
Aku pernah berdoa agar Allah melembutkan hatiku pada seseorang yang tulus padaku kelak. Dan Aku tidak tahu sejak kapan hatiku melembut padanya, padahal kami baru saja menikah.
Aku akan belajar menjadi istri yang baik, semoga Allah juga melembutkan hatimu sebagaimana Dia telah melembutkan hatiku untukmu.
(Aisyah Sidqiah Rahman)
⚓⚓⚓
Malam sudah semakin larut, tapi tak jua membuat mata wanita cantik itu terpejam. Ia berbaring di atas kasur, pandangannya lurus menatap langit-langit. Sesekali ia memeriksa ponselnya, tapi lagi-lagi embusan napas lesu kembali terdengar dari wanita itu.
"Sepertinya dia masih belum bisa menerima pernikahan ini, aku terlalu berharap banyak agar ia menanyakan kabarku, nyatanya bahkan hanya membalas pesanku saja dia enggan," gumam Aisyah lalu segera menonaktifkan ponselnya dan masuk ke dalam dunia mimpi.
⚓⚓⚓
Di sisi lain, Akmal baru saja tiba di rumah Kiai Rahman. Ia kini sedang berjalan ke arah kamar Aisyah sebagaimana yang diinstruksikan oleh ayah mertuanya itu.
Ceklek
Perlahan Akmal membuka pintu kamar, tampak lampu tamaram dan seorang gadis kecil yang telah tertidur pulas di tempat tidur berukuran sedang. Ia melangkahkan kakinya masuk secara perlahan agar langkahnya tak mengganggu tidur nyenyak Khaira.
Pria itu memilih duduk sebentar di depan meja rias milik Aisyah. Sejenak ia memperhatikan semua yang ada di atas meja itu, beberapa skincare dan juga beberapa beberapa buku yang tertata rapi. Namun, perhatiannya kini tertuju pada sebuah foto wanita bercadar yang berdiri di meja tersebut.
Akmal mengulurkan tangannya untuk meraih foto itu, diperhatikannya foto itu baik-baik, dan lagi-lagi seutas senyuman yang disertai degupan jantung hadir tanpa ia sadari.
"Aku baru sadar, bahkan setelah satu minggu kita menikah, aku belum pernah melihat wajahmu," monolognya dengan suara pelan.
Namun, tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. "Eh tunggu, tapi guru yang aku temui di toilet saat itu kenapa matanya mirip Aisyah yah, apa jangan-jangan dia Aisyah?" tanyanya pada diri sendiri, mencari jawaban yang ia sendiri belum meyakininya..
Akmal kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, jam di ponselnya telah menunjukkan pukul 23.00.
"Apa dia sudah tidur?" lirihnya sembari melihat nomor dengan nama Aisyah yang terpampang jelas di layar ponselnya.
Pria itu menarik napas dalam lalu mengembuskannya dan segera menekan tombol panggilan ke nomor tersebut. Ia bermaksud untuk mengabari Aisyah jika ia sudah tiba di rumahnya, tapi hingga 3 kali ia mencoba tak kunjung tersambung.
Pria itu akhirnya memutuskan untuk membersihkan dirinya lalu beristirahat tepat di samping Khaira.
__ADS_1
⚓⚓⚓
Keesokan harinya, Akmal melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerjanya. Di dekat pintu masuk, sudah berdiri Novi, sang sekretaris yang memberikan sapaan dan disertai senyuman terbaiknya. Wanita itu rupanya sudah sangat merindukan kehadiran bosnya yang diam-diam telah membuatnya jatuh hati.
Akmal mendudukkan bokongnya di kursi kebesaran yang sesungguhnya milik Zafran. Ia mulai memeriksa beberapa berkas yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya satu per satu. Tak lama setelah itu terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk!" titah pria itu tanpa mengalihkan pandangannya dari sebuah berkas di hadapannya.
Novi masuk bersama Fadil dan berdiri tepat di hadapan meja kerja Akmal.
"Maaf, Pak, 30 menit lagi meeting kita dengan Gemilang Group akan di mulai," ucap Novi memberitahukan agenda penting pagi ini yang menjadi alasan Akmal harus kembali ke Indonesia malam tadi.
"Untuk tambahan informasi, CEOnya bernama Pak Andreas, ia adalah investor terbesar sekaligus investor pertama yang menjadi awal mula berkembangnya perusahaan ini," sambung Fadil. Meskipun mungkin Akmal sudah mengetahuinya, tapi ia hanya ingin mengantisipasi jika saja bosnya itu lupa.
