Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Permintaan Zafran


__ADS_3

"Aisyah, detik ini juga, saya membatalkan khitbah saya, kamu kini bebas memilih dengan siapa kamu akan menikah. Jika kemarin saya mengkhitbahmu dengan cara baik-baik, maka sekarang saya membebaskanmu dengan cara baik-baik pula."


Air mata seketika mengalir membasahi pipi pria itu kala menyelesaikan perkataannya yang membuat dadanya begitu sesak.


Semua orang di ruangan itu saling bergantian menatap satu sama lain karena dibuat terkejut oleh Zafran. Ainun yang merasa akan terjadi pembicaraan serius akhirnya memutuskan untuk membawa Khaira keluar dari kamar itu.


"Zafran! Apa yang kamu bicarakan, Nak?" Ibu Sofi langsung menghampiri putranya.


Namun, Zafran tidak menjawab, ia justru terpaku menatap Aisyah yang bergeming dengan tatapan kosong, tak terkecuali Akmal dan Ibu Sofi yang kini beralih menatap wanita bercadar itu.


Jantung Akmal mulai berdegup kencang. Entah apa yang akan di lakukan oleh kakak sepupunya itu, tapi perasaannya begitu gelisah saat ini.


"Zafran!" Ibu Sofi berusaha memanggil sang putra, tapi pria itu tetap tidak menjawab, ia hanya memberikan senyuman kepadanya.


"Aisyah," lirih Ibu Sofi kini menatap Aisyah dengan tatapan sendu saat melihat bulir bening berhasil lolos dari matanya dan kembali membasahi cadar yang ia kenakan.


"Bukankah aku sudah mengatakan jika aku akan menunggumu?"


Aisyah mulai buka suara, bahkan suaranya terdengar sedikit bergetar, hatinya kembali terluka setelah apa yang sudah ia alami selama ini, meski mungkin belum ada cinta di dalam hatinya, tapi ia merasa luka lamanya kembali terkoyak.


Seperti halnya 2 tahun lalu, Zafran berbicara cukup enteng, seakan pria itu menganggap dirinya tidak memiliki perasaan, terlepas dari apa yang sedang dia alami saat ini.


"Kupikir kamu pria tulus dan bertanggung jawab, berbeda dengan mereka yang berbicara enteng tanpa peduli akan perasaanku. Tapi rupanya aku salah, kamu sama saja," lanjut Aisyah pelan sembari tertunduk.


Degh


Bagaikan dihantam ombak, Zafran begitu terkejut mendengar perkataan Aisyah. Ia sama sekali tidak bermaksud menyakiti wanita yang kini telah menjadi mantan calon istrinya itu.


"Aisyah, bukan seperti itu maksudku, aku hanya tidak ingin kamu menunggu terlalu lama, bahkan aku sendiri tidak tahu apakah aku akan sembuh atau tidak. Aku hanya ingin kamu bahagia, Aisyah," jelas Zafran.

__ADS_1


Ibu Lina meneteskan air mata, bahkan jantungnya ikut berdebar dan sesak saat melihat apa yang sedang di alami oleh putrinya itu. Wanita paruh baya itu hendak melangkah mendekati mereka, tapi di tahan oleh sang suami.


"Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya, kita jangan ikut campur, bisa saja karena keterlibatan kita justru malah menambah masalah mereka. Sebaiknya kita dengarkan dulu apa yang diinginkan Zafran," lirih Kiai Rahman.


"Bahagia? Bahagia seperti apa yang kamu maksud?" tanya Aisyah.


Zaftan meoleh ke arah Akmal yang ikut menatapnya dengan tatapan bingung dengan kening yang berkerut.


"Akmal, menikahlah dengan Aisyah," ujar Zafran kembali menatap Aisyah.


"Bang! ...." protes Akmal, tapi disela oleh Zafran yang kembali berbicara.


"Dia pria baik, tulus, setia dan penyayang, dia akan menerima kamu apa adanya," sambung Zafran masih masih menatap Aisyah.


Sama halnya dengan Akmal dan yang lainnya, Aisyah juga begitu terkejut mendengar permintaan Zafran.


"Zafran, apa yang kamu lakukan, Nak?" pekik Ibu Sufi.


"Saya mohon, Akmal, Aisyah," ucap Zafran sembari menatap dua orang itu secara bergantian.


