
Fadil terdiam saat Akmal menatapnya dengan tajam. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Jika sedang mode serius begini, adik sepupu bosnya itu terlihat jauh lebih menakutkan dari Zafran.
Apalagi matanya yang begitu tajam, setajam pedang yang siap menghunus tubuh Fadil saat itu juga. Fadil sendiri adalah orang kepercayaan Zafran yang sudah bekerja dengannya bersamaan dengan berdirinya perusahaan itu.
"Jawab dengan jujur, apa Bang Zafran yang memintamu melakukan itu?" tanya Akmal sekali lagi sembari berdiri dari duduknya.
"I-iya, Pak," jawab Fadil akhirnya, membuat Akmal kembali terduduk lemas.
"Kenapa Abang tidak meminta bantuan padaku? Apa asistenmu lebih kau percaya dari pada aku?" batin Akmal dengan tatapan sendu.
"Katakan semua yang kau tahu tentang Bang Zafran kepadaku, tanpa ada yang di tutupi!" titah pria itu kemudian.
⚓⚓⚓
Siang hari di sebuah rumah sakit, Zafran sedang menjalani proses hemodialisis seorang diri. Sebagaimana hasil diagnosis dokter beberapa waktu lalu, Zafran mengalami gangguan ginjal stadium akhir (gagal ginjal kronis).
Hal ini menyebabkan ginjalnya tidak lagi dapat melakukan penyaringan darah sebagaimana fungsinya, sehingga untuk menghindari adanya menumpukan limbah di dalam darah, dilakukanlah cuci darah (dialisis).
Sudah 3 jam proses itu berjalan, dan Zafran benar-benar merasakan tidak nyaman pada tubuhnya, membuat pria itu sedikit gelisah. Hingga satu jam kemudian proses hemodialisisnya berakhir.
Zafran jalan dengan berpegangan pada dinding sebab kepalanya yang terasa sedikit pusing dan tubuhnya yang tidak nyaman setelah proses dialisis tadi. Setelah keluar dari rumah sakit, Zafran berjalan gontai menuju mobilnya.
Namun, saat sedang berjalan, seseorang tidak sengaja menabrak tubuhnya hingga membuat Zafran sedikit oleng dan hampir terjatuh. Beruntung seseorang dengan cepat datang menahan tubuh Zafran dan membantunya kembali berdiri tegak.
"Kalau jalan hati-hati, Bang," ucap orang tersebut dan terdengar tidak asing di telinga Zafran. Pria itu menoleh ke arah orang yang menolongnya dan seketika matanya membola saat mengetahui siapa orang itu.
"Akmal? Sedang apa kau di sini?" tanya Zafran sedikit sinis.
"Sedang apa lagi? Tentu saja menemani Abangku ini berobat," jawabnya santai.
"Aku tidak perlu di temani, karena aku bisa sendiri. Pulanglah! jaga Mama dan Khaira, jangan lupa urus perusahaan juga," titahnya.
"Astaga Abang ini, aku sudah menempatkan bodyguard untuk menjaga rumah, lagi pula di perusahaan ada Fadil dan Novi, kalau pun ada yang harus kutangani langsung, maka aku akan terbang sekarang juga ke sana," jawab Akmal begitu santai tanpa beban.
__ADS_1
"Kau ini bicara seolah jarak Singapura dan Indonesia hanya lima langkah," gerutu Zafran dan Akmal hanya menggaruk twngkuknya yang tidak gatal.
Ia berjalan hendak memasuki mobilnya karena ia tak sanggup berdebat lebih lama lagi dengan sepupu tengilnya itu.
"Ets, Abang mau apa?" Akmal menahan pergerakan Zafran.
"Ya mau masuk mobillah, apalagi?" jawab Zafran.
"Dalam keadaan seperti itu? Bisa-bisa kau malah memperbanyak kerjaan dokter dengan menambah pasien rumah sakit jika mengemudi dalam keadaan seperti itu, Bang."
Akmal mengambil kunci mobil dari tangan Zafran, lalu membantu Zafran masuk melalui pintu sebelah. Kemudian ia masuk melalui pintu dimana Zafran tadi hendak masuk.
Mobil pun mulai melaju membelah jalanan yang mulai padat di sore hari menuju ke apartemen Zafran.
Kini Akmal memasuki unit apartemen Zafran dengan memapah tubuh kakak sepupunya dan langsung membantunya beristirahat di kamarnya.
