Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Kembali Bersama


__ADS_3

Sebelumnya,


Seorang pria sedang menatap laut dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya. Bagaimana tidak, hari ini, adalah hari terakhir kontraknya bekerja di pelayaran, dan ia tidak lagi melanjutkan kontrak itu karena ingin fokus membangun bisnis bersama sang istri.


"Mal, ini ramuan dari nenekku, kemarin saat cuti beliau membuatkannya untukku, untung aku ingat kau pengantin baru jadi kau dan istri yang lebih cocok meminumnya," ucap Agung sembari memberikan sebuah paper bag kecil berisi beberapa bungkus ramuan.


"Tunggu dulu, nenek yang kau bicarakan ini bukan nenek yang dulu ingin kenalan sama aku kan?" tanya Akmal dengan wajah di buat serius.


"Kurang asam kau, ini beneran nenekku, ngapain juga dia mau kenalan sama laki-laki bau kencur kayak kau," gerutu Agung, membuat Akmal tertawa.


"Jadi ini ramuan apa?" tanya Akmal setelah puas tertawa lalu mengambil paper bag itu.


"Ini ramuan penambah kesuburan. Kau tahu, setelah minum ini, nenekku dan mamakku bisa bentuk tim sepak bola," ujar Agung.


Akmal mengernyitkan alisnya merasa bingung dengan maksud perkataan temannya itu. "Memangnya apa hubungan kesuburan dengan tim sepak bola?"


"Astaga kau ini ganteng-ganteng tapi telmi, maksudnya nenekku dan mamakku punya sebelas anak, semuanya terjadi setelah minum ramuan ini, tapi atas izin Allah tentunya," jelas Agung.


"Wah, luar biasa, tapi kenapa anakmu hanya dua? Apa kau tidak meminumnya?" tanya Akmal.


"Aku tidak minum memang, bisa repot istriku kalau harus mengurus banyak anak di saat aku tidak di rumah," jawab Agung.


"Baiklah, terima kasih yah," ucap Akmal dan dijawab anggukan oleh Agung.


-


Kapal yang membawa Akmal akhirnya sandar di dermaga untuk istirahat, sementara Akmal langsung turun setelah berpamitan dengan semua rekan kerja dan Captainnya. Pria itu menaiki taksi online lalu segera pergi ke rumah Billy untuk menagih tugasnya terlebuh dahulu.


Rumah sederhana, tapi memiliki ruang bawah tanah yang cukup mewah, begitulah gambaran rumah Billy yang di tangkap oleh Akmal. Jika hanya lewat di depan rumah, terlihat tak ada yang istimewa dari rumah itu. Namun, ketika sudah sampai di ruang bawah tanah melalui jalan rahasia, barulah terlihat bahwa si empunya rumah adalah orang luar biasa.


"Ini adalah semua bukti yang aku dapatkan tentang hubungan Andreas dan Mustavia. Mereka sudah berhubungan sejak 3 tahun lalu hingga beberapa bulan yang lalu, dan setelah itu tak pernah lagi kutemukan bukti komunikasi mereka. Untuk Mustavia sendiri adalah seorang yatim piatu tanpa sanak keluarga, dia tumbuh dan besar di panti asuhan," jelas Billy seraya menyodorkan data diri tertulis dari Via.


"Astaga, jadi selama ini aku ditipu oleh wanita ini, dia mengatakan memiliki keluarga yang sakit langka. Ah sudahlah, lagi pula dia bukan lagi urusanku," ujar Akmal menjauhkan kertas yang berisi data diri Via dari hadapannya.


"Oh iya, aku mendapat pesan dari istriku, katanya dia mencabut tuntutannya atas Via yah?" tanya Akmal.


Ya, selama berpisah, Akmal dan Aisyah hanya sempat berkomunikasi sebanyak 1 kali, setelah itu tidak pernah lagi karena Akmal begitu fokus untuk bekerja, kalau pun sedang mengisi muatan, Akmal hanya akan mengirimkan uang kepada Aisyah. Ia sengaja mengambil kontrak satu tahun tanpa cuti agar ia bisa memaksimalkan kerjanya dan mengumpulkan modal secara maksimal agar ia bisa segera kembali bersama sang istri dan membuka usaha bersama.

__ADS_1


Dan sebagai istri, Aisyah selalu mengirimkan pesan kepada Akmal untuk meminta izin jika ingin pergi keluar rumah, ia juga selalu menceritakan apa yang ia lakukan setiap hari, meski ia sadar Akmal tidak akan membacanya.


"Iya, tiga bulan setelah masuk jeruji, istrimu membebaskan Via, tapi sebelum itu, istrimu rutin mengunjunginya tiap bulan dan membawakannya susu dan vitamin ibu hamil," terang Billy.


"Masya Allah, sungguh baik istriku itu," lirih Akmal sembari membayangkan wajah sang istri.


"Eh, jangan menghayal dulu, aku belum selesai melaporkan semua tugasku padamu," kejut Billy, membuat Akmal mendengus kepadanya.


"Ini adalah data diri Andreas dan laporan bisnisnya. Tak ada yang salah dalam menjalankan bisnis, semuanya bersih. Kesalahannya hanya terletak pada mata keranjangnya. Ish, dasar tua bangka mata keranjang," lapor Billy disertai umpatan.


