Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Dia Tidak Mandul


__ADS_3

Cinta, akankah kau pergi jika suatu saat apa yang kau harapkan tak kunjung kau dapatkan?


Cinta, jahatkah aku jika aku tidak mampu menjadi wanita yang sempurna untukmu? Egois kah aku jika aku berharap kau selalu di sisiku yang tidak sempurna ini?


Satu bulir air mata berhasil lolos ke pipi wanita yang sejak tadi hanya berdiri di balkon kamar sendirian, sekelebat ingatan buruk yang sudah memporak-porandakan hatinya di masa lalu kembali mengusik ketenangannya kala mengingat perkara hamil.


Kata Aira aku hamil, bagaimana bisa aku hamil sementara saat ini aku sedang datang bulan. Apakah aku bisa hamil? Apakah rumah tanggaku kali ini akan utuh hingga ke SurgaNya? Atau hanya sekilas seperti yang lalu?


Entah sudah berapa kali pertanyaan itu melintas di pikirannya, ia benar-benar takut kali ini. Takut tak bisa membahagiakan suami, takut rumah tangganya gagal dan takut jatuh di lubang luka yang sama.


Di tengah kekalutan, dua tangan kekar terasa menyusup di antara kedua lengannya dan memeluk perut rampingnya dari belakang.


"Lagi mikirin apa, Sayang?" tanya Akmal lembut.


Aisyah mengusap tangan suaminya yang berada di perutnya dengan pelan.


"Mas, jika kamu di suruh memilih antara istri-suami dan istri-suami-anak, mana yang akan kamu pilih?" tanya Aisyah.


"Kenapa kamu bertanya begitu?"


"Jawab aja sesuai hati kamu, Mas."


"Semua orang pasti menginginkan istri-suami-anak dalam keluarganya. Tapi kadang mereka lupa jika tidak semua hubungan istri-suami pasti di anugerahi anak, sebab anak adalah amanah dari Allah yang bersifat rahasia. Memilih istri-suami-anak sebagai patokan dalam berumah tangga seringkali menyebabkan keretakan jika patokan itu tidak terpenuhi."


"Jadi menurut pandanganku secara pribadi, aku lebih memilih istri-suami, tapi bukan berarti aku tidak menginginkan anak, mungkin bisa dikatakan lebih ke sikap pasrah kepada Allah, jika dikasi yah bersyukur, jika tidak yah tetap bersyukur. Bahagia itu bisa di dapatkan dengan berbagai cara, salah satunya dengan selalu bersyukur."


Aisyah menarik kedua ujung bibirnya, hatinya menghangat saat mendengar jawaban Akmal yang cukup meneduhkan dan menenangkan pikirannya.


"Eh tunggu, kata Mama tadi kamu kurang sehat yah? Kok berdiri di sini sih? Kan dingin, masuk yuk." Akmal merangkul pinggang Aisyah dan membawanya ke kasur. Ia membantu Aisyah untuk berbaring dan menarik selimut hingga ke dadanya.


"Istirahatlah Sayang, kamu pasti lelah." Akmal mengecup kening Aisyah. "Aku akan keluar sebentar menemani Mama dan Aira bercerita, telepon aku jika kamu membutuhkan sesuatu," lanjutnya dan mendapat anggukan dari Aisyah.


-

__ADS_1


Sementara di kamar sebelah Ainun tampak begitu gugup, ia memilih duduk di sofa yang berada di kamar Zafran dengan kaki yang tak henti-hentinya bergerak naik turun dengan cepat. Padahal ia yang meminta ingin istirahat karena lelah saat di halaman belakang tadi, tapi bukannya tidur ia malah semakin gelisah tidak keruan.


Suara gemericik air di kamar mandi terdengar di telinganya bagai musik yang menambah adrenalin, membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Dan suara pintu kamar mandi yang terbuka bagaikan suara guntur yang membuatnya terperanjat karena begitu terkejut.


"Kamu kenapa? Sakit?" Zafran menghampiri Ainun dan duduk tepat di sampingnya, bahkan kedua lengannya saling bersentuhan, membuat Ainun semakin membeku dan merinding bagai tersentuh oleh es.


Ainun adalah gadis yang sama sekali tidak pernah tersentuh oleh laki-laki selain ayah dan adiknya, sejak kecil ia selalu di ajarkan untuk menjaga batasannya dengan laki-laki bukan mahrom. Tak heran, satu sentuhan saja sudah berhasil membuat tubuhnya bagai tersetrum listrik.


