Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Akmal dan Billy


__ADS_3

Pagi itu, Akmal terpaksa meninggalkan Aisyah bersama Ibu Lina di rumah sakit karena harus masuk bekerja, ia tidak bisa lagi mengambil cuti karena Zafran belum kembali dari bulan madunya.


Pagi ini juga, ia memiliki janji temu dengan Billy, teman lamanya yang kemarin sempat ia hubungi untuk mencari tahu tentang pelaku yang mencelakai Aisyah, lebih tepatnya, mencari bukti jika Via memang adalah pelakunya.


Tok tok tok


"Masuk!" titahnya tanpa mengalihkan pandangannya dari komputernya.


"Maaf Pak, ada yang ingin bertemu dengan Bapak," ucap Agus, selaku sekretaris pribadi Akmal yang baru saja ia rekrut beberapa hari yang lalu.


"Persilahkan dia masuk," ujar Akmal.


Tak lama setelah itu, masuklah seorang pria berkaca mata berambut ikal. Jika dilihat sekilas pria itu tampak culun, tapi itu hanya bentuk penyamarannya saja sebagai seorang ahli IT.


Melihat yang datang adalah teman sekaligus tamu yang sudah ia tunggu-tunggu, Akmal langsung beranjak dari kursinya dan menghampiri pria itu.


"Halo, Bill, lama tidak bertemu." Akmal menjabat tangan Billy, dan langsung mengajaknya duduk.


Billy adalah teman Akmal di masa SMA. Kala itu Billy adalah anak pendiam juga introvert, tak ada yang ingin bergaul dengannya karena sikapnya yang begitu kaku dan tak banyak bicara. Namun, Akmal dengan ramahnya merangkul anak itu dan selalu mengajaknya bercerita hingga tanpa sadar mereka mulai akrab.


Dan siapa sangka, anak introvert yang tidak disukai temannya itu justru adalah anak jenius yang sangat ahli dalam mengoperasikan komputer, bahkan di usia yang terbilang muda, dia sudah mampu meretas berbagai situs jaringan kejahatan tanpa meninggalkan jejak.


Hingga saat ini, ia masih standby bekerja di balik komputer guna mengungkap kejahatan sesuai permintaan client-nya tanpa perlu saling bertemu. Bisa dikatakan, Billy adalah salah satu orang yang mampu menghasilkan uang yang banyak dengan cara cepat tanpa perlu bertemu dengan siapa pun, kecuali Akmal selaku teman dekatnya.


"Makin tampan saja kau, Bro. Oh iya aku sudah mengecek semua CCTV yang ada di sana saat acara berlangsung." Billy mulai mengeluarkan laptopnya dari dalam tas dan membuka sebuah video yang ia dapatkan.


"Lihat ini, apa kamu menemukan kejanggalan dari video ini?" tunjuk Billy.


Akmal sejenak memperhatikan dengan seksama video itu, beberapa kali ia mengulangnya hingga ia mulai memahami kejanggalan itu.


"Kau benar, Bill. Video ini sepertinya telah di potong tepat sebelum Aisyah menerima minuman itu."


"Excatly, dan lihat ini, di sini juga sangat jelas terlihat ada bagian yang di potong," tunjuk Billy pada video yang menampilkan deretan berbagai jenis minuman.


Wajah Akmal kini terlihat lesu. "Berarti aku tidak bisa membuktikan jika Via adalah pelakunya yah?"


"Jangan putus asa dulu, Bro. Lihat ini." Kali ini Billy menunjukkan sebuah video yang menunjukkan seorang pelayan wanita yang berjaga tepat di samping stan pengambilan makanan dan minuman, lebih tepatnya ia berdiri tidak jauh dari tempat jus jeruk yang diminum Aisyah.


"Apa maksudmu aku harus menemui dia secara langsung?" tanya Akmal dan dijawab anggukan oleh Billy.

__ADS_1


"Baiklah."


"Aku akan menemanimu."


"Baiklah, ayo." Akmal beranjak dari duduknya dan langsung mengambil kunci mobilnya.


"Bro, apa kau akan pergi sekarang juga?" tanya Billy.


"Tentu saja, masalah ini harus selesai secepatnya agar aku dan istriku bisa hidup tenang."


