Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Kehamilan Via


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, tibalah saatnya Akmal kembali bekerja di dunia pelayaran. Sore itu, Aisyah dengan begitu setia mengantar sang suami ke dermaga, bahkan sepanjang perjalanan, ia tak pernah melepaskan genggaman tangannya.


"Sayang, aku berangkat dulu yah, jaga kesehatan kamu, jangan telat makan, aku mengizinkanmu tinggal di rumah Abi dan Ummi, kapan pun kamu mau," ucapnya sembari memeluk tubuh Aisyah dan mengusap lembut kepalanya yang tertutup kerudung. Namun, tak ada respon sama sekali dari wanita itu, hanya terasa getaran di tubuhnya yang semakin lama semakin jelas terasa, pertanda ia sedang menangis dalam diam.


"Sayang serahkan semuanya kepada Allah, semoga Allah senantiasa menjaga kita, yah Sayang. Jangan nangis gini dong, aku jadi berat ninggalin kamu," ucap Akmal kali ini dengan suara yang mulai bergetar.


Aisyah mendongak tanpa melepas tangannya yang melingkar di pinggang Akmal saat mendengar suara pria itu yang bergetar. Terlihat mata indahnya yang sudah basah, begitu pun cadarnya yang sudah basah di bagian atasnya.


Tangan Akmal kini terangkat untuk menghapus air mata itu dengan begitu lembut. "Ingat kataku semalam, Sayang?" tanyanya dan Aisyah mengaggukan kepalanya.


"Meski kita jauh, tapi kita tetap dekat dalam doa, kita tak saling melihat, tapi ada Allah yang Maha Melihat, kita tak saling mendengar, tapi ada Allah yang Maha Mendengar doa hambaNya, maka sebut namaku dalam setiap doamu," ucap mereka bersamaan.


Keduanya saling menatap dan melemparkan senyum terindah mereka satu sama lain. "Aku mencintaimu, Istriku."


"Aku juga mencintaimu, Suamiku."


Akmal mengecup kening Aisyah begitu lama, lalu kembali memeluknya begitu erat.


Senja di dermaga sore itu lagi-lagi menjadi saksi perpisahan Aisyah dengan sang kekasih. Meski suasananya hampir sama dengan yang ia alami di masa lalu, tapi satu yang diyakini Aisyah, 'mereka berpisah untuk kembali.'


 


⚓⚓⚓


Seorang pria baru saja terbangun dari tidur siangnya panjangnya. Ia sejenak mengecek ponselnya untuk melihat jam, tapi keningnya mengerut saat melihat sebuah pesan masuk dari teman dekatnya.


Akmal


Halo, Bill. Maaf karena aku ingin meminta tolong lagi kepadamu. Tolong selidiki kedua orang ini beserta hubungannya, namanya Andreas Meyer dan Mustavia Dewi. Dan tolong selidiki juga bagaimana mereka menjalankan bisnis di perusahaan selama satu tahun terakhir dan satu tahun ke depan. Jangan hubungi aku selama satu tahun ke depan karena aku sudah kembali berlayar, tapi setelah aku menyelesaikan pekerjaanku ini, kau harus memberikan semua yang sudah ku minta.


Selain pesan tersebut, Akmal juga mengirimkan foto kedua orang itu kepada pria yang tidak lain adalah Billy.


"Dih, bossy sekali dia. Tapi tak apalah, aku suka tugas ini," gumamnya lalu beranjak dari tidurnya dan berjalan ke ruang kerjanya yang berisi beberapa komputer.


⚓⚓⚓


Keesokan harinya, seorang wanita cantik sedang menunggu giliran pemeriksaan oleh dokter di sebuah rumah sakit karena akhir-akhir ini ia merasa tidak enak badan, sering mual dan tidak nafsu makan. Bahkan saat ini tubuhnya begitu lemas karena sejak semalam ia tidak bisa makan.


"Ibu Mustavia Dewi," panggil seorang perawat wanita.


Dengan langkah gontai, Via berjalan memasuki ruangan dokter.


"Silahkan duduk, Bu." Dokter mempersilahkan Via untuk duduk dan menanyakan keluhannya. Dan wanita itu pun menjelaskan apa yang ia rasakan selama beberapa hari terakhir.

__ADS_1


"Silahkan Ibu naik di atas tempat tidur itu, biar saya periksa." Via melakukan apa yang di perintahkan dokter, dan dokter pun mulai melakukan pemeriksaan.


"Kapan Ibu terakhir menstruasi? tanya dokter itu.


"Sepertinya dua bulan yang lalu, Dok."


"Jadi sampai sekarang belum pernah lagi yah?"


"Iya, Dok."


Dokter mengangguk paham, lalu kembali duduk di kursi kerjanya di ikuti dengan Via yang juga ikut duduk di hadapan dokter.


"Begini, Bu. Berdasarkan hasil pemeriksaan saya tadi, dan merujuk pada gejala dan informasi menstruasi Ibu, kemungkinan besar Ibu sedang hamil."


"A-apa? Hamil?" Wajah Via seketika berubah pucat mengetahui fakta itu.


"Iya, Bu. Saya rekomendasikan agar Ibu langsung mengecek kebenarannya di dokter obgyn," jawab dokter itu.


