
Sudah cukup lama dokter memeriksa keadaan Zafran di dalam kamar rawatnya. Semua orang yang sejak tadi menunggu mulai merasa khawatir mengenai keadaan Zafran yang menjadi penyebab lamanya dokter memeriksa.
"Kenapa dokter lama sekali di dalam?" tanya Ibu Sofi mulai khawatir.
"Sabar yah, Mbak. Mungkin banyak yang diperiksa oleh dokter, makanya lama," ujar Shalwa, ibu dari Akmal.
Ibu Sofi menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan. "Semoga saja," ucapnya berusaha sabar dan berpikir positif.
"Kak, calonnya Abang Zafran yang mana sih? Yang itu atau yang itu?" bisik Aira sembari mengedikkan dagunya ke arah Aisyah dan Ainun, kebetulan jarak mereka saat ini sedikit jauh.
"Menurutmu yang mana, Dek?" Alih-alih menjawab pertanyaan adiknya, Akmal justru balik bertanya.
"Hmm, kalau aku sih yang kerudung cokelat," jawab Aira sembari menatap Ainun.
"Kok kamu bilang gitu?" Akmal mengernyitkan alisnya sembari menatap sang adik.
"Yaa karena cantik aja sih, heheh," jawab Aira nyengir. "Eh, tapi yang pakai cadar pasti cantik juga, kelihatan dari matanya, tapi ...." Aira menggantungkan kata-katanya sembari menatap Akmal dan Aisyah bergantian.
"Tapi apa?" Akmal semakin penasaran dibuat adiknya itu.
"Tapi, dia cocoknya sama kakak sih," lanjut Aira, membuat Akmal segera memalingkan wajah untuk menutupi wajahnya yang awalnya putih kini tampak memerah.
Untuk sesaat ia terdiam, namun seketika ia menggelengkan kepalanya cepat saat menyadari kesalahannya. "Astaghfirullah, ini tidak benar," lirihnya.
"Apa kak?" tanya Aira yang tanpa sengaja mendengar kakaknya berucap namun tidak begitu jelas terdengar oleh telinganya.
"Kamu salah, Ai. Calonnya Bang Zafran itu yang pake cadar." Akmal segera meluruskan perkataan sang adik, membuat gadis itu langsung kembali memandang ke arah Aisyah.
"Oh, aku salah ternyata, berati aku belum punya bakat jadi peramal cinta," candanya, membuat Akmal segera menarik hidung gadis di sampingnya itu dengan gemas.
"Dasar bocah, belajar baik-baik sana biar cepat jadi sarjana, kakak kerja agar kamu kuliah dengan baik, bukan untuk belajar jadi peramal cinta," dumel pria itu.
"Iya iya, apaan sih, bercanda aja nggak boleh," gerutu gadis itu sembari memanyunkan bibirnya, membuat Akmal semakin gemas melihat tingkah adik kesayangannya.
Tak lama setelah itu, suara pintu kamar Zafran berbunyi, dan dokter keluar dari dalam sana. Akmal dan Ibu Sofi langsung menghampirinya dengan rasa penasaran yang membuncah.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya, Dok?" tanya Akmal.
__ADS_1
Dokter itu tidak langsung menjawab, ia justru terlihat bingung, bahkan sampai mengerutkan keningnya.
"Pak Akmal, boleh kita bicara sebentar?" tanya dokter itu.
"Oh iya, Dok," jawab Akmal.
"Dokter apa saya boleh tahu apa yang akan kalian bicarakan?" tanya Ibu Sofi penasaran.
Dokter sejenak melirik ke arah Akmal untuk meminta persetujuannya.
"Ayo tante," ajak Akmal. Mereka pun pergi bersama ke ruangan dokter untuk berbicara secara pribadi.
"Ada apa, Dok?" tanya Akmal saat telah duduk bersama Ibu Sofi di ruangan dokter.
"Begini, Pak Zafran sudah mengetahui kalau Bapak yang akan mendonorkan ginjalnya," ujar dokter itu.
"Apa?" pekik Ibu Sofi begitu terkejut. "Akmal kamu ...." Ibu Sofi menatap Akmal dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa tante, ginjal manusia kan ada dua, kalau di donorkan satu kan tidak masalah," jawab Akmal santai sembari pengusap punggung Ibu Sofi.
"Lalu bagaimana tanggapannya, Dok?" lanjut Akmal bertanya kepada dokter.
"Apa?" pekik Akmal dan Ibu Sofi yang kembali terkejut.
"Maaf, Pak, Bu, saya sudah berusaha membujuk Pak Zafran, tapi beliau tetap tidak ingin mendapat donor ginjal dari keluarganya," jelas dokter.
Akmal dan Ibu Sofi membuang napas kasar lalu saling memandang sendu.
