Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Rencana yang Gagal


__ADS_3

Di tengah rasa pusing yang melandanya, serta rasa panas di tubuhnya yang semakin menjalar, Aisyah bangkit dari duduknya dan melangkah pelan agar tak terlihat reaksi aneh dari tubuhnya oleh Via dan teman-temannya.


"Eh Via, mana reaksi obatnya? Kok dia biasa-biasa aja tuh?" tanya salah satu teman Via.


"Mungkin dosisnya kurang kali," sambung teman yang lain.


"Mana ada? Itu udah aku kasi dosis paling tinggi loh," ujar Via.


"Atau kalau nggak, kamu salah kasi kali, bisa aja kan minumannya ketuker."


"Nggak mungkin, wong dari tadi cuma satu gelas yang kupegang," balas Via penuh keyakinan.


"Lah, terus kenapa dia nggak menggeliat kayak ulet kepanasan?" tanya temannya.


"Tau ah, mungkin dia udah kebal," jawab Via sembari melengos pergi dari tempatnya.


"Berarti rencana dia malam ini gagal," ujar salah satu temannya saat Via sudah pergi.


Sementara Aisyah masih terus berjalan ke arah Akmal, berbagai sapaan dari beberapa orang yang melewatinya seakan tidak terdengar lagi di telingannya. Pandangannya bahkan semakin lama semakin kabur.


"Ma-Mas," ucapnya pelan saat posisinya semakin dekat dengan Akmal, tapi karena kondisi ruangan yang cukup bising, membuat suaranya tidak sampai di telinga Akmal.


Brugh


Atensi Akmal teralihkan saat ia mendengar suara keributan dari arah belakangnya. Ia berbalik untuk melihat penyebab keributan itu, dan matanya seketika membola saat mendapati Aisyah sudah tidak sadarkan diri di belakangnya.


"Astaghfirullah, Aisyah," lirihnya begitu terkejut hingga membuatnya tubuhnya terasa kaku sesaat.


"Stop!" teriak Akmal saat melihat seorang pria hendak menggendongnya.


"Dia istriku, biar aku yang membawanya." Akmal segera menghampiri Aisyah yang masih terbaring di lantai lalu mengangkat tubuh itu ala bridal style.


Akmal melangkah lebar keluar dari gedung itu dan langsung menuju ke mobilnya. "Bertahanlah sayang, aku akan membawamu ke rumah sakit," ucapnya pelan lalu memasukkan Aisyah dengan hati-hati ke dalam mobil, disusul ia yang masuk di belakang kemudi. Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit terdekat.


-


Akmal mondari-mandir di luar ruangan IGD, di mana Aisyah mendapat penanganan oleh dokter. Sudah beberapa menit berlalu sejak dokter memeriksanya tapi sampai saat ini belum juga ada tanda-tanda dokter itu akan keluar.


Rasa khawatir dan tidak tenang membuat pria itu tak bisa duduk meski hanya satu detik. Ia terus saja menduga-duga tentang apa yang membuat Aisyah bisa tiba-tiba pingsan, padahal sebelum berangkat tadi dia masih terlihat baik-baik saja.


Tiba-tiba terdengar suara pintu khas terbuka, dokter yang tadi memeriksa Aisyah kini telah keluar. Dengan cepat Akmal menghampiri sang dokter.

__ADS_1


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya? Dia baik-baik saja kan dokter?" tanya Akmal.


Dokter wanita itu tidak lantas menjawab pertanyaan Akmal. Tatapan penuh tanya justru ia layangkan pada Akmal. "Apa dia istri Bapak?" tanya dokter itu kembali memastikan.


"Ia dok, saya suaminya," jawab Akmal dengan begitu yakin.


"Begini Pak, istri Bapak ini baru saja mengalami hipotensi akibat mengonsumsi obat per****ng dalam dosis tinggi," jelas dokter itu.


"Apa? Istri saya tidak pernah mengonsumsi obat seperti itu dok. Untuk apa juga dia meminumnya saat kami sedang berada di pesta orang? Itu tidak mungkin," elak Akmal.


"Apa pun yang terjadi, tidak dibenarkan mengonsumsi obat itu dalam dosis tinggi kecuali atas arahan dokter, intinya tolong di jaga baik-baik istri Bapak, saya permisi," tukas dokter itu lalu segera pergi dari hadapan Akmal.