"Baiklah, kalau begitu kita ke ruangan meeting sekarang, jangan lupa berkas-berkas meetingnya," titah Akmal penuh wibawa lalu beranjak dari duduknya.
Kini mereka sudah berada di ruangan meeting sembari membicarakan apa yang nanti akan di bahas dalam meeting. Sebagai pendatang baru di dunia bisnis, Akmal terbilang cukup cepat dalam belajar, terbukti dari caranya memimpin dan mengambil keputusan penting untuk perusahaan itu.
Beberapa menit telah berlalu, satu per satu peserta meeting kini telah tiba, termasuk perwakilan dari Gemilang Group. Kening Akmal mengerut dan sedikit terkejut saat melihat pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan, dan semakin bertambah rasa terkejutnya saat melihat seorang wanita yang berjalan di belakang pria tadi.
⚓⚓⚓
Sementara itu di rumah sakit, Zafran kembali di periksa sebelum nantinya di operasi. Ibu Sofi, Ibu Shalwa, Aira, Aisyah dan Ainun kembali menunggu di luar kamar.
"Semoga saja operasinya benar-benar bisa berjalan sukses hari ini." Ibu Sofi tampak begitu tegang memikirkan keadaan putranya. Bahkan sejak tadi ia tidak berhenti mondar-mandir di depan kamar rawat Zafran.
"Mbak, tenanglah, kita berdoa saja, insya Allah semua berjalan lancar." Ibu Shalwa menghampiri kakaknya dan menepuk pelan pundaknya.
Tak lama setelah itu, dokter keluar dari kamar rawat Zafran diikuti dengan beberapa perawat yang mendorong brangkar di mana Zafran berada.
"Ma, tante, doakan Zafran," ucap pria itu saat melewati mereka.
"Iya, Nak. Kami selalu mendoakanmu," ucap Ibu Sofi.
Mereka semua kini berjalan menyusul Zafran menuju ke depan ruang operasi.
__ADS_1
"Aisyah, tolong hubungi Akmal, katakan padanya kalau Zafran sudah masuk ruang operasi," pinta Ibu Shalwa.
"Iya, Ma," jawabnya lalu menjauh dari mereka untuk menghubungi Akmal yang tidak lain adalah suaminya.
Namun, setelah beberapa kali mencoba, Akmal tak kunjung mengangkat teleponnya.
"Apa dia masih meeting?"
⚓⚓⚓
Meetig baru saja selesai dengan begitu lancar. Satu per satu orang keluar dari ruangan itu, kecuali Akmal, Novi, dan Fadil yang masih berbincang-bincang sedikit.
Tok tok tok
"Permisi, apa saya boleh berbicara dengan Pak Akmal?" tanya seorang wanita, membuat Novi dan Fadil akhirnya memutuskan keluar lebih dulu untuk memberikan privasi kepada bosnya.
Akmal berdiri saat melihat wanita yang pernah mengisi hatinya sedang berada tepat di hadapannya.
"Cukup berdiri di situ," tegas Akmal saat melihat wanita itu hendak menghampirinya.
"Oh, o-oke," ucap Via sedikit canggung. "Bagaimana kabarmu, Mal. Lama tidak berjumpa," lanjutnya basa-basi.
"Baik, seperti yang kamu lihat saat ini," jawab pria itu datar sembari membuang tatapannya ke sembarang arah.
"Akmal, kamu tahu, sudah lama aku mencarimu, aku sangat merindukanmu," ungkap Via, membuat Akmal langsung tersenyum miring.
"Rindu? Lupakan saja rindumu, aku tidak tertarik," jawabnya ketus.
Via tampak membuang napas kasar, ia benar-benar menyesal telah mengkhianati Akmal saat itu. Apalagi pria itu tampak semakin tampan dan berkarisma dengan penampilan rapi ala kantoran seperti ini, sangat jauh berbeda dengan Akmal yang dulu selalu tampil dengan gaya kasual.
"Akmal ...."
"Jika tidak ada hal penting yang ingin kamu katakan, sebaiknya kamu pergi," ucap pria itu memotong perkataan Via lalu segera pergi meninggalkan ruangan.
"Akmal tunggu," panggil Via tapi tak di gubris oleh pria itu, kini ia hanya bisa menatap nanar punggung kekar mantan kekasihnya yang semakin lama semakin mejauh.
__ADS_1
-Bersambung-