
Ainun keluar dari kamar mandi, di mana Aisyah telah menunggunya sejak tadi di luar. Mukanya kini tampak segar dan cantik alami, tak ada lagi polesan yang menempel, hanya saja wajahnya terlihat kusut.
"Aku malu banget, Sya," lirihnya.
"Maaf ya, Ai. Aku nggak sempat bangunin kamu lebih awal tadi." Aisyah merasa bersalah, sahabatnya harus mengalami peristiwa memalukan karenanya.
Ainun membuang napas lesu. "Aku langsung pulang yah, Sya."
"Loh, nggak makan malam dulu di sini?"
"Apa kamu pikir aku masih sanggup makan bersama Bapak-bapak itu setelah kejadian tadi? Aku malu banget."
Aisyah mengangguk maklum, ia paham akan perasaan sahabatnya ini. "Baiklah jika itu mau kamu, hati-hati di jalan yah, salam sama Ibu dan Ayah."
"Iya, eh aku baliknya lewat belakang yah." Ainun bergegas keluar melalui pintu belakang.
Aisyah hanya bisa membuang napas kasar sembari menggelengkan kepalanya. "Semoga dia tidak kapok bermain sama Khaira."
Sementara Zafran dan Akmal kini sedang menemani Khaira menonton. Atensi mereka tiba-tiba teralihkan saat mendengar suara motor yang meninggalkan halaman rumah.
"Eh, itu siapa yang pergi naik motor?" tanya Zafran.
"Ainun, maaf yah dia pulang tanpa pamit, kalian pasti mengerti alasannya," jawab Aisyah yang baru saja tiba dari dapur.
"Makan dulu yuk, habis itu kalian sholat maghrib di masjid," ajak Aisyah.
Mereka pun makan malam bersama dengan begitu hikmat, sesekali mereka saling bertukar cerita ringan. Meski begitu, Zafran tak ingin membahas masalahnya, mengingatnya saja ia sudah sangat kesal, apalagi ia sama sekali tidak ingin Khaira tahu tentang Ibu kandungnya.
Setelah makan malam bersama dan sholat maghrib, Zafran memutuskan untuk langsung pulang bersama Khaira. Sementara Aisyah dan Akmal memilih bercerita dulu di ruang keluarga sembari menonton TV.
Keduanya menikmati malam santainya, di mana Aisyah duduk bersandar di dada bidang Akmal dan Akmal mengelus surai rambut panjang sang istri, sesekali ia juga memainkan rambut itu
"Sayang, apa tadi Citra tidak datang di sekolah?" tanya Akmal.
"Nggak, Mas, aman," jawab Aisyah.
"Syukurlah, semoga sidangnya minggu depan berjalan lancar," gumam Akmal dengan mata yang masih tertuju pada layar TV.
"Sidang apa, Mas?" Aisyah mendongak menatap Akmal.
"Sidang hak asuh anak," jawab Akmal sembari mengecup kening Aisyah.
"Oh," Aisyah kembali menoleh ke TV. "Insya Allah, yang benar yang menang."
Allah itu Maha Adil, apa yang dituai, itulah yang akan dipanen, pun apa yang diusahakan, itulah yang akan dicapai, entah saat itu juga, besok atau beberapa tahun ke depan.
__ADS_1
⚓⚓⚓
Satu minggu kini telah berlalu. Selama satu minggu itu pula, Zafran dan Akmal bekerja sama dengan pengacara Arya mencari bukti, baik bukti dari Zafran, maupun bukti dari Citra, lebih tepatnya bukti yang bisa menguatkan posisi Zafran dan melemahkan posisi Citra sebagai orang tua yang akan mengasuh, tapi tetap mengutamakan kejujuran.
Semua orang kini tengah berkumpul di dalam ruangan sidang, baik itu Zafran, Akmal, Ibu Sofi, Aisyah, Kiai Rahman, hingga Ainun yang ikut turut menyaksikan sidang hari ini, jangan lupakan Arya sang pengacara yang sudah siap dengan semua materi dan bukti-buktinya.
Sidang pun di mulai, pengacara Citra selaku penggugat mulai menyampaikan materi dan melampirkan bukti-bukti. Zafran dan Akmal cukup tercengang saat melihat bukti-bukti tentang buruknya sifat Zafran selama ini yang tentu tidaklah benar alias bukti palsu, rasa khawatir mulai menyelimuti hati dua pria itu, mereka khawatir jika bukti palsu itu yang akan menang.
