
Khaira kini sudah terlelap di tempat tidur di rumah paman Zaid yang kosong karena sedang ditinggal keluar kota, sementara Zaid duduk di samping Khaira. Pria itu mengelus lembut kepala Khaira yang masih tertutup oleh kerudung.
Padahal Zaid sudah mengusulkan agar Khaira membuka kerudungnya saat ingin tidur agar lebih nyaman, tapi perkataan gadis kecil itu membuatnya begitu takjub.
Khaira sayang Papa, Khaira nggak mau Papa duluan masuk neraka karena Khaira membuka kerudung di depan Om, Om kan bukan mahramnya Khaira.
Seketika ia kembali teringat perkataan Khaira siang tadi.
Ummi itu calon Mamanya Khaira, Khaira sayang banget sama Ummi.
"Jika memang perkataan anak ini betul, maka anak ini sangat beruntung karena mendapatkan ibu yang tulus dan penyayang seperti kamu, kuharap suamimu nanti menyayangi kamu dengan tulus juga, tidak seperti aku," ujarnya di sertai tawa getir di akhir kalimat.
"Assalamu 'alaikum," ucap seorang wanita dari luar rumah.
Zaid yang menyadari kalau itu adalah Aisyah langsung menuju ke depan untuk membuka pintu. Wanita itu benar-benar menuruti perkataannya dengan datang seorang diri. Meski begitu, ia tetap menjaga jarak dari Zaid saat ia melihat mantan suaminya itu menghampirinya.
"Aisyah," ucap Zaid sembari melangkah mundur dari Aisyah karena menyadari wanita itu menghindarinya.
"Di mana Khaira?" tanya Aisyah tanpa basa-basi.
"Dia di dalam sedang tidur," jawab Zaid. "Duduklah dulu," lanjutnya mempersilahkan Aisyah duduk di kursi yang berada di sisi kiri meja dan ia pun ikut duduk di sisi kanan meja.
"Katakan apa yang ingin kamu bicarakan," ujar Aisyah dingin.
Zaid merasakan hatinya sedikit tercubit saat mendengar perkataan Aisyah yang tidak lagi menyebutnya dengan panggilan 'Mas', di tambah nada suarnya yang begitu dingin, tak ada lagi kehangatan dari wanita itu yang ditujukan padanya seperti dulu.
"Aisyah, mungkin kamu sudah bosan mendengar permintaan maafku, tapi aku tetap akan meminta maaf padamu, aku menyesal telah menyakiti kamu ..."
"Langsung saja ke intinya, aku tidak banyak waktu," ujar Aisyah cepat tanpa menunggu Zaid selesai berbicara.
Aisyah benar-benar tidak tahan berada lama-lama di dekat pria itu, sebab gejolak hatinya akan luka dan amarah sangat menyiksanya. Bukannya tidak ingin memaafkan atau pun berdamai, tapi luka tetaplah luka, sekali tergores tetap akan menyisakan bekas.
Zaid membuang napas perlahan, ia hendak membuka mulutnya untuk berbicara, tapi seketika ia menjadi ragu setelah mendapati sikap dingin Aisyah. Namun, ia kembali teringat kepada anaknya, dan tujuannya datang mencari Aisyah juga karena anaknya.
"A-anakku mengalami hernia dan dokter menyarankan untuk secepatnya dilakukan operasi," ujar Zaid.
"Lalu?" tanya Aisyah.
__ADS_1
"Anakku juga menderita hemofilia, Sya. Operasi akan meningkatkan resiko pendarahan, dan aku sangat membutuhkan bantuan kamu," terang Zaid.
Aisyah mengernyitkan alisnya. "Bantuanku?" ulangnya bingung.
"Anakku memiliki golongan darah B-, aku sudah mencari kemana-mana orang yang memiliki golongan darah B- atau O-, tapi tidak ada di tempatku. Kalau pun ada, mereka sudah tua atau sedang sakit," jawab Zaid lesu. "Aku tahu kamu memiliki golongan darah B-, maka dari itu aku mohon bantuan kamu," lanjutnya.
"Lalu ibunya bagaimana? ibunya mungkin memiliki golongan darah yang sama," tanya Aisyah lagi.
"Iya, ibunya memiliki golongan darah yang sama, tapi ibunya sedang hamil, dia dilarang dokter untuk donor darah," jawab Zaid.
Aisyah terdiam sejenak, entah kenapa rasa keibuannya muncul saat itu juga. Dulu Zaid memang salah, tapi anaknya tidak tahu apa-apa, dan kondisinya memang memungkinkan untuk mendonorkan darah.
"Bagaimana Aisyah?" tanya Zaid menatap sendu mantan istrinya itu.
"Aku akan pikirkan lagi," jawabnya, lebih tepatnya ia ingin meminta izin kepada kedua orang tuanya terlebih dahulu.
"Baiklah, pikirkan lah, aku akan menunggumu selama dua hari, tolong beri aku jawaban yang membuatku tidak kecewa.
