Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Kedatangan Aisyah


__ADS_3

Kabar suksesnya operasi anak Zaid yang dilakukan malam itu membuat Aisyha cukup lega. Oleh karena itu, selepas menunaikan sholat subuh Aisyah dan Ainun memutuskan untuk langsung kembali ke kota mereka dengan menggunakan pesawat karena Aisyah harus kembali masuk sekolah pagi itu.


Aisyah maupun Ainun kini tiba di kediaman Kiai Rahman pada pagi hari tepatnya saat Kiai Rahman dan Ibu Lina sedang sarapan. Sehingga mereka pun langsung ikut sarapan bersama.


"Bagaimana operasi anak itu, Sayang?" tanya Ibu Lina.


"Alhamdulillah lancar, Ummi," jawab Aisyah.


"Abi salut sama kamu, Nak. Hatimu benar-benar baik, tidak semua orang yang berada di posisi kamu bisa melakukan hal yang sama. Semoga Allah memberkahimu, Nak," ucap Kiai Rahman.


"Aamiiin, terima kasih atas doanya, Abi," balas Aisyah dengan senyuman.


"Oh iya, Ainun, apa rencana kamu setelah ini, Nak?" tanya Ibu Lina.


"Saya mau cari kerja Ummi, saya mau mengajar," jawab Ainun.


"Mengajarlah di sini, Nak. Pondok masih kekurangan guru," tawar Kiai Rahman.


"Benarkah, Abi? Saya mau," jawab Ainun antusias.


"Baiklah, mulai hari ini kamu sudah bisa memasukkan berkas kamu, Abi akan tunggu di kantor," ujar Kiai Rahman.


"Siap laksanakan, Abi," jawab Ainun begitu bersemangat.


Usai sarapan bersama, Ainun memutuskan kembali ke rumahnya untuk menyiapkan berkas-berkas yang akan ia masukkan ke dalam pesantren. Selangkah lagi, mimpi gadis itu untuk menjadi tim pengajar di pesantren itu akan terwujud.


Sementara Aisyah kini berangkat ke sekolah untuk mengajar para kanak-kanak dalam menghafal Al-Qur'an. Namun, pagi ini wanita itu merasa ada yang kurang. Gadis kecil yang selalu menyapanya saat ia masuk kelas kini tidak ada.


"Ada yang lihat Khaira?" Aisyah bertanya kepada teman-teman sekelasnya, tapi tak ada satu pun yang tahu.


"Aneh sekali, tidak mungkinkan Zaid membawanya lagi, apa dia sakit? Jika memang demikian, harusnya Ibu Sofi langsung mengabari, tapi ini tidak ada. Kemana dia?" batin Aisyah bingung.


Tak ingin membuat para siswa yang lain menunggu atas kebingungannya, Aisyah memutuskan untuk memulai pelajaran pagi ini hingga jam pelajaran itu selesai.


Entah sudah usaha panggilan ke berapa yang ia lakukan untuk menghubungi Ibu Sofi, tapi hingga saat ini hanya suara operator yang setia menerima panggilannya itu.


"Kenapa mereka hilang kabar yah? Tumben?" monolognya sembari menaiki motornya untuk pulang. Namun, karena rasa penasaran, Aisyah memutar arah motornya menuju ke kediaman Zafran untuk memastikan keadaan calon mertua dan anaknya.


Dari luar pagar, rumah tampak sepi, hanya ada satpam yang setia berjaga di dekat pagar.

__ADS_1


"Assalamu 'alaikum, Pak. Maaf,saya mau tanya, Ibu Sofi dan Khaira kemana yah?" tanya Aisyah kepada pak Satpam itu.


"Wa'alaikum salam, oh Ibu dan nona kecil pagi tadi berangkat ke Singapura menemui Pak Zafran dan Akmal.


"Memangnya ada apa di sana sampai Ibu Sofi dan Khaira ikut kesana?" tanya Aisyah lagi semakin penasaran.


"Saya juga kurang tahu, Bu kalau masalah itu," jawab Pak Satpam itu.


Merasa belum menemukan titik terang dari rasa penasarannya, Aisyah memutuskan untuk pulang lebih dulu.


Urusan apa gerangan yang membuat mereka semua berangkat ke Singapura tanpa memberi kabar sama sekali? sementara pernikahan mereka kurang lebih tinggal satu bulan lagi dan belum ada sama sekali persiapan yang mereka lakulan termasuk mendaftarkan pernikahan mereka di kantor KUA.


⚓⚓⚓


Di Singapura


Ibu Sofi dan Khaira sedang berada di kamar rawat rumah sakit di mana Zafran sedang di rawat. Kondisi pria itu semakin memburuk hingga membuatnya harus menjalani rawat inap.


Wanita paruh baya itu tak kuasa menahan tangisnya saat melihat kondisi putra kesayangannya yang pucat dan lemah.


