Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Dia Istrimu


__ADS_3

Saat Allah memperlihatkan skenarionya, maka tak ada siapa pun yang bisa mengubahnya.


Berencana boleh, tapi jangan hilangkan kepasrahan di dalamnya, sebab tidak selamanya rencana berjalan beriringan dengan skenario Allah.


Hanya dengan berpasrah, maka hati akan menerima, terlepas dari akhir yang membahagiakan atau justru menyakitkan.


⚓⚓⚓


"Bagaimana, Nak?" Kini Kiai Rahman yang menanyakan kesediaan putrinya.


Sekarang tinggal menunggu jawaban dari Aisyah maka mereka bisa memutuskan apakah aqad nikah akan dilangsungkan hari itu juga atau tidak. Aisyah sejenak menatap ke arah kedua orang tuanya untuk meyakinkan dirinya.


Mendapat senyuman disertai anggukan dari Ibu Lina maupun Kiai Rahman, Aisyah pun akhirnya membulatkan keputusannya.


"Bismillah," ucapnya berbisik lalu menghela napas dalam dan membuangnya perlahan. "Saya bersedia," ucap Aisyah.


"Alhamdulillah," ucap semua orang yang ada di dalam kamar itu.


Tak terkecuali Zafran yang ikut tersenyum sembari mengusap wajah dan matanya yang mulai berembun. Jelas semua ini adalah keputusannya, tak ada yang meminta pun tak ada yang memaksa. Bagaimana pun resikonya akan ia hadapi, meski ia tahu bahwa hatinya sedang tidak baik-baik saja saat ini dan entah sampai kapan.


Persiapan pernikahan pun mulai dilakukan. Akmal memanggil temannya yang menjadi perawat di rumah sakit itu beserta teman perawatnya untuk menjadi saksi. Sementara yang akan menjadi wali nikah sekaligus yang akan menikahkan Aisyah dan Akmal adalah Kiai Rahman sendiri.


Tak lupa Akmal menyiapkan mahar yang akan ia jadikan sebagai sesuatu yang harus ada untuk ia berikan kepada istrinya nanti. Kali ini ia hanya menggunakan semua uang yang ada di dalam dompetnya, mengingat pernikahan ini begitu mendadak.


Setelah semuanya siap, Kiai Rahman pun mulai membacakan Al-Fatihah dan beberapa surah dalam Al-Qur'an, setelah itu masuklah pada lafadz Aqad Nikah.


"Ananda Akmal El-Mumtaz bin Syarif, saya nikahkan engkau dengan putriku Aisyah Sidqia Rahman binti Rahman dengan mahar uang sebanyak 111 dollar Singapura, tunai karena Allah ...."


"Saya terima nikahnya Aisyah Sidqia Rahman binti Rahman dengan mahar tersebut tunai karena Allah."


"Sah."

__ADS_1


"Sah."


Kini Aisyah dan Akmal telah sah menjadi pasangan suami istri. Keduanya mengucapkan rasa syukur secara lisan, tapi di hati mereka justru menyimpan rasa bingung dan bersalah kepada Zafran.


Terutama Akmal yang kini tak tahu harus bagaimana mengekspresikan perasaannya atas pernikahan ini. Apakah ia harus bahagia, sementara sang kakak sepupu pasti merasakan patah hati yang begitu dalam. Senyuman bahkan tak pernah tampak di wajahnya saat ini sebab hanya rasa bersalah yang memenuhi pikiran dan hatinya.


Begitu pun Aisyah yang bahkan ragu untuk menyalami pria di sampingnya. Dari penglihatannya, pria itu tampak tidak menginginkan pernikahan ini, bahkan mungkin saja ia yang jelas masih bujang tidak menginginkan pernikahannya bersama seorang janda sepertinya.


Tak hanya Aisyah yang ragu untuk menyalami sang suami, bahkan semua orang yang ada di sana tak ada yang berani mengarahkan mereka untuk saling bersalaman. Tentu saja semua itu karena rasa tidak nyaman dan ingin menghargai perasaan Zafran.


⚓⚓⚓


Sementara itu, Ainun yang masih menemani Khaira di taman, mendapat kabar dari Aisyah tentang pernikahannya yang sangat tidak terduga.


"Masya Allah, takdir apa yang saat ini sedang Engkau tunjukkan kepada kami ya Allah. Bahkan orang yang sudah terikat dalam khitbah pun bisa gagal menikah jika Engkau menghendaki," lirihnya sembari menatap Khaira yang sedang bercerita dengan salah satu pasien yang seusia dengannya.


"Qadarullah, Khaira. Aisyah tidak jadi menikah dengan Papamu, apa aku harus memberitahukan ini padanya?" monolog Ainun, lalu menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak-tidak, aku tidak sanggup melihat raut wajah kecewanya, biarkan Aisyah yang mengatakannya secara langsung," lanjutnya kemudian.


