Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Apa Aku Egois?


__ADS_3

Suasana di kamar itu kini tampak canggung. Apalagi tatapan Aisyah kali ini yang sedikit berbeda kepada Zafran. Perlahan ia melangkah mendekati tempat tidur di mana Zafran tengah berbaring, tak lupa ia menyalami Ibu Sofi.


"Kenapa selama ini nggak jujur?" tanya wanita bercadar itu kepada Zafran.


"Ma-maaf, Aisyah. Sa-saya tidak bermaksud membohongi kamu," jawab Zafran tergagap.


Ibu Sofi yang merasa Zafran dan Aisyah harus berbicara, akhirnya memutuskan untuk menjauh dari mereka dan menghampiri calon besannya yang masih berdiri di dekat pintu bersama Ainun. Tak lupa ia mengajak mereka untuk duduk bersama di sofa yang ada di kamar itu.


"Bagaimana keadaan Bapak sekarang?" tanya Aisyah.


"Seperti yang kamu lihat, Sya. Saya hanya bisa pasrah dengan keadaan saya," jawab Zafran pelan. Ia kini melirik ke arah Aisyah yang kini tampak sendu.


Bagaimana tidak sendu, calon suami yang rencananya akan menikahinya beberapa minggu lagi justru kini harus terbujur lemas di rumah sakit.


"Aisyah, saya tidak akan memaksa kamu untuk menunggu saya, kalau na...."


"Saya akan menunggu sampai Bapak sembuh, fokuslah menjalani pengobatan lebih dulu," ujar Aisyah cepat bahkan sebelum Zafran menyelesaikan kata-katanya.


"Ta-tapi Aisyah ...."


"Jika kita berjodoh, insya Allah seberapa besar hambatan yang ada di hadapan kita pasti akan tersingkap juga," ucap Aisyah.


"Tapi jika kita tidak berjodoh, seberapa besar usaha kita untuk saling menunggu tetap tak akan berakhir seperti rencana kita," sambung Zafran dengan mata berkaca-kaca, membuat Aisyah refleks menatap mata pria di hadapannya itu.


Ada gejolak di mata pria itu yang seakan ingin mengeluarkan semua rasa yang selama ini menghantui pikirannya, namun ia masih tak berani mengeluarkannya sebab jujur saja, pria itu masih menginginkan Aisyah menjadi istrinya. Apakah dia egois jika mengharapkan kesempurnaan di tengah ketidaksempurnaannya?


Aisyah kembali tertunduk sembari mengambil tissue dari dalam tas kecilnya saat menyadari pria di hadapannya kini mengeluarkan air mata.


"Tolong jangan menangis, Bapak jangan memikirkan hal yang tidak-tidak, kami akan selalu mendoakan kebaikan untuk Bapak," ucap Aisyah sembari menyodorkan tissue kepada Zafran.


Pria itu tersenyum sembari menerima tissue dari calon istrinya."Terima kasih," ucapnya pelan.


Rasanya ia begitu malu saat terlihat lemah di hadapan calon istrinya itu, tapi mau bagaimana lagi, dalam keadaan seperti ini, perasaannya begitu melow bahkan seakan rapuh, dan ia tidak bisa memaksa tubuhnya untuk bersikap tegar.

__ADS_1


Sementara itu, kedua orang tua Aisyah kini juga sedang berbicara dengan Ibu Sofi.


"Maaf, kami datang tiba-tiba," ucap Ibu Lina.


"Ah iya tidak apa-apa, tapi bagaimana kalian bisa tahu kami ada di sini?" tanya Ibu Sofi.


"Selama beberapa hari ini, Aisyah selalu mondar-mandir ke kantor Zafran agar bisa menemui asisten dan sektetarisnya, dia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan kalian, makanya Aisyah ingin mengetahui kabar kalian. Dan mungkin karena kasihan dengan Aisyah, akhirnya asisten Zafran memberikan informasi kalau Zafran sakit dan sedang dirawat di sini," jelas Kiai Rahman.


Ibu Sofi mengangguk paham. "Maafkan kami karena tidak memberitahukan hal ini kepada kalian," ucapnya merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, Bu, kami mengerti kok," sahut Ibu Lina.


"Maaf, Bu. kondisi terkini Pak Zafran bagaimana?" tanya Ainun yang ikut menaruh simpati pada calon suami Aisyah.


Ibu Sofi sejenak menatap gadis yang tampak seumuran dengan Aisyah lalu beralih menatap calon besannya, membuat Ibu Lina paham akan maksud tatapan itu.


