikum, Khaira," ucap seorang pria, membuat gadis itu menoleh.
"Om Akmal," ucap Khaira lalu mengahampiri pria itu. "Om Akmal datang lagi yah, kemarin kan udah pamit," tanyanya heran.
"Iya, Sayang, Om datang lagi, Om kan mau kerja," jawab Akmal seadanya.
"Kita masuk dulu yah," ajak Aisyah karena tidak enak mendapat tatapan aneh dari para tetangga yang melihatnya.
Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah dan mencium tangan Ibu Lina yang berada di ruang keluarga, setelah itu mereka langsung menuju ke kamar Aisyah.
"Loh, kok Om Akmal masuk di kamar Ummi, sih? Kata Ummi, Om kan bukan mahramnya Ummi, jadi jangan masuk di sini kalau ada Ummi," cerocos Khaira, membuat Akmal menatap heran ke arah Aisyah.
"Itu dulu, Mas. Aku pernah bilang gitu sebelum kita nikah," jawab Aisyah berbisik.
"Om tidurnya di kamar tamu aja, kata Ummi, orang bukan mahram itu nggak boleh berduaan, karena yang satunya itu setan," lagi-lagi Khaira berceloteh bagaikan orang dewasa sembari mendorong tubuh Akmal keluar dari kamar Aisyah dan langsung menutupnya.
__ADS_1
"Iya, yang ketiga itu memang setan, dan setan kecilnya itu kamu, Khaira," dumel Akmal berbicara sendiri bagaikan orang baca mantra.
-Bersambung-