
Setelah kejadian beberapa menit yang lalu, Aisyah memutuskan untuk menunggu Khaira di dalam mobil. Namun, suasana di mobil itu terasa sedikit mencekam. Bukan tanpa alasan, pasalnya Akmal sejak tadi menatap Aisyah dengan tatapan dan aura intimidasi.
"Ekhem, itu, dia memang pernah mengutarakan niat baiknya, tapi langsung ku tolak kok, wong dia udah punya istri," cicit Aisyah mencoba menjelaskan.
"Kalau dia belum punya istri kamu terima dong?" Aisyah merutuki jawaban awalnya yang justru menimbulkan pertanyaan baru.
Aisyah sejenak diam guna mencari jawaban yang paling tepat dan tentu tidak menimbukkan pertanyaan baru.
"Yaa nggak lah, kan udah ada pemilik suara indah yang mengisi hatiku," jawab Aisyah sembari menaik-turunkan alisnya, mencoba menggoda sang Suami.
Akmal sejenak terdiam menatap Aisyah yang masih bertahan dengan ekspresi yang sama, hingga akhirnya pertahannya runtuh dan ia ikut tersenyum melihat tingkah Aisyah.
"Kamu itu yah," ucap Akmal langsung mengecup pucuk kepala Aisyah lalu tertawa bersama.
Tak lama setelah itu, tampak Khaira keluar dari kelasnya. Aisyah hendak turun untuk menjemputnya, tapi Akmal mencegahnya.
"Biar aku saja," ucapnya lalu turun menghampiri Khaira, kemudian membawa gadis kecil itu ke dalam jok tengah mobil.
Akmal mulai melajukan mobilnya ke arah yang berlawanan dengan arah rumah Kiai Rahman.
"Om kita mau kemana? Kok jalannya beda?" tanya Khaira dari belakang.
"Kita mau jemput Papa dan Oma kamu," jawab Akmal.
"Hah? Beneran Om?" Akmal mengangguk sembari tersenyum menatap kaca spion tengah mobil.
"Yeeee akhirnya Papa dan Oma pulang juga," ujar Khaira begitu