
Rasa bersalah membuatku hilang arah. Aku bahkan tidak tahu apakah aku harus bahagia, sedih atau bahkan marah menerima pernikahan mendadak ini.
Aku akui, ada cinta dalam hati ini untuknya, tapi aku tak tahu apakah cinta ini akan berbalas atau hanya bertepuk sebelah tangan.
Aku takut luka di masa lalu akan kembali menyakitiku nantinya karena hubungan pernikahan yang masih di bawah bayang-bayang pria yang pernah menjadi calon suaminya.
(Akmal El-Mumtaz)
⚓⚓⚓
Pagi yang cerah dan hangat, membawa kembali cahaya yang sirna malam itu. Akmal tampak termenung seorang diri taman rumah sakit. Tatapannya lurus ke depan seolah sedang menerawang masa depannya.
"Nak," ucap Ibu Shalwa langsung ikut duduk di samping putranya itu.
"Ada apa? Apa yang membuatmu termenung pagi-pagi begini?" tanya Ibu Shalwa.
Terdengar embusan napas kasar dari pria itu. Tampak jelas keningnya mengerut, pertanda ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.
"Ceritakanlah pada mama kegundahanmu, Nak. Mama tidak janji bisa memberimu solusi, tapi setidaknya dengan bercerita beban di pikiranmu bisa sedikit berkurang."
Akmal menoleh ke arah sang ibu yang sedang menatapnya. "Ma, apa Akmal bisa berbaring di pangkuan Mama?" lirihnya.
Ibu Shalwa tersenyum tulus ke arah sang putra. "Tentu saja, Nak. Kemarilah." Wanita paruh baya menepuk pelan kedua pahanya mempersilahkan sang putra untuk membaringkan kepalanya di sana.
Sejenak Akmal memejamkan mata merasakan kenyaman dan kehangatan yang tidak pernah berubah dari kasih sayang Ibunya. Ia memang sudah dewasa, tapi tidak bisa ia pungkiri bahwa bagaimana pun juga, Ibu adalah tempat kembali ternyaman di saat rasa rindu dan masalah datang menghampiri.
Tangan yang sudah tidak kencang itu mengusap lembut surai rambut Akmal, membiarkan sang putra merasa tenang meski hanya sejenak.
"Ma, apa keputusan Akmal untuk menikahi Aisyah sudah benar?" Sebuah pertanyaan akhirnya keluar dari mulut pria itu setelah beberapa menit ia terdiam.
"Kenapa kamu menanyakan itu, Nak? Zafran sendiri yang memintamu kan? Artinya dia ikhlas. Lalu apa yang salah?"
__ADS_1
Lagi-lagi pria itu mengembuskan napasnya. "Entah kenapa Akmal selalu merasa bersalah pada Bang Zafran, Ma."
"Kenapa begitu?"
"Karena Akmal menikahi wanita yang Bang Zafran cintai, Ma," jawab Akmal lesu.
"Nak, cinta tidak serta merta menjadi alasan bersatunya.dua insan. Kamu tahu kan jodoh itu Allah yang atur?" tanya Ibu Shalwa, terasa Akmal menganggukkan kepalanya pelan.
"Pernikahanmu ini adalah bukti bahwa Allah akan mendekatkan yang berjodoh dan menjauhkan yang tidak berjodoh. Meski Zafran telah melamar Aisyah, jika Allah menakdirkan Aisyah justru menjadi jodohmu, maka tidak ada yang tidak mungkin, Nak, dan itu sudah terjadi kemarin," jelas Ibu Shalwa.
Lagi-lagi embusan napas terdengar dari pria itu.
"Nak, meski pernikahanmu ini mendadak, tetap jalani dengan baik, ingat kewajibanmu sebagai suami, jangan jadi suami yang lalai. Berusahalah untuk mencintai Aisyah, karena mama yakin, Aisyah adalah wanita sholehah yang tahu cara menempatkan diri meski dalam situasi terdesak atau mendadak, tentu ia akan belajar mencintaimu sebagai suaminya," lanjut wanita paruh baya itu menasehati putranya.
"Iya, Ma," cicit Akmal.
"Asal Mama tahu, Akmal sudah jatuh cinta kepada Aisyah jauh sebelum Zafran melamarnya," ucap Akmal tentu saja hanya dalam hati.
