
Pagi yang cerah mengganti malam yang gelap, sang surya terbit membawa kehangatan laksana sebuah asa yang membawa doa dalam setiap usaha.
Hari ini adalah hari ketiga Akmal mencari pekerjaan di berbagai jenis perusahaan. Meski begitu, semangat pria itu untuk mencari pekerjaan tak pernah surut. Terbukti dari begitu banyak situs lowongan yang ia buka di internet lalu ia catat nama dan alamat perusahaan tersebut ke dalam kertas kecil.
Padahal Zafran telah menawarkan Akmal untuk mengurus restoran yang berada di Singapura, tapi pria itu menolaknya karena jarak yang juga jauh, ia pun tidak terlalu yakin dengan kemampuannya jika di alihkan ke restoran.
"Mas, sarapan dulu," ajak Aisyah kepada sang suami yang sejak tadi duduk di teras rumah dengan ponsel, kertas dan pulpennya.
"Oke Sayang, ayo." Akmal melangkah lebih dulu ke dalam rumah, ia tidak menyadari jika Aisyah tidak ikut berjalan di sampingnya karena masih fokus dengan ponsel yang menampilkan berbagai lowongan kerja.
Sementara Aisyah diam terpaku menatap kertas kecil yang berisi beberapa nama perusahaan lengkap dengan alamatnya.
"Apakah aku egois? Menahan suamiku di sini yang begitu sulit mencari kerja, sementara lowongan kerja di lautan sana sedang menantinya?"
Aisyah memejamkan matanya untuk menahan bulir bening yang hendak kembali menerobos keluar. Dadanya terasa begitu sesak saat rasa trauma dan simpati kepada suaminya beradu di dalam sana, ia benar-benar bimbang saat ini.
"Kenapa nggak ikut ke dapur?" tanya Akmal dari belakang membuatnya tersadar dan refleks berbalik ke arah pria itu.
Melihat kertasnya berada di tangan Aisyah, membuat Akmal dengan cepat mengambil kertas itu dan menyimpannya ke dalam saku kemeja yang ia kenakan saat ini.
"Jangan melihatnya Sayang, kamu akan pusing jika melihat tulisan cakar ayam itu," candanya lalu merangkul pundak Aisyah dan mengarahkannya ke dapur untuk sarapan bersama.
Sarapan pagi kali ini terasa begitu hening, hanya terdengar suara dentingan sendok yang mengiringi tiap suapan mereka.
"Mas, apa hari ini kamu akan melamar kerja lagi?" tanya Aisyah.
"Insya Allah, Sayang," jawab Akmal.
Aisyah membuang napas kasar, hatinya benar-benar tersiksa saat harus berperang melawan rasa takutnya. "Mas ...."
"Iya, Sayang?"
"Terima saja tawaran Pak Bagas yang kemarin mengajakmu kembali berlayar."
Akmal mengernyitkan alisnya mendengar perkataan sang istri. "Dari mana kamu tahu tentang Pak Bagas dan tawarannya, Sayang?" tanyanya.
"Waktu kamu berbicara di balkon kamar, aku tidak sengaja mendengarnya, Mas. Maaf," tutur Aisyah.
Akmal menatap sendu Aisyah yang duduk di hadapannya. "Tidak apa-apa Sayang. Biar aku ikhtiar mencari kerja di sini bersama kamu."
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Mas. Itu memang skill Mas, aku ikhlas kok," ucapnya tertunduk sembari meremas kedua pahanya agar tidak menangis di hadapan Akmal.
"Sayang, tatap mataku," titah pria itu.
Aisyah mengangkat wajahnya dengan mata yang sudah memerah dan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk matanya. Melihat kerapuhan sang istri, Akmal langsung bangkit dari kursinya, ia mengitari meja makan untuk dapat menghampiri wanita itu.
Akmal menarik Aisyah ke dalam dekapannya, dan seketika tangis wanita itu pecah. Sangat terasa pelukan erat dari istrinya itu, seolah ia tak ingin berpisah jauh dari sang suami.
"Menangislah Sayang dan keluarkan semua yang mengganjal di hatimu agar hatimu bisa lebih lega," lirih Akmal sembari mengusap rambut panjang Aisyah. Ia tidak peduli lagi dengan kemejanya yang sudah basah karena air mata.
"Mas, a-aku takut jauh dari kamu, aku ... aku takut kamu menemukan wanita lain disana lalu meninggalkanku lagi, hiks," ucap Aisyah sesenggukan.
"Akupun sama, aku takut kamu bosan menungguku," batin Akmal ikut mengeratkan pelukannya dan memejamkan matanya agar tidak ikut mengeluarkan air mata.
