Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Mencari Khaira


__ADS_3

Aisyah sudah mondar-mandir mencari Khaira, tapi tak kunjung ia temukan. Bahkan air mata wanita itu kini mulai mengalir membasahi pipinya, rasa cemas dan khawatir kini mengusik pikirannya mengingat saat ini lagi marak penculikan anak.


Semua guru di sekolah itu telah ia beritahu mengenai hilangnya salah satu siswa mereka, kecuali bagi guru yang saat ini sedang mengajar. Polisi juga belum bisa menerima laporan mengingat hilangnya Khaira baru beberapa jam.


Merasa tak ada pilihan lain, Aisyah memutuskan untuk menghubungi Ibu Sofi. Dan beberapa menit setelahnya, wanita paruh baya itu kini sudah tiba di halaman sekolah.


"Aisyah, di mana cucuku?" tanya Ibu Sofi sedikit cemas sembari memegang kedua tangan Aisyah.


"Maaf, Bu, kami masih berusaha mencarinya, kita doakan saja yah semoga Khaira bisa cepat di temukan," jawab Aisyah sembari memeluk tubuh calon mertuanya yang mulai terasa bergetar.


"Ya Allah cucuku," ucap Ibu Sofi mulai terisak dalam pelukan Aisyah, hingga tiba-tiba tubuh wanita paruh baya itu ambruk tidak sadarkan diri.


Saat ini, Aisyah menemani Ibu Sofi yang masih terbaring tidak sadarkan diri di ruang kesehatan sekolah. Beberapa menit berlalu, wanita paruh baya itu akhirnya mulai membuka mata perlahan. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah karena merasa asing dengan ruangan yang ia tempati saat ini.


"Alhamdulillah akhirnya Ibu sudah sadar," ucap Aisyah mendekati Ibu Sofi.


"Aisyah, tolong hubungi Akmal, minta agar dia pulang sekarang juga," pinta Ibu Sofi.


"Kenapa bukan Pak Zafran saja yang dihubungi, Bu?" tanya Aisyah bingung.


"Tidak bisa, kata Akmal kita tidak boleh menghubungi Zafran karena alasan apa pun untuk saat ini, sebagai gantinya ia meminta kita untuk langsung menghubunginya kalau ada apa-apa meski itu hanya sebuah kertas yang tidak sengaja sobek, begitu katanya," terang Ibu Sofi.


"Kenapa bisa begitu, Bu? ini kan terkait anaknya Pak Zafran," tanya Aisyah bingung.


"Ibu juga tidak tahu kenapa Akmal berbicara seperti itu, tapi lebih baik kita turuti saja," jawab Ibu Sofi, membuat Aisyah mengernyitkan alisnya, entah kenapa ia merasa ada yang janggal dari perkataan Akmal.


Tak ingin memperpanjang masalah, Aisyah akhirnya menghubungi Akmal menggunakan ponsel Ibu Sofi karena memang ia tidak memiliki nomor ponsel Akmal.


⚓⚓⚓


Di tempat lain, Akmal baru saja tiba di rumah sakit sesuai janjinya untuk bertemu dengan dokter yang menangani Zafran. Namun, baru juga akan masuk ke ruang dokter, suara dering ponsel menghentikan langkahnya.


Melihat siapa yang menghubunginya saat ini membuat pria itu langsung mengangkatnya. Dan beberapa saat kemudian raut wajahnya berubah, rahangnya mengeras dan tanpa menunda waktu, ia langsung berlari meninggalkan rumah sakit menuju bandara.


Mau tidak mau, rencananya siang ini untuk bertemu dokter harus ia batalkan, mengingat keadaan keponakannya kini dalam bahaya. Tak lupa ia mengabari Zafran yang saat ini sedang beristirahat di apartemennya kalau ia akan kembali ke Indonesia dulu karena ada urusan mendadak, dan urusan apa itu, Akmal tentu merahasiakannya.


Saat menjelang sore hari, Akmal tiba di rumah, di mana Ibu Sofi dan Aisyah kini berada. Ibu Sofi meminta Aisyah untuk menemaninya saat ini karena ia merasa tidak tenang.


"Apa yang terjadi? Kenapa Khaira bisa hilang tiba-tiba? Di mana posisi Khaira terakhir kali?" Akmal memberondong Aisyah dengan berbagai pertanyaan.


Aisyah akhirnya menjelaskan semua yang ia tahu tentang posisi Khaira sebelumnya dan kapan ia menyadari Khaira tidak ada.

__ADS_1


"Baiklah, jika polisi belum bisa mencarinya, maka aku yang akan mencarinya," ujar Akmal lalu segera pergi meninggalkan rumah itu, bahkan ia mengabaikan tubuhnya yang sedikit lelah akibat perjalanan jauh yang baru saja ia tempuh.


