
Satu minggu telah berlalu, satu minggu pula Aisyah telah berganti status menjadi seorang istri dari Akmal. Namun, selama satu minggu itu, ia dan Akmal terpisah tanpa ada kabar sama sekali.
Bukannya tak ingin mengabari, hanya saja keduanya masih merasa sungkan meski nomor ponsel masing-masing sudah mereka kantongi. Seperti yang terjadi saat ini, Akmal sejak tadi duduk di luar kamar rawat Zafran sembari memegang ponselnya, bukan untuk membuka internet atau media sosial apalagi bermain game, melainkan memandangi sebuah nomor yang sudah ia peroleh beberapa hari yang lalu.
Ada rasa rindu dalam hati, tapi tak bisa digambarkan, apalagi diutarakan. Hanya bisa disimpan dengan rapi agar tak ada yang mengetahuinya kecuali dirinya dan Sang Pemilik Hati.
"Kak Akmal lagi ngapain sih? Perasaan dari tadi main hape mulu," tanya Aira sembari sesekali melirik ke arah ponsel pria di sampingnya.
"Anak kecil nggak usah kepo deh," ujar Akmal lalu segera menyimpan ponselnya ke dalam saku celana.
"Ish, apaan sih, anak kecil apanya, udah dewasa juga," dengus Aira lalu kembali memainkan ponselnya.
"Kak, gimana kabar kakak iparku?" Aira lagi-lagi membuka percakapan.
"Aisyah maksud kamu?"
"Ya iyalah, memangnya siapa lagi." Gadis itu berbicara cukup heboh mendengar perkataan kakaknya.
Yang benar saja, ini pertanyaan kesekian yang di tanyakan Aira, dan jawaban pertama dari kakaknya itu selalu sama, aneh sekali bukan? Kakaknya itu sudah nikah sejak seminggu yang lalu, tapi ia masih saja bersikap seolah belum menikah, bahkan kadang seperti memiliki istri lain selain Aisyah.
"Dia pasti baik-baik saja," jawab pria itu singkat.
"Tuh kan, sama lagi jawabannya," ucap Aira sembari memicingkan mata menatap Akmal.
"Apaan?" Tanya Akmal begitu polos.
"Kakak lebih baik jujur deh, kakak nggak pernah menghubungi kak Aisyah sejak ia kembali ke Indonesia kan?" tanya Aira penuh selidik.
Akmal seketika menelan salivanya dengan kasar, lidahnya pun kini terasa kelu. Jawaban apa yang harus ia berikan agar adiknya ini tidak membuatnya semakin tersudut.
"A-anu, kamu tahu kan, pernikahan kami itu terjadi secara mendadak? Nah, jadi karena itu kakak merasa agak canggung untuk menghubunginya, Aisyah juga pasti seperti itu, jadi kami masih butuh waktu, iya gitu."
Aira mengernyitkan alisnya mendengar jawaban Akmal, pria itu sejenak menahan napasnya karena begitu gugup.
"Oh," jawab gadis itu singkat, membuat Akmal langsung membuang napas lega.
__ADS_1
"Tapi kak ...." Aira menggantungkan kata-katanya dan lagi-lagi membuat Akmal menahan napas.
"Kalau canggung yah sering-sering hubungi biar canggungnya hilang. Emang mau menuggu sampai kapan, hah? Sampai aku nikah dulu, gitu? Duh kalau kakak kayak gitu, kak Aisyah keburu di ambil orang," cerocos Aira bagaikan emak-emak yang protes karena barang yang di beli suami lebih mahal 500 rupiah dari toko sebelah.
"Diambil orang?" cicit Akmal bagaikan anak kecil.
"Ho'o, mau? Aira semakin gencar menyelidik bagaimana perasaan kakaknya itu.
Refleks Akmal menggelengkan kepalanya pelan, membuat Aira menahan senyumnya.
"Sepertinya dugaanku benar, kakak memang memiliki perasaan kepada kak Aisyah," batin Aira.
"Makanya, hubungi kak Aisyah kak. Setidaknya kakak menanyakan kabar sebagai suami. Masa gitu aja aku yang ngajarin, dasar anak kecil," cibir Aira, membuat Akmal langsung menyentil kening gadis itu.
"Aww, sakit tahu, Kak." Aira mengusap keningnya yang kini tampak kemerahan akibat sentilan sayang dari kakaknya itu.
