Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Berdua Saja


__ADS_3

Kala hati mulai melembut, perasaan cinta akan hadir sedikit demi sedikit di dalam hati. Tak perlu pikirkan perasaan yang kalut, sebab dengan sendirinya rasa tenang dan damai akan menghampiri.


Meski aku tak tahu perasaanmu, biarlah aku yang memulai, mencintai meski belum tentu dicintai. Aku hanya ingin menjalankan kewajibanku, tidak masalah bagaimana akhirnya kamu akan menganggapku, sebab Allah yang akan menjadi saksi bagaimana usahaku kelak menjadi istri yang berbakti untukmu.


(Aisyah Sidqia Rahman)


⚓⚓⚓


Aisyah dan Akmal berdiri bersampingan di dinding dekat ruang operasi. Keduanya masih canggung untuk saling berbicara satu sama lain, bagaikan anak remaja yang lagi kasmaran tapi masih malu-malu kucing.


"Ma, lihat deh Kakak dan Kakak Ipar. Persis banget kayak aku waktu zaman SMP yang kalau ketemu sama cinta monyet pasti malu-malu kayak gitu," bisik Aira sembari terkekeh.


"Iya juga, biarlah mereka menikmati proses perkenalan dan pendekatan yang begitu indah itu, melihat bagaimana sikap mereka, mama yakin di antara mereka sudah tumbuh benih cinta meski mereka belum menyadarinya," lirih Ibu Shalwa.


"Kamu sudah makan?" lirih Aisyah menoleh ke arah Akmal yang tubuhnya jauh lebih tinggi darinya.


"Belum, tadi belum sempat makan saat akan ke sini," jawab Akmal lirih sembari memainkan ponselnya.


"Kalau begitu, apa boleh aku temani kamu makan?" tawar Aisyah, seketika membuat Akmal menoleh ke arahnya.


"Ta-tapi kalau kamu tidak mau nggak apa-apa, aku akan tetap di sini," cicit Aisyah lalu kembali tertunduk.


"Memangnya kamu mau temani aku makan?" Akmal ingin memastikan, ia tidak menyangka Aisyah akan menawarkan diri untuk menemaninya makan.


"Iya, kan tadi udah bilang," jawab Aisyah.


"Ya udah, ayo." Akmal kini melangkah lebih dulu setelah pamit pada Ibu Sofi dan Ibu Shalwa.


Sementara Aisyah berjalan sambil tertunduk di belakangnya karena tak bisa mengimbangi langkah lebar pria itu. Akmal yang mulai menyadari Aisyah memilih berjalan di belakang akhirnya menghentikan langkahnya, membuat Aisyah menabrak puggung lebar Akmal tanpa sengaja.


"Astaghfirullah," ucapnya terkejut lalu mengusap hidungnya yang sedikit sakit.


Menyadari itu, Akmal segera berbalik ke belakang melihat keadaan istrinya. "Maaf, kamu tidak apa-apa?" tanyanya sedikit khawatir

__ADS_1


"Iya, nggak apa-apa, lanjut aja jalannya," jawab Aisyah.


"Tapi kamu jalan di sampingku, jangan di belakangku," pinta Akmal.


"I-iya, tapi tolong, jalannya pelan-pelan aja, aku nggak bisa ngimbangi langkah kaki kamu yang lebar soalnya," cicit Aisyah, membuat Akmal berusaha menahan senyum, kenapa menggemaskan sekali sih wanita ini.


"Baiklah," jawabnya singkat, sangat bertolak belakang dengan hatinya yang ingin bicara panjang lebar.


Mereka pun kembali melangkah bersama menuju ke tempat makan yang lokasinya tidak jauh dari rumah sakit. Tak ada yang berbicara, hanya diam yang menyertai langkah mereka hingga tiba di sebuah restoran Melayu.


Akmal pun mulai memesan makanannya, sementara Aisyah hanya memesan minuman.


"Kenapa tidak memesan makanan?" tanya Akmal.


"Tadi sudah makan sama Ainun, sekarang aku ingin menemanimu makan siang," jawab Aisyah, membuat Akmal menganggukkan kepalanya pelan.


Mereka kembali terdiam dalam pikiran masing-masing. Tak ada lagi yang memulai pembicaraan hingga Akmal menyelesaikan makannya.


