Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Kemarahan Akmal


__ADS_3

Jam belajar kini telah selesai, Aisyah menunggu Khaira di dekat gerbang sekolah. Tak lama setelah itu, gadis yang di tunggu-tunggu akhirnya keluar dari kelas dengan begitu riang sembari menenteng boneka teddy bear berukuran sedang.


"Wah, senang banget yah, Sayang? Kok tumben Khaira bawa boneka ke sekolah?" tanya Aisyah.


"Ini tadi Khaira di kasi tante cantik." Aisyah mengerutkan keningnya.


"Tante cantik?" Khaira mengangguk. "Siapa?" tanyanya lagi.


"Nggak tahu, Ummi. Khaira lupa tanyain namanya," jawab Khaira begitu polos.


"Sini ummi lihat." Aisyah mengambil boneka itu dan langsung memeriksanya, ia khawatir ada benda berbahaya yang sengaja di simpan dalam boneka itu, seperti kamera tersembunyi, nark0ba, alat pelacak dan lain-lain.


"Nggak ada apa-apa," lirihnya. "Khaira Sayang, tolong dengar Ummi, kalau ada orang yang kamu tidak kenal dan memanggil kamu, tolong jangan datangi dia, kalau dia membujukmu dengan permen, mainan, atau uang, tolong jangan diterima. Kita nggak pernah tahu gimana karakter orang, syukur kalau baik, kalau jahat gimana?" jelas Aisyah menasehati keponakannya itu.


"Loh, bukannya Ummi sendiri yang bilang kalau kita nggak boleh su'udzon (berburuk sangka) sama orang?" tanya Khaira.


"Iya, kita memang nggak boleh su'udzon, tapi waspada harus, Sayang," jelas Aisyah lagi. "Bonekanya simpan di sekolah saja yah," bujuk wanita bercadar itu.


"Nggak Ummi, Khaira mau bawa pulang, Khaira suka bonekanya," tolak Khaira.c


Aisyah membuang napas kasar, " Ya udah terserah kamu, tapi ini terakhir kamu terima barang dari orang asing yah."


"Siap, Ummi."


Tak lama kemudian, Zafran datang untuk menjemput Khaira, setelah mengucapkan salam, mobil mereka melaju meninggalkan sekolah. Sementara Aisyah pun akhirnya pulang menggunakan motor pinknya. Ia tak lagi meminta Akmal untuk mengantar jemputnya karena ia sendiri sangat suka menaiki motor.


Motor pink itu sampai di sebuah rumah mewah yang kini ia dan Akmal tempati, meski tidak terlalu besar, tapi bagi Aisyah itu sudah cukup besar untuk dihuni oleh mereka dan anak-anaknya kelak.


Usai mengganti pakaian, Aisyah mulai mengerjakan pekerjaan rumahnya seperti biasa, mulai dari beres-beres rumah hingga memasak untuk makan malamnya nanti bersama sang suami. Sebagaimana permintaannya kepada Akmal, Aisyah belum membutuhkan ART untuk membantu urusan rumahnya saat ini.


Karena lelah, Aisyah tertidur di sofa ruang keluarga, dan ia baru terbangun saat menyadari bantal yang tadi ia gunakan untuk tidur telah berganti menjadi paha Akmal yang sedang asik menonton. Pria itu bahkan sudah berganti pakaian dengan baju kaos dan celana selutut.


"Astaghfirullah, maaf Mas, aku ketiduran," ujar Aisyah sembari mencoba bangkit dari tidurnya, tapi di tahan oleh Akmal.


"Kamu istirahat aja, kamu pasti capek," ucap pria itu sembari mengusap kepada Aisyah dengan begitu lembut, membuat wanita itu kembali memejamkan matanya karena merasa nyaman.


"Mas, tadi ada seseorang yang memberikan Khaira boneka, tapi aku nggak tahu siapa, kata Khaira dia lupa nanyain nama tante cantik itu," ujar Aisyah.


"Tante cantik? Siapa?" tanya Akmal.


"Itu yang ingin aku tanyakan, apa Khaira punya tante gitu atau siapa yang dekat dengan dia?" Aisyah bertanya balik.


"Setahuku nggak ada, Sayang. Khaira itu hanya punya tante Aira dan kamu," jawab Akmal.


"Terus dia siapa dong?" Aisyah kini merasa bingung sekaligus khawatir jika benar ada orang asing yang menemui keponakannya itu.


"Apa jangan-jangan dia Citra?" Akmal tampak mengeraskan rahangnya saat menyebut nama seorang wanita.

__ADS_1


"Citra? Siapa dia Mas?"


"Dia ibu kandung Khaira tapi tidak pantas disebut ibu," sarkas Akmal. "Tolong jaga Khaira dari wanita itu, jangan biarkan dia bertemu lagi dengan Khaira," lanjutnya.


"Ya ampun, kupikir ibu kandungnya Khaira udah meninggal." Aisyah bangkit dari tidurnya karena begitu terkejut.


"Anggap saja seperti itu," ucap Akmal ketus.


"Astaghfirullah, nggak boleh gitu, Mas," ucap Aisyah, tapi Akmal malah pergi ke kamar meninggalkannya.


Mood pria itu benar-benar rusak setelah mengungkit wanita yang pernah melahirkan Khaira, ada rasa penasaran di hati Aisyah mengenai alasan Akmal membencinya, tapi jika baru membahasnya sedikit saja bisa merusak mood suaminya, bagaimana ia bisa minta penjelasan lebih?


⚓⚓⚓


Hari sudah malam, tapi Khaira masih asik bermain dengan boneka teddy bear yang baru saja ia terima siang tadi.