Setelah dari dokter poly umum tadi, kini Via berjalan ke poly obgyn dengan begitu malas, tapi mau tidak mau ia harus memeriksanya agar ia bisa yakin dan bisa meminta pertanggung jawaban dari pria yang sudah menghamilinya itu.


Tak butuh waktu lama, Via kini sudah berada di dalam ruangan dokter obgyn. Setelah berbincang-bincang sejenak, Via kembali diminta untuk berbaring di atas tempat tidur. Sebuah gel yang terasa dingin di tambah alat USG yang di geser beberapa kali di perut bawahnya semakin menambah rasa gugup wanita itu.


"Ibu coba lihat ini, yang besar ini adalah kantong janinnya yah, dan yang kecil seperti kacang ini adalah embrionya, ukurannya saat ini 2,7 sentimeter di usia 8 minggu," jelas dokter itu sembari menunjuk layar monitor USG.


"Ibu saya akan resepkan vitamin untuk Ibu, tolong di jaga baik-baik kesehatan ibu dan kandungannya, alangkah baiknya saat pemeriksaan selanjutnya suami ibu datang mendampingi, karena bagaimana pun kehadiran suami bisa menjadi support system (pendukung) untuk Ibu," jelas dokter itu.


Bagaikan sebuah tamparan keras saat mendengar kata 'suami'. "Bahkan berkali-kali aku memintanya menikahiku dia tetap menolak, tapi semoga dengan kehadiran anaknya ini dia mau menikahiku," batinnya sembari mengusap perutnya yang sudah sedikit membuncit.


--


Via tiba di sebuah gedung pencakar langit yang begitu megah. Dengan begitu percaya diri, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung itu dan langsung menuju ke ruang CEO.


Tanpa mengetuk pintu, Via langsung masuk ke ruangan itu.


"Loh, sayang, katanya kamu sakit, kenapa sekarang malah datang ke sini?" tanya pria paruh baya yang tidak lain adalah Pak Andreas.


Via meletakkan sebuah amplop di hadapan pria itu tanpa berbicara apa pun.


"Apa ini, Sayang?"


"Buka."


Andreas membuka amplop itu dan terlihat sebuah foto hasil USG. "Apa maksudnya ini?" tanya pria itu dengan wajah serius. Dia jelas tahu gambar apa yang berada di tangannya saat ini.

__ADS_1


"Aku hamil, dan aku ingin kamu segera menikahiku," jawab Via.


"Apa? Tidak Via, aku tidak mungkin menikahimu karena aku sudah memiliki istri," tolak Pak Andreas.


"Jadikan aku istri kedua, aku tidak akan mempermasalahkannya.


"Tidak Via. Aku tidak akan menduakan istriku dalam pernikahan," tolak pria itu lagi.


"Lalu apa yang kau lakukan bersamaku selama ini? Bukankah itu namanya mendua?" Suara Via kini mulai bergetar, bahkan air mata sudah memenuhi permukaan matanya.


"Tidak bisa Via, kita kan sudah sepakat, hubungan kita ini hanya bersifat simbiosis mutualisme, saling menguntungkan, aku menjamin keuanganmu dan keluargamu, dan kamu memenuhi semua keinginanku termasuk urusan "itu", kita tidak pernah menjalin hubungan yang sesungguhnya, itu kesepakatan kita dari awal bukan?"


Air mata Via kini mengalir tanpa bisa ia hentikan. Apa yang dikatakan Pak Andreas memang benar, harusnya dari awal ia tidak berharap banyak padanya.


Tanpa berkata apa pun, Via langsung pergi dari ruangan itu dengan membawa luka dan kekecewaan di hatinya. Ia memasuki mobilnya dan menumpahkan semua kekesalan yang ia rasakan, bahkan beberapa kali ia memukuli perutnya karena begitu tertekan.


Di tengah isak tangisnya, suara ponsel berbunyi, menandakan ada yang sedang menghubunginya.


"Halo, Za, bagaimana hasil penyelidikanmu?"


"..."


"Tidak, aku sedang berada di mobilku, kau saja yang ke sini."


"..."


"Oke, kutunggu."


Tak berselang lama, seorang pria masuk ke dalam mobil Via.


"Halo Via, maafkan aku karena lambat mengabarkan informasi penting ini," ucap pria itu.


"Jadi wanita bernama Aisyah itu rupanya seorang janda, dia ditinggalkan suaminya karena tidak bisa memiliki anak."


"Maksudmu mandul?"


"Mungkin seperti itu, dan dulu dia hampir menikah dengan Zafran, tapi karena saat itu Zafran sakit, maka Akmal lah yang menikahinya atas permintaan Zafran."


"Tunggu dulu, jadi maksudmu mereka menikah karena terpaksa yah?"


"Tepat sekali, dan kau tahu, saat ini Akmal kembali bekerja di pelayaran karena tidak ada satupun perusahaan yang menerimanya."


Via terdiam sejenak, tiba-tiba ia terpikirkan sebuah ide cemerlang. "Terima kasih, Za. Informasimu sangat berarti untukku," ucapnya tersenyum lebar.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2