Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Skill Khaira


__ADS_3

"Menikahlah kembali denganku, kita akan mengurus putri kita bersama."


Zafran tertawa mendengar perkataan Citra, begitu mudah baginya meminta kembali setelah apa yang dia lakukan 5 tahun yang lalu.


"Aku tidak mengerti di mana letak rasa malumu, seenaknya pergi dan seenaknya kembali, kamu pikir aku pria bod0h? Apa yang sudah kulepaskan maka tak akan kutarik kembali," tutur Zafran.


"Bukankah kamu masih mencintaiku? Bukankah sampai saat ini kamu belum menikah karena aku?" tanya Citra percaya diri.


"Percaya diri sekali kamu, siapa bilang aku belum ingin menikah? Aku akan menikah dalam waktu dekat ini," jawab Zafran.


"Oke, jika kamu tidak ingin kembali padaku, kupastikan hak asuh Khaira akan jatuh kepadaku," ancamnya lalu berjalan keluar dengan cepat.


Zafran terduduk lesu di kursi sembari memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Kedatangan Citra hari ini berhasil merusak fokusnya dalam bekerja. Tiba-tiba muncul rasa khawatir kepada Khaira di dalam benaknya. Entah akan seperti apa hidupnya jika ia terpisah dengan putrinya itu.


"Kenapa dia harus datang lagi di saat aku dan Khaira sudah hidup tentram dan bahagia?" batinnya sembari menjambak rambutnya frutrasi.


"Novi, tolong panggilkan Akmal agar ke ruanganku sekarang juga," titahnya kepada sang sekretaris melalui sambungan interkom.


Tak lama kemudian, Akmal masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ada apa, Bang?" tanya Akmal.


"Dia datang," jawab Zafran dengan tatapan lurus ke depan.


"Citra?" tebak Akmal.


Zafran menatap Akmal sedikit curiga. "Bagaimana kamu tahu?" selidiknya.


"Kemarin aku memergokinya bermain bersama Khaira," jawab Akmal.


"Apa?" Zafran berdiri dan memukul kuat meja kerjanya. "Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" tanyanya.


"Maaf, Bang, aku tidak sempat. Kemarin aku sudah memperingatkan dia untuk tidak muncul lagi, aku tidak mengira dia akan datang menemuimu," jawab Akmal.


"Ck, harusnya kau langsung mengatakannya padaku," decak Zafran lalu kembali duduk di kursinya.


"Maaf, Bang." Hanya itu yang bisa dikatakan Akmal saat ini.


"Dia mengajukan gugatan hak asuh anak, aku harus menemui pengacara Arya, dia cukup hebat dalam hal ini. Aku tidak ingin dia mengambil hal asuh Khaira," ujar Zafran dengan raut wajah khawatir.


"Aku akan membantumu, Bang."

__ADS_1


-


Sore ini, rencana Zafran untuk melamar Ainun harus tertunda karena masalah baru yang diciptakan oleh mantan istrinya. Pria itu harus menemui pengacara Arya bersama Akmal dan Fadil. Ia harus secepatnya menyelesaikan semua ini agar ia bisa menemui orang tua Ainun dengan tenang, sebab tidak mungkin ia melamar Ainun di saat hatinya dilanda rasa gelisah.


Jika memang jodoh, pasti akan bersatu, itu adalah pegangannya yang tidak pernah ia ragukan, bahkan ia melepas Aisyah pun karena meyakini janji Allah itu.


⚓⚓⚓


Khaira saat ini berada di rumah Aisyah, ia tampak sedang asik menonton sembari memakan kue buatan Aisyah. Zafran dan Akmal akan pulang terlambat malam ini, sehingga ia meminta Aisyah untuk membawa gadis kecil itu pulang bersamanya saat pulang sekolah tadi.


"Ummi, panggilin tante Ainun dong, Khaira rindu nih," rengek gadis kecil itu.


Sudah beberapa hari ini Khaira tidak pernah lagi bertemu dengan Ainun karena kesibukannya di pesantren yang sedang memasuki masa perkampungan bahasa Arab.


Aisyah jelas tahu akan kesibukan sahabatnya itu, tapi karena tak ingin membuat Khaira merasa kecewa, ia pun memberanikan diri menghubunginya.


Dan di sinilah Ainun sore ini, di rumah Aisyah dan Akmal yang letaknya memang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Seperti biasa, gadis kecil itu akan selalu senang dan semangat jika bermain bersamanya.


"Tante, main makeup-makeupan yuk," ajaknya begitu antusias.


"Hah? Lagi?" Entah kenapa Khaira begitu menyukai bermain makeup-makeupan bersama Ainun, jika di tanya kenapa, jawabannya hanya, "wajah tante cantik."