"Nak, sebenarnya sejak kapan kamu sakit? Kenapa kamu tega sekali tidak menceritakan semuanya ke ibu, Nak? Kamu menganggap ibumu ini apa, Nak?" cerocos Ibu Sofi di sela tangisannya.


"Maafkan Zafran, Ma. Zafran hanya tidak ingin membuat Mama banyak pikiran dan stres memikirkankan Zafran. Insya Allah Zafran akan baik-baik saja," ujar Zafran dengan suara lemah, semnari mengusap kepala Khaida yang sedabg tertidur lelap di sampingnya.


"Lalu bagaimana ini, Nak? Pernikahanmu dengan Aisyah tinggal sebulan lagi, kalian bahkan belum mengurus apa pun," tanya Ibu Sofi.


Tangan Zafran seketika terhenti mengusap kepala Khaira. "Ma, tolong sampaikan ke Aisyah kalau Zafran ingin membatalkan pernikahan ini, Zafran tidak tega membuat Aisyah menikahi pria penyakitan seperti Zafran," jawab Zafran tertunduk lesu.


"Jangan, Sayang. Mama yakin Aisyah akan menerima kamu apa adanya, Nak. Dia wanita baik dan tulus," sanggah Ibu Sofi.


Sungguh wanita paruh baya itu benar-benar tidak ingin semua rencananya batal, tapi di sisi lain ia juga tidak tega dengan Zafran maupun Aisyah.


Sementara itu, Akmal yang baru saja mendapatkan hasil pemeriksaan kecocokan ginjal kini berjalan dengan begitu semangat menuju kamar rawat Zafran.


Tok tok tok


"Assalamu 'alaikum, Bang. Alhamdulillah akhirnya aku menemukan pendonor ginjal yang cocok untukmu," ujarnya seraya menghampiri Zafran dan Ibu Sofi.


"Alhamdulillah," ucap Ibu Sofi penuh syukur dan bahagia.

__ADS_1


Berbeda dengan Zafran yang justru menampilkan wajah datar sembari menatap dalam adik sepupunya itu.


"Bang, selamat yah, sebentar lagi kamu pasti akan sehat kembali," ucap Akmal langsung menyalami tangan Zaftan. Tapi entah kenapa, pria itu justru terlihat tidak senang, membuat senyuman di wajah Akmal meredup.


"Ada apa, Bang?" tanya Akmal yang sedikit heran fengan respon yang diperlihatkan Zafran. Sangat berbeda dengan ekspektasinya.


"Siapa orang yang telah bersedia mendonorkan ginjalnya itu?" tanya Zafran sembari menatap lurus ke depan.


"Dia ..., dia memintaku untuk tidak memberitahukan identitasnya, Bang," jawab Akmal.


"Oh begitu, kalau begitu katakan ucapan terima kasihku padanya," ucapnya datar.


⚓⚓⚓


Hari demi hari berganti, setelah dokter mengumumkan bahwa operasi akan dilakukan satu bulan lagi, Zafran semakin pesimis untuk bisa menikahi Aisyah, bahkan pria itu menjadi sering melamun, begitu banyak yang ia pikirkan saat ini.


Seperti saat ini, setelah melakulan cuci darah rutinnya, Zafran kembali termenung di atas tempat tidurnya. Ibu Sofi yang melihatnya kadang dibuat bingung oleh anaknya itu.


"Kamu kenapa, Nak? Mama perhatikan sepertinya kamu sedang banyak pikiran," selidik Ibu Sofi.


"Ah, tidak apa-apa, Ma. Zafran hanya sedikit pusing saja usai cuci darah tadi. Oh iya, di mana Khaira?" tanya Zafran.


"Tadi dia sedang jalan-jalan ke taman dengan Akmal," jawab Ibu Sofi. "Ceritalah kepada mama, Sayang, setidaknya dengan begitu mama merasa jadi ibu yang berguna," lanjutnya.


"Ma, kenapa bi...." Ucapan Zafran teepotong saat mendengar suara ketukan pintu dari luar dan di detik berikutnya pintu itu terbuka.


Mata Zafran seketika membola saat melihat siapa uang datang kali ini. "A-Aisyah," ucapnya saat melihat sosok calon istrinya itu datang, ia lebih terkejut saat menyadari bahwa Aisyah tidak datang sendiri melainkan bersama ayah dan ibunya serta seorang wanita yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


-Bersambung-


Assalamu 'alaikum.


Sebelumnya Author mohon maaf karena telat up bab ini. Dan terima kasih juga untuk yang sudah mampir dan membaca cerita receh ini.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya yah, dengan Favorite/subscribe, like, koment dan rate bintang 5 biar Author tetap semangat.


Sekali lagi terima kasih. Salam hangat dari Author:


UQies

__ADS_1


__ADS_2