Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Kekanak-kanakan


__ADS_3

Akmal menghentikan taksi saat tiba di bandara lalu segera keluar setelah membayar taksi itu. Ia berlari kencang menuju ke depan papan digital airport announcement untuk melihat jadwal keberangkatan pesawat pagi ini.


Akmal ingin memastikan terlebih dahulu apakah pesawat yang akan di gunakan Aisyah kembali ke Indonesia sudah berangkat atau belum.


"Empat puluh menit lagi," gumamnya setelah membaca pengumuman tersebut.


Tak ingin membuang waktu, Akmal segera menghubungi nomor Aisyah, berkali-kali ia menghubunginya, tapi berkali-kali pula tidak di angkat.


"Astaga, kenapa dia tidak mengangkatnya?" Akmal kini terlihat begitu frutrasi dan putus asa. Di tangah rasa putus asanya, perkataan Aisyah malam itu kembali melintas di pikirannya.


Izinkan aku melakukan tugasku ini dengan tulus, aku ingin berbakti kepadamu meski mungkin kamu belum bisa menerimaku dalam pernikahan ini.


Perkataan itu lagi-lagi berputar di ingatannya bagaikan kaset rusak. Membuat dirinya semakin merasa bersalah, bahkan ia merasa telah menjadi suami yang sangat buruk untuk Aisyah.


⚓⚓⚓


Sementara di sisi lain, Ainun sedang duduk di kursi tunggu sembari memegangi tas Aisyah yang sedang pergi ke toilet. Berkali-kali ia merasakan ponsel sahabatnya itu bergetar karena ada yang menelepon, tapi ia tidak berani mengangkat saat melihat nama yang tertera di layarnya.


"Hah, lega juga, syukron Ainun sudah menjaga tasku," ucap Aisyah sembari mendaratkan tubuhnya di kursi tepat di samping sahabatnya.


"Sya, tadi suami kamu menelepon, tapi aku tidak berani mengangkatnya. Coba kamu cek," ujar Ainun.


Aisyah mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Ainun. "Kenapa dia menghubungiku lagi? Bukannya dia tidak bisa menerima pernikahan ini?" batinnya sembari melihat ponselnya yang menampilkan begitu banyak panggilan tak terjawab dan sebuah pesan.


Akmal


Assalamu 'alaikum, Aisyah. Maafkan aku atas sikapku yang telah menyakitimu, aku menyadari betapa jahatnya aku. Tapi apa kamu tahu? Hatiku juga begitu sakit dan tersiksa saat melakukan itu padamu.


Apa kamu ingin memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku? Aku memang suami yang buruk, tapi dengan tidak malunya masih saja meminta kesempatan padamu.

__ADS_1


Aku tidak akan memaksamu. Tapi jika kamu ingin memberiku kesempatan, keluarlah, aku menunggumu di depan bandara ini. Tapi jika kamu tidak ingin memberiku kesempatan, kamu tidak perlu keluar, aku akan menerimanya dengan ikhlas.


Aisyah membuang napas lesu membaca pesan itu, ia mengusap matanya yang kembali berair karena mengingat bagaimana perkataan Akmal yang begitu sederhana tapi mampu menyakitinya.


⚓⚓⚓


Sudah 40 menit berlalu sejak Akmal mengirimkan pesan kepada Aisyah. Bahkan suara pesawat yang take off baru saja ia dengar dengan jelas.


"Mungkin dia sudah pergi," ucapnya lesu lalu berjalan meninggalkan tempat itu.


"Akmal!" suara yang begitu tidak asing di telinganya seketika membuat langkah pria itu terhenti.


Perlahan ia menoleh ke belakang di mana saat ini seorang wanita bercadar sedang berdiri sembari memegang koper kecilnya. Senyuman haru seketika terbit di wajah pria itu, ia segera mengusap wajahnya saat menyadari sebulir air mata baru saja lolos ke pipinya.


"Aisyah!" lirih Akmal sembari melangkah cepat menghampiri Aisyah yang diam terpaku di tempatnya.


Sebuah pelukan mendadak dari Akmal berhasil membuat wanita itu terkejut luar biasa, bahkan kedua matanya kini membola, dan jangan tanyakan kondisi jantungnya yang seketika ingin melompat keluar dari tempatnya.


"Terima kasih," lirihnya tanpa melepas pelukan itu. Entah kenapa ia merasa begitu nyaman mendekap tubuh wanita yang sejak seminggu lalu selalu ia abaikan.


