
Akmal berjalan cepat masuk ke dalam ruangannya, ia bahkan tidak mempedulikan Novi dan Fadil yang menyapanya di luar ruangan. Dasi yang tadinya terpasang rapi kini ia kendorkan karena emosi yang bergejolak dalam hatinya seolah ingin menerobos keluar.
"Ck, kenapa harus bekerja sama dengan mereka sih," decak Akmal lalu mendaratkan bokongnya dengan kasar di kursi kebesarannya.
Ia baru mengingat jika orang yang bernama Pak Andreas adalah pria yang dulu ia pergoki datang bersama Via ke kostnya.
Di tengah kekesalannya, ponsel Akmal kembari bergetar, ia menyadari ponselnya bergetar sejak tadi, tapi pertemuannya dengan Via membuatnya kehilangan fokus.
Akmal mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. Alis yang tadi bertautan kini perlahan berpisah, raut wajah kesal yang tadi terlihat kini perlahan memudar saat melihat nama si penelepon yang terpampang di layar benda pipihnya itu.
"Ekhem, ekhem." Pria itu berusaha menormalkan suara dan emosinya sebelum mengangkat telepon dari wanita yang kini telah menjadi istrinya.
"Halo, assalamu 'alaikum," ucapnya membuka pembicaraan.
"Wa'alaikum salam, maaf kalau aku mengganggu. Aku mau mengabarkan kalau Pak Zafran sudah masuk ruang operasi, apa kamu akan ke sini?" tanya suara di seberang telepon.
"Operasi?" tanya Akmal bingung.
"Iya, alhamdulillah sudah ada donor ginjal untuk Pak Zafran," jawab Aisyah.
"Oh, i-iya. Aku akan segera ke sana," jawabnya gugup.
"Baik, aku tunggu, assalamu 'alaikum," ucap Aisyah.
"Wa-wa'alaikum salam." Akmal menurunkan ponsel yang sejak tadi menempel di telinganya.
Perlahan ia mengusap dadanya yang mulai bertalu-talu bak gendang yang di tabu dengan cepat.
__ADS_1
"Masya Allah, rasa apa ini? Kenapa jantungku semakin dibuat tak terkendali hanya dengan mendengar suaranya," gumamnya dengan senyuman yang merekah indah di wajah.
Tok tok tok
Seketika senyuman yang tadinya merekah itu hilang tak berbekas di wajahnya dan berganti dengan wajah datar.
"Masuk," titahnya.
Novi berjalan masuk sembari membawa hasil berkas ke meja Akmal.
"Ini adalah hasil kesepakatan meeting tadi, Pak," ucap Novi.
"Baik, terima kasih," ucap Akmal.
Namun, wanita itu tak kunjung keluar dari ruangannya.
"A-anu, Pak. Sebentar lagi jam makan siang, apa Bapak ingin saya bawakan makanan?" tawar wanita itu.
"Tidak perlu, setelah ini saya akan langsung ke Singapura. Tolong hendle perusahaan bersama Fadil selama saya pergi," pintanya.
"Baik, Pak," sahut Novi lalu segera keluar dari ruangannya.
Akmal segera menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum ia berangkat ke Singapura.
⚓⚓⚓
Sudah 3 jam Zafran berada di dalam ruang operasi. Semua keluarga menunggu dengan perasaan campur aduk. Ibu Sofi bahkan tak ingin sekali pun beranjak dari tempat duduknya, ia tidak peduli dengan rasa lapar yang menghampirinya sejak tadi, yang penting ia bisa memantau jalan operasi anaknya meski hanya di luar ruangan.
__ADS_1
"Bu, makan dulu yah, Ibu juga harus sehat jika ingin menunggu, jangan sampai Ibu tumbang karena sakit sebelum Pak Zafran keluar dari ruang operasi," bujuk Aisyah duduk di samping kanannya sembari menyodorkan makanan yang baru saja ia beli bersama Ainun.
"Benar, Mbak. Makan dulu. Kalau dalam keadaan menjaga orang sakit seperti ini, usahakan kita menjaga kesehatan agar tidak sakit juga," timpal Ibu Shalwa yang duduk di samping kiri kakaknya.
Ibu Sofi tampak mengangguk membenarkan perkataan Aisyah dan Ibu Shalwa. Ia pun akhirnya mulai memakan makanan yang diberikan oleh Aisyah.
"Assalamu 'alaikum," ucap seorang pria, membuat semua orang menoleh ke arahnya.
"Akmal, akhirnya datang juga kamu nak," ucap Ibu Shalwa yang langsung menghampiri putranya itu bersama Aira.
Sementara Aisyah hanya diam tertunduk. Ia ingin sekali menghampiri suaminya, tapi rasanya ia begitu canggung dan malu untuk sekedar mendekat ke arahnya.
"Ekhem." Aira berdehem sembari menyenggol lengan Akmal dengan bahunya. Ia memberikan kode ke arah Aisyah dengan mengedikkan dagunya.
Akmal yang mengerti maksud sang adik beralih menatap Ibu Shalwa, dan wanita paruh baya itu mengangguk kepeda Akmal seolah mengerti arti tatapan putranya.
Akmal perlahan melangkah ke arah wanita bercadar yang saat ini sedang berdiri dengan wajah tertunduk. Jangan tanyakan bagaimana keadaan jantungnya saat ini ketika jaraknya semakin dekat dengan Aisyah. Bahkan keringat dingin sudah membasahi keningnya lantaran begitu gugup.
"Assalamu 'alaikum Aisyah," ucap Akmal pelan sembari mengulurkan tangannya kepada istrinya.
Aisyah mengangkat wajahnya menatap pria di hadapannya, kedua manik mata mereka bertemu sesaat. Ada getaran aneh yang menjalar ke seluruh tubuh saat melihat Akmal berada begitu dekat dengannya.
"Wa-wa'alaikum salam."
Aisyah menyambut uluran tangan Akmal yang terasa begitu dingin lalu mencium punggung tangannya. Ini pertama kalinya mereka bersentuhan semenjak mereka menikah, yang membuat hati keduanya berdesir hebat.
-Bersambung-
__ADS_1