
Ainun duduk diam di antara kedua orang tuanya. Sesekali ia menatap dengan canggung pria yang saat ini sedang duduk tepat di hadapan mereka.
"Jadi, maksud kedatangan saya ke sini, saya memiliki niat baik untuk menjadikan Ainun sebagai istri saya, tapi karena kita belum saling kenal, maka saya ingin mengajak ta'arruf terlebih dahulu," ujar Ustadz Ridwan begitu sopan.
"Bagaimana, Nak?" tanya Ayah Burhan kepada sang putri.
Ainun tampak begitu bimbang, di satu sisi ia masih merasa tidak yakin ingin berta'arruf dengan Ustadz Ridwan, tapi di sisi lain ia juga penasaran dengan pria itu.
"Baiklah, aku mau berta'arruf, beri aku waktu 3 bulan untuk bisa mengenal kamu, hingga saat itu tiba, kita akan memutuskan kembali apakah akan di lanjut ke tahap menikah, atau cukup sampai di situ saja," jawab Ainun pada akhirnya setelah menimbang baik buruknya.
"Baik, jika itu mau kamu," ucap Ustadz Ridwan.
⚓⚓⚓
Malam ini, Aisyah dan Akmal akan makan malam bersama di rumah Zafran. Meskipun Zafran telah kembali, Akmal dan Aisyah tetap memilih tinggal di rumah Kiai Rahman. Tapi bukan berarti mereka jarang bertemu, karena tiap minggu Zafran akan mengundang mereka untuk makan malam bersama.
Seperti saat ini, selepas pertemuannya dengan Ainun, Aisyah langsung menuju ke rumah Zafran di mana Akmal telah menunggunya. Dan seperti biasa, Khaira akan begitu semangat tiap kali menyambut kedatangan wanita itu.
"Bagaimana perusahaan, Mal? Maaf yah aku belum bisa masuk sampai beberapa minggu ke depan." Zafran membuka pembicaraan di tengah makan malam mereka.
"Alhamdulillah lancar, Bang. Baru-baru ini perusahaan ikut proyek, dan alhamdulillah proyek itu sukses dan kita untung besar. Fokus saja istirahat dulu, agar kau benar-benar pulih, Bang," jawab Akmal.
"Oh iya, Bu dan Pak Zafran ...."
"Aisyah, tolong berhenti panggil saya 'Pak' saya bukan Bapak kamu," protes Zafran menyela perkataan Aisyah.
"Oh iya maaf, Bang. Aku keceplosan terus," jawab Aisyah nyengir. "Jadi gini, minggu depan akan ada wisuda untuk yang murid yang sudah hafal 1 juz Al-Qur'an, jadi Ibu dan Bang Zafran di undang untuk mendampingi Khaira, selamat yah Khaira sayang," lanjut Aisyah sembari memeluk Khaira yang duduk di sampingnya.
"Alhamdulillah, akhirnya," ucap Ibu Sofi dan Zafran bersamaan.
"Selamat yah, Sayang, cucu Oma hebat," puji Ibu Sofi.
"Selamat untuk putri papa, kamu luar biasa. Khaira mau hadiah apa dari papa, Sayang?" Zafran menatap sang putri yang duduk berhadapan dengannya.
"Wah, Khaira bisa minta hadiah?" tanya Khaira begitu antusias dan Zafran menganggukkan kepalanya.
"Khaira mau Mama," ucap Khaira dengan mata berbinar.
__ADS_1
Seketika suasana di meja makan itu menjadi hening, para orang dewasa itu kini saling tatap dalam diam.
"Insya Allah, Sayang, doakan papa semoga bisa segera mendapatkan Mama untuk kamu," ujar Zafran sedikit kaku.
"Aamiiiin," ucap Akmal dengan suara yang sedikit ditinggikan untuk menghilangkan suasana kaku tersebut.
"Oh iya, Sayang, katanya tadi kamu akan telat datang, tapi aku lihat kamu datang lebih awal deh, gimana Qtime kamu sama Ainun? Aman kan?" tanya Akmal kepada Aisyah.
"Aman kok, tapi Ainun terpaksa pulang lebih cepat karena katanya ada yang datang melamar ...."
"Uhuk uhuk uhuk"
Semua orang di meja makan itu kompak menoleh ke arah Zafran yang terbatuk-batuk.