⚓⚓⚓
Belum lagi saat ini pikirannya sedang kalut karena pernikahan mendadaknya bersama Akmal, ditambah sikap Akmal yang begitu dingin padanya. Entah bagaimana nasib pernikahannya ke depan, ia bahkan tidak berani menghubungi pria itu. Jangankan menghubungi, nomor ponselnya saja ia tidak punya.
Wanita bercadar itu merasa sedikit lucu, dulu saat ada yang akan melamarnya, ia akan mengajukan sebuah pertanyaan terlebih dahulu. Namun, apa ini? Pria yang menikahinya kemarin justru tidak pernah mendengar pertanyaan itu. Ia bahkan tidak tahu, apakah pria itu mengetahui kekurangannya atau tidak.
"Aku serahkan semuanya kepadaMu ya Allah, semoga pernikahanku kali ini adalah pernikahan terakhirku dan membawa kebahagiaan, untikku dan semua orang," batinnya.
Aisyah kini berjalan memasuki rumah, tentu saja dengan ucapan salam terlebih dahulu.
"Ummi, panggil Khaira yang langsung berlari menghambur memeluk pinggang Aisyah saat wanita itu tiba di ruang keluarga.
"Gimana ujianmu, Sayang?" tanya Ibu Lina yang sejak tadi menemani Khaira bermain di ruang keluarga.
__ADS_1
"Alhamdulillah, lancar Ummi," jawab Aisyah. "Khaira udah makan?" tanyanya kepada gadis kecil yang masih memeluk pinggangnya erat.
"Sudah tadi, Ummi."
"Sudah sholat?"
"Sudah tadi sama Nenek."
"Ih, pinter banget sih Khaira," pujinya sembari mengelus lembut rambut gadis kecil itu.
"Ummi, temenin Khaira tidur siang siang dong, Khaira ngantuk nih," rengek gadis iu begitu manja.
"Baiklah, yuk kita ke kamar ummi," ajak Aisyah. Mereka pun kini berjalan barsama masuk ke kamar Aisyah yang begitu bersih dan rapi.
Aisyah membaringkan tubuh Khaira di atas tempat tidur lalu mengusap rambutnya perlahan dengan begitu lembut.
"Ummi, kenapa Papa lama sekali berobatnya yah? Kapan Papa sembuh dan bisa kembali lagi ke sini?" tanya Khaira sembari menatap Aisyah yang duduk tepat di sampingnya.
"Sayang, Papa sekarang lagi di uji oleh Allah. Allah ingin tahu seberapa besar kesabaran Papa dalam menghadapi penyakitnya ini. Kita doakan Papa yah agar Papa bisa cepat sembuh," jawab Aisyah.
"Ya Allah, sembuhkanlah Papa cepat-cepat, biar Ummi bisa segera jadi Mama Khaira," ucap gadis kecil itu sembari menengadahkan tangannya.
Aisyah menelan ludahnya kasar mendengar doa terakhir Khaira. Bahkan lidahnya kini terasa kelu, ia bingung harus bagaimana merespon doa gadis kecil itu. Tidak mungkin ia mengatakan 'aamiiin' sementara ia sudah menikah dengan Akmal, Om dari Khaira.
"Kok Ummi tidak aminkan?" Rupanya gadis kecil itu sejak tadi menantikan ucapan 'aamiiin' dari Aisyah.
"E-eh, iya aamiiin," ucapnya. "Untuk kesembuhan Pak Zafran," lanjutnya dalam hati.
"Khaira udah nggak sabar panggil Ummi dengan sebutan Mama," ujar gadis itu begitu semangat lalu memejamkan mata dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya.
Aisyah lagi-lagi terdiam sembari menatap sendu wajah gadis kecil yang kini napasnya mulai terdengar beraturan, pertanda ia sudah terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
"Maafkan ummi, Sayang. Ummi hanya manusia biasa yang tak bisa berbuat apa-apa untuk memenuhi keinginan kamu itu. Dulu Ummi sempat menduga bahwa mungkin Allah memang menakdirkan ummi menjadi mama kamu, tapi qadarullah, dugaan itu langsung terbantahkan saat yang mengucapkan ijab qabul di hadapan Abi kemarin adalah Om kamu dan bukan Papa kamu."
-Bersambung-