Setelah keluar dari kamar Zafran, Akmal menghubungi seseorang yang selama ini memantau perkembangan Zafran yang tidak lain adalah teman SMA Akmal yang kini bekerja di rumah sakit itu sebagai seorang perawat laki-laki.
"Bantu aku menemui dokter yang menangani Abangku besok."
⚓⚓⚓
"Ummi," panggil Khaira saat melihat Aisyah masih berada di halaman sekolah memarkirkan motornya.
"Khaira," ucapnya saat melihat gadis itu turun dari mobil.
Aisyah mengerutkan keningnya karena sedikit heran saat melihat siapa yang mengantar Khaira kali ini, bukan lagi Omnya melainkan supir keluarganya.
"Khaira, kok bukan Om kamu lagi yang nganterin kamu?" tanya Aisyah pada gadis kecil yang kini berada di hadapannya.
"Om lagi perjalanan bisnis, Ummi," jawabnya.
"Oh gitu, Papa kamu juga belum balik yah dari perjalanan bisnisnya?" tanya Aisyah lagi dan gadis itu menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Belum, Ummi. Padahal Khaira kangen." Wajah Khaira kini terlihat sendu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Sayang, wajar kalau Khaira kangen, tapi Khaira juga harus sabar yah, Papa kan bekerja untuk Khaira juga," bujuk Aisyah sembari mengusap mata Khaira yang sudah dipenuhi air mata.
"Salah, Ummi," sanggah Khaira cepat.
"Kok salah?" tanya Aisyah penasaran.
"Papa bekerja bukan untuk Khaira saja kok, tapi untuk Oma dan Ummi kalau udah jadi mamanya Khaira," jawab gadis kecil itu, seketika membuat wajah Aisyah merona merah dan tersipu malu.
Pintar sekali gadis di hadapannya ini membuatnya tersipu malu seperti saat ini. Untung saja dia mengatakannya saat Zafran maupun Omnya tidak ada di hadapannya, jika ada mungkin rasa malunya akan meningkat berkali-kali lipat.
"Emm, ayo masuk ke dalam kelas yuk, bentar lagi bel masuk berbunyi," ajak Aisyah mengalihkan pembicaraannya dengan Khaira.
"Ummi duluan aja, Khaira mau ke toilet dulu, udah kebelet nih," ujar gadis kecil itu lalu segera berlari ke toilet meninggalkan Aisyah yang masih berdiri di halaman sekolah.
Aisyah menggelengkan kepalanya pelan sembari tersenyum melihat tingkah menggemaskan Khaira. Tidak bisa ia pungkiri, ia sangat menyayangi anak dari calon suaminya itu. Mungkin inilah jalan yang telah Allah tunjukkan kepadanya, sehingga kelak tak ada lagi kata berkhianat karena alasan anak.
Bel tanda masuk kelas pun berbunyi, semua siswa yang masih asik bermain di luar mulai berbondong-bondong masuk ke dalam kelas. Para guru juga mulai memasuki kelas yang akan mereka pegang pagi ini.
Begitu pun dengan Aisyah yang memegang kelas di mana Khaira belajar. Ia berjalan masuk ke dalan kelas sembari melemparkan senyuman kepada semua siswa yang ada di kelas itu. Namun, matanya seketika menangkap kursi Khaira yang masih kosong.
"Ada yang tahu Khaira di mana?" tanya Aisyah kepada teman-teman Khaira, tapi tak ada satu pun yang melihatnya.
Seketika ingatan Aisyah kembali saat Khaira mengatakan ingin ke toilet. Dengan cepat Aisyah beranjak dari duduknya dan keluar kelas untuk mencari Khaira di toilet.
Semua bilik toilet telah ia periksa, tapi ia tidak menemukan gadis kecil itu. Rasa khawatir seketika merangkul hatinya, membuatnya sedikit panik hingga mencarinya ke seluruh sudut sekolah dan semua kelas.
"Astaghfirullah, di mana kamu Khaira Sayang?" monolognya kini berjalan ke luar halaman sekolah dan menyusuri jalan raya.
⚓⚓⚓
Sebelumnya,
__ADS_1
Khaira keluar dari toilet saat bel masuk telah berbunyi, ia berjalan menyusuri koridor sekolah hendak menuju kelasnya. Namun, suara seseorang meminta tolong membuat perhatiannya teralihkan. Tanpa berpikir panjang, gadis itu langsung pergi menemui orang tersebut.
-Bersambung-