
Siang hari yang cerah dan sedikit berawan, embusan angin yang begitu sejuk menerpa wajah cantik wanita yang tengah beristirahat di belakang rumahnya. Tepat satu jam yang lalu ia telah kembali ke rumah bersama sang suami.
Semenjak Aisyah sakit, Akmal memanfaatkan jam makan siangnya di kantor untuk menemani sang istri makan atau bahkan membuatkan makan siang untuknya. Seperti saat ini, Akmal menyuruh Aisyah untuk beristirahat, sementara ia sibuk berkutat dengan perabotan masaknya di dapur.
"Nasi goreng seafood plus susu hangat ala chef Akmal telah siap, silahkan dicicipi ratuku tercinta," ujar Akmal sembari membawa nampan berisi sepiring nasi goreng dan segelas teh, lalu menyajikannya di meja yang berada tepat di samping Aisyah.
"Terima kasih, Mas," ucap Aisyah sembari memperbaiki duduknya dan bersiap untuk makan.
"Ets, biar aku yang menyuapimu." Akmal menahan tangan Aisyah yang hendak mengambil sendok.
"Tapi aku udah baikan, Mas."
"Nggak apa-apa, Sayang. Aku hanya ingin memanjakanmu, apa ada larangan memanjakan istri yang sehat?" Aisyah menggelengkan kepalanya pelan.
"Nah itu tahu," ucap Akmal lalu mengambil sendok. "Bismillaahirrahmaanirrahiiim, aaaa. " Akmal menginstruksikan Aisyah untuk membuka mulut dan memasukkan makanan ke mulutnya.
"Sekarang giliran kamu yang makan, aaaa." Aisyah segera mengambil alih sendok untuk menyuapi Akmal sebagaimana yang dilakukan Akmal kepadanya beberapa detik yang lalu.
"Terima kasih, Sayang. Padahal aku bisa makan nanti setelah kamu selesai makan," ucap Akmal.
"Jika kamu menungguku, kamu bisa telat kembali ke kantor, COO kok terlambat masuk kantor sih, kan nggak bagus dengarnya," ujar Aisyah, membuat Akmal tersenyum.
"Oh iya, kemarin aku lupa mengabarkan jika Via telah di tangkap polisi," ungkap Akmal.
"Kenapa sampai di tangkap? Kan dia bisa bicara baik-baik ke kita," tanya Aisyah.
"Orang seperti dia tidak bisa tenang sampai keinginannya tercapai, dia selalu saja dendam, dendam dan dendam," jelas Akmal.
"Iya, Mas, semoga dia bisa berubah. Oh iya terima kasih untuk semuanya," ucap Aisyah.
"Sama-sama, Sayang," ucap Akmal sembari mengecup kening sang istri.
Entah kenapa semua apa yang ada pada Aisyah selalu membuat Akmal merasa tenang. Terutama kening wanita itu, meski apa yang ia lakukan sangat sederhana, tapi ia betul-betul mendapatkan ketenangan tiap kali mengecupnya beberapa detik. Begitu pun dengan Aisyah yang selalu merasa nyaman saat Akmal memberikan kecupan di keningnya, seolah ia merasa sangat disayangi dan sangat dijaga.
Acara makan bersama antara pasangan suami istri itu kini berakhir saat makanan yang tadinya full di piring kini telah habis tak tersisa. Akmal membantu Aisyah untuk beristirahat di dalam kamarnya sebelum ia berangkat kembali ke kantor.
⚓⚓⚓
Zafran dan Ainun saat ini sedang menikmati sarapan romantis mereka di Paris. Ainun yang telah resmi menjadi istri seorang Zafran seutuhnya sejak malam pertama mereka di Paris kini tidak lagi sepemalu dulu saat mereka baru menikah.
"Mas, aku rindu sama Khaira. Apa saat ini dia sudah pulang sekolah?" tanya Ainun.
__ADS_1
"Sepertinya sudah, Sayang," jawab Zafran.
"Apa boleh nanti aku video call dengannya?" tanya Ainun.
"Astaghfirullah, apakah seorang Ibu harus meminta izin tiap kali ingin berbicara dengan putrinya?" tanya Zafran merasa heran dengan istrinya itu.
Entah sudah berapa kali Ainun selalu meminta izin kepadanya tiap kali ingin menghubungi Khaira, seolah wanita itu bukan siapa-siapa untuk gadis kecil itu.
"Maaf, Mas. Kadang aku masih lupa jika aku sudah menjadi ibunya Khaira," jawab Ainun seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jangan bilang kamu juga kadang lupa kalau kamu sudah menjadi istriku?" selidik Zafran.
