
Aku pernah bertanya, kapan kebahagiaan datang untukku? Aku bersyukur karena kini telah kutemukan saat bersamamu, lewat ungkapan cintamu, kini ku tahu ketulusanmu.
Beribu-ribu syukur kini kuhaturkan pada Sang Pemilik Rindu, karena cinta di hati ini tak lagi semu. Semoga cinta ini kian tumbuh, menjadi pemanis bagai madu, menjadi lantunan yang begitu merdu, dan menjadi keindahan yang begitu syahdu, tidak hanya di dunia tapi hingga ke SurgaMu.
(Aisyah Sidqia Rahman)
⚓⚓⚓
Setelah puas meluapkan rindu kepada sang ayah, Akmal dan Aisyah kini melanjutkan perjalanan mereka meninggalkan desa itu. Kali ini tujuan Akmal adalah sebuah hotel yang telah ia booking sebelumnya.
Karena perjalanan yang mereka tempuh hari ini lumayan panjang, membuat mereka tiba di hotel saat senja hari, dimana langit mulai menampakkan warna jingga dan biru yang begitu indah.
Hotel yang di booking Akmal kali ini berada di dekat tepi laut sehingga pemandangan sunset bisa terlihat begitu jelas dan menjadi view yang sangat di tunggu-tunggu bagi setiap pengunjung hotel. Akmal membawa Aisyah ke pantai di mana di sana sudah tersedia sebuah meja dan dua kursi yang telah di hias sedemikian rupa sehingga menampilkan kesan romantis yang begitu estetis.
Kini keduanya duduk saling berhadapan, bersama menikmati hidangan makan malam yang begitu memanjakan lidah, di tambah embusan angin yang menyejukkan dan dihiasi dengan keindahan sunset yang semakin terlihat, sungguh pemandangan yang luar biasa.
"Kamu suka?" sebuah pertanyaan kini terlontar dari mulut pria yang sejak tadi tak bisa mengalihkan tatapannya dari sang istri, wanita yang telah berhasil membuat hatinya berbunga-bunga setelah mendengar pengakuan cintanya pagi tadi di hadapan pusara sang ayah.
"Aku suka, terima kasih untuk semuanya, Mas," jawab Aisyah dengan mata berbinar memandang ke arah Akmal.
Akmal tersenyum, ia meraih tangan Aisyah perlahan lalu mengecupnya dengan lembut. "Aku benar-benar tidak menyangka mendengar pengakuan kamu pagi tadi, rasanya seperti mimpi."
Aisyah tersenyum simpul mendengar perkataan Akmal. "Aku pun tidak menyangka dengan pengakuanmu, Mas."
"Aku mencintaimu, Aisyah. Wanita yang berhasil berobohkan benteng pertahanan hatiku hanya dalam waktu sekejap," ungkap Akmal semakin mengeratkan genggaman tangannya.
Aisyah semakin tersipu malu, pria di hadapannya ini sangat pintar dalam membuatnya merasa malu bercampur gugup.
"Terima kasih untuk cintanya, Mas, terima kasih karena bersedia menerima ketidaksempurnaanku, aku ...." Perkataan Aisyah terhenti saat Akmal meletakkan jari telunjuknya di bibir Aisyah yang tertutup cadar.
"Ssssst, tidak ada manusia yang sempurna, kita sama-sama memiliki kekurangan, tapi kita di persatukan untuk saling melengkapi dan saling menyempurnakan," ujar Akmal menyela perkataan Aisyah.
Adzan maghrib mulai berkumandang, menghentikan acara makan malan yang menabung sudah selesai. Akmal membawa Aisyah ke kamar di hotek itu, dan lagi-lagi Aisyah terpukau karena kamar tersebut telah di sulap begitu indah seperti kamar hotel pasangan yang sedang berbulan madu.
"Kita sholat maghrib, yuk," ajak Akmal dan di setujui oleh Aisyah.
Mereka pun menunaikan sholat maghrib berjamaah untuk pertama kalinya, dilanjut dengan membaca Al-Qur'an bersama sembari menunggu waktu isya.
Suara merdu Akmal dalam membaca Al-Qur'an selalu berhasil membuat Aisyah merasa kagum. Ia bahkan lebih memilih mendengarkan dan mengikuti dalam hati ayat demi ayat yang terucap dari sang suami.
__ADS_1
Hingga tidak terasa, sholat isya pun telah mereka tunaikan bersama. Kini Aisyah memilih berdiri di balkon sembari memandang suasana di sekitar hotel yang tampak indah dengan aneka lampu yang menerangi gelapnya malam.
Semilir angin yang terasa begitu sejuk menerpa wajah cantiknya yang tidak sedang memakai cadar, terasa begitu tenang dan damai. Wanita itu beberapa kali mencoba menghubungi Khaira melalui nomor Ibu Lina dan Ainun, tapi hingga saat ini nomor keduanya tidak bisa dihubungi.
"Anginnya cukup dingin, kamu bisa masuk angin jika terus berdiri di sini." Akmal datang sembari menutupi tubuh Aisyah dengan jaket tebal yang ia bawa, lalu memeluknya dari belakang.
"Terima kasih, Mas," ucap Aisyah sedikit mendongak ke belakang melihat wajah tampan sang suami.
"Iya, Sayang," ucap Akmal sembari mengecup kepala Aisyah yang tertutup kerudung, membuat kedua pipi Aisyah merona mendengar panggilan 'sayang' dan perlakuan manis dari sang suami.
