Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Apa Dia Anakmu?


__ADS_3

Beberapa hari kini telah berlalu.


Seperti biasa, Akmal berjalan dengan begitu gagah masuk ke dalam gedung yang sudah beberapa bulan ini menjadi tempatnya bekerja, bukan lagi di laut di mana ia harus selalu waspada saat cuaca buruk.


"Selamat pagi, Pak," sapa salah satu pegawai pria yang berpapasan dengannya.


"Pagi, sapa Akmal singkat disertai senyuman khasnya sembari terus berjalan.


"Ya ampun, senyuman Pak Akmal kok manis banget sih," celetuk salah satu pegawai wanita yang melihat senyuman Akmal dari jarak yang tidak jauh.


"Iya, kok ada yah orang kayak gitu, ganteng pisan euy," timpal temannya yang lain.


"Huss, nggak usah muji-muji kayak gitu, Pak Akmal itu bentar lagi akan nikah, kalian belum dapat undangannya yah?" sela salah satu temannya.


"Hah? Masa sih?" tanya pegawai wanita itu begitu terkejut.


"Iya, coba deh kalian cek di meja kerja kalian," jawab temannya.


Dengan langkah buru-buru, dua pegawai wanita yang tadi memuji Akmal segera berlari ke meja kerjanya. Dan seketika mereka terduduk lesu di kursi mereka.


"Ya elaa, baru juga mau dikenalin sama orang tua, eeh udah main ninggalin aja," gerutunya pasrah.


"Ho'o, hari ini menjadi hari patah hati sekantor untuk para pengagum Pak Akmal," imbuh temannya.


"Sabar, lain kali kalau nyari calon, yang satu divisi aja, lihat aku, udah ganteng, baik, sabar, ya kan?" terdengar suara bariton seorang pria yang tidak lain adalah kepala divisi mereka, membuat para wanita yang tadinya sempat patah hati langsung kembali fokus bekerja.


Di sisi lain, Akmal kini tengah berjalan ke ruangannya, dan di sambut oleh Novi di dekat ruangannya. Namun, wajah wanita itu seperti kurang bersemangat, senyuman yang tersungging pun tampak dipaksakan. Rupanya wanita itu juga tengah dilanda patah hati karena melihat undangan yang ada di mejanya pagi ini.


Akmal melewatinya begitu saja dan langsung masuk ke dalam ruangannya. Tak lama setelah itu, Novi masuk ke dalam ruangan itu dengan membawa agendanya hari ini.


"Permisi, hari ini Bapak ada agenda meeting bersama tim divisi pemasaran pukul 09.00, lalu makan siang bersama dengan CEO PT. Alfa sekaligus membahas kontrak kerja sama yang sempat tertunda beberapa hari yang lalu," terang Novi.


"Baiklah, terima kasih," ucap Akmal.


⚓⚓⚓

__ADS_1


Sama halnya dengan undangan yang telah menyebar di perusahaan, di ruang guru sekolah Tahfizh Qur'an pun undangan sudah di letakkan Aisyah di meja masing-masing guru. Hari ini Aisyah tiba lebih awal hanya untuk membagikan undangan pernikahannya.


"Alhamdulillah, akhirnya sebar undangan juga, selamat yah, Mbak, Barakallahu fiikum," ucap seorang guru wanita yang baru saja tiba dan mendapati undangan di mejanya.


Begitu pun dengan guru yang lain, semua memberikan ucapan selamat di sertai doa. Hanya Pak Ahmad yang diam memandangi undangan itu, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, pun tak ada lagi tindakan yang ingin ia lakukan, intinya pria itu sudah merasa kalah oleh sesosok pria muda yang sudah membuatnya bungkam hanya dalam sekali pertemuan.


⚓⚓⚓


Kini tibalah hari yang di tunggu-tunggu, di mana Akmal dan Aisyah menjadi Raja dan Ratu sehari. Acara pernikahan mereka di adakan di hotel yang tidak jauh dari rumah Kiai Rahman, hal itu ia maksudkan agar seluruh santri dan santriwati di pesantren dapat ikut menghadiri dan merasakan kebahagiaan yang di rasakan oleh keluarga Kiai Rahman.


"Eh bukannya itu wanita yang kemarin bilang kalau Pak Akmal udah nikah?" tanya rekan kerja Novi yang kini sedang duduk bersama Novi.


