
Jika ada yang mengatakan mengapa aku terlalu baik kepada mantan suamiku? Maka aku akan menjawab, aku berbuat baik untuk kebaikanku sendiri dan kebaikan anak yang tidak bersalah itu. Karena apa yang aku tuai hari ini maka itu pula yang aku panen di kemudian hari.
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra : 7)
(Aisyah Sidqia Rahman)
⚓⚓⚓
Langit biru kini telah berubah menjadi jingga, pertanda sebentar lagi malam akan tiba. Setelah melalui serangkaian tes kesehatan, Aisyah dinyatakan layak untuk mendonorkan darahnya.
Kini ia sedang berbaring di dalam sebuah ruangan, sebuah jarum menancap di balik kedua sikunya yang terhubung dengan selang sebagai jalan untuk membawa darah Aisyah ke dalam sebuah kantong darah khusus. Sementara Ainun memutuskan untuk menunggu di luar, jujur saja ia merasa sedikit pusing jika harus melihat darah sebanyak itu.
Tak lama kemudian, Zaid datang menghampiri Ainun dengan membawa sebuah kantongan berisi beberapa kaleng susu dan roti serta air mineral.
"Ini untuk kalian, saat Aisyah keluar nanti, suruh dia untuk langsung minum susu," pinta Zaid.
Namun, sama sekali tidak di gubris oleh Ainun. Gadis itu justru menampilkan wajah dongkolnya, ia tak sudi untuk sekedar menatap wajah pria di sampingnya itu yang tidak lain adalah seniornya dulu bersama Aisyah.
Melihat sikap Ainun, Zaid tentu paham akan alasannya bersikap seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi? Pria itu mengakui bahwa dirinya memang salah dan tidak tahu malu. Tapi, demi kebaikan sang buah hati, ia rela menebalkan kulit wajahnya dan hatinya agar tidak tersinggung oleh sikap mereka yang sudah terlanjur membenci dirinya.
Zaid sangat bersyukur karena orang yang bisa menolongnya adalah Aisyah, wanita yang ia akui memiliki hati yang baik dan tulus. Andai saja orang lain yang ia sakiti lalu ia kembali datang untuk minta tolong, mungkin bukan penolakan saja yang akan ia terima melainkan sebuah tendangan dan caci maki.
Meski ada terbesit rasa penyesalan dalam hatinya, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengucapkan kata maaf. Kini ia telah menikah dan memiliki anak, cukup sekali saja ia melakukan kesalahan dan ia tidak ingin menyesal untuk yang kedua kalinya.
Zaid membuang napas lesu lalu meletakkan kantongan itu di kursi tepat di samping Ainun. "Aku pergi dulu kalau begitu. Jika kalian sudah selesai dengan ini, pergilah ke hotel A untuk beristirahat, aku sudah membooking kamar hotel untuk kalian atas nama Zaid," ujar nya lalu pergi, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti lalu berbalik ke arah Ainun.
"Besok pagi anakku akan dioperasi, mohon doanya," pintanya lalu berbalik dan kembali melangkah pergi tanpa menunggu tanggapan dari Ainun.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Aisyah selesai dengan donor darahnya. Ia menghampiri Ainun yang begitu setia menunggunya di luar meski hanya seorang diri.
__ADS_1
"Bagaimana perasaanmu, Sya?" tanya Ainun yang segera memghampiri Aisyah.
"Perasaanku baik, hanya sedikit pusing saja," jawab Aisyah sembari mengusap pelipisnya.
"Ini dari Zaid," ujar Ainun sembari menyodorkan sebuah kantongan kepada Aisyah.
"Oh iya," jawab Aisyah sembari menerima kantongan itu dan langsung mengambil sekaleng susu, ia duduk dan mengangkat sedikit cadarnya sebelum akhirnya ia meminumnya.
"Sya, gimana perasaanmu sekarang terhadap Zaid?" tanya Ainun.
Aisyah yang masih meneguk susu mengernyitkan alisnya. Ia menghentikan sejenak minum susunya seraya menatap ke arah sahabatnya itu.
"Perasaan gimana maksud kamu? Jika yang kamu maksud adalah rasa cinta, jawabannya itu sudah mati dalam hatiku, dan kalau rasa kecewa, maka tentu saja masih ada. Oh iya, jangan bicarakan hal ini lagi, aku benar-benar tidak suka membicarakan ini," jelas Aisyah.
Ainun kembali membuka mulutnya hendak bertanya.
"Dan jangan lagi tanyakan kenapa aku masih mau menolong anaknya, karena kamu tentu sudah tahu jawabannya," ujar Aisyah cepat, membuat Ainun kembali menutup mulutnya.
"Alhamdulillah," ucap Aisyah setelah menghabiskan susunya. "Kita mau kemana sekarang?" tanyanya.
"Kita ke hotel dulu, Zaid telah membookingkan kita kamar untuk rehat sejenak," jawab Ainun.
"Oke, hayya (ayo)," ujar Aisyah menarik tangan Ainun.
Aisyah dan Ainun pun akhirnya pergi ke hotel yang di maksud Zaid. Berhubung jaraknya yang cukup dekat dengan rumah sakit, mereka memutuskan untuk berjalan kaki sekalian menikmati suasana senja di kota itu.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di hotel, tanpa aba-aba kedua wanita seumuran itu langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dan langsung terlelap karena begitu lelah. Beruntung mereka telah melaksanakan sholat ashar saat di rumah sakit tadi.
Malam hari saat mereka terbangun, waktu telah menunjukkan pukul 20.00, Ainun yang lebih dulu bangun langsung membangunkan Aisyah dengan begitu heboh.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Aisyah, bangun! Kita terlambat sholat Maghrib nih." Ainun menggoyang-goyangkan tubuh Aisyah hingga wanita itu terbangun.
"Udah jam berapa sekarang?" tanya Aisyah dengan suara seraknya.
"Udah jam 20.00, Sya," jawab Ainun.
"Oh, ayo sholat," ajak Aisyah.
"Allahu Akbar, Sya waktu sholat maghrib udah lewat," ujar Ainun.
"Allahu Akbar Ainun, apa kamu lupa? Kita ini musafir, kita bisa menjamak takhir sholat kita," sanggah Aisyah, membuat Ainun langsung tepuk jidat.
"Oh iya, astaghfirullah, aku lupa."
⚓⚓⚓
Sementara di kediaman Zafran, Ibu Sofi sedang membersihkan kamar putranya. Ia sengaja tidak meminta ART untuk membersihkannya karena Zafran tidak ada, khawatirnya ada sesuatu yang tidak boleh di lihat oleh para ART atau semacamnya.
Kali ini giliran nakas yang ia bersihkan, semua kertas-kertas kosong atau kertas yang ia anggap tidak lagi penting pun di buang olehnya.
"Zafran ini kebiasaan banget deh suka menyimpan kertas tidak penting dalam lacinya," dumelnya sembari memeriksa semua kertas yang ia ambil dari laci nakas untuk di buang.
Hingga sebuah kertas berlogo rumah sakit pun tak luput ia periksa. Ia hendak membuangnya, tapi seketika ia tersadar akan sesuatu. "Rumah sakit?" ucapnya dengan alis yang hampir bertautan.
Kembali wanita paruh baya itu memeriksanya, dan seketika matanya membola, refleks tangannya menutup mulut, bahkan kini matanya sudah berkaca-kaca setelah mengetahui isi dari kertas itu.
"Tidak, ini tidak mungkin. Apa jangan-jangan Zafran ke Singapura karena ini dan bukan karena bisnis?" lirihnya bermonolog.
Tidak terasa air matanya jatuh membasahi pipinya. Acara bersih-bersih itu pun langsung ia hentikan. Ia langsung menyambar ponselnya dan menghubungi nomor Zafran, tapi hanya suara operator yang ia dengar.
__ADS_1
Kini rasa marah, kecewa, dan khawatir bercampur jadi satu dalam pikirannya. Marah dan kecewa karena putra semata wayangnya telah berani membohonginya, dan khawatir karena ia menyadari bahwa penyakit yang saat ini sedang diderita putranya bukanlah penyakit ringan. Dan di saat yang bersamaan pula ia merasa gagal menjadi ibu yang baik karena tidak mengetahui hal segenting ini lebih awal.
-Bersambung-