"Aku berencana akan mengadakan resepsi untuk pernikahan kita setelah kepulangan Zafran dari Singapura, apa kamu setuju?" tanyanya pria itu.
Aisyah mengangguk pelan. "Aku setuju, Mas."
Akmal tersenyum lalu memutar tubuh Aisyah menghadap ke arahnya.
"Tapi apakah tidak apa-apa jika aku menjadikanmu istriku seutuhnya sebelum resepsi itu?" ucap pria itu menatap bola mata indah milik sang istri.
Wajah Aisyah kembali merona merah bagaikan kepiting rebus, ia jelas tahu maksud dari sang suami. Hingga sebuah anggukan kecil pun terlihat darinya, membuat Akmal langsung tersenyum lebar.
"Masuk, yuk, anginnya makin dingin," ajak Akmal langsung merangkul Aisyah masuk ke dalam kamar.
Fabiayyi aalaa i robbikumaa tukadzdzibaan
(Maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang kamu dustakan?)
⚓⚓⚓
Satu minggu kini telah berlalu. Semua aktivitas rutin kembali berjalan seperti biasa. Tak terkecuali Aisyah yang datang bersama Khaira ke sekolah. Yah, gadis kecil itu sudah kembali berbicara seperti biasa kepada Aisyah, begitu pun dengan sikap manjanya yang selalu saja berhasil membuat Aisyah merasa seperti memiliki anak.
Setelah memastikan Khaira masuk ke dalam kelas, Aisyah pun masuk ke ruang guru. Namun, ada yang berbeda kali ini, beberapa guru di ruangan itu kini menatapnya dengan tatapan penasaran.
Aisyah mendaratkan tubuhnya di kursinya sembari memeriksa beberapa dokumen yang berada di atas mejanya.
"Mbak Aisyah, udah ada jadwal kapan acara nikahannya?"
Salah satu guru wanita yang dulu mengucapkan selamat kepada Aisyah kini datang kembali menanyakan jadwal pernikahannya. Pasalnya, ini sudah berlangsung beberapa bulan semenjak mereka mengetahui kabar pernikahan Aisyah.
Aisyah sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. "Eh, nanti akan saya kabarkan kalau sudah mendekati hari Hnya," jawabnya asal. Ia dan Akmal memang bekum menentukan tanggal sebab mereka ingin menunggu kedatangan Zafran terlebih dahulu dan menyesuaikan dengan kondisinya.
__ADS_1
"Kok lama banget, Mbak? Aku tuh penasaran sama calon suaminya Mbak Aisyah," ujar guru wanita itu sembari menoleh ke arah Pak Ahmad yang mengangguk ke arahnya.
Aisyah enggan menanggapinya, ia memilih menyibukkan diri dan langsung keluar dari ruang guru itu saat tanda masuk belajar sudah berbunyi.
Hingga jam pelajaran hampir selesai, Aisyah memilih menunggu Khaira di depan ruang guru yang berada di ujung gedung sekolah dan berada tidak jauh dari jalan raya.
"Bu Aisyah, boleh kita bicara?" Aisyah menoleh ke arah sumber suara.
"Ada apa Pak Ahmad?" tanya Aisyah malas.
"Bisa kita bicara di tempat lain?"
"Sebaiknya bicara di sini saja Pak Ahmad," tolak Aisyah.
"Kamu yakin? Tapi nanti kamu akan malu." Aisyah mengerutkan keningnya mendengar perkataan pria di hadapannya.
"Maksud Pak Ahmad apa yah?" tanya Aisyah yang mulai merasa nyaman.
"Aisyah, sebaiknya kamu jujur saja, kamu bohong kan dengan berita pernikahanmu itu? Itu hanya cara kamu saja kan untuk menolakku?"
Aisyah membolakan matanya mendapat pertanyaan itu, di tambah para guru yang mulai memperhatikan dan ikut mendengar pembicaraan keduanya.
"Bapak jangan sembarangan bicara, saya tidak bohong mengenai rencana pernikahan saya," jawab Aisyah yang berusaha menahan kekesalan yang mencokol dalam hatinya.
"Halaaa, zaman sekarang itu kalau bicara harus ada bukti, kalau tidak namanya hoax," ujar Pak Ahmad.
Aisyah membuang napas kasar lalu tersenyum kecut di balik cadarnya.
"Saya heran sama Bapak ini, daripada Bapak sibuk mengurus pernikahan saya, sebaiknya Bapak mengurus hubungan Bapak dengan istri Bapak, beri perhatian, istri Bapak itu orang baik," ungkap Aisyah.
"Memangnya apa salahnya? saya hanya tertarik, bukannya memiliki istri lebih itu adalah sunnah?" tanya Pak Ahmad begitu percaya diri.
"Salahnya karena anda tertarik dengan wanita berstatus istri orang." Suara bariton pria membuat Aisyah dan Pak Ahmad kompak menoleh ke sumber suara.
Seorang pria tampan, berbalut jas datang dan langsung merangkul pundak Aisyah, membuat semua guru yang memperhatikan langsung menutup mulut tidak percaya.
"Jika ingin menjalankan sunnah, maka jalankan dulu kewajiban anda sebagai suami, dan jangan memaksa memiliki sesuatu yang sudah menjadi milik orang, itu sangat tidak etis," lanjut Akmal lalu pergi membawa Aisyah meninggalkan pria itu.
-Bersambung-
__ADS_1