Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Rasa Bersalah


__ADS_3

Billy


Ini foto asli, tapi asli ngibulnya 😂


^^^Anda^^^


^^^Hahaha, bisa aja kau. Oh iya, thanks, Bro. Btw, bantuin lagi dong 🙏^^^


Billy


Apaan?


^^^Anda^^^


^^^Tangkap dia^^^


⚓⚓⚓


Suara pesan masuk di ponsel Aisyah membuat aktivitas bersih-bersih wanita itu terhenti sejenak. Ia tersenyum saat melihat nama kontak Zauiji sebagai pengirim pesan. Namun, senyumnya seketika hilang saat melihat foto yang dikirim sang suami.


Foto yang berisi gambar Aisyah yang masih lengkap dengan cadar dan di belakangnya ada seorang pria yang seolah sedang berdempetan dengannya.


"Astaghfirullah, ini foto apa? Kok aku bisa sedekat ini sama laki-laki yang bahkan tidak kukenali," monolognya begitu terkejut. Ia hendak menghubungi Akmal, tapi rupanya ia kalah cepat sebab kini sebuah panggilan video call dari sang suami sudah masuk lebih dulu.


Aisyah menarik napas sejenak lalu mengembuskannya perlahan seraya mempersiapkan kata-kata yang akan ia gunakan untuk menjelaskan tentang foto yang tidak benar itu.


"Assalamu 'alaikum," ucapnya setelah mengangkat panggilan itu. Ingin sekali rasanya ia meluapkan kebahagiaan dan kerinduannya saat melihat wajah pria yang sangat ia rindukan. Namun, kehadiran foto itu berhasil membuatnya takut sekaligus malu sebagai wanita.


"Wa'alaikum salam, udah lihat foto yang aku kirim?" tanya pria itu dengan wajah datar.


"Sudah, Mas. Tapi foto itu palsu, aku nggak pernah berfoto sama laki-laki seperti itu, aku bahkan tidak mengenali laki-laki itu," jawabnya dengan raut wajah khawatir, khawatir jika Akmal tidak mempercayainya.


Bukannya menjawab, malah terdengar suara tawa dari Akmal di seberang telepon.


"Kamu kenapa ketawa?" tanya Aisyah bingung.


"Itu adalah foto yang di kirim Via, mungkin dia mengira aku sangat polos hingga ingin menipuku dengan foto editan seperti itu," jawab Akmal.


"Jadi kamu percayakan sama aku? itu hanya editan," tanya Aisyah.


"Tentu saja aku mempercayaimu, Sayang. Kamu tenang saja, dia tidak akan lagi mengganggumu karena Billy sudah mengurusnya," ujar Akmal.

__ADS_1


"Billy?"


"Iya, dia temanku saat SMA-ku, aku memintanya melaporkan Via ke kantor polisi atas tuduhan penyebar berita palsu, dan Billy sudah memastikan Pak Andreas tidak akan bisa melepaskannya."


"Tapi, Mas. Kasihan dia kalau di penjara, dia hamil loh," ujar Aisyah.


"Tidak apa-apa, lebih baik dia dipenjara daripada dia mengganggumu, bahkan dia bisa saja mencelakaimu jika dibiarkan terus," terang Akmal.


Cukup lama mereka berbicara sembari melepas rasa rindu yang sudah menggerogoti hati mereka. Ada rasa lega setelah semuanya jelas dan tak ada yang ditutupi. Pada akhirnya saling percaya dan jujur satu sama lain membuat hati mereka tenang.


⚓⚓⚓


Tiga bulan kemudian,


Seorang wanita bercadar sedang berjalan menyusuri koridor lapas sembari menenteng sebuah kantongan yang berisi banyak barang.


Ia memasuki sebuah ruangan di mana sudah ada meja dan dua kursi yang saling berhadapan. Tak lama setelah itu, seorang wanita dengan seragam jingga khas tahanan datang dengan diantar oleh seorang sipir dan mendudukkannya di kursi. Terlihat jelas perutnya yang semakin membesar meski tertutupi oleh seragam longgar yang melekat di tubuhnya.


"Ini sudah ketiga kalinya kau datang kesini, apa maksudmu? Jika kau ingin menertawakanku silahkan saja, aku sudah tidak peduli," ujar Via ketus.


Aisyah hanya tersenyum tanpa menjawab lalu mengambil kantongan yang ia bawa.


"Ini adalah susu hamil yang di kemas dalam kotak siap minum. Kamu bisa meminumnya dua kali sehari. Lalu yang ini adalah vitamin untuk kesehatanmu dan kandunganmu," jelas Aisyah.


"Aku tidak mengasihanimu, harusnya kamu bersyukur karena Allah masih mempercayaimu memiliki anak terlepas dari kesalahan yang kamu lakukan hingga anak itu hadir. Banyak yang menginginkan anak, tapi belum diizinkan oleh Allah termasuk aku, seperti katamu waktu itu."


Via seketika menatap wanita yang duduk di hadapannya itu.