Akmal dan Aisyah kompak menggelengkan kepalanya pertanda tidak setuju dengan permintaan Zafran yang sungguh di luar dugaan.


"Saya mohon," ulang Zafran lalu membuang napas kasar. "Anggap ini adalah permintaan terakhir saya," lanjutnya, membuat Akmal dan Aisyah kembali terkejut.


"Pak Zafran, atas dasar apa kamu mengatur dengan siapa saya harus menikah? Kamu sendiri sudah membatalkan khitbahmu, lalu kenapa kamu repot-repot mencarikan saya pasangan? Apa sebegitu mengasihankannya saya di matamu saat ini?" cecar Aisyah dengan jantung yang berdegup kencang, napasnya bahkan kini terdengar memburu.


Akmal yang mendengar perkataan Aisyah tanpa sadar merasa hatinya sedikit tercubit, sebegitu cintanya kah wanita itu kepada Zafran hingga ia menolak keras permintaannya? meski pria itu juga tidak membenarkan permintaan Zafran.


"Aisyah, jangan menilai permintaan saya ini dari sisi negatif, suatu saat kamu pasti akan tahu kenapa saya memintamu melakukan ini," ujar Zafran dengan suara yang mulai melemah.

__ADS_1


"Abang!" panggil Akmal saat menyadari kondisi Zafran yang mulai memburuk. "Aku akan panggil dokter," lanjutnya lalu segera keluar dari kamar itu.


Suasana kamar kini kembali hening. Tak ada yang berani bicara. Apalagi saat ini Zafran sesekali memejamkan matanya.


"Nak, kamu kenapa?" tanya Ibu Sofi begitu khawatir.


"Tidak apa-apa, Ma. Zafran hanya merasa sedikit lelah dan pusing," jawabnya dengan suara yang semakin melemah.


"Nak, tolong turuti permintaan Zafran," ujar Ibu Sofi kini sambil menatap Aisyah. "Dulu ibu sangat menginginkanmu menjadi menantuku, tapi sekarang ibu sangat menginginkan kesehatan Zafran, maafkan ibu yang egois ini, Nak," ungkap Ibu dengan air mata yang semakin gencar membasahi pipinya.


Aisyah semakin dirundung rasa bimbang, marah, kecewa dan sedih secara bersamaan, tapi ia masih begitu sulit untuk menjawab permintaan Ibu Sofi. Jika hanya di bebaskan dari khitbah, mungkin Aisyah tidak akan sebimbang ini, tapi disuruh menikah dengan adik sepupunya yang belum tentu menyukainya tentu sangat sulit baginya.


Merasa Aisyah tak ingin menjawabnya, Ibu Sofi pergi ke hadapan Ibu Lina dan Kiai Rahman. Wanita paruh baya itu kembali memohon agar mereka merestui Aisyah bersama Akmal. Ia sungguh sangat takut jika itu benar-benar permintaan terakhir putranya.


Ia bahkan beralih ke Ibu Shalwa selaku adiknya dan ibu dari Akmal dan kembali memohon agar dia merestui putranya.


Ibu Lina dan Kiai akhirnya berjalan mendekati Aisyah diikuti Ibu Sofi dan Ibu Shalwa.


"Nak, apa pun pilihan kamu, kami akan selalu merestui dan mendoakanmu," ujar Kiai Rahman sembari mengusap kepala Aisyah, membuat wanita itu hanya bisa menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


Tak lama setelah itu, dokter datang bersama seorang perawat diikuti Akmal. Zafran mulai diperiksa, dan dokter itu meminta perawat untuk menyuntikkan sebuah obat ke dalam cairan infusnya.


"Apa yang terjadi dengan anak saya, dokter?" tanya Ibu Sofi.


"Pak Zafran mengalami anemia, ini biasa terjadi pada pasien yang melakukan cuci darah, ssya sudah memberikan obat, semoga keadaannya segera membaik," ujar dokter itu lalu keluar kamar.


"Akmal, Aisyah, menikahlah sekarang, setidaknya dengan begitu aku bisa merasa lebih baik," pinta Zafran dengan suara yang masih terdengar lemah.


Akmal begitu bimbang, kali ini ia benar-benar merasa tidak punya pilihan lain selain menerima permintaan kakak sepupunya itu. Perlahan ia menatap sang ibu yang kini menganggukkan kepala sembari tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menikahi Aisyah," jawab Akmal kemudian.


-Bersambung-


__ADS_2