Namun, kekhawatiran mereka seketika terpatahkan saat pengacara Arya mulai angkat bicara dan melampirkan bukti terkait sikap Citra yang tidak layak mengambil hak asuh anak, bahkan semua bukti tentang keburukan Zafran sebagai suami dan ayah yang di berikan dari pihak Citra langsung terbantahkan oleh bukti kebaikan Zafran dari Arya.
Berdasarkan bukti yang telah dipaparkan, maka dapat disimpulkan bahwa penggugat yang tidak lain adalah ibu telah terbukti melakukan tindakan perselingkuhan, dan menelantarkan anaknya selama 5 tahun tanpa ada usaha untuk menjenguknya, maka dengan ini di putuskan bahwa hak asuh anak jatuh kepada ayahnya.
Tek tek tek
Sidang pun berakhir dan tentu saja di menangkan oleh Zafran. Ucapan rasa syukur tak henti-hentinya keluar dari mulut pria itu. Sementara Citra, ia langsung pergi dengan wajah kesal usai hasil sidang dipaparkan tanpa menunggu hakim menutup sidangnya.
"Selamat Nak, akhirnya kamu bisa hidup tenang tanpa memikirkan masalah ini lagi," ucap Ibu Sofi sembari memeluk sang putra.
"Selamat Bang," ucap Akmal dan Aisyah.
"Selamat, Nak, semoga Allah senantiasa melindungi kalian dari orang-orang yang dengki," ucap Kiai Rahman sembari menepuk pundak Zafran.
"Selamat Pak Zafran," ucap Ainun singkat.
-
"Malam ini, tolong kamu dan Aisyah temani aku," jawab Zafran ikut berbisik.
"Siap, gampang itu," jawab Akmal yang mengerti maksud Zafran.
Setelah berbicara dengan Akmal, kini zafran kembali menghampiri Ainun yang sudah keluar lebih dulu dari ruangan sidang.
"Ainun," panggil Zafran, membuat Ainun langsung berbalik ke arahnya.
"Iya, ada apa, Pak?" sahut Ainun lalu bertanya.
"Begini, apa nanti malam kamu dan kedua orang tuamu ada di rumah?" tanya Zafran.
"Insya Allah, ada apa yah?
"Jika kamu mengizinkan, saya ingin datang ke rumahmu untuk melamarmu di hadapan kedua orang tuamu," terang Zafran.
"Me-melamarku?" Ainun menunjuk dirinya tidak percaya.
"Iya, kamu, Ainun," jawab Zafran sembari tertunduk.
__ADS_1
"Ta-tapi kenapa aku?" tanyanya bingung.
"Aku tidak akan menjawabnya sekarang. Apa kamu mengizinkan?"
Ainun terdiam. "Apa aku sedang bermimpi? Mana mungkin seorang Zafran mau menjadikanku istrinya?" batinnya.
"Bagaimana?" tanya Zafran kembali membuyarkan lamunan Ainun.
"Eh, i-iya, terserah," jawabnya.
"Oke terima kasih." Zafran langsung berbalik pergi meninggalkan Ainun yang kini sedang mencubit pipinya untuk memastikan apa dia baru saja bermimpi atau tidak.
⚓⚓⚓
Malam harinya, Ainun sedang membuat soal ujian untuk santri di pesantren yang akan ujian. Tapi kegiatannya terhenti saat ia mendengar suara ketukan pintu di kamarnya.
"Iya, tunggu," sahutnya lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Tante ...."
"Khaira? Kok kamu ada di sini, Sayang?" tanya Ainun begitu terkejut.
"Khaira mau bicara sama tante, ayo." Khaira menarik tangan Ainun kembali masuk ke kamarnya dan duduk di tempat tidur diikuti dengan Ainun yang duduk di sampingnya.
"Khaira mau bicara apa? Kamu ke sini sa ...."
"Sssst, tante nggak usah tanya-tanya, cukup dengarkan Khaira." Khaira meletakkan jari tekunjuknya di bibir Ainun, membuat Ainun bungkam seketika.
"Tante, tolong jadi Mama Khaira yah, plis plis."
Ainun menahan napas mendengar permintaan Khaira. "Ke-kenapa tante?" tanyanya setelah berusaha menggerakkan lidahnya yang terasa kelu.
"Karena Khaira sayang tante," jawab gadis kecil itu polos.
Ainun baru akan membuka mulutnya, tapi terhenti saat sang ibu datang memanggilnya.
"Nak, pakai kerudungmu, ada yang menunggumu di depan."
"Siapa, Bu?" tanya Ainun ingin memastikan.
"Zafran, Nak," jawab sang ibu.
Degh
Jadi dia benar-benar datang ...
__ADS_1
-Bersambung-