Aisyah melepas pelukan suaminya dan mendongak menatap pria itu. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" tanyanya to the point.


Akmal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia hendak membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Aisyah, tapi segera ia urungkan. Pria itu kini meraih tangan kanan Aisyah dan menggenggamnya dengan lembut.


"Kita balik dulu yah, nanti aku jawab." Akmal menarik Aisyah dengan tangan kirinya dan mengambil alih koper Aisyah di tangan kanannya. Mereka pun berjalan bersama menaiki taksi meninggalkan bandara.


Sepanjang perjalanan, Akmal tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Aisyah, membuat wanita itu menatapnya dengan heran. Entah apa yang membuat pria itu tiba-tiba berubah pikiran, yang jelas hatinya pun saat ini merasa bahagia, ia berharap semoga saja pria di sampingnya ini benar-benar bisa menerimanya, tidak seperti semalam, bagaikan wanita PMS yang moodswing.


Kini mereka tiba di hotel dengan tangan yang masih setia menggenggam satu sama lain. Aisyah dan Akmal berjalan memasuki lorong menuju kamar yang tadi pagi mereka tempati.

__ADS_1


"Kamu tunggu di sini, ada yang ingin aku berikan kepada kamu," ucap Akmal mendudukkan Aisyah di tempat tidur lalu bergegas mengambil sesuatu di dalam tasnya.


Aisyah hanya diam memperhatikan apa yang dilakukan pria itu, ia begitu penasaran dengan apa yang akan diberikan suaminya itu untuknya. Beberapa saat kemudian, Akmal kembali dengan membawa sebuah kotak berukuran kecil dengan bahan buludru berwarna hitam.


Akmal memposisikan dirinya duduk menghadap ke arah Aisyah, tak lupa ia mengharahkan Aisyah untuk ikut menghadap ke arahnya. Perlahan ia membuka kotak itu, terlihat satu pasang cincin berbahan dasar emas putih yang tampak begitu elegan dengan butiran berlian kecil yang menghiasi permukaan bagian atasnya.


Pria itu meraih tangan kanan Aisyah dan memasangkan cincin itu di jari manisnya.


"Aku membelinya saat di Indonesia kemarin sebelum kembali ke sini, ternyata pilihanku sangat pas di jari kamu," ucapnya tersenyum lalu menyerahkan kotak yang masih berisi satu cincin lagi kepada Aisyah.


Aisyah menerima kotak itu dengan wajah yang tertunduk dalam sembari mengamati cincin-cincin di tangannya. Ada rasa haru yang tak bisa ia gambarkan saat melihat sebuah cincin kembali melingkar di jari manisnya.


"Sekarang, boleh kamu pakaikan cincin itu di jariku?" tanya Akmal dengan suara pelan.


Tanpa menjawab, Aisyah mengambil cincin dari kotak lalu memasangkannya di jari manis Akmal, tanpa di sadari satu tetes air mata mengenai tangan pria itu, membuatnya langsung menatap Aisyah yang masih betah menunduk.


Akmal meraih dagu Aisyah dan mengangkat wajahnya perlahan, kini tampak jelas wajah cantik wanita itu meski matanya sedikit memerah dan basah oleh air mata, bahkan cadarnya pun sedikit basah karenanya.


"Maaf karena sudah membuatmu bersedih, sebenarnya aku punya alasan kekanak-kanakan di baliknya," ujar Akmal sembari mengusap air mata Aisyah dengan begitu lembut.


"Apa itu?" tanya Aisyah dengan suara lirih.


"Sebenarnya aku takut kamu akan kembali kepada Bang Zafran saat dia sembuh nanti," cicit Akmal tertunduk malu.


Terdengar suara tawa kecil keluar dari mulut Aisyah. "Memang kekanak-kanakan," ucapnya lalu kembali tertawa kecil.


Akmal kini menatap tak percaya istrinya, rupanya wanita yang tadi menangis kini malah menertawakannya.


"Kamu ketawain aku?" tanya Akmal dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


Tawa Aisyah seketika terhenti saat menyadari tatapan tajam Akmal yang bagaikan silet. Ia menelan salivanya dengan kasar, nyalinya pun menciut, ia khawatir Akmal akan kembali bersikap dingin kepadanya setelah ini


-Bersambung-


__ADS_2