⚓⚓⚓


Tak menunggu lama, kini Akmal dan Billy sudah berada di tempat parkir mobil hotel XX. Billy tampak begitu serius dengan ponselnya hingga tak menyadari jika mereka telah sampai.


"Bill, ayo," ajak Akmal.


"Tunggu, apa kau akan pergi tanpa mempersiapkan amunisi?" tanya Billy.


"Amunisi? Ayolah Bill, dia hanya pelayan, bukan geng mafia, tidak perlu pake acara tembak-tembakan."


"Ck, dasar pria tidak peka. Kau ini cerdas tapi tidak peka, aku curiga kau sering membuat istrimu makan hati karena ketidak pekaanmu itu."


"Ah sudahlah, amunisiku sudah terkumpul, ayo masuk," ucap Billy.


"Amunisi apa? Kau jangan buat onar di dalam, Bro. Yang ada bukan kita yang memenjarakan pelaku, tapi kita yang dipenjarakan." Akmal menahan lengan Billy yang hendak keluar dari mobil.


"Astaga, kau ini cerewet sekali, nanti juga kau akan tahu." Billy melepas tangan Akmal dan langsung keluar diikuti oleh Akmal.


Mereka berdua pun akhirnya masuk ke dalam hotel untuk menemui pelayan itu. Namun, dari informasi rekan kerjanya, wanita itu off hari ini. Sehingga mau tidak mau, mereka harus melanjutkan perjalanan mereka ke alamat rumah yang berhasil Akmal dapatkan dari rekan kerjanya dengan cara memelas. Sebenarnya Billy bisa dengan mudah menemukan alamatnya, hanya saja dia ingin Akmal berusaha dengan caranya sendiri.


Tidak menunggu lama, kini mereka tiba di sebuah rumah kontrakan sederhana. Setelah mengetuk pintu rumah beberapa kali, akhirnya seorang wanita muda membuka pintu itu.


"Assalamu 'alaikum, dengan Nona Silvi?" tanya Akmal.


"Wa'alaikum salam. Benar, maaf kalian siapa yah?" tanya wanita yang bernama Silvi.


"Saya salah satu pelanggan di hotel XX yang memiliki sedikit urusan dengan Nona, apa kita boleh bicara, tenang kami orang baik kok," jelas Akmal panjang lebar.


Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Silvi mempersilahkan Akmal dan Billy untuk duduk di teras depan rumahnya.

__ADS_1


"Apa Nona mengenal wanita ini?" Akmal menunjukkan foto Via.


Wajah wanita itu seketika berubah tegang. "Tidak, saya tidak mengenalnya."


"Tapi Nona pernah melihatnya kan?" tanya Akmal lagi.


"I-itu ... dia .... "


"Semalam Nona melihatnya, bukan begitu?" tanya Akmal lagi.


"Nona tidak perlu takut, kami hanya sedang mencari bukti kejahatan wanita ini, identitas Nona akan aman di tangan kami. Mohon kerja samanya, ini menyangkut keselamatan istriku yang menjadi korban wanita ini semalam," jelas Akmal.


Wanita muda itu tampak ragu untuk memberikan informasi kepada Akmal, tentu saja karena rasa khawatir akan keselamatannya.


"Kami meminta bantuan ini tidak secara cuma-cuma, kami akan membayar Nona atas informasi yang Nona berikan, bukankah Ibu Nona sedang berada di rumah sakit?" sambung Billy.


Wanita itu menatap ke arah Billy lalu kembali bepikir. "Baik, saya akan memberikan informasi, tapi tolong rahasiakan identitas saya."


--


Akmal dan Billy kini masuk ke dalam mobil dengan perasaan puas karena telah mendapatkan apa yang mereka cari.


"Hey, Bill, dari mana kamu tahu Ibu wanita itu sedang di rumah sakit?" tanya Akmal.


"Astaga, kau masih bertanya? Itulah amunisiku, Bro. Mengumpulkan segala informasi tentang orang yang akan kita temui," jawab Billy.


⚓⚓⚓


Akmal dan Blly kini sudah kembali ke ruangan Akmal.


"Lalu bagaimana?" tanya Billy yang kini duduk santai di sofa ruangan Akmal.


Akmal baru hendak membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Billy, tapi ia urungkan saat sebuah panggilan dari seseorang masuk di ponselnya.


Senyum Akmal kini menghiasi wajahnya saat melihat siapa nama si penelepon.


"Aku punya ide ...."


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2