Akmal langsung menuju ke sekolah Khaira bersama Fadil yang baru saja ia jemput dari rumahnya. Pria itu menyisir seluruh area sekolah dan sekitarnya tanpa melewatkan apa pun.


Hingga akhirnya, ia menemukan CCTV yang terpasang di sebuah toko di pinggir jalan, kebetulan posisi toko itu berhadapan dengan sekolah.


⚓⚓⚓


Tring


Aisyah segera meraih ponselnya saat mendengar suara tanda pesan masuk berbunyi.


Unknown


Aisyah, ini aku Zaid, tolong beri aku kesempatan untuk berbicara denganmu.


Aisyah membuang napas lesu saat melihat isi dari pesan itu, ia baru saja hendak menyimpan kembali ponselnya, tapi lagi-lagi ponselnya berbunyi tanda adanya pesan masuk.


Tring


Unknown


Yakin kamu tidak ingin bicara denganku?


Mata Aisyah seketika membola saat melihat siapa yang berada di dalam video itu.


"Khaira," ucapnya dengan suara bergetar dengan tangan kanan yang refleks menutupi mulutnya.


Tring


Unknown


Jika kamu ingin anak ini kembali, carilah aku di rumah pamanku di jalan XX, datanglah sendiri tanpa polisi jika kamu ingin dia kembali pulang ke orang tuanya.


"Astaghfirullah, kenapa kamu bisa jadi seperti ini, Mas?" lirih Aisyah, namun samar-samar di dengar oleh Ibu Sofi.


"Ada apa Aisyah?" tanya Ibu Sofi yang mendapati wajah Aisyah terlihat panik dengan mata yang mulai berembun.


"Bu, apa saya boleh menghubungi Akmal?" tanya Aisyah dan diangguki oleh Ibu Sofi sembari menyodorkan ponselnya.


"Apa kamu sudah menemukan Khaira?" tanya Ibu Sofi.

__ADS_1


"Iya, Bu, ternyata yang membawa Khaira adalah mantan suami saya, maafkan saya, Bu," ujar Aisyah merasa bersalah.


"Kenapa dia membawa Khaira, Aisyah?" tanya Ibu Sofi penasaran.


"Mungkin ini caranya agar saya mau bicara dengannya, Bu. Sejak kemarin dia selalu mengajak saya bicara tapi saya tolak," jawabnya sembari mendial nomor Akmal.


"Astaga pria tidak tahu diri itu," umpat Ibu Sofi kesal.


Tak lama setelah menghubungi Akmal, pria itu tiba di rumah bersama Fadil.


"Aku sudah menemukan orang yang menculik Khaira, ternyata dia adalah orang yang sering kulihat memantau sekolah Khaira," jelas Akmal setelah sebelumnya mengucapkan salam.


"Iya, kami sudah tahu, Mal," jawab Ibu Sofi.


"Dari mana kalian tahu? Apa kalian mengenal penculiknya?" tanya Akmal.


"Yang menculik Khaira adalah mantan suami Aisyah. Dia melakukannya karena Aisyah selalu menolak berbicara dengannya," jawab Ibu Sofi.


"Apa? Jadi dia sudah pernah menikah," monolog Akmal dalam hati.


"Jadi bagaimana? Apa dia sudah memberitahukan lokasinya? Ayo kita ke sana," ujar Akmal.


"Tidak! Biar saya pergi sendiri," sanggah Aisyah.


"Tapi, Nak. Bagaimana jika dia melakukan hal yang berbahaya kepada kamu dan Khaira?" tanya Ibu Sofi yang sedikit keberatan.


"Tidak, Ibu. Saya tahu bagaimana sifatnya, dia sangat menyayangi anak kecil, insya Allah dia tidak akan menyakiti Khaira," ujar Aisyah begitu yakin.


"Lalu bagaimana dengan kamu?" Ibu Sofi kembali bertanya.


"Insya Allah saya akan bicara baik-baik padanya," jawab Aisyah sembari mengulas senyum kepada wanita paruh baya itu.


⚓⚓⚓


Di sebuah rumah kosong, terdengar suara anak kecil yang asik bercerita, sesekali ia tertawa bersama dengan seorang pria. Ya, mereka adalah Khaira dan Zaid.


Berbeda dengan bayangan orang-orang yang khawatir dengan kondisi Khaira saat ini, gadis itu justru terlihat sangat ceria.


"Om, beneran kan Ummi akan datang ke sini buat jemput Khaira?" tanya gadis kecil yang saat ini sedang asik makan kue donat kesukaannya.


"Iya, Nak. Tunggu saja, sebentar lagi dia akan datang, dan Om sangat berharap dia datang," ucap pria itu yang kini memasang wajah sendu saat mengingat anaknya.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2