
Sebelumnya ...
Siang itu, Akmal mengundur waktu makan siangnya karena masih fokus di depan laptop. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Akmal, tolong jemput Khaira siang ini yah, aku tiba-tiba dapat undangan meeting sambil makan siang bersama dengan CEO PT. Alfa di restoran B," pinta Zafran sembari berdiri di ambang pintu ruang kerja Akmal.
"Oh oke siap, aku selesaikan dulu ini, tinggal dikit kok," sahutnya lalu melanjutkan kerjaannya.
Beberapa saat kemudian, Akmal telah menyelesaikan pekerjaanya. Gegas ia beranjak dari duduknya dan langsung keluar dari kantor, ia mulai menjalankan mobilnya ke sekolah Khaira sekaligus tempat mengajar sang istri.
"Sepertinya makan siang di luar bareng istri dan Khaira boleh juga nih," monolognya sembari sesekali bersiul. Meski kemarin moodnya sempat rusak, tapi hari ini moodnya kembali baik seperti biasa.
Mobil Akmal kini tiba di depan sekolah Khaira, tapi suasana mulai tampak sepi.
"Sepertinya aku datang terlambat, aku telepon Aisyah dulu lah, mungkin Khaira lagi bersamanya," lirihnya sembari mengambil ponsel dan mulai memanggil nomor sang istri.
Namun, selang beberapa menit, Aisyah tak kunjung mengangkat teleponnya, membuat pria itu memutuskan untuk keluar dari mobil dan mengeceknya langsung di ruang guru.
"Nah, kan motornya ada, kok orangnya nggak ada?" monolog Akmal setelah kembali dari ruang guru.
Saat hendak memasuki mobil, ekor matanya tak sengaja menangkap sosok Khaira yang sedang bermain bersama seorang wanita yang sangat tidak asing di matanya.
"Dia ...." Akmal mengepalkan tangannya saat menyadari wanita itu. Dadanya bergemuruh tatkala mengingat betapa sakit dan menderitanya Zafran secara batin gara-gara wanita itu.
Akmal melangkah cepat mendekati mereka, dan emosinya semakin meningkat saat melihat Aisyah membiarkan Khaira bermain dengan wanuta itu, padahal sangat jelas Akmal sudah melarangnya kemarin.
"Aisyah!" teriaknya dengan napas yang sudah memburu.
Aisyah yang begitu terkejut akan teriakan Akmal langsung berlari menjauhkan Khaira dari Citra.
"Mas," ucap wanita bercadar itu pelan, nyalinya benar-benar menciut saat melihat kilatan amarah di wajah sang suami saat ini.
"Bawa Khaira masuk ke mobil sekarang," titahnya tegas, lalu beralih menatap Citra yang hanya diam melihat ke arahnya.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Akmal dengan tatapan tajamnya.
"Aku merindukan putriku, apa itu salah?" tanyanya santai.
__ADS_1
Akmal tertawa sumbang mendengar perkataan Citra. "Rindu? putrimu? Kamu tidak cocok mengatakan itu. Mana ada ibu yang tega meninggalkan putrinya hanya demi uang? Hah?" sarkas Akmal.
"Hey, jangan sok tahu kamu, Mas Zafran aja yang ngalamin santai aja tuh."
"Santai? Sepertinya sejak kamu lari dengan selingkuhanmu itu, kamu tidak pernah lagi mencari tahu kabar Bang Zafran dan Khaira kan? Asal kamu tahu, semenjak kepergianmu, Bang Zafran sering menyendiri sambil menangis, dia jatuh bangun buat bangun usaha sembari mencari uang buat susu dan popok Khaira, belum lagi untuk makan sehari-hari dan bayar rumah kontrakan. Dan kamu? Kamu menikmati hidup mewah menjadi wanita simpanan pria tidak jelas kan, lalu bagaimana? Apa kamu bahagia sekarang. Apa harta yang kamu miliki sudah cukup untuk membeli kebahagiaan?"
"Tentu saja aku bahagia," jawab Citra tak merasa bersalah sama sekali.
"Lalu untuk apa kamu datang kembali mengusik ketenangan kami?"
"Aku menginginkan Khaira, aku akan mengambil hak asuh Khaira."
"Jangan mimpi, aku tidak akan membiarkan itu terjadi, setelah apa yang dulu kamu lakukan," tegas Akmal. "Oh iya satu lagi, jangan pernah mendekati Khaira lagi, atau aku akan membawamu ke polisi," ancam Akmal, lalu pergi meninggalkan Citra yang menatapnya dengan tatapan kesal.
Aisyah yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka di dalam mobil seketika merasa bersalah kepada Akmal karena tidak menuruti permintaannya.
Saat melihat Akmal berjalan ke arah mobil, Aisyah langsung turun dan menghampiri pria itu.
