
"Kamu kenapa Akmal?" tanya Ibu Lina dari lantai bawah saat melihat Akmal hanya berdiri di depan pintu kamar Aisyah.
"Eh, Ummi. Kamar tamunya di mana yah?" tanya Akmal sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menghampiri ibu mertuanya di lantai satu.
"Loh, kenapa cari kamar tamu? Kamar Aisyah kan ada, Nak." Wanita paruh baya itu tampak mengernyitkan alisnya.
"Anu, Ummi. Khaira belum tahu kalau Aisyah nikahnya sama Akmal, jadi dia nyuruh Akmal tidur di kamar tamu, katanya bukan mahram," jawab pria itu dengan suara pelan.
"Kok belum di kasi tahu? Khaira pasti ngerti, insya Allah," ujar Ibu Lina.
"Biar Aisyah saja yang menjelaskannya nanti Ummi, mungkin Aisyah masih butuh waktu, selama ini kan Khaira berharap Aisyah nikah dengan Bang Zafran," jawab Akmal sembari tertunduk.
Ibu Lina membuang napas lalu mengusap lengan Akmal pelan. "Namanya juga udah jodoh, Nak. Bagaimana pun keadaannya, jalani rumah tangga kalian dengan baik yah, ummi percaya kamu adalah suami yang tepat untuk Aisyah, dan mengenai Khaira, suatu saat dia pasti akan mengerti," nasehat Ibu Lina.
"Terima kasih, Ummi sudah mempercayakan Akmal untuk menjaga Aisyah, Akmal akan berusaha melakukan yang terbaik sebagai suami." Akmal tersenyum ke arah mertuanya itu.
"Kemarilah, ummi akan mengantarmu ke kamar tamu." Ibu Lina berjalan lebih dulu dan diikuti oleh Akmal di belakang.
Kamar tamu berada di lantai satu, agak jauh dari kamar Aisyah, tapi mau bagaimana lagi, ia harus bersabar untuk saat ini, setidaknya setelah Aisyah berhasil menjelaskan semuanya kepada keponakannya itu.
"Terima kasih, Ummi," ucap Akmal setelah ia sampai di depan kamar tamu.
Pria itu masuk setelah Ibu Lina meninggalkannya. Ia langsung membaringkan tubuhnya yang terasa begitu lelah dan ngantuk di kasur berukuran sedang di kamar itu. Semalaman ia tidak bisa tidur dan harus langsung melakukan perjalanan jauh lagi siang ini. Benar saja, hanya dalam beberapa menit, pria itu langsung masuk ke dalam dunia mimpinya.
Tak terasa 2 jam telah berlalu, adzan ashar mulai berkumandang di lingkungan pesantren, sebuah tepukan lembut di pipi Akmal berhasil membuatnya membuka mata perlahan. Samar-samar ia melihat wanita yang begitu cantik sedang duduk di sampingnya.
"Aisyah?" batinnya saat pandangannya mulai semakin jelas.
Wanita itu tidak memakai cadarnya dan hanya mengenakan kerudung sederhana untuk menutupi kepalanya, meski begitu kecantikannya tak pernah berkurang, bahkan terlihat semakin berseri setiap saat.
"Mas? Bangun, udah ashar, mas belum sholat ashar kan?" Aisyah semakin mendekat untuk menyadarkan suaminya itu yang kini justru terlihat sedang melamun.
"Mas?" panggil Aisyah lagi karena pria itu masih belum meresponnya.
Tanpa di duga, Akmal langsung menarik tangan Aisyah hingga wanita itu ikut berbaring di sampingnya, ia langsung mendekap tubuh mungil sang istri.
"Biarkan seperti ini dulu," ucap Akmal saat meraskan dorongan tangan Aisyah.
"Tapi, Mas, nanti ada yang lihat, pintu kamar tidak aku tutup soalnya," lirih Aisyah berbicara di depan dada bidang sang suami.
"Insya Allah tidak ada yang melihat," ucap Akmal begitu yakin.
__ADS_1
Namun, baru saja ia selesai berkata seperti itu, tiba-tiba terdengar suara cempreng Khaira yang sedang mencari Aisyah.
"Ummiii." Suara gadis kecil itu terdengar semakin dekat, membuat Aisyah refleks mendorong Akmal dengan kekuatan maksimal hingga membuat pria itu terjatuh ke lantai yang berdekatan dengan dinding dan dengan cepat Aisyah bangkit dan berdiri merapikan baju dan kerudungnya.
"Ummi? Hah ternyata Ummi di sini." Khaira memasuki kamar itu dan menelisik ke seluruh sudut kamar mencari seseorang.
"Om Akmal di mana, Ummi? Bukannya Om tidur di sini yah?" tanya Khaira yang tak menemukan sosok pria itu.
Aisyah melirik ke arah ujung tempat tidur di mana Akmal tadi jatuh, tak ada pergerakan apa pun di sana.
"Coba kita cari Om di luar, kamu keluar duluan yah, kalau ketemu, tolong ingetin kalau dia harus sholat ashar," pinta Aisyah.
"Oke, Ummi." Dengan semangat, Khaira langsung berlari keluar dari kamar itu untuk mencari Akmal, pria yang sebenarnya ada di kamar itu tapi tak terlihat.
Setelah memastikan Khaira pergi, Aisyah langsung mengitari tempat tidur untuk melihat kondisi suaminya. Dan benar, pria itu sedang meringkuk di lantai dengan ekspresi cemberut.
