
Mengalah bukan berarti kalah atau tak memiliki upaya, meski ego dalam hati tak ingin kalah, tapi jauh di dalam hati seakan ingin melawan dengan susah payah.
Cinta membuat ego seseorang bertambah, tapi tak jarang, karena cinta seseorang membuang egonya.
Jika sudah seperti ini, jalan mana yang harus di pilih? Mengedepankan ego atau melupakan ego?
⚓⚓⚓
Malam itu, semua orang berkumpul di ruang rawat Zafran yang cukup luas, di mana terdapat sofa dengan ukuran yang besar, cukup untuk beberapa orang. Aisyah dan kedua orang tuanya serta Ainun duduk bersama di sana bersama Ibu Sofi dan Khaira, sementara Akmal lebih memilih selalu berada di dekat Zafran.
Pria itu duduk tepat di samping tempat tidur Zafran, di mana saat ini pria itu sedang dalam keadaan setengah berbaring. Sementara Akmal mengeluarkan laptop dari dalam tasnya lalu mulai kembali bekerja seperti biasa.
Berbeda dengan Akmal, Zafran lebih memilih membaca Al-Qur'an dengan suara pelan. Ayat demi ayat ia lantunkan dengan begitu khusyuk, ia menyelam dan mencari ketenangan dalam setiap firmanNya yang begitu indah. Hingga tidak terasa ia telah menyelesaikan bacaannya dengan kalimat penutup 'shadaqallaahul 'azhim'.
Zafran melirik ke arah Akmal yang masih tetap fokus dalam posisi yang sama. Terlihat jelas wajah adik sepupunya itu begitu lelah. Bagaimana tidak, di samping ia harus tetap bekerja mengurus perusahaan di Indonesia, ia juga mengurus Zafran, dan membantu segala keperluan Ibu Sofi maupun Khaira.
"Akmal," panggilnya pelan, membuat pria di sampingnya itu langsung menoleh ke arahnya.
"Istirahatlah, kamu pasti sangat lelah," ujar Zafran.
"Sebentar lagi, Bang. Tanggung banget ini."
Akmal kembali bekerja, kali ini ia tidak langsung mengiyakan saran dari kakak sepupunya itu. Menurutnya, dalam keadaan seperti ini, semua harus dilakukan tanpa menunda karena hanya akan menumpuk pekerjaan lain di kemudian hari.
"Akmal," panggil Zafran kembali, membuat Akmal lagi-lagi menoleh ke arahnya.
"Apa kamu belum ada keinginan untuk menikah?"
Akmal mengernyitkan alisnya mendengar pertanyaan Zafran yang benar-benar tidak bisa ditebak.
"Kenapa tiba-tiba nanya gitu? Kamu mau nikahin aku, Bang?" tanya pria itu, membuat Zafran membulatkan matanya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, sesakit-sakitnya aku, aku tetap masih pria normal." Entah kenapa mendengarnya saja Zafran sudah cukup merinding.
"Kamu mau nikahin aku sama seseorang? Gitu maksudku, Bang, duh," ucap Akmal segera mengklarifikasi perkataannya sebelum muncul desas-desus tidak benar yang tentu bisa merugikan dirinya di kemudian hari.
Zafran menggelengkan kepalanya pelan. "Memangnya kamu belum punya seseorang di dalam hati kamu?" tanyanya lagi.
"Hmmm, sepertinya belum," jawab Akmal santai sembari memeriksa email masuk di laptopnya.
"Bohong kamu, Mal," batin Zafran. Ia jelas menyadari Akmal sedang menyembunyikan perasaannya dengan tidak lagi menatap ke arahnya seperti tadi saat menjawab pertanyaannya.
"Memangnya yang kemarin aku kenalin sama kamu gimana? Kamu nggak tertarik sama dia?" tanya Zafran oenuh selidik.
"Yang kemarin itu aku nggak srek, Bang. Soalnya dia sedikit cerewet untuk ukuran orang yang baru pertama kali bertemu dengan pria. Aku lebih suka sama wanita yang kalem dan menjaga batasan terhadap pria bukan mahram," jawab Akmal panjang lebar.