"Mas, aku minta maaf," ucap Aisyah sembari memegangi tangan sang suami.
"Mas, ku mohon maafkan aku, aku tidak tahu cerita yang sebenarnya, makanya aku kasihan sama dia, aku nggak bermaksud membangkang perintah kamu," ucap Aisyah memelas dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
Untung saja sekolah sudah sepi, jika tidak mungkin ia sudah menarik perhatian para guru dan siswa.
Akmal membuang napas kasar. "Pulanglah lebih dulu, aku akan mengantar Khaira ke rumahnya," titahnya dengan suara datar dan ekspresi dingin, lalu melepas tangan Aisyah dan masuk ke dalam mobil.
Aisyah menatap mobil yang di kemudikan Akmal kini melaju meninggalkannya. Ada rasa menyesal yang kini menyelimuti hatinya, ia mengira Akmal akan memaklumi tindakannya, tapi ternyata ia salah besar, pria hangat itu seketika berubah menjadi dingin. Bahkan ia masih mengingat jelas bagaimana tatapan amarah Akmal beberapa waktu yang lalu kepadanya.
-
Aisyah tiba lebih dulu di rumah, ia berjalan perlahan masuk ke dalam rumah dan merebahkan dirinya di atas sofa. Perkataan Akmal yang begitu murka kepada Citra masih terngiang di telinganya. Padahal ia hampir saja menikah dengan Zafran, tapi ia sama sekali tidak tahu akan masa lalu Zafran yang begitu menyakitkan.
"Maafkan aku Bang Zafran, maafkan aku Mas Akmal, aku pasti sudah mengecewakan kalian."
Aisyah menyandarkan kepalanya di sofa lalu menutup matanya dengan lengan tangan kanan. Air matanya mulai mengalir tanpa bisa ia cegah.
-
__ADS_1
Malam kini telah tiba, Aisyah sudah menyiapkan makanan kesukaan Akmal, ia berharap hati sang suami bisa melunak setelah ini.
Tapi kemana dia? Tidak biasanya pria itu pulang pada malam hari. Biasanya dia akan pulang sebelum pukul 5 sore.
Aisyah mulai mondar-mandir di ruang tamu sembari menunggu kedatangan Akmal, beberapa kali ia mencoba menghubunginya tapi pria itu tidak mengangkatnya.
Hati Aisyah mulai sedikit tenang saat ia mendengar deru mobil sang suami yang berhenti di depan rumahnya.
"Assalamu 'alaikum," ucap Akmal pelan sembari memasuki rumah.
"Wa'alaikum salam, Mas." Aisyah menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman sembari mencium punggung tangannya dan di balas dengan Akmal yang mencium keningnya sebagaimana biasa.
Meski begitu, raut wajah Akmal masih terlihat dingin, ia bahkan enggan menatap wajah Aisyah, membuat wanita itu merasa sedikit kecewa.
"Kamu mau mandi dulu atau langsung makan?" tanya Aisyah tetap tersenyum, ia berusaha keras menepis rasa kecewanya sebab ia sadar bahwa yang bersalah di sini adalah dirinya.
"Aku ingin mandi," jawabnya singkat smebari terus berjalan ke arah kamar mereka.
"Baik aku akan menyiapkan air hangat untuk ...."
"Tidak perlu, aku ingin mandi air dingin saja," jawabnya tanpa menunggu Aisyah menyesaikan perkataannya.
Tak ingin terbawa perasaan oleh sikap Akmal, Aisyah memilih menyibukkan dirinya dengan membuatkan secangkir teh melati hangat untuk sang suami dan meletakkannya di atas nakas.
Aisyah memilih duduk di tempat tidur setelah menyiapkan pakaian untuk Akmal. Dan tak lama kemudian, Akmal keluar dalam keadaan yang lebih segar dan sudah memakai pakaian. Ia duduk sejenak dan langsung bersiap untuk tidur tanpa menyentuh teh buatan Aisyah.
"Mas, makan dulu yuk," ajak Aisyah.
"Tidak, terima.kasih. Aku sudah kenyang," jawab Akmal.
Hati Aisyah kini semakin tercubit mendapat sikap dingin Akmal. Kecewa, sedih, dan sakit hati semuanya bercampur menjadi satu yang membuat dadanya terasa sesak dan air mata seolah ingin menerobos keluar segera.
Aisyah keluar dari kamarnya tanpa berbicara lagi. Ia berjalan menuju dapur untuk sekedar melihat makan malam yang sudah tersaji rapi di atas meja. Bahkan selera makannya pun kini sudah hilang tak berbekas, padahal ia sudah menahan lapar sejak tadi hanya untuk bisa makan malam bersama Akmal.
"Aku ngantuk," lirihnya sembari tersenyum tapi dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipi.
-Bersambung-
__ADS_1