"Aisyah, kapan Pak Zafran dan Pak Akmal pulang?" tanya Ainun.


"Yaa ingin memastikan aja saat mereka datang nanti mukaku udah bersih kembali."


Aisyah hanya bisa menahan tawanya melihat Ainun yang begitu pasrah menjadi tempat Khaira melatih skill makeup-nya.


Sementara Khaira sibuk dengan Ainun, Aisyah memilih memasak makanan di dapur. Kali ini ia memasak dengan porsi makanan yang lebih banyak dari biasanya karena ia berencana akan mengajak Ainun, Zafran dan Khaira untuk makan malam bersama malam ini di rumahnya.


"Tante tuh cantik banget, persis seperti Khaira. Kalau tante jadi Mamanya Khaira pasti cocok banget," oceh Khaira sembari sibuk memoles wajah Ainun yang tengah berbaring di hadapannya.


"Tante kok nggak jawab sih?" tanyanya karena tak mendapat respon dari Ainun.


"Ini untuk kalian, di minum yah Sayang." Aisyah datang sembari menyodorkan dua gelas susu kepada mereka.


Lagi-lagi Aisyah harus menahan tawa saat melihat hasil makeup Khaira di wajah Ainun yang baru selesai 50% tapi sudah terlihat seperti badut. Namun, sepertinya sahabatnya itu cukup menikmati, terbukti dari Ainun yang begitu anteng saat dimakeup.


"Terima kasih, Ummi," ucap Khaira dengan senyuman polosnya.


"Iya, Sayang. Ummi ke belakang dulu yah." Ucap Aisyah lalu kembali sibuk dengan urusan masak-masaknya di dapur.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, terdengar suara deru dua mobil yang berhenti di depan rumahnya. Gegas Aisyah memakai cadarnya lalu pergi ke depan untuk menyambut kedatangan sang suami dan kakak sepupu suaminya.


Karena buru-buru, ia bahkan melewati Khaira yang masih sibuk bersama Ainun di ruang keluarga begitu saja.


"Assalamu 'alaikum," ucap kedua pria itu.


"Wa'alaikum salam," jawab Aisyah.


"Khaira di mana?" tanya Zafran.


"Di dalam Bang, Masuk aja," ucap Aisyah.


Zafran mengangguk lalu bergegas masuk lebih dulu. Sementra Aisyah menyalami Akmal terlebih dahulu dan dibalas kecupan di keningnya oleh pria itu sebagaimana kebiasaan mereka semenjak kembali dari Singapura.


"Gimana urusannya hari ini, Sayang?" tanya Akmal merangkul pundak Aisyah lalu berjalan bersama masuk ke dalam rumah menuju runag keluarga.


"Alhamdulillah ba ...." ucapan Aisyah terhenti saat ia melihat Khaira masih setia mendandani Ainun yang berbaring di sofa, sementara di samping Khaira sudah ada Zafran yang duduk sembari menonton aksi sang putri sembari tersenyum.


"Astaghfirullah," lirihnya langsung melepas rangkulan Akmal dan berlari ke arah Ainun yang masih berbaring, dan sepertinya dia tidak hanya berbaring tapi bahkan tertidur.


Untungnya Ainun masih setia dengan kerudungnya, meski sudah kotor karena terkena bedak. Tapi tetap saja, dia pasti malu jika menyadari keadaannya saat ini.


"Ssst, Ainun, bangun, udah hampir malam nih," lirih Aisyah di dekat telinga Ainun.


"Hmm?" Gadis itu hanya menyahut singkat dan kembali memperbaiki posisi tidurnya, sepertinya dia sangat lelah karena kesibukannya akhir-akhir ini.


"Ainun, bangun ...."


"Tunggu, Sya, masih ngantuk nih, bangunin aja kalau udah malam, intinya sebelum bapak-bapak itu datang," ucapnya tanpa membuka mata.


Zafran semakin menahan tawa melihat tingkah gadis itu, sangat lucu.


"Astaghfirullah Ainun, ini memang belum malam, tapi Bapak-bapak itu udah datang," ujar Aisyah sembari menepuk pelan pipi sahabatnya.


"Oh, iya," jawabnya santai


"Apa?" pekiknya langsung membuka mata lalu bangkit dari tidurnya sembari memperbaiki posisi kerudung dan membersihkan matanya, takutnya ada kotoran yang nyangkut.


"Eh, Pak Zafran dan Pak Akmal, maaf saya ketiduran," jawabnya sedikit salah tingkah.


"Iya, tidak apa-apa, santai saja," jawab Zafran dan Akmal bersamaan sembari tertunduk tak ingin menatap gadis di hadapan mereka.

__ADS_1


"Ai, cuci muka, yuk."


-Bersambung-


__ADS_2