"Ummi," panggil Khaira saat tiba di kamar Zafran, ia langsung menghampiri Aisyah yang sedang membereskan barang-barangnya di sofa bersama yang lainnya, kecuali Akmal yang setia berada di samping Zafran.


"Halo, Sayang, tadi dari mana sama tante Ainun?" tanya Aisyah langsung membawa gadis kecil itu ke dalam pangkuannya.


"Tadi dari taman, Ummi. Oh iya, Khaira punya teman baru loh," ucap Khaira dengan penuh semangat.


"Wah, hebat. Khaira punya teman baru ternyata. Namanya siapa, Sayang?" tanya Aisyah lembut.


"Namanya ..., eh, namanya siapa yah? Astaghfirullah, Khaira lupa tanya tadi," ucap gadis kecil itu sembari menepuk jidatnya, membuat semua yang sedang duduk di sofa kini tertawa pelan.


Malam ini, Aisyah, Kiai Rahman, Ibu Lina dan Ainun memutuskan akan pulang ke Indonesia berhubung besok adalah ujian akhir semester untuk Aisyah di kampusnya. Ia sudah membicarakan hal ini kepada Ibu Sofi dan Ibu Shalwa selaku mertuanya. Kedua wanita paruh baya itu memaklumi keadaan Aisyah, tapi mereka meminta tolong untuk membawa Khaira pulang bersamanya, selain karena rumah sakit tidak cocok untuk anak-anak sepertinya, ia juga harus sekolah.


Sementara Akmal, ia memilih tinggal untuk merawat Zafran, dan hal itu tidak membuat Aisyah maupun kedua orang tuanya keberatan, mereka tentu paham dan maklum akan kondisi Akmal saat ini.

__ADS_1


Setelah berpamitan, dengan Ibu Sofi, Ibu Shalwa dan Aira, Aisyah beralih pamit kepada Zafran yang sedang duduk bersandar di tempat tidur.


"Pak Zafran, kami pamit dulu," ucapnya sedikit canggung.


"Ayolah Aisyah, kita ini sudah menjadi keluarga, berhentilah memanggil saya dengan sebutan 'Pak', panggil saja 'Mas' atau 'Abang' seperti yang dilakukan Akmal," ujar Zafran sedikit bercanda untuk mengurai kecanggungan di antara mereka dan juga Akmal.


"Ma-maaf, saya terbiasa dengan panggilan itu. Insya Allah ke depannya saya akan mengubahnya," cicit Aisyah dan Zafran mengangguk maklum.


Kini Aisyah beralih kepada Akmal yang kini telah menjadi suaminya. Sungguh keadaan saat ini benar-benar membuatnya tak tahu harus bersikap bagaimana. Pria itu terlihat dingin, bahkan lebih dingin dibanding saat mereka belum menikah.


Jantungnya yang berdegup kencang dengan susah payah di redamnya agar ia bisa terlihat biasa-biasa saja di depan pria itu. "Ka-kami pamit dulu," pamit Aisyah sembari menatap wajah suaminya dengan sungkan.


"Iya," jawab pria itu singkat, dan hanya menoleh sekilas ke arah wanita yang telah sah menjadi istrinya.


Tadinya Aisyah hendak menyalami tangan Akmal, tapi melihat sikap Akmal yang begitu dingin kepadanya, membuat wanita itu mengurungkan nianya, dan akhirnya keluar dari kamar itu.


"Hei, Akmal. Apa kau tidak pernah belajar cara menjadi suami yang baik? Kenapa sikapmu seperti itu kepada Aisyah? " tegur Zafran yang tidak setuju dengan cara Akmal memperlakukan Aisyah di hadapannya.


"Memangnya aku harus bagaimana? Abang sendiri kan sudah tahu bagaimana sikapku kepada wanita selama ini."


"Iya, tapi Aisyah itu istri kamu, Mal. Aku bahkan ikhlas kau menikahinya tapi bukan untuk kau perlakukan seperti tadi," protes Zafran.


"Aku tidak pernah menintamu melakukannya, tapi kamu yang mendesakku," ujar Akmal datar lalu segera keluar dari kamar Zafran, membuat pria itu geleng-geleng kepala sembari membuang napas kasar.


Sementara itu, saat ini Akmal tengah berjalan cepat, bahkan ia sedikit berlari menyusuri lorong rumah sakit. Ada rasa bersalah yang terselip di hatinya karena telah memperlakukan Aisyah dengan dingin. Namun, ia dibuat tidak berdaya oleh rasa bersalah dan tidak enak hati kepada Zafran.


Langkahnya kini terhenti saat ia telah tiba di depan pintu rumah sakit. Dari jauh ia dapat melihat Aisyah yang mulai memasuki taksi bersama keluarganya.


"Semoga Allah melindungi perjalanan kalian, jaga kesehatanmu, Aisyah," lirihnya.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2