"Kalau makan pelan-pelan Zafran, nih minum dulu," ujar Ibu Sofi sembari menyodorkan segelas air minum kepada pria itu.
Aisyah menatap Khaira yang hanya terlihat santai, sepertinya gadis kecil itu belum mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan. Jika saja ia mengerti, mungkin anak itu akan marah dan kecewa lagi.
Aisyah kini beralih menatap sang suami sebagaimana pria itu kini tengah menatapnya. Sepertinya pemikiran mereka saat ini sama.
⚓⚓⚓
"Iya, Sya. Habisnya aku sendiri belum yakin jika langsung menerimanya, jadi untuk saat ini aku ingin lihat bagaimana karakter dia dulu, siapa tahu nanti aku bisa yakin," jawab Ainun.
"Apa kamu yakin tidak ingin aku uruskan dengan Pak Zafran, mumpung kamu belum dilamar, jangan sampai nanti kamu menyesal loh," ujar Aisyah.
Tak terdengar suara di seberang telepon.
"Ainun, kamu mendengarku?" tanya Aisyah lagi.
"Eh, iya Sya, maaf aku tadi melamun," sahutnya kembali.
"Jadi gimana penawaranku?" ulang Aisyah.
Kali ini terdengar suara embusan napas kasar di seberang telepon.
"Terima kasih, Sya. Tapi kamu nggak usah repot-repot, aku udah bilang, kami tidak setara, terlalu jauh kesenjangan di antara kami."
__ADS_1
Begitulah Ainun selalu menolak tawaran Aisyah. Namun sebagai sahabat, Aisyah jelas tahu ada ketertarikan dari sahabatnya itu kepada Zafran, tapi di saat yang sama ia juga bisa melihat bagaimana sahabatnya itu menepis perasaannya sendiri.
Tak lama kemudian, pembicaraan mereka pun berakhir. Aisyah memutuskan untuk kembali ke tempat tidurnya di mana Akmal telah terlelap lebih dulu di sana. Pria itu cukup sibuk akhir-akhir ini mengurus perusahaannya, ditambah mengurus persiapan pernikahan mereka yang cukup menguras tenaga.
Aisyah mendaratkan sebuah kecupan di pipi Akmal dengan begitu hati-hati agar tidak membangunkan sang suami. Namun ia salah, sepertinya pria itu hanya berpura-pura tidur sejak tadi. Dan dengan gerakan cepat, Aisyah kini telah berada di dalam dekapannya.
"Jadi Ainun belum menerima lamaran yah, bagus dong," ucap Akmal dengan mata yang masih terpejam.
"Ih, Mas, kamu nguping yah?"
"Aku tidak nguping, Sayang, suara kamu aja yang masuk di pendengaranku tanpa permisi," kilah Akmal.
"Alasan aja kamu, Mas."
"Jadi, bagaimana menurut kamu tentang keputusan Ainun?" tanya Akmal.
Aisyah sejenak menatap ke langit-langit kamar yang tamaram. "Nggak tahu, Mas, tapi hati kecilku sepertinya tidak srek jika Ainun bersama Ustadz Ridwan," jawabnya jujur.
Akmal membuka mata dan menatap manik mata Aisyah. "Memangnya kenapa?"
"Gini, Mas, sebenarnya Ustadz Ridwan ini pernah ingin mengajakku ta'arruf, tapi ia urungkan saat tahu aku ini janda, tapi bukan karena itunya aku tidak srek, aku hanya menangkap sedikit karakternya yang tidak jauh berbeda dengan Zaid."
Akmal melepas dekapannya dan menatap tajam Aisyah.
"Aku nggak bermaksud mengungkit nama dia, Mas, aku hanya buat perumpamaan aja," ucap Aisyah cepat saat mendapat tatapan tajam dari sang suami.
"Tapi karakter orang beda-beda, kali aja Ustadz Ridwan lebih baik," cicit Aisyah melanjutkan kata-katanya.
"Aku punya ide," ujar Akmal tiba-tiba.
"Ide?" Akmal mengangguk pelan.
"Sini aku bisikin," ujar Akmal lalu membisikkan sesuatu di telinga Aisyah.
"Kamu yakin, Mas? Apa nggak apa-apa?" tanya Aisyah.
"Insya Allah nggak apa-apa."
__ADS_1
-Bersambung-