Egois sekali pria itu. Dulu saat ia meninggalkan Aisyah, ia sama sekali tidak memikirkan bagaimana kecewa dan terlukanya Aisyah saat itu. Sekarang saat ia butuh bantuan Aisyah, ia malah tidak ingin di kecewakan.
"Sekarang di mana Khaira? Aku akan membawanya pulang sekarang." Aisyah beranjak dari duduknya sembari mendekati pintu.
Tak lama setelah itu, Khaira keluar sembari mengucek matanya yang masih sedikit ngantuk.
"Ummi," panggilnya dengan suara serak dan langsung memeluk Aisyah.
"Ayo kita pulang, Sayang," ajak Aisyah sembari menarik pelan tangan Khaira.
"Om, Khaira pulang dulu yah, assalamu 'alaikum," pamit Khaira sembari melambaikan tangannya.
"Wa'alaikum salam," jawab Zaid ikut melambaikan tangannya.
Aisyah akhirnya pergi bersama Khaira dengan menggunakan mobil milik Zafran.
Tak menunggu lama, kini mereka tiba di rumah mewah milik Zafran. Di mana Ibu Sofi sedang menunggu mereka, sementara Akmal baru saja tiba dengan menggunakan motor besar milik Zafran. Ya, pria itu memutuskan mengikuti Aisyah tanpa sepengetahuannya, hal itu ia lakukan untuk memastikan keselamatan Aisyah dan Khaira tentu saja.
Setelah melewati hari yang begitu melelahkan dan penuh rasa cemas, kini Aisyah telah kembali ke rumahnya. Ia mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah di atas kasur.
__ADS_1
Pandangannya mengarah lurus ke langit-langit kamarnya, ia merenungkan permintaan Zaid. Anaknya yang begitu malang, tentu harus mendapatkan bantuannya.
Di tengah lamunannya, deringan ponsel mengangetkannya. Aisyah segera mengambil ponselnya dan seketika matanya berbinar saat melihat siapa yang sedang memanggilnya saat ini.
"Assalamu 'alaikum, Ainun," ucap Aisyah mengawali pembicaraannya melaiui telepon.
"Wa'alaikum salam ukthi fillahku, kamu ada di mana nih?" tanya seorang gadis bernama Ainun.
"Aku di rumah Abi," jawab Aisyah.
"Wah, asik yang liburan di rumah orang tuanya, gimana kabar Abi dan Ummi?" tanya Ainun.
"Abi dan Ummi baik alhamdulillah, aku memang sudah tinggal di sini, kamu di mana sekarang? Kuliahmu udah selesai?"
"Alhamdulillah sudah selesai, sekarang aku lagi di bandara, baru aja sampai, loh kenapa ..."
"Jangan tanya apa-apa, kalau penasaran segeralah kemari, aku juga butuh bantuanmu agar kamu menemaniku ke suatu tempat."
"Baiklah, tunggu aku, aku akan langsung ke situ setelah dari rumah orang tuaku."
Tak lama setelah itu panggilan mereka berakhir. Aisyah tersenyum senang sekaligus sedih, begitu banyak kisah pilu yang sahabatnya itu lewatkan karena memilih menghilang sesaat demi fokus kuliah.
⚓⚓⚓
Akmal tiba di apartemen Zafran saat malam mulai larut, setelah memastikan keadaan Ibu Sofi dan Khaira aman tentu saja. Ia berjalan perlahan memasuki kamar Zafran untuk melihat keadaan abang sepupunya itu.
Rupanya pria itu sudah tertidur, Akmal mendekati tempat tidur Zafran, ia merasa begitu terluka melihat keadaannya yang tampak lemah dan pucat.
Akmal melirik ke arah kalender duduk di atas nakas yang sudah penuh dengan lingkaran tanda pengingat jadwal cuci darah Zafran. Dan besok adalah jadwal selanjutnya.
"Bang, aku berjanji akan membuatmu sehat kembali, semoga Allah memudahkan niatku," lirihnya lalu segera keluar dari kamar itu.
Tepat setelah Akmal menutup pintu, Zafran mulai membuka matanya, air matanya kembali mengalir setelah mendengar perkataan Akmal.
-Bersambung-
Note:
__ADS_1
Hernia atau turun berok adalah sebuah kondisi ketika organ dalam tubuh menonjol melalui dinding otot atau jaringan di sekitarnya, secara umum penyakit ini tidak berbahaya, tapi bisa berkembang menjadi masalah serius dan mengancam nyawa. Dan untuk menyembuhkannya kemungkinan besar membutuhkan operasi. Kondisi ini biasa terjadi di area perut atau s3lan9kan9an (primayahospital.com).
Hemofilia adalah suatu kondisi yang terjadi ketika darah tidak bisa membeku dengan baik. Akibatnya, orang yang menderita hemofilia bisa mengalami perdarahan hebat setelah cedera atau operasi. Bahkan perdarahan spontan atau tiba-tiba. Penyakit ini bersifat genetik atau turunan dari orang tua, paling banyak terjadi pada laki-laki tapi tidak menutup kemungkinan perempuan juga dapat mengalaminya (primayahospital.com)