⚓⚓⚓
Akmal dan Ibu Sofi kini berjalan bersama tanpa sepatah kata pun, rasanya untuk melangkah saja sangat berat saat ini. Namun, bagaimana pun mereka tetap harus berbicara kepada Zafran untuk mendengar alasannya, meski sebenarnya mereka sudah tahu apa yang akan dikatakan pria itu.
Kini mereka tiba di kamar Zafran di mana semua orang sudah menunggu di dalam.
"Kak, Abang Zafran mencarimu," ujar Aira langsung mengampiri Akmal saat melihat sang kakak tiba bersama Ibu Sofi.
Akmal melangkah perlahan mendekati Zafran dengan tatapan sendu, dadanya benar-benar terasa sesak saat ini. Rasanya ia ingin memarahi pria itu, bagaimana bisa Zafran tidak ingin di tolong olehnya, apakah dia akan membiarkan tubuhnya sakit seperti itu?
__ADS_1
"Akmal ..."
"Kenapa menolak?" tanya Akmal datar sebelum Zafran melanjutkan perkataannya.
Pria itu bahkan sedang berusaha keras menahan gejolak di hatinya yang membuat matanya kini terasa panas.
"Maaf, ak...," ujap Zafran lagi-lagi terputus.
"Apa kau sudah merasa hebat hingga tidak membutuhkan bantuanku?"
Satu tetes air mata berhasil lolos ke pipinya. Ruangan yang berisi banyak orang itu kini terasa hening. Akmal tidak peduli lagi dengan mereka yang melihatnya menangis, biarlah mereka menganggapnya cengeng, yang jelas hati pria itu kini dilanda rasa sesak yang begitu hebat.
"Aku hanya tidak ingin kamu berkorban lagi untukku, Mal," ujar Zafran cepat sebelum adik sepupunya itu kembali memotongnya.
"Berkorban?" Akmal tertawa getir, ia sejenak ia tertunduk untuk menghapus air matanya lalu kembali menatap pria yang tengah berbaring di hadapannya saat ini.
"Aku tidak pernah merasa berkorban karena sejatinya aku tidak pernah menjadikan diriku sebagai korban yang melakukannya dengan terpaksa atau karena rasa kasihan, aku melakukannya karena aku tulus menyayangimu sebagai kakakku, dan apa yang aku punya, selama aku bisa berbagi maka akan kubagi kepadamu, Bang," jelasnya panjang lebar disertai penekanan.
Akmal membuang muka menatap langit-langit kamar itu demi menahan air mata yang lagi-lagi ingin menumpahkan diri. Napasnya kian memburu menahan emosi yang semakin membuncah dalam dadanya.
Begitu pun dengan Zafran yang kini terdiam dengan mata yang mulai berembun setelah mendengar perkataan Akmal. Sebegitu besarnyakah rasa kasih sayang adik sepupunya itu hingga ia rela berbagi meski itu bisa saja menyakitinya di kemudian hari?
"Akmal, dengarkan aku," pinta Zafran, membuat Akmal kembali menoleh ke arahnya setelah tadi ia menghela napas dalam lalu membuangnya perlahan.
"Terima kasih atas semuanya, aku sangat bahagia memiliki adik sepertimu, kamu tahu? Aku juga menyayangimu sebagai adikku, itu sebabnya dengarkan permintaanku ini," lanjut Zafran sembari mengusap matanya cepat sebelum air matanya tumpah.
"Apa itu?" tanya Akmal.
Zafran tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh ke arah Aisyah yang kini sedang menatapnya dengan tatapan sendu, bahkan cadarnya terilhat basah, pertanda ia baru saja menangis.
"Aisyah, tolong mendekatlah sebentar," pinta Zafran dengan suara bergetar.
Wanita bercasar itu langsung menuruti permintaan Zafran, kini tampak jelas mata indah wanita itu yang tidak seputih biasanya, matanya tampak sedikit merah saat ini dengan jejak air mata yang masih membekas di pelupuk matanya.
Zafran perlahan menarik napas dalam sembari memejamkan mata, lalu membuangnya perlahan.
"Aisyah, maafkan aku yang begitu lemah ini, maafkan sikap pengecutku, kamu boleh membenciku setelah ini, tapi kamu harus tahu, aku melakulan ini karena aku menyayangi kamu dan aku ingin kamu bahagia," ungkap Zafran dengan suara bergetar, membuat semua orang yang ada di dalan ruangan itu merasa bingung, tak terkecuali Aisyah dan Akmal yang kini menautkan alisnya.
__ADS_1
"Aisyah, detik ini juga, aku membatalkan khitbahku, kamu kini bebas memilih dengan siapa kamu akan menikah. Jika kemarin aku mengkhitbahmu dengan cara baik-baik, maka sekarang aku membebaskanmu dengan cara baik-baik pula."
-Bersambung-