Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Tespek Negatif, Hamil?


__ADS_3

Hari tak selamanya malam, sebab ada pagi yang siap menerangi dengan sejuta kehangatan.


Begitu pun hidup yang tak selamanya kelam, sebab ada bahagia yang selalu menanti di ujung jalan.


Butuh kesabaran memang dalam melewatinya, tapi yakinlah bahwa kesabaran akan selalu berbuah manis, itu janji Allah.


⚓⚓⚓


Satu tahun kini telah berlalu semenjak kedatangan Akmal. Sesuai janjinya waktu itu, ia tinggal dan membangun bisnis bersama sang istri. Awalnya ia sempat bingung harus memulai bisnis apa, tapi atas saran dari Aisyah, Mama, kedua mertuanya serta Zafran, akhirnya pilihannya jatuh pada bisnis restoran.


Bisnis yang menurut Akmal dulu sangatlah tidak mudah, kini terasa begitu mudah setelah mendapat bimbingan dari Zafran serta Ibu Shalwa yang sangat ahli dalam hal memasak, ditambah Aira yang notabenenya kuliah di jurusan tata boga akhirnya memiliki wadah untuk menyalurkan kemampuannya dengan bebas, tidak lagi di kekang sebagaimana restoran tempat ia bekerja sebelumnya.


Hari ini, tepat 10 bulan sejak restorannya resmi di buka, dan omsetnya memang tidak main-main, apalagi setiap hari jum'at Akmal dan Aisyah sepakat untuk menggratiskan makanan sebagai jalan sedekah, membuat rezeki mereka semakin lancar dan berkah.


Akan tetapi, meski telah memiliki bisnis restoran, Aisyah tetap masih mengajar di sekolah Tahfizh Qur'an seperti biasa. Seperti pagi ini, Aisyah tengah bersiap-siap untuk berangkat mengajar. Namun, entah kenapa saat keluar dari kamar mandi wajahnya terlihat sendu.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Akmal seraya menghampiri Aisyah yang tertunduk tak bersemangat.


"Aku belum hamil, Mas," jawabnya lirih sembari memperlihatkan sebuah tespek.


Akmal kini tak menjawab, ia hanya mendekap sang istri sembari mengelus kepalanya.


"Sayang, kamu jangan terlalu bersedih seperti ini, nanti kamu malah drop. Mungkin Allah ingin melihat usaha dan kesabaran kita lagi. Yang penting kita sudah usaha, kita sudah minum ramuan, kita juga sudah usaha tiap malam," ujar Akmal di sertai tawa pelan di ujung kalimatnya.


"Yang penting kita masih sehat, masih bisa bernapas, masih bisa berbagi manfaat ke sesama, itu adalah anugerah terbesar yang telah Allah berikan, jadi jangan sampai karena satu hal yang belum Allah berikan, kita jadi down." Akmal menghentikan perkataannya sejenak lalu melepas pelukannya dan menatap wajah Aisyah.


"Dengarkan aku, meski kita belum memiliki anak, aku akan tetap bersama denganmu dan tidak akan berbagi cinta, karena aku hanya mencintai kamu, hmm? Tersenyumlah, Sayang. Senyummu adalah semangatku," ucap Akmal, membuat Aisyah tersenyum haru dan kembali memeluk sang suami.


"Terima kasih, Mas. Terima kasih karena mau menerima segala kekuranganku ini," ucapnya pelan.


-


Setelah sarapan bersama dengan Akmal, Ibu Shalwa, dan Aira, Aisyah langsung berangkat menuju ke sekolah dengan menggunakan motor, ia masih saja memilih berangkat sendiri dengan motornya karena ia merasa lebih cepat sampai tanpa khawatir macet. Sementara Akmal, Ibu Shalwa, dan Aira akan berangkat ke restoran saat pukul 8 nanti.

__ADS_1


"Akmal, apa Aisyah sedang hamil?" tanya Ibu Shalwa saat menatap kepergian Aisyah.


"Tidak, Ma. Aisyah tadi udah tespek tapi hasilnya negatif," jawab Akmal.


"Aneh sekali, padahal mama melihat bentuk tubuh Aisyah dan cara jalannya seperti orang yang sedang hamil," ujar Ibu Shalwa.


"Masa sih, Ma?"


"Iya, Mama serius."


Akmal sejenak terdiam, dalam hatinya ia berharap apa yang dikatakan sang Ibu adalah benar. Namun, pria itu langsung menggelengkan kepalanya pelan, ia tidak ingin berharap dulu, lebih baik jika ia berpasrah penuh pada ketentuan Allah.