"Mirip Aisyah," batin Zafran.
"Kalau temannya Aisyah yang itu?" Zafran mengedikkan dagunya menunjuk Ainun yang tampak sedang bermain dengan Khaira.
"Hufth, dasar pemilih," dumel Zafran, membuat Akmal tertawa pelan.
"Santai saja, Bang. Jangan terlalu memikirkan siapa jodohku. Fokus saja pada kesehatanmu agar saat operasi nanti tubuhmu fit," ujar Akmal lalu kembali melakukan pekerjaannya.
Zafran menatap langit-langit sejenak lalu membuang napas kasar. Ia kembali merenungi tentang bagaimana kelanjutan rencana pernikahannya nanti, apa harus dilanjut atau bagaimana?
⚓⚓⚓
Waktu terus berjalan, hingga tidak terasa dua hari lagi operasi cangkok ginjal Zafran akan di lakukan. Dokter yang akan mengoperasi Zafran mulai mengecek kembali kondisi kesehatan pasiennya itu, agar ia bisa memastikan bahwa pasiennya kali ini bisa di operasi.
Sementara di luar ruangan, Ibu Sofi dan Khaira, berserta Aisyah dan keluarganya sedang menunggu dokter memeriksa keadaan Zafran.
Tak lama setelah itu, Akmal tiba di rumah sakit bersama ibu dan adiknya. Yah, pria itu baru saja menjemput dua wanita beda generasi itu di bandara.
__ADS_1
"Kenapa kalian di luar? Ada apa dengan Bang Zafran?" tanya Akmal dengan raut wajah khawatir. Pria itu mengira sesuatu sedang terjadi pada kakak sepupunya itu.
"Tenanglah, Nak. Dokter saat ini aedang mengecek kesehatan Zafran sebelum melakukan operasi dua hari lagi," jawab Ibu Sofi.
Mendengar hal itu, Akmal langsung membuang napas lega. "Syukurlah, sepertinya aku berpikir terlalu jauh," ucap Akmal sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Di dalam kamar rawat Zafran, terlihat dokter sedang berbicara serius dengan pasiennya.
"Dok, kalau boleh tahu, siapa yang telah mendonorkan ginjalnya kepada saya?" tanya Zafran.
"Maaf, Pak, kami tidak bisa menyebutkan identitasnya karena orangnya sendiri meminta untuk dirahasiakan," ujar dokter itu.
"Kumohon dok, kali ini saja," pinta Zafran memelas.
Namun, yang namanya dokter tentu saja harus menepati janjinya untuk menjaga kerahasiaan pasiennya, itu adalah kode etiknya. Baik pendonor maupun yang didonor adalah sama-sama pasien karena nantinya mereka akan dioperasi.
"Maaf, saya tidak bisa, Pak," tolak dokter itu lagi.
Zafran membuang napas kasar. "Kalau begitu biar saya yang menebaknya, apakah nama si pendonor ginjal adalah Akmal El-Mumtaz?" tanya Zafran sembari menperhatikan gerakan mata dan mimik wajah dokter itu.
Raut wajah terkejut serta gerakan menghindari tatapan mata. Benar, dia adalah Akmal.
"Jika memang orang itu yang akan mendonorkan ginjal untuk saya, maka saya tidak ingin melanjutkan operasi ini," ujar Zafran, seketika membuat dokter itu membulatkan matanya menatap Zafran.
"Maaf, Pak. Tapi kenapa? Sangat sulit mencari donor ginjal yang cocok saat ini, kita tidak tahu bagaimana keadaan Bapak ke depannya, tapi setidaknya selagi ada kesempatan, tolong dimanfaatkan dengan baik," jelas dokter.
"Saya hanya tidak ingin saudaraku itu selalu berkorban untuk saya. Saatnya saya yang berkorban untuk dia," ucapnya dengan suara pelan.
-Bersambung-
Maaf yah kakak, Upnya telat 🙏
__ADS_1