"Loh, cucu oma kok belum tidur?" Seperti biasa, sebelum tidur Ibu Sofi akan menengok sang cucu di kamarnya untuk memastikan apa cucunya itu sudah tidur atau belum.


Namun, berbeda dari biasanya, bukannya tidur, gadis kecil itu justru masih terlihat asik bermain bersama bonekanya.


"Eh Oma, sini-sini main sama boneka baru Khaira," ajak gadis kecil itu sembari memperlihatkan boneka teddy bearnya.


"Wah, Khaira ada boneka baru yah? Bagus banget, hadiah dari Papa yah?" tanya Ibu Sofi dan Khaira menggelengkan kepalanya.


"Dari Om Akmal?" Khaira kembali menggeleng pelan.


"Oh Oma tahu, pasti dari tante Ainun kan?" Ibu Sofi mengerutkan keningnya saat Khaira kembali menggelengkan kepalanya.


"Loh, lalu siapa dong?" tanya Ibu Sofi.


"Dari tante cantik, Oma," jawab Khaira sembari memainkan bonekanya.


"Tante cantik? Siapa dia, Sayang?"


"Khaira juga nggak tahu namanya Oma, tapi tantenya cantik banget," jawabnya begitu polos.


"Sayang, lain kali jangan terima barang dari orang asing yah, bahaya." Ibu Sofi mencoba mengingatkan sang cucu, tapi jawaban yang ia terima membuatnya bungkam.


"Nggak boleh su'udzon Oma," ujar Khaira, membuat Ibu Sofu hanya bisa geleng-geleng kepala.


-


Usai membujuk Khaira untuk tidur, Ibu Sofi hendak membicarakan apa yang terjadi dengan Khaira kepada Zafran. Namun, melihat sang putra yang tampak masih sibuk di ruang kerjanya, membuat wanita paruh baya itu mengurungkan niatnya.


⚓⚓⚓


Esoknya, di jam istirahat seperti kemarin, lagi-lagi Khaira di panggil oleh wanita yang sama. Awalnya gadis kecil itu menolak, tapi melihat wajah sendu wanita itu, Khaira menjadi tidak tega.

__ADS_1


"Maaf tante siapa yah? Kata Ummi, Khaira nggak boleh ketemu sama orang asing," ucap Khaira apa adanya.


"Sayang, tante bukan orang asing, nama tante ...."


"Maaf, anda siapa?" Aisyah tiba-tiba datang sebelum wanita itu menyelesaikan perkataannya.


"Ummi, ini dia tante cantik yang Khaira ceritakan kemarin," ujar Khaira.


Aisyah menatap penampilan wanita itu, rambut hitam bergelombang yang di gerai begitu indah, drees selutut yang sedikit membentuk tubuhnya, sangat cantik.


"Ummi?" batin wanita itu. "Apa kamu ibunya Khaira?" tanyanya kemudian.


"Kamu belum menjawab pertanyaanku, siapa kamu?" Kali ini Aisyah berbicara dengan nada tegas.


"Apa bisa kita bicara berdua?" lirihnya kepada Aisyah.


Aisyah sejenak terdiam, sembari berpikir.


"Khaira Sayang, kamu kembali ke kelas dulu yah," bujuk Aisyah dan langsung di turuti oleh Khaira.


Kini tinggal Aisyah dengan wanita itu yang duduk bersama di taman yang tidak jauh dari sekolah.


"Kenalkan, namaku Citra, aku adalah ibu kandung Khaira. Apa kamu ibu sambungnya?"


Aisyah sedikit terkejut saat menyadari apa yang dipikirkan suaminya kemarin adalah benar. "Bukan, aku istri dari Omnya, bisa kamu jelaskan apa yang terjadi antara kamu dan Khaira agar aku tidak bingung?"


"Baguslah kalau begitu," batin wanita itu bahagia.


"Begini, satu tahun setelah melahirkan Khaira, aku dan Mas Zafran mengalami sedikit masalah sehingga membuat kami harus berpisah, dan dengan begitu terpaksa aku tidak bisa bertemu Khaira," ucapnya terhenti sembari mengusap air matanya.


"Dan sekarang, aku sangat merindukan putriku, tidak apa-apa kan jika aku menemuinya di sini? Kumohon," ucap wanita itu memelas.


Aisyah sejenak merenungi permintaan wanita itu, ia juga mengingat pesan Akmal. Meski Aisyah tidak tahu apa masalah yang membuat wanita itu berpisah dari Zafran, tapi apakah benar jika ia harus melarang ibu dan anak bertemu? Apakah itu tidak jahat, padahal mereka sudah sangat lama berpisah. Sebagai seorang wanita yang pernah kehilangan anak, Aisyah sangat mengerti perasaan wanita itu.


"Baiklah, tapi dengan satu syarat, kamu hanya boleh menemuinya di sini dan Khaira harus selalu bersamaku," ujar Aisyah akhirnya dan disetujui oleh citra.


⚓⚓⚓


Jam pulang sekolah kini telah tiba, atas permintaan Citra, Aisyah menemani Khaira untuk bertemu sebentar dengannya di taman. Tampak anak itu begitu riang bermain bersama wanita itu.


Meski lama tidak bertemu, tapi dapat ia lihat ikatan batin antara ibu dan anak sangat jelas dari keduanya.


"Aisyah!" teriak seorang pria dengan tatapan tajam kini sedang menatapnya dengan raut wajah yang tidak pernah Aisyah lihat sebelumnya.


"Mas Akmal." Aisyah bangkit dari duduknya dengan wajah yang memucat kala.melihat kilatan amarah di wajah sang suami.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2