⚓⚓⚓


Waktu makan siang telah tiba, itu artinya restoran akan semakin ramai oleh orang-orang yang ingin makan siang. Tak terkecuali Zafran yang sering datang hanya untuk sekedar makan siang dengan keluarga kecilnya usai menjemput Khaira yang sudah masuk di Sekolah Dasar.


Bersamaan dengan itu, Aisyah pun tiba setelah pulang dari sekolah. Ia berpapasan dengan Zafran yang menggendong Umar, dan Ainun yang menggandeng tangan Khaira.


"Assalamu 'alaikum Khaira dan Umar, wah keponakan Ummi datang lagi," ucap Aisyah menyapa dengan begitu ramah.


"Eh, mamanya nggak disapa nih?" celetuk Ainun.


"Nggak ah, males," canda Aisyah, membuat ibu beranak dua itu mendengus. "Canda, Mak. Yuk masuk," sambungnya mempersilahkan mereka masuk.


"Eh, Sya, kamu hamil yah?" tanya Ainun saat melihat Aisyah yang berjalan di depannya, membuat wanita itu langsung berbalik ke arahnya sembari menggelengkan kepala.


"Kalian duduk di sini, aku akan memesankan makanan spesial untuk kalian," ujar Aisyah tak ingin membahas masalah hamil. Baginya, membahas itu hanya akan membuat moodnya down.


Aisyah langsung pergi ke belakang usai mengantar Ainun dan kekuarganya di tempat duduk mereka seperti biasa, ia berjalan ke dapur mencari adik iparnya.


"Aira," panggil Aisyah saat melihat adik iparnya sedang menyiapkan bahan yang akan di masak oleh koki yang ada di sana.


"Iya, Kak?" tanya gadis itu.

__ADS_1


"Tolong pesankan menu spesial untuk Zafran dan keluarganya yah, kepalaku pusing, aku mau ke atas dulu untuk istirahat."


"Siap, Kak. Biar aku yang langsung memasaknya agar lebih spesial," ucap Aira sembari menunjuk dirinya.


"Baiklah, terima kasih yah, Dek." Ucap Aisyah lalu segera pergi.


-


"Assalamu 'alaikum, Mas," ucap Aisyah sembari membuka pintu ruangan Akmal.


"Wa'alaikum salam, masuklah, Sayang." Akmal langsung berdiri menghampiri Aisyah yang terlihat lelah.


"Kamu istirahat dulu di sini yah, aku akan menyelesaikan kerjaanku dulu setelah itu aku akan mengantarmu pulang." Akmal membawa Aisyah untuk berisitirahat di sofa yang ada di dalam ruangan itu. Tak menunggu lama, Akmal telah menyelesaikan pekerjaannya. Ia menghampiri Aisyah untuk membangunkannya.


"Sayang, aku sudah selesai, ayo kita pulang."


"Hmm, iya Mas." Aisyah perlahan bangkit dari tidurnya dan hendak berdiri. Namun, belum juga berdiri sempurna, tubuh Aisyah langsung ambruk tidak sadarkan diri di pelukan Akmal.


"Astaghfirullah, Sayang? Kamu kenapa?" Akmal yang begitu terkejut langsung menggendong tubuh Aisyah ala bridal style lalu segera keluar dari ruangannya.


"Akmal, Aisyah kenapa?" tanya Ibu Shalwa yang melihat sang putra menggendong menantunya sembari berjalan cepat menuju pintu keluar bagian belakang.


"Aisyah pingsan, Ma. Akmal akan membawanya ke rumah sakit," jawab Akmal dengan suara yang sedikit meninggi karena jaraknya dengan sang Ibu yang semakin menjauh.


"Mama ikut." Wanita paruh baya itu segera berlari mengejar putranya dan ikut masuk ke dalam mobil dan memangku kepala Aisyah.


Tidak butuh waktu lama, mobil yang dikemudikan oleh Akmal kini telah tiba di rumah sakit, dan Aisyah langsung mendapat penanganan dari dokter.


Beberapa saat kemudian, dokter wanita itu keluar dari dalam ruangan. Akmal dan Ibu Shalwa langsung menghambur menghampirinya.


"Dokter, bagaimana keadaan Istri saya?" tanya Akmal.


"Alhamdulillah, Istri Bapak baik-baik saja, dia hanya kelelahan, hal yang umum terjadi pada Ibu hamil," jawab dokter itu.

__ADS_1


"Apa hamil?" Mata Akmal seketika terasa panas, dan perlahan mulai terasa kabur oleh air mata saat mendengar kabar kehamilan Aisyah.


-Bersambung-


__ADS_2