"Sejujurnya iya, bahkan sampai sekarang aku selalu hampir teriak tiap kali melihat wajah Mas di hadapanku saat bangun pagi," jawab Ainun sembari nyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Zafran ternganga mendengar jawaban jujur sang istri. Sebegitu polosnya wanita ini hingga statusnya sendiri ia lupa.
"Bisa-bisanya kamu lupa, padahal tiap malam kita ... Ah sudahlah." Zafran melepaskan sendok dan garpu lalu melemparkan pandangannya ke tempat lain. Jangan lupakan bibir yang sedikit mengerucut sebagai pertanda bahwa ia sedang merajuk.
"Mas, kamu marah?" tanya Ainun.
"Mas Zafran?" ulangnya karena tak mendapat respon dari pria itu.
Mendengar pernyataan Ainun, hati Zafran seketika luluh. Ia begitu bersyukur karena mendapatkan istri yang terjaga, dan ia menjadi pria pertama di hati sang istri setelah ayah dan adiknya tentu saja.
Bibir mengerucut pria itu seketika sirna dan berubah menjadi senyuman. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi Ainun, membuat wanita itu langsung mengangkat wajahnya menatap sang suami.
"Aku mencintaimu, Sayang. Tolong jangan pernah tinggalkan aku apa pun yang terjadi," ungkap Zafran dengan suara lembut.
Ainun mengusap pelan tangan Zafran yang masih menyentuh pipinya dan mengangguk sembari tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Mas."
Mata Zafran kini tampak berbinar, pasalnya ini kali pertama Ainun mengungkapkan jika ia juga mencintainya. Padahal Zafran sudah beberapa mengungkapkan perasaannya dan baru kali ini perasaannya itu terbalaskan melalui kata-kata.
-
Usai sarapan bersama, Ainun dan Zafran kembali ke kamar mereka di hotel yang sudah beberapa hari ini menjadi tempat tinggal mereka selama di Paris.
Sesuai perkataannya tadi, Ainun segera melakukan video call bersama putri sambungnya.
"Halo, assalamu 'alaikum, Mama." Terdengar suara cempreng dari seberang telepon disertai wajah mungil yang sangat menggemaskan.
"Wa'alaikum salam, Sayang. Bagaimana kabarmu dan Oma?"
__ADS_1
"Alhamdulillah baik Mama, Mama kapan balik? Khaira kangen Mama." Suara Khaira terdengar sedikit merengek manja ditambah ekspresi wajahnya yang dibuat sesedih mungkin.
"Mama juga kangen sama Khaira, insya Allah dua hari lagi yah, Sayang," jawab Ainun.
"Khaira kok nggak kangen sama papa sih?" tanya Zafran dengan wajah yang juga di buat sedih.
"Khaira juga kangen Papa, kok," ucap Khaira disertai tawa kecil. "Jangan lupa oleh-oleh yah," lanjutnya.
"Khaira mau oleh-oleh apa, Sayang?" tanya Ainun.
Terlihat Khaira sedang berdiskusi sejenak dengan Ibu Sofi. "Khaira mau adek bayi," ungkapnya, membuat Ainun terdiam sembari melirik ke arah Zafran yang sudah tertawa pelan.
"Ih, kok Mas malah ketawa sih?" tanya Ainun pelan.
"Nggak apa-apa kok Sa...." ucapan Zafran terpotong saat tiba-tiba ponselnya berdering.
"Kamu lanjut bicaranya sama Khaira, aku angkat telepon dulu," ucap Zafran lalu pergi ke balkon untuk mengangkat telepon.
"Halo, assalamu 'alaikum Pak Andreas," ucap Zafran.
Zafran mendengar perkataan pria di seberang telepon dengan seksama, semakin lama keningnya semakin mengerut.
"A-apa, Pak?"
⚓⚓⚓
Akmal mulai kembali fokus dengan pekerjaan yang sudah menantinya dengan begitu setia di atas meja. Atensinya ke layar komputer seketika beralih saat ponselnya berbunyi tanda adanya pesan masuk.
Sekretaris Pak Andres
Halo, Sayang. Apa kau tidak merindukanku, aku sedang mempersiapkan sebuah hadiah untukmu, tunggulah beberapa saat lagi semoga kamu menyukainya.
Akmal mengernyitkan alisnya saat menyadari pengirim pesan itu adalah Via.
Bukankah dia sudah dipenjara? Mengapa dia masih bisa mengirim pesan? Hadiah apa yang dia maksud?
Masih merasa bingung dengan pesan itu, tiba-tiba suara ketukan pintu membuatnya tersadar.
"Maaf, Pak. Kita mendapat masalah besar.
-Bersambung-
__ADS_1