-
Hari ini Akmal tetap pergi melamar kerja, ia akan tetap barusaha terkebih dahulu mencari pekerjaan agar tak perlu kembali berlayar. Namun, semuanya nihil, hingga sore hari tiba, tak satu pun perusahaan yang menerimanya.
Sejujurnya, mendapat penawaran kerja langsung dari bosnya adalah kesempatan emas, karena dengan begitu ia bisa langsung kembali bekerja tanpa melalui tahap interview dan lain-lain.
Apalagi mengingat kewajibannya sebagai suami dan anak laki-laki yang harus menafkahi istri sekaligus ibu dan adiknya, tak peduli seberapa kaya keluarga istrinya itu tapi jika menyangkut rumah tangganya maka dirinyalah yang harus bertanggung jawab penuh. Meminta bantuan keuangan dari istri hanya akan melukai harga dirinya.
-
"Assalamu 'alaikum," sapa Akmal yang baru tiba dan langsung mengecup kening Aisyah setelah Aisyah mencium punggung tangannya.
"Mas, ada Bude Luna di dalam," lirih Aisyah sembari merangkul tangan Akmal masuk ke dalam rumah.
"Assalamu 'alaikum, Bude," ucap Akmal sembari mencium punggung tangan wanita paruh baya itu, lalu ikut duduk bersama bude Luna di ruang keluarga.
"Bude dengar dari Ibu Sofi, katanya kamu di pecat yah?" selidik Bude Luna.
"Iya Bude, ini masih nyari lowongan kerja," jawab Akmal sembari tersenyum.
"Sudah dapat?"
"Belum Bude."
Terdengar embusan napas kasar dari wanita paruh baya itu. Raut wajah serius juga terlihat jelas di wajah cantiknya meski sudah sedikit berkeriput.
__ADS_1
"Kamu itu lulusan mana memangnya? Kok nggak ada satu pun perusahaan yang mau terima kamu kerja sih?" tanyanya.
"Mas Akmal lulusan pelayaran Bude, Mas Akmal juga udah dihubungi kok sama Bosnya untuk berkerja kembali," jawab Aisyah yang baru tiba dengan membawa secangkir teh hangat untuk Akmal.
"Benar begitu?" tanya Bude Luna.
"Iya Bude," jawab Akmal.
"Kenapa nggak di terima? Terima aja, jangan sok nolak, karena buktinya sampai sekarang kamu belum dapat kerjaan lain kan, yah asal kamu setia aja di sana," ujar Bude Luna sedikit menohok hati Akmal.
"Bude, Mas Akmal bukannya nolak, tapi Mas Akmal ikhtiar cari yang dekat sini dulu karena nggak ingin ninggalin Aisyah di sini," bela Aisyah.
"Lalu gimana hasilnya? Mau sampai kapan ikhtiar terus? Mau sampai tabungan kalian habis karena banyak pengeluaran tanpa ada pemasukan, gitu?"
Aisyah menatap sang suami yang tertunduk, ia jelas tahu suaminya tidak pernah berpikiran seperti itu tapi ia tak ingin menjawab perkataan Bude yang sedang berbicara karena ia menghormatinya.
Digenggamnya tangan Akmal dengan lembut, membuat pria itu mengulas senyum ke arahnya sejenak lalu menoleh ke arah Bude Luna.
"Iya Bude, jika memang Aisyah mengizinkan, Akmal akan menerima tawaran itu," ucapnya menoleh ke arah Aisyah.
"Nah gitu, tapi ingat, kamu itu udah nikah yah, jangan coba-coba sakiti keponakan bude."
"Iya Bude, Akmal tidak akan menyakiti Aisyah karena Akmal sangat mencintainya."
--
Malam harinya sebelum tidur, Aisyah dan Akmal kembali melakukan pillow talk sebagaimana biasa.
"Sayang, apa kamu ikhlas aku kembali berlayar? Aku tidak akan bekerja selamanya di sana, aku akan mengumpulkan modal terlebih dahulu setelah itu aku akan kembali untuk membuka usaha bersama kamu." Akmal menatap wajah Aisyah yang sedang berbaring di sampingnya..
"Iya, Mas. Jika memang itu yang terbaik, aku ikhlas, tolong jaga hati kamu, Mas." Aisyah memiringkan tubuhnya ke arah Akmal dan menyentuh dada bidangnya.
"Aku berjanji Sayang, kamu juga tolong jaga hati kamu, bersabarlah menungguku."
"Iya Mas, aku berjanji."
Akmal membawa Aisyah ke dalam pelukannya. "Aku akan merindukan pekukan ini," ucap Akmal sembari mengecup pucuk kepala Aisyah.
Salah satu hal terberat dalam menjalani sebuah hubungan adalah terpisah oleh jarak, sebab dibalik beratnya menahan rasa rindu terdapat ujian kesetiaan di dalamnya.
__ADS_1
-Bersambung-