"Aku pernah berada di posisimu, mengandung anak dan merasakan morning sickness, sayangnya itu hanya berlangsung 2 bulan," ujar Aisyah tersenyum tipis.


Via diam mendengar perkataan Aisyah, ia tidak menyangka ternyata istri dari Akmal ini tidaklah mandul, dia bahkan pernah hamil sebelumnya.


"Aku mengalami kecelakaan yang berujung gugurnya kandunganku, dan satu ovariumku harus diangkat. Kamu beruntung karena masih memiliki segalanya. Selagi Allah mempercayaimu, tolong jaga amanah itu dengan baik, kamu ibunya, Vi," tukas Aisyah.


Tanpa di sadari, air mata Via mulai membasahi pipi, rasa sesak memenuhi dada wanita itu, ada rasa penyesalan yang merangkul hatinya setelah mendengar cerita Aisyah, perlahan tangannya terangkat untuk mengusap perut buncitnya.


"Kenapa kamu masih baik kepadaku setelah apa yang kulakukan padamu dan suami kamu?" tanya Via lirih sembari tertunduk dengan suara yang bergetar.


"Karena aku wanita, Vi, aku mengerti perasaan dan situasimu. Bagaimana pun juga setelah semua ini kamu harus hidup dengan baik, beri kesempatan kepada dirimu sendiri untuk berubah jadi lebih baik, setidaknya demi anak kamu, bersamamulah kelak dia tumbuh dan belajar banyak hal," jelas Aisyah seraya memegang tangan Via.


Via tidak langsung menjawab, ia diam sejenak, kemuadia mulai berkata "Terima kasih, Aisyah, terima kasih," lirihnya mulai terisak.

__ADS_1


Aisyah menepuk pelan tangan Via, mencoba memberikan kekuatan kepada wanita itu, sungguh apa yang ia alaminya saat ini sangat berat, tapi bagaimana pun semua itu adalah hasil dari apa yang ia perbuat dimasa lalu.


"Kamu harus kuat, Vi. Aku yakin kamu adalah Ibu yang hebat. Aku pamit dulu," ucap Aisyah lalu beranjak dari kursi dan berjalan keluar meninggalkan Via yang tertunduk dan menangis.


--


Via berjalan gontai menuju ke tempatnya di balik jeruji, tangannya menenteng apa yang baru saja di berikan oleh Aisyah.


"Masuklah dan kemasi barangmu, setelah ini kamu boleh keluar," ujar sipir wanita yang membawa Via.


"Apa maksudmu?" tanya Via sedikit bingung.


"Wanita yang tadi menjengukmu telah mencabut tuntutannya, dan kau bebas hari ini."


Bagai ditimpa beban berat, kaki Via seketika terasa lemas dan luruh ke lantai. Wanita itu kembali terisak, lagi-lagi rasa bersalah menyelimuti hatinya. "Terima kasih Aisyah, aku sadar kamu wanita baik, beruntung Akmal memilikimu. Aku berjanji, setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi."


⚓⚓⚓


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, begitu banyak hal yang terjadi selama itu, tak hanya menoreh kenangan yang menguras emosi, tapi juga membuat berbagai kenangan yang begitu indah, penuh cinta dan rindu yang tak bisa digambarkan oleh kata-kata.


Hari ini bertepatan dengan hari syukuran aqiqah anak Ainun dan Zafran yang sempat tertunda selama dua bulan. Semua keluarga datang untuk mendoakan secara langsung. Mulai dari keluarga Zafran dan Ainun sendiri, keluarga Aisyah dan Bude Luna, Ibu Shalwa dan Aira yang sudah lulus kuliah dan bekerja di kota yang sama dengan Aisyah saat ini. Bahkan mereka tinggal di rumah Aisyah dan Akmal selama pria itu berlayar.


"Assalamu 'alaikum Baby Umar, masya Allah ucul banget sih," ucap Aisyah sembari mencolek hidung bayi laki-laki berusia 2 bulan yang berada di gendongan Ainun.


"Terima kasih, Ummi," jawab Khaira menirukan suara bayi seolah itu adalah suara adiknya yang menjawab.


"Khaira senang nggak punya adik?" tanya Aisyah sembari menarik gadis kecil itu ke atas pangkuannya.


"Senang dong, Ummi," jawab Khaira begitu semangat.


"Kalau Ummi bawa adik kamu gimana? Ummi kan juga mau punya adik bayi," ucap Aisyah dengan wajah sedih.


"Ummi lahirkan aja adik bayi kayak Mama kemarin, ini adik Khaira, nggak boleh dibawa ke mana-mana," tolak Khaira.


"Gimana mau dilahirin, Om kamu aja masih di tengah laut, entah dia masih mengingatku atau tidak," ujar Aisyah dengan wajah lesu.


"Memangnya dia belum pulang?" tanya Ainun.


"Belum, mungkin dia sudah keasikan berteman sama gelombang laut, makanya dia udah lupa kalau istrinya udah lumutan di sini," jawab Aisyah.


"Masa sih, Sya? Terus yang di belakang kamu itu siapa?"

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2