"Kenapa kau sensi sekali?"


"Dia sudah tua bangka tapi dengan mudahnya mendapatkan wanita, sementara aku? Sampai sekarang aku masih jomblo."


Kali ini Akmal benar-benar tertawa lepas mendengar umpatan sekaligus curcol dari dari pria bujang di hadapannya itu.


"Makanya, jangan selalu mengurung diri di ruang bawah tanah, sekali-kali keluarlah untuk mencari istri."


"Bagaimana caranya, kau tahu, hingga saat ini hanya 1 gadis yang aku tahu selain ibuku."


"Aira, apa dia sudah dewasa? Bolehkah aku menikahinya Broku?"


"Apa? Aira? Awas kau!"


Akmal menatap tajam Billy yang kini justru malah tertawa bahagia karena berhasil membuat temannya itu kesal, siapa suruh dia menertawakannya tadi.


⚓⚓⚓


Akmal turun dari taksi tepat di depan rumah Zafran dengan memakai topi dan kacamata hitam, ia tahu jika hari ini adalah hari syukuran aqiqah anak Zafran dan Ainun dari pesan Aisyah. Pria itu melangkah cepat mencari keberadaan sang istri, tapi yang pertama kali menyadari kehadirannya justru sang adik, Aira.


"Hah? Kak Aak emmmm." Akmal menutup mulut Aira dengan cepat, jangan sampai rencananya untuk mengejutkan sang istri gagal.


"Bisa tenang nggak sih, Dek? Aku mau kasi kejutan buat istriku, di mana dia?" Akmal berbicara lirih.


"I-iya kak, iya, sana ambil aja tuh istri kakak, dia ada di kamar Khaira," jawab Aira sedikit kesal.


"Oke, makasih adikku tersayang." Akmal mengacak-acak kerudung Aira membuat gadis itu semakin mendengus kesal.

__ADS_1


Akmal segera melangkah menuju kamar Khaira, dari jauh ia sudah melihat Aisyah duduk membelakanginya.


"Gimana mau dilahirin, Om kamu aja masih di tengah laut, entah dia masih mengingatku atau tidak," ujar Aisyah, membuat pria itu menahan senyum.


"Memangnya dia belum pulang?" tanya Ainun yang melihat kedatangan Akmal tapi paham akan maksud pria itu.


"Belum, mungkin dia sudah keasikan berteman sama gelombang laut, makanya dia udah lupa kalau istrinya udah lumutan di sini," jawab Aisyah, Akmal semakin berusaha menahan tawanya agar tak sampai kedengaran oleh sang istri.


Akmal mendekati Aisyah lalu menutup kedua matanya dari belakang, tak lupa ia memberikan kode kepada Ainun dan Khaira agar tetap diam.


"Eh astaghfirullah, siapa nih?" Aisyah terkejut dan refleks memegang tangan Akmal, tapi dengan cepat ia menjauhkan tangannya saat menyadari tangan berotot itu adalah tangan pria.


"Eh, siapa sih? Tolong lepasin, bukan mahram loh." Aisyah berusaha menggerakkan kepalanya agar tangan yang menutupi matanya terlepas, tapi bukannya terlepas, Akmal justru semakin menahan tangannya agar tak bergeser sedikit pun lalu mengarahkan Aisyah untuk keluar dari kamar itu.


"Ainun, tolong aku, aku mau dibawa kemana nih?" teriaknya mulai panik.


Hingga mereka tiba di kamar Akmal, pria itu langsung menutup pintu kamarnya, lalu menjauhkan tangannya dari sang istri. Aisyah dengan cepat berbalik untuk melihat siapa yang berani sekali menyentuhnya dengan tatapan tajam.


Tatapan tajam itu seketika mengendor dan berubah bahagia saat melihat siapa yang berada di belakangnya saat ini.


"Mas, kamu udah pulang?" tanya wanita bercadar itu dengan suara bergetar dan mata yang mulai berembun.


Akmal hanya menganggukkan kepala lalu menarik sang istri ke dalam dekapannya. "Aku merindukanmu, Sayang,, sangat merindukanmu."


"Aku juga, Mas. Jangan pergi lagi yah."


"Iya, Sayang." Akmal melepas pelukan Aisyah. "Sekarang, biarkan aku melihat wajah istriku yang sangat kurindukan ini," ucap Akmal lalu membuka cadar Aisyah.


Akmal tersenyum menatap wajah cantik yang selalu ingin ia lihat selama satu tahun ini. Akhirnya di sinilah ia sekarang setelah melewati ombak yang beberapa kali menghantam kepercayaan mereka satu sama lain.


"Terima kasih karena sudah sabar menungguku dan selalu mempercayaiku, Sayang," ucap Akmal lalu mengecup kening sang istri, cukup lama ia mengecupnya hingga membuat dahaga akan kerinduannya terobati.


"Terima kasih juga, Mas, karena udah percaya dan jujur padaku." Aisyah memejamkan matanya merasakan kehangatan akan kecupan lembut dari sang suami yang sangat ia rindukan.


"Mula saat ini, kita akan menjalani kehidupan rumah tangga kita seperti sebelumnya, selalu bersama, berbagi cerita, suka dan duka dihadapi bersama, tak ada lagi pengganggu, jika masih ada maka kita akan hadapi bersama."


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2