"Oh iya, perkenalkan, Bu. Ini Ainun, sahabat Aisyah sejak di pesantren," jelas Ibu Lina.


Ainun tampak tertegun mendengar penjelasan wanita paruh baya di hadapannya. Namun, tiba-tiba ia teringat akan sesuatu.


"Maaf, Bu, saya permisi dulu," pamit gadis itu begitu sopan.


"Iya, Nak," jawab Ibu Sofi.


Gadis itu kemudian keluar dari kamar rawat Zafran untuk melakukan panggilan telepon dengan seseorang.


"Kami turut sedih mendengarnya, sebisa mungkin kami akan membantu nak Zafran untuk mencarikan donor ginjal untuknya," ujar Kiai Rahman.


"Terima kasih, Pak. Tapi kata Akmal ia sudah mendapatkan pendonor yang cocok untuk Zafran," ujar Ibu Sofi.


"Alhamdulillah, lalu kapan rencana operasinya?" tanya Ibu Sofi.


"Insya Allah dua minggu lagi, mohon maaf, sepertinya acara pernikahannya harus di tunda dulu, apa tidak masalah?" Ibu Sofi lagi-lagi merasa tidak enak hati.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bu. Kita bisa menunggu," ujar Ibu Lina.


"Terima kasih banyak yah, Bu, Pak," ucap Ibu Sofi.


Tak lama setelah itu, Akmal dan Khaira masuk ke dalam kamar. Dan tanpa di sengaja, Akmal menatap Aisyah yang juga tidak sengaja menatapnya. Kembali desiran aneh muncul di dalam hati pria itu, meski ia berusaha keras meyakinkan diri bahwa hatinya tidak akan goyah oleh siapa pun termasuk wanita yang ada di hadapannya saat ini.


Tanpa mereka sadari, Zafran yang tengah berbaring menghadap pintu, menyaksikan dengan jelas bagaimana tatapan Akmal kepada Aisyah. Sebagai pria berpengalaman, ia jelas paham akan arti tatapan itu meski Akmal tak pernah mengatakannya.


"Ummiiii," panggil gadis kecil itu begitu girang dan langsung berlari memeluk Aisyah.


Aisyah segera mengalihkan tatapannya pada gadis kecil yang kini sedang melingkarkan tangannya di pinggang Aisyah.


"Khaira dari mana, Sayang?" tanya Aisyah lembut.


"Khaira habis keliling rumah sakit bareng Om, Ummi," jawab Khaira bersemangat. Gadis kecil itu menarik tangan Aisyah untuk duduk di sofa bersama yang lain karena ia ingin bermanja-manja dengan wanita itu.


Akmal menatap Zafran yang sedang memandang ke langit-langit kamar dengan tatapan kosong, ia berjalan perlahan menghampirinya.


"Ada apa, Bang? Kenapa wajahmu tampak seperti banyak pikiran seperti itu? Berbahagilah, Bang, calon istrimu datang menjengukmu," ujar Akmal.


Zafran mengalihkan tatapannya ke arah adik sepupunya itu, ia menatap lekat wajah Akmal yang kini tersenyum ceria ke arahnya. Senyuman tulus dan senyuman bahagia, hanya itu yang bisa ia tangkap saat ini.


"Rupanya kau pandai sekali menyembunyikan peraaaanmu, Mal. Kau selalu saja seperti itu, selalu mengalah demi kebahagiaanku," batin Zafran.


"Bang?" tanya Akmal lagi karena tak mendapat jawaban dari pria itu.


"Eh tidak, aku hanya sedang mengantuk, aku akan beristirahat dulu," jawab Zafran lalu menutup mata, lebih tepatnya menyembunyikan matanya yang mulai mengembun.


"Baiklah, istirahatlah, Bang. Kau memang harus banyak istirahat sebelum operasimu dua minggu lagi," ujar Akmal lalu menaikkan selimut Zafran hingga menutupi dadanya.


"Kenapa kau begitu baik, Mal. Tak pernah sekali pun kau membangkang apa yang kukatakan, kau bahkan memperlakukanku seperti saudara kandungmu, kau begitu menghormatiku. Apa aku egois jika aku membiarkanmu kembali mengalah?" batin Zafran dengan bibir yang sedikit bergetar menahan gejolak di dalam hatinya yang lagi-lagi ingin menumpahkan rasa sesak di dadanya.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2