"Ditanya kok malah diem?" Zafran menoleh ke arah sang istri yang masih diam tak meresepon.


"Ainun?" panggilnya yang kesekian kali sembari menyentuh tangan sang istri yang terasa begitu dingin.


"Astaghfirullah, iya Pak. Aku melamun tadi," ucapnya cepat.


Zafran tertawa pelan. "Kamu kenapa melamun? Oh iya, aku suami kamu bukan Bapak kamu."


"Eh, i-iya maaf. Aku terbiasa manggil Pak soalnya," cicit Ainun.


"Ya udah, sekarang ganti kebiasaan kamu manggil aku dari Pak, menjadi Mas, gimana?"


"Mas Zafran," ucapnya lalu tertunduk malu.


Zafran tersenyum melihat tingkah Ainun, ia mengapit dagu sang istri lalu mengangkat wajahnya hingga kedua manik matanya kembali saling bertemu.


"Kalau bicara sama suami ya dilihat dong matanya," ujar Zafran.


"I-iya Mas, maaf," ucapnya menatap bola mata indah milik Zafran.


"Nah gitu dong, sekarang kamu istirahat yah, kamu pasti lelah," ajak Zafran.


Setelah memastikan Ainun tertidur, Zafran memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Dari jauh ia dapat melihat saudara sepupunya sedang duduk sendirian di teras rumahnya, sementara yang lain sudah kembali beristirahat.


"Kamu kenapa, Mal?" tanya Zafran menghampiri adik sepupunya itu.

__ADS_1


Akmal menoleh ke arah di mana Zafran kini sudah mendaratkan bokongnya, tidak jauh dari tempat duduknya saat ini.


"Nggak tidur, Bang? Biasanya pengantin baru itu tidurnya cepat," tanya Akmal.


"Apaan sih, aku belum ngantuk, kamu sendiri kenapa belum tidur?"


"Sama, aku juga belum ngantuk."


"Terus kenapa kamu duduk sendirian di sini?" tanya Zafran.


Akmal membuang napas pelan. Ia seketika teringat dengan sikap Aisyah saat di dapur setelah berbicara dengan Bude Luna. Sejujurnya ia sempat mendengar sekilas pembicaraan keduanya, tapi tidak begitu paham karena hanya mendengar setengahnya. Ia mulai memahami arti pembicaraan tersebut saat Aisyah memberikan sebuah pertanyaan terkait tentang anak kepadanya.


"Apa aku bisa menbahagiakan Aisyah? Dan meyakinkan dia jika aku berbeda dengan mantan suaminya?"


Akmal bertanya pada dirinya sendiri tapi sengaja ia perdengarkan kepada Zafran untuk meminta nasehat secara tidak langsung.


Zafran menoleh ke arah Akmal yang saat ini sedang menatap lurus ke depan.


"Kamu tahu, sebelum kamu menikah dengan Aisyah, sudah ada lebih dari 10 orang yang pernah melamarnya, tapi semua di tolak." Zafran tahu itu melalui Bude Luna tentu saja.


"Kenapa ditolak?"


"Karena mereka menginginkan Aisyah yang sempurna," jawab Zafran. "Bukan jodoh," lanjutnya.


"Maksud Abang gimana? Bukankah Aisyah memang wanita yang sempurna? Kali ini Akmal merasa begitu banyak hal yang tidak ia ketahui tentang istrinya itu.


"Maaf karena aku tidak pernah menceritakannya padamu, itu karena aku percaya kamu tulus mencintai Aisyah, sebenarnya ...." Zafran mulai menjelaskan semua informasi yang ia peroleh dari Bude Luna terkait kecelakaan yang pernah dialami oleh Aisyah hingga membuatnya kehilangan kandungan sekaligus kehilangan satu ovarium.


Akmal terlihat mengusap matanya mendengar cerita tentang sang istri. Bahkan luka yang ia alami di masa lalu seketika tidak berarti apa-apa setelah mendengar luka yang di alami Aisyah, sungguh sangat menyakitkan berada di posisinya.


"Bagaimana Akmal, setelah mendengar cerita ini, apa kau masih akan tetap mencintai Aisyah sebagai istrimu?" tanya Zafran di akhir cerita.


"Aisyah tidak mandul, dia sehat. Kalau pun dia mandul, aku akan tetap mencintainya dan selalu berada di sisinya."

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2