"Iya, beneran dia, wah parah Nov, ternyata kemarin kamu itu minta istrinya buat comblangin kamu dengan suaminya? Hahaha." Tawa rekan kerja Novi pecah saat mengingat bagaimana Novi dengan percaya dirinya meminta Aisyah agar ia bisa di dekatkan dengan Akmal.


"Sialan kalian malah ngetawain aku," geruru Novi yang merasa dongkol.


"Tapi aku salut deh sama istrinya Pak Akmal, dia kok bisa tenang gitu yah hadepin kamu, kalau aku jadi dia huuu udah ku jambak rambut kamu sampai nggak berbentuk," canda salah satu teman Novi.


"Apaan sih kalian, malah bercanda, bisa nggak sih kalian ngertiin perasaan aku, aku tuh lagi patah hati, dasar teman-teman lucknut," dumel Novi dengan wajah yang ditekuk bagaikan kertas lipat.


Namun, di tengah asiknya bercerita, suara pria yang hadir di tengah mereka, membuat mereka terdiam.


"Assalamu 'alaikum, Ustadzah, afwan sebelumnya, saya izin pinjam Ainunnya sebentar boleh yah," ucap Ridwan.


"Wa'alaikum salam, eh Ustadz Ridwan toh, kirain tadi siapa, silahkan jika kalian ingin bicara, tapi jangan berduaan yah, karena yang ketiga itu setan," ujar salah satu Ustadzah mengingatkan.


"Siap," ucap pria itu singkat sembari memberikan kode kepada Ainun untuk mengikutinya.


Mereka terus berjalan hingga di depan hotel yang tidak terlalu bising dan juga tidak sepi.


"Maaf aku mengambil waktu kamu sejenak." Ridwan mulai membuka suara.


"Iya nggak apa-apa, ada apa yah?" tanya Ainun.


"Begini, kita kan sudah dua minggu menjalani ta'arruf, aku merasa sudah cocok sama kamu, karena itu aku ingin masa ta'arruf kita disudahi dan kita bisa melangkah ke jenjang pernikahan," ungkap Ridwan.

__ADS_1


Sebuah kerutan seketika terbit di kening Ainun, "Itu kan untuk kamu, aku masih merasa belum mengenal kamu dengan baik, bukankah kemarin kamu sepakat untuk menjalani ta'arruf selama 3 bulan? Ini satu bulan aja belum," protes Ainun.


"Aku udah merasa cocok sama kamu, ngapain juga lama-lama ta'arrufan kalau sebenarnya udah merasa cocok? Yang ada kita hanya akan membuka celah agar setan menghasut hati kita," tegas pria itu.


"Ya tapi kamu sadar nggak sih, kamu itu sedang membuat keputusan sepihak, kamu bahkan nggak beri aku kesempatan untuk mengenal kamu hanya karena kamu udah merasa cocok."


"Kamu bisa mengenalku lebih dekat setelah nanti kita menikah Ainun," ujar pria itu tetap bersikeras dengan keputusannya.


Ainun tampak membuang napas kasar. Apa memang sebaiknya dia menerima pria di hadapannya ini sementara hatinya sendiri belum yakin.


"Ya ud...."


"Mamaaaaa." Sebuah teriakan anak kecil berhasil memotong perkataan Ainun.


Ainun menoleh ke arah sumber suara. "Khaira?" lirihnya saat melihat gadis kecil itu sedang berlari ke arahnya hingga memeluk pinggang Ainun yang masih berdiri.


"Khaira, kok kamu sendirian di sini, Sayang?" tanya Ainun.


"Khaira kangen sama Mama," ucapnya begitu manja.


"Mama?" batin Ainun bertanya-tanya.


"Mama?" ucap Ridwan bingung. "Apa maksudnya ini? Apa dia anak kamu?" tanya Ridwan dengan raut wajah serius.


"Bu...."


"Halo Om, jadi Om yah yang mau nikah sama Mama?" tanya Khaira lagi-lagi memotong perkataan Ainun, membuat pria itu mengusap wajahnya kasar dengan raut wajah yang sudah tidak lagi bersahabat.


-Bersambung-


Disclaimer:


Halo kakak-kakak, mohon maaf sebelumnya, di sini Author hanya ingin menjelaskan kalau apa yang ada dalam cerita ini adalah berdasarkan pandangan Author pribadi dan tidak ada sama sekali unsur ingin menjatuhkan pihak lain. Ini hanyalah karangan fiksi hasil Author menghalu sambil rebahan.


Terima kasih yang sudah berkenan mampir di karya receh Author 🥰🤗

__ADS_1


__ADS_2