Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Dermaga Cintaku (END)


__ADS_3

Air mata tak henti-hentinya keluar dari sudut mata sepasang suami istri yang tengah menatap layar monitor USG di hadapan mereka.


"Jadi dua bagian yang besar ini adalah kantung janinnya, dan yang kecil di dalam ini adalah embrionya, ukuranya masih sebesar biji kacang hijau, usianya sekitar 5 minggu," jelas dokter itu.


"Tapi kenapa ada dua, Dok?" tanya Akmal setelah mengusap air matanya.


"Ya karena mereka kembar," jawab dokter itu.


"Apa? Kembar?" Akmal menatap dokter yang mengangguk ke arahnya lalu beralih menatap sang istri yang sudah berderai air mata.


"Allahu akbar, Alhamdulillah!" pria itu langsung melakukan sujud syukur lalu bangkit memeluk Aisyah.


Sejenak dokter membiarkan keduanya meluapkan rasa bahagia yang tak bisa mereka sembunyikan. Dua tahun mereka di uji untuk bersabar, dan setelah itu Allah langsung membalas kesabaran mereka dengan dua anak kembar sekaligus.


Aisyah perlahan melepas pelukas Akmal saat menyadari apa yang merak lakuka sedang di tonton oleh dokter dan seorang perawat.


"Maaf, Dok," lirih Aisyah merasa tidak enak.


"Tidak masalah, saya sudah sering melihat hal seperti ini, ada yang menangis terharu karena bahagia seperti kalian, tapi tidak jarang juga ada yang menangis karena menyesal," ujar dokter itu.


"Tapi kenapa saat saya melakukan tespek pagi itu hasilnya negatif?"


"Hasil yang di tunjukkan tespek kadang akurat tapi kadang juga tidak akurat, tergantung keadaan tespek itu, mungkin saja tespek yang ibu gunakan rusak," jawab dokter. "Oh iya, selamat yah atas kehamilannya, semoga sehat selalu. Dan karena ibu memiliki riwayat keguguran, jadi saya harap ibu bisa bedrest, jangan dulu naik motor dan kalau bisa ambil cuti kerja saja," lanjutnya berpesan.


"Siap dokter, kalau masalah ini, biar saya yang atur," ujar Akmal sembari menaik-turunkan alisnya menatap Aisyah, membuat wanita itu merasa was-was, semoga suaminya ini tidak over protective.


--


Hari terus berganti tanpa terasa, apa yang pernah di takutkan Aisyah rupanya benar-benar terjadi. Akmal begitu protective dalam menjaganya dan kandungannya, tak hanya itu, ia begitu selective dalam memberi makanan sang istri.


Bahkan hingga kandungan Aisyah menginjak 9 bulan, pria itu masih saja tak berubah. Kadang wanita itu merasa dongkol karena merasa tidak bebas, tapi ketika mengingat betapa sigapnya Akmal dalam menjaga dan memenuhi segala kebutuhannya, tak peduli itu tengah malam jika Aisyah membutuhkan pasti akan ia penuhi selagi masih bisa, begitu pun saat ia lelah dan baru pulang dari restoran, ia tetap akan meluangkan waktunya untuk memijat punggung dan kaki Aisyah.


Semua itu ia lakukan tanpa mengeluh sedikit pun. Ia bahkan mengonsumsi beberapa jenis vitamin setiap hari. Jika ditanya, ia akan menjawab "aku tidak boleh sakit, agar aku bisa selalu ada untukmu," sungguh jawaban yang membuat Aisyah selalu terharu. Betapa sempurnanya pria itu di mata Aisyah, sangat sempurna hingga dapat menutupi ketidaksempurnaannya.


Aisyah duduk bersandar di kepala tempat tidur sembari menatap kagum pesona Akmal yang tak pernah luntur, pria itu tengah membaca Al-Qur'an di samping Aisyah sembari mengusap perut buncitnya .


Sesekali ia menyunggingkan senyum tiap kali menyadari bahwa pria tampan yang dulu ia kagumi karena suaranya kini benar-benar telah menjadi suaminya. Pria yang dulu ia kira akan menjadi adik iparnya kini justru menjadi suaminya.

__ADS_1


"Allah benar-benar baik, di saat ketidaksempurnaan membuatku jatuh berkali-kali, Dia mempertemukanku dengan seseorang yang membuat hidupku sempurna. Seseorang yang datang merangkulku di saat dia yang mengaku mencintai justru menghempaskanku ke dasar lubang luka dan trauma."


"Mas, perutku sakit," ucap Aisyah meringis sembari memegangi perutnya yang terasa mengencang.


Akmal yang tadinya sedang khusyuk mengaji lantas menghentikan aktivitasnya. "Apa sakit sekali, Sayang?" tanya pria itu.


"Iya, Mas. Sakit sekali," jawab Aisyah disertai peluh yang mulai membasahi keningnya.


"Kita ke rumah sakit sekarang." Akmal segera mengganti sarung yang tadi ia kenakan dengan celana kain tanpa mengganti baju koko dan peci yang masih melekat di kepalanya.


"Ayo Sayang, Bismillah." Pria itu mengangkat tubuh Aisyah yang semakin berat lalu berjalan keluar kamar. Tak lupa ia memanggil Ibu Shalwa dan Aira yang berada di kamar masing-masing karena sudah malam.


Di rumah sakit, dokter yang rutin memeriksa kandungan Aisyah akhirnya memutuskan untuk melakukan tindakan operasi caesar karena posisi bayi yang tidak memungkinkan untuk dilahirkan secara normal.


Kedua orang tua Aisyah kini tiba di rumah sakit setelah Akmal menghubunginya, tak terkecuali Zafran dan Ainun, yang harus meninggalkan anak-anak mereka berada dalam pengawasan babysitter di rumah karena sudah tidur.