"Astaghfirullah, maaf, Mas. Tadi itu refleks, aku nggak sengaja." Aisyah dengan cepat membantu Akmal bangun dan mendudukkannya di tempat tidur.
"Maaf yah, Mas," ulangnya lagi karena tak mendapat respon dari Akmal.
"Kamu itu yah, kecil-kecil tapi tenagamu kayak tenaga kuda, suami sendiri malah didorong, mana sampai jatuh lagi," ucapnya sembari mendengus kesal.
"Memangnya kamu belum ceritain ke Khaira yah kalau kita udah nikah?" tanya Akmal menatap Aisyah dengan alis yang hampir bertautan.
"Aku masih cari waktu yang tepat, sabar yah." Hanya kata itu yang bisa Aisyah katakan kepada pria itu.
Aisyah sendiri masih takut untuk mengungkapkan kebenarannya kepada anak sekecil Khaira, ia takut gadis itu kecewa dan tidak ingin lagi mendekatinya. Ia hanya berharap Akmal mau menunggunnya beberapa saat lagi.
⚓⚓⚓
Keesokan harinya Akmal sudah standby di meja kerjanya. Setelah mengantar Aisyah dan Khaira ke sekolah, Akmal langsung meluncur ke perusahaan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sudah menumpuk di meja kerjanya.
Tok tok tok
"Masuk!" titah Akmal.
Novi sang sekretaris kini datang menghampiri Akmal di meja kerjanya.
"Permisi, Pak. Bapak baru saja mendapat undangan makan siang dari Pak Andreas siang ini di restoran A," ujar Novi.
Akmal mengerutkan keningnya. "Pak Andreas? Dalam rangka apa? Bukannya pertemuan kemarin semua kesepakatan sudah fix yah?"
__ADS_1
"Benar, Pak. Tapi kali ini undangannya hanya untuk saling mengakrabkan hubungan satu sama lain mengingat Bapak baru pertama kali bertemu dengan Pak Andreas kemarin," jelas Novi, membuat Akmal mengangguk paham.
"Apa Bapak mau saya temani?" Novi kini berusaha menawarkan diri agar bisa membangun kedekatan dengan bosnya itu.
"Tidak perlu, tolong panggilkan Fadil ke ruangan saya sekarang," titah pria itu.
"Baik, Pak," wanita itu segera keluar dengan perasaan dongkol karena lagi-lagi usahanya untuk mendekati Akmal gagal.
Tak lama setelah itu, Fadil masuk ke ruangannya.
"Bapak memanggil saya?"
"Temani saya siang ini makan di luar bersama Pak Andreas," pinta Akmal.
"Baik, Pak."
⚓⚓⚓
Akmal dan Fadil memasuki sebuah restoran mewah yang menjadi tempatnya makan siang bersama Pak Andreas. Pelayan di restoran itu langsung mengarahkan dua pria itu untuk masuk di salah satu ruang VIP yang terpisah dari ruang makan biasa.
Tok tok tok
Akmal dan Fadil memasuki ruangan itu, dimana Pak Andreas dan sekretarisnya yang tidak lain adalah Via sudah menunggu mereka di dalam.
"Selamat siang, Pak Akmal, senang bisa bertemu lagi dengan anda," sapa Pak Andreas sembari mengulurkan tangannya dengan ramah.
"Selamat siang, Pak, senang juga bisa bertemu dengan anda, Pak Andreas." Akmal menyambut uluran tangan pria paruh baya di hadapannya dengan tak kalah ramah.
Pembicaraan ringan pun mulai terjadi, sembari menunggu makanan pesanan mereka datang.
"Saya sangat tidak menyangka seorang yang dulunya bekerja di tengah laut mencari nafkah bisa masuk ke dalam dunia bisnis seperti ini, Pak Akmal, tapi saya akui, kemampuan anda dalam berbicara dan mengambil keputusan patut di acungi jempol." Akmal mengerutkan keningnya menatap Pak Andreas, ia sedang menerka-nerka kemana kira-kira arah pembicaraan pria paruh baya itu kali ini.
"Maksud Bapak apa yah?
"Maaf Pak Akmal, saya harap anda tidak tersinggung. Apa Pak Zafran meiliki hubungan kerabat dengan anda? Tapi saya rasa Pak Zafran bukan tipe orang yang merekrut seseorang hanya karena hubungan kekerabatan, dia biasanya melihat pengalaman kerja dan latar belakang pendidikan terlebih dahulu, tapi kali ini sepertinya keputusan Pak Zafran berubah. Bagaimana bisa orang yang dulu bekerja hanya sebagai nelayan bisa langsung di angkat menjadi CEO? Yah meskipun mungkin hanya sementara," ungkap Pak Andreas terdengar sedikit sarkas.
"Nelayan?" lirih Akmal mengulangi pekerjaan yang tadi disebutkan oleh CEO dari Gemilang Group itu, lalu beralih menatap Via yang seolah tidak peduli dengan percakapan mereka.
"Maaf, Pak Andreas. Apa Bapak tidak tahu, nelayan adalah pebisnis yang hebat, ia bahkan terjun langsung ke lapangan untuk memastikan apa yang di tangkapnya itu benar-benar berkualitas. Ia juga sangat cerdas dan teliti untuk menjaga kualitas ikannya hingga sampai di tangan konsumen dengan kualitas yang sama, apa orang yang berstatus CEO juga bisa melakukan itu? Sepertinya tidak, karena tidak semua orang bisa menjadi nelayan profesional, termasuk CEO seperti anda," jelas Akmal seketika membungkam mulut pria paruh baya itu.
-Bersambung-
__ADS_1