Tak berselang lama, mereka pun kembali ke rumah sakit untuk menunggu operasi Zafran selesai. Dan benar, beberapa saat kemudian Zafran akhirnya di keluarkan dari ruang lan tersebut dalam keadaan belum sadarkan diri.


"Untuk saat ini, biarkan Pak Zafran berisitirahat, cukup satu orang saja yang menjaganya. Nanti setelah Pak Zafran sadar, kalian boleh mengunjunginya kembali," ujar dokter itu lalu pergi.


"Betul kata dokter, kalian pergilah istirahat, biar aku yang menjaga Zafran di sini, nanti akan aku kabari kalau Zafran sudah sadar," ujar Ibu Sofi.


Mereka pun akhirnya menyetujui perkataan Ibu Sofi dengan pergi ke hotel terdekat di mana Aisyah dan Ainun bermalam.


"Mama dan Aira akan istirahat bersama, kalian juga yah," ujar Ibu Shalwa menatap putranya.


"I-iya, Ma," jawab Akmal, kemudian melihat mereka masuk dan menutup pintu kamar.


"Kalian jangan lupa istirahat baik-baik yah," ucap Ainun mengerlingkan matanya kepada Aisyah lalu masuk ke dalam kamarnya.


Kini tersisa Aisyah dan Akmal. Entah kenapa wanita bercadar itu selalu merasa gugup saat hanya berdua dengan pria berstatus suaminya, ia bahkan tidak bisa membayangkan apa yang akan ia rasakan saat berada di dalam kamar tertutup bersama pria itu.

__ADS_1


"Kamu tidak ingin masuk?" tanya Akmal saat melihat Aisyah hanya diam sembari memegang key card-nya.


Mendengar suara bariton pria di belakangnya, membuat Aisyah sedikit terkejut. "Ma-maaf, ini baru dibuka," ucapnya sembari membuka pintu.


"Silahkan masuk." Aisyah sedikit menggeser tubuhnya ke samping untuk mempersilahkan Akmal masuk, kemudian ia masuk belakangan.


Aisyah sejenak terdiam saat melihat kini Akmal telah duduk di tempat tidur. Perlahan ia mendekati pria itu meski ia harus berusaha bersikap normal di tengah degupan jantungnya yang terasa sangat cepat.


Aisyah memposisikan diri untuk membuka sepatu sang suami, membuat pria itu terkejut dan refleks menarik kakinya menjauh.


"Maaf, aku hanya ingin membantu melepaskan sepatu kamu," cicit Aisyah.


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri," tolak Akmal. Bukan karena tidak ingin, tapi ia hanya merasa tidak terbiasa dan tidak nyaman jika Aisyah berjongkok di hadapannya untuk sekadar membukakan sepatu, meski ia tahu bahwa itu adalah salah satu bentuk bakti Aisyah kepada dirinya sebagai suami.


Aisyah hanya membuang napas perlahan saat melihat Akmal membuka sepatunya sendiri. Ia merasa sedikit lesu karena Akmal menolak bantuannya.


"Apa kamu ingin mandi? Biar aku siapkan air hangat untukmu," tawar Aisyah kembali.


"Iya," jawab Akmal singkat, kali ini pria itu tidak ingin menolak tawaran sang istri lagi, ia sadar Aisyah pasti akan merasa kecewa jika ia selalu menolak tawaran bantuan darinya.


Setelah beberapa menit berlalu, Aisyah mempersilahkan Akmal untuk mandi lebih dulu, dan pria itu menurut tanpa banyak bicara. Hingga 30 menit telah berlalu, Akmal keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


"Ini teh untukmu," ucap Aisyah tertunduk sembari meletakkan secangkir teh di atas nakas tanpa menoleh ke arah pria itu.


"Terima kasih," ucap Akmal langsung duduk di tempat tidur, tepat di hadapan Aisyah.


Ia menatap wajah Aisyah yang sedikit tertunduk membuat Aisyah semakin menunduk dalam. Akmal menarik kedua ujung bibirnya membentuk senyuman tipis melihat ekspresi malu-malu Aisyah.


Merasa salah tingkah karena di tatap, Aisyah berniat pergi dari hadapan Akmal, tapi gerakan tangan Akmal yang sangat cepat langsung menahan tangan Aisyah.


"Tunggu, aku ingin memastikan sesuatu."


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2