Sebelum di bawa ke ruang operasi, tak lupa wanita itu meminta maaf kepada kedua orang tua dan mertuanya sekaligus memohon doa, setelah itu masuklah ia bersama Akmal di ruang operasi.


"Mas, jika aku punya salah, tolong maafkan aku, aku mohon doa dan ridhomu agar persalinan ini berjalan lancar."


"Ssst, kamu adalah istri sholehahku yang sempurna, selama menikah denganmu tak pernah sekalipun kutemukan kekuranganmu yang membuat hatiku kecewa. Jika kamu meminta ridho dan maafku sekarang, itu hanya sia-sia, sebab jauh sebelum kamu memintanya, doa dan ridhoku telah kuberikan padamu."


Tiga tahun kemudian,


Seorang gadis kecil berusia 10 tahun lari begitu cepat mendatangi para orang tua yang sedang berkumpul di belakang rumahnya.


"Mama, Papa, Om, Ummi, lihat tuh anak-anak kalian bertengkar lagi," teriaknya.


"Ya ampun mulai lagi mereka," ujar Aisyah menarik tangan Ainun agar segera menghampiri anak-anak mereka, sementara Akmal dan Zafran justru diam mematung dengan mulut terbuka karena terkejut mendengar perkataan Khaira.


"Astaga, kau dengar apa yang baru saja dikatakan anakmu itu, Bang? 'anak-anak kalian,' siapa yang mengajarinya bicara seperti itu? Seperti Mamamu saja," celoteh Akmal kepada Zafran.


"Jangan tanyakan itu, sebab sudah pasti dia mengikuti Omanya," jawab Zafran.


Keduanya saling menatap lalu berjalan bersama menyusul istri dan anak-anak mereka.


Saat mereka tiba di sana, lagi-lagi mereka hanya bisa mengembuskan napas kasar, bagaimana tidak? Saat ini kedua anak kembar Akmal sedang mempertebutkan ibu mereka sembari menangis, Ammar menarik tangan kanan Aisyah, dan Ameer menarik tangan kiri Aisyah. Begitu pun dengan Umar yang sedang membuat ancang-ancang untuk memukul Khaira tapi di tengahi oleh Ainun.

__ADS_1


"Astaghfirullah anak-anakku," ujar Akmal dan Zafran langsung menghampiri mereka dan mengambil salah satu dari anak-anak mereka.


"Udah, sama abi aja yah, cup cup cup," ucap Akmal sembari menggendong Ammar dan langsung membawanya ke kamar yang berada di rumah Zafran, diikuti dengan Aisyah di belakang sembari menggendong Ameer.


Saat mereka tiba di kamar, kedua anak mereka malah tertidur dalam gendongan.


"Eh, langsung tidur mereka," ucap Aisyah setelah menidurkan Ammar dan Ameer di tempat tidur.


"Kamu kayak nggak tahu aja, mereka kan rese kalau lagi ngantuk," canda Akmal seraya merangkul pundak sang istri yang tengah berdiri memandangi kedua anak mereka.


"Huss, kamu itu, Mas. Anak sendiri kok dibilangin rese, semarah apa pun pada anak tetaplah bicara yang baik-baik tentang mereka karena perkataan adalah doa yang sewaktu-waktu bisa langsung Allah kabulkan."


"Iya, Sayang, maaf. Nggak lagi deh." Akmal memperlihatkan wajahnya yang merasa bersalah.


Aisyah tersenyum melihat raut wajah Akmal, ada saja cara untuk membuat Aisyah langsung melupakan kekeliruan suaminya itu.


"Terima kasih Mas karena sudah hadir dalam hidupku yang serba kekurangan ini. Jika diibaratkan, kamu adalah dermaga cintaku, tempat di mana akhirnya aku melabuhkan cintaku setelah melewati berbagai ujian, entah itu terjangan ombak atau badai yang berhasil membuatku ketakutan bahkan hampir tenggelam, dan kepadamu lah kini aku merasa bahagia dan damai atas izin Allah." Aisyah mencium punggung tangan Akmal dengan penuh cinta, membuat pria itu terharu bahkan hampir mengeluarkan air mata.


"Jika aku dermaga cintamu, maka kamu adalah kapal cintaku, telah begitu banyak kapal lain yang ingin berlabuh tapi tidak ada yang bisa membuka hatiku, hanya kapalmu yang mampu membuatku langsung menerima kehadiranmu dengan hatiku tanpa peduli kekuranganmu, karena bagiku, kekuranganmu adalah kelebihanku," balas Akmal lalu mengecup kening Aisyah dengan penuh cinta.


"Aku mencintaimu kapal cintaku."


"Aku mencintaimu dermaga cintaku."


-Tamat-


Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Dear Kakak-kakak Readers, terima kasih telah membersamai Author dalam pembuatan cerita ini, terima kasih juga untuk kakak yang sudah mampir, dukungan yang kakak beri sungguh sangat berarti bagi Author yang amatiran ini.


Akhirnya kisah "Dermaga Cinta Aisyah" bisa Author tamatkan dengan lancar atas masukan dari kakak-kakak semua.


Sekali lagi Author mengucapkan terima kasih atas semuanya, semoga Allah memudahkan urusan dan rezeki kita.


Oh iya, sekedar informasi, setelah novel ini, Author akan merilis novel baru yang berjudul "Tasbih Cinta di Negeri Qatar". Mohon dukungannya dan jangan lupa follow akun Author biar dapat pemberitahuan jika novelnya sudah rilis.


Love you all <3

__ADS_1


Salam hangat dari Author


UQies


__ADS_2