Akmal segera masuk ke dalam ruangan itu, dan menutup semua tirai yang menjadi penyekat tempat tidur sang istri agar tak ada yang melihat wajahnya yang tidak memakai cadar. Dilihatnya wajah wanita itu kini tampak pucat dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya dan jarum infus yang menancap di tangannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Sayang? Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu. Aku memang suami bod0h, membiarkanmu pergi sendiri .... bersama Via." Seketika Akmal teringat tentang wanita yang telah mengajak istrinya tadi.


Segera ia mengambil ponsel dalam sakunya dan menghubungi seseorang.


"Halo, Bill, apa kabar?"


"..."


"..."


"Terima kasih, Bro, aku ingin kau memeriksa CCTV di ballroom hotel XX, ada sesuatu yang ingin ku pastikan."


"..."


"Terima kasih banyak, Bro.


Akmal mengakhiri panggilannya lalu kembali duduk di samping tempat tidur Aisyah. Digenggamnya dengan lembut tangan sang istri lalu mengecupnya dengan lembut.


"Kamu tenang saja, semua yang terlibat dalam upaya mencelakaimu akan menerima balasannya," monolog Akmal dengan sorot mata tajam.


Tiba-tiba terasa gerakan di dalam genggaman tangan Akmal. Pria itu menatap wajah sang istri yang perlahan mulai membuka mata.


"Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga, Sayang." Akmal langsung mengecup lembut kening Aisyah.


"Mas, apa aku di rumah sakit?" tanyanya dengan suara lemah.


"Iya Sayang, kamu tadi pingsan. Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu," sesal pria itu tertunduk dengan rasa bersalahnya.

__ADS_1


Aisyah tersenyum lalu mengulurkan satu tangannya untuk mengangkat wajah Akmal yang berada di sampingnya. "Kamu tidak salah, Mas. Aku saja yang tidak berhati-hati," ucapnya begitu lembut.


"Apa ada yang memberimu minuman saat disana? Aku akan memberi perhitungan kepada mereka yang sudah mencelakai kamu, untung saja kamu pingsan di belakangku, jika tidak mungkin kamu sudah di bawa oleh pria lain." Lagi-lagi pria itu tertunduk sesal.


"Iya, Via memberiku jus jeruk. Tapi aku nggak apa-apa sekarang. Nggak usah memperpanjang masalah," ucap Aisyah begitu tenang.


"Kenapa? Apa kamu tidak tahu, yang kamu minum itu bisa membahayakan kamu loh," ujar Akmal.


"Apa minuman itu mengandung alkohol?" tebak Aisyah.


"Bukan alkohol, Sayang. Itu bukan alkohol tapi obat per****ng," jelas Akmal.


"Apa?" seketika raut wajah Aisyah berubah pias.


"Maaf Mas, aku nggak tahu," cicitnya tertunduk dengan rasa malu sekaligus kecewa kepada Vìa.


"Ku pikir dia minta maaf kemarin karena sudah bisa menerima kenyataan, tapi sepertinya itu hanya caranya agar aku percaya padanya," batin Aisyah.


 ----


Dua orang paruh baya jalan tergopoh-gopoh melewati lorong rumah sakulit sembari mencari nama kamar yang diberitahukan oleh sang menantu beberapa menit yang lalu. Terlihat jelas raut wajah khawatir di wajah mereka yang tidak muda lagi.


"Assalamu 'alaikum," ucap keduanya sembari memasuki kamar tersebut.


"Wa'alaikum salam, Abi, Ummi." Akmal langsung menyambut kedatangan kedua mertuanya dengan mencium punggung tangan mereka secara bergantian.


"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Ibu Lina mendekat ke tempat tidur sang putri.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Ummi," jawab Aisyah.


"Tolong jaga Aisyah, Nak. Kami percayakan dia kepadamu, abi harap kejadian ini tidak pernah terulang lagi," ujar Kiai Rahman.


"Iya, Abi. Akmal akan berusaha menjaganya dengan baik."


Ponsel Akmal tiba-tiba berbunyi, pria itu meminta izin kepada kedua mertuanya untuk mengangkat telepon sejenak di luar kamar.


"Halo, bagaimana Bill?


"..."


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2