Sementara di dalam kamar, Ibu Sofi duduk di dekat sang putra yang tampak pucat. Pria itu baru saja menjalani cuci darah sehingga ia kembali merasakan tubuhnya begitu tidak nyaman.
"Zafran," panggil Ibu Sofi, membuat pria itu menoleh.
"Jika Zafran menerima bantuan Akmal, percuma dong Zafran merelakan Aisyah karena pada akhirnya Aisyah tetap akan mendapat pria tidak sempurna yang hanya memiliki satu ginjal," jawab Zafran dengan suara pelan juga.
"Tapi, Nak ...." Mata Ibu Sofi kini tampak berkaca-kaca. Ia benar-benar tidak sanggup melihat kondisi putranya yang begitu tersiksa, belum lagi hatinya yang pasti juga tersiksa karena berusaha mengikhlaskan Aisyah.
Zafran tersenyum tipis. "Ma, saat ini Zafran sedang belajar ikhlas. Ikhlas menghadapi segala ujian dari Allah, ikhlas merelakan Aisyah, dan ikhlas menerima takdir sakit ini, bahkan jika saja pada akhirnya Zafran akan kembali kepadaNya lebih dulu, Zafran pun ikhlas, Ma," ujar pria itu dengan suara yang mulai bergetar dan mata yang sudah mulai memanas.
"Tidak, Nak. Tolong jangan bicara seperti itu, kamu pasti akan menemukan donor ginjal dan kamu pasti akan sembuh, Nak. Mama selalu berdoa untuk itu." Air mata mulai membasahi pipi wanita paruh baya itu.
Zafran mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata wanita yang telah mengeluarkan banyak air mata untuknya selama ini.
"Mama jangan menangis, takdir Allah selalu yang terbaik, Ma. Kita hanya bisa berikhtiar, berdoa dan tawakkal," ujar Zafran sembari memberikan senyuman terbaiknya.
"Iya, Nak. Mama selalu berdoa semoga Allah memberikan kesembuhan dan jodoh terbaik untukmu," ujar Ibu Sofi, dan diaminkan meski tanpa suara.
⚓⚓⚓
__ADS_1
Di Indonesia
Ainun mulai aktif mengajar di pesantren milik Kiai Rahman. Dan setiap selesai mengajar, ia akan langsung datang ke rumah Kiai Rahman untuk mengunjungi Aisyah dan bermain bersama Khaira.
Ainun adalah gadis yang begitu ramah dan humble, membuatnya bisa lebih cepat akrab dengan semua orang, termasuk Khaira. Bahkan gadis kecil itu sangat lengket dengannya. Berbeda dengan Aisyah yang memiliki sisi keibuan sehingga Khaira merasakan kenyaman antara anak dan ibu, Ainun justru membuat Khaira merasa nyaman seperti adik dan kakak. Mungkin karena pada dasarnya Ainun belum pernah menikah, sementara Aisyah sudah pernah.
"Tante, main yang ini lagi yuk," ajak Khaira sembari menunjuk alat makeup milik Aisyah.
Seketika Ainun menelan salivanya dengan susah payah, pasalnya, terakhir kali ia bermain makeup-makeupan dengan Khaira, gadis kecil itu membuatnya tampak seperti badut Ancol. Dan lebih parahnya lagi, Khaira selalu memintanya berselfie ria setelah itu.
Aisyah yang duduk di kasur hanya bisa tertawa melihat kelakuan sahabat dan keponakannya itu.
Dret dret
Suara ponsel Ainun yang bergetar mengalihkan perhatian wanita berparas ayu di atas kasur itu.
"Ainun, ada yang nelpon nih," panggil Aisyah.
Bagaikan mendapat pertolongan di siang bolong, dengan cepat Ainun bangkit dan mengambil ponselnya.
Sejenak Ainun memperhatikan nama dari si penelepon.
"Halo, assalamu 'alaikum, Hil. Gimana hasilnya?" tanya Ainun dengan menggunakan bahasa Arab.
"..."
"Benarkah? Alhamdulillah."
"..."
"Baik, kita ketemu di sana yah."
Panggilan pun berakhir. Wajah Ainun kini tampak bersemangat. Ia kemudian menghampiri Aisyah.
"Aisyah, ayo kita ke Singapura sore nanti."
__ADS_1
-Bersambung-