Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Perkara Hamil


__ADS_3

"Begini Pak, Bu, maksud kedatangan saya dan keluarga kemari adalah saya ingin melamar putri Bapak dan Ibu, saya ingin menjadikan Ainun sebagai istri saya dan Ibu dari anak-anak saya, semoga Bapak dan Ibu merestui niat baik saya."


Saat ini, Zafran telah tiba di rumah Ainun bersama Ibu Sofi, Khaira, Akmal dan Aisyah. Tapi saat baru masuk rumah, gadis kecil itu langsung meminta izin kepada si empunya rumah untuk memanggil Ainun di kamarnya.


"Kami merestui niat baik Nak Zafran, tapi bagaimana pun juga kami akan serahkan semuanya kepada Ainun, dia sudah dewasa, tentu dia sudah bisa menentukan jalan mana yang ingin ia tempuh," ujar Bapak Rumi.


"Tapi kenapa Ainun lama sekali ?" tanya Ibu Tia.


"Iya Bu, padahal tadi Khaira pergi memanggilnya, tapi belum datang-datang juga," ujar Aisyah.


"Biar ibu langsung memanggilnya kalau begitu." Ibu Tia beranjak dan pergi ke belakang memanggil putrinya.


"Jadi Nak Zafran ini udah pernah nikah yah?" Pak Rumi mulai bertanya-tanya dahulu kepada pria di hadapannya.


"Iya, Pak. Saya sudah pernah menikah 7 tahun yang lalu, dan saya sudah cerai sejak 5 tahun yang lalu," jelas Zafran.


"Oh begitu, jadi anak kecil tadi ...."


"Iya, Pak. Dia anak saya."


Tak lama kemudian, datanglah Ainun bersama Ibu Tia dan Khaira. Ainun duduk di antara kedua orang tuanya, dan Khaira duduk di samping Aisyah.


"Nak, kedatangan Zafran kemari ingin melamar kamu, dia sudah meminta izin kepada kami, jadi sekarang tinggal jawaban dari kamu yang kami tunggu," ujar Pak Rumi.


"Kenapa memilih aku?" tanya Ainun dengan suara pelan.


"Kamu adalah jawaban dari istikharahku, kamu wanita baik yang mau menerima kehadiran Khaira meski dia bukan darah dagingmu," jawab Zafran.


"Tapi ...."


Ainun menatap Aisyah dan mendapat anggukan darinya, seolah Aisyah mengerti akan beban yang masih bercokol dalam hatinya.


"Kamu pria hebat, mapan, kaya, bertanggung jawab, kenapa kamu memilihku? Sementara di luar sana pasti banyak wanita yang sepadan denganmu." Ainun mengungkapkan semua yang menjadi beban di hatinya.


"Karena Allah yang telah memilihmu untukku, semua manusia sama di mata Allah yang membedakan adalah taqwa, jadi mengenai sepadan atau tidaknya, hanya Allah yang tahu," jawab Zafran.


Ainun kembali terdiam, ia menoleh kepada kedua orang tuanya yang juga mengangguk kepadanya. Ia menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.


"Bismillah, saya menerima lamaran kamu," ucapnya.

__ADS_1


Semua orang kini menampilkan senyuman di wajah mereka, ucapan syukur lagi-lagi terucap dari mulut mereka. Setelah semua kejadian yang cukup menguras pikiran selama satu minggu terakhir, kini semuanya terbayar dengan kemenangan untuk Zafran, kemenangan mendapatkan hak asuh anaknya, dan kemenangan mendapatkan Ainun sebagai istrinya.


⚓⚓⚓


Hari demi hari berlalu, kini tibalah di mana Ainun dan Zafran resmi menjadi pasangan suami istri. Hari ini adalah hari yang spesial bagi mereka karena keduanya menjadi Raja dan Ratu sehari, sementara Khaira menjadi putri yang begitu bahagia.


Semenjak resmi menjadi ibunya, gadis kecil itu seakan tak ingin jauh dari Ainun. Aisyah yang melihat mereka dari bawah pelaminan tak bisa melepaskan senyuman dari wajahnya.


"Permisi Aisyah." Aisyah menoleh saat mendengar seseorang menyebut namanya.


"Kamu?"


"Boleh kita bicara sebentar?" tanya wanita itu.


Aisyah sejenak menoleh ke arah suaminya yang sedang berbicara dengan rekan bisnis Zafran yang menjadi tamu undangan hari ini.


"Baiklah." Aisyah kini mengikuti wanita itu menuju ke luar gedung yang sedikit bising.


"Ada apa Mbak Via?" tanya Aisyah menyelidik.


Via menggenggam tangan Aisyah dengan raut wajah sendu. "Aisyah, maafkan aku atas kesalahanku beberapa waktu yang lalu."


"Terima kasih Aisyah, kamu memang wanita baik," ucap Via lalu memeluk tubuh wanita bercadar itu.


"Iya iya, kalau gitu aku masuk dulu yah, soalnya nggak enak sama yang lain."


"Iya, silahkan, sekali lagi terima kasih yah."


"Iya." Aisyah pun akhirnya masuk kembali ke dalam gedung.


Via menatap kepergian Aisyah lalu menghapus air matanya dan tersenyum penuh arti.


⚓⚓⚓


Usai acara resepsi, Zafran dan Ainun sengaja langsung kembali ke rumah Zafran. Semua itu atas permintaan Ainun yang tiba-tiba ingin makan jagung bakar bersama keluarga. Alhasil, rumah mewah Zafran seketika ramai oleh kedatangan keluarga. Mulai dari keluarga. Aisyah, Akmal, Ainun, dan Zafran tentu saja.


Semua keluarga berkumpul di belakang rumah untuk membuat jagung bakar. Kali ini para wanita hanya duduk diam sembari bercerita di gazebo, sementara para pria sibuk bakar-bakar dan membuat sambal khas untuk jagungnya.


"Aisyah, kamu udah isi belum?" tanya Bude Luna tiba-tiba saat tidak sengaja bertemu dengan Aisyah di dapur untuk mengambil air minum.

__ADS_1


"Belum, Bude. Doakan yah," jawab Aisyah.


"Iya, bude harap kamu cepat isi, soalnya bude khawatir suami kamu ini ingin segera punya anak. Kalau saja Zafran yang menjadi suami kamu, yah pasti kamu nggak perlu khawatir mengenai anak karena Zafran udah punya anak, dia juga orangnya sabar, bude tahu dia karena dia anak teman Bude. Tapi kalau suami kamu yang ini, Bude nggak tahu. Semoga saja dia nggak seperti Zaid," ucap Bude Luna panjang lebar.


Aisyah sejenak terdiam, bayangan masa lalunya seakan kembali berputar diingatannya.


"I-iya, Bude," jawabnya singkat. Bude Luna mengangguk lalu kembali ke gazebo bersama yang lain.


Kita tidak akan pernah tahu bagaimana sifat asli seseorang sebelum dia menemui masalah. Zaid juga dulu sangatlah manis, dan baik, tapi semuanya berubah karena persoalan anak yang awalnya tidak ia permasalahkan.


"Astaghfirullah, insya Allah Akmal bisa menerimaku apa adanya." Aisyah memejamkan mata sembari mengusap dadanya. Beberapa kali ia menarik napas dan mengembuskannya perlahan agar lebih tenang.


"Hey, kamu kenapa, Sayang?" Suara bariton Akmal sukses membuat Aisyah terperanjat dan membuka mata.


"Astaghfirullah, aku kaget, Mas," ucap Aisyah pelan.


"Maaf Sayang, aku tidak bermaksud membuatmu kaget seperti tadi." Akmal merangkul Aisyah sembari mengusap lengannya.


"I-iya, Mas. Aku ke sana lagi kalau gitu." Aisyah menujuk gazebo lalu melepas rangkulan Akmal dan pergi meninggalkannya.


Akmal mengernyitkan alisnya merasakan sikap Aisyah yang sedikit berbeda, lebih tepatnya Aisyah seperti menghindari dirinya.


Tapi kenapa?


"Mungkin dia lelah," batin pria itu, ia sebisa mungkin berusaha berpikir positif.


Sementara di gazebo, Aisyah tak banyak bicara, ia hanya menyimak pembicaraan antara Bude Luna dan Ibu Sofi, Ainun dan Khaira yang bagai perangko dan Ibu Lina yang juga asik bercerita dengan Ibu Tia.


"Nak, kamu kenapa?" tanya Ibu Shalwa mendekati Aisyah bersama Aira.


"Eh, nggak apa-apa kok, Ma," jawab Aisyah sedikit memaksa senyum.


"Apa kakak sakit? Kakak terlihat lemas dan pucat," ujar Aira memperhatikan raut wajah Aisyah.


"Sebaiknya kamu istirahat, Nak. Kamu terlihat tidak sehat." Ibu Shalwa mengusap lembut tangan Aisyah.


"Iya, Kakak terlihat tidak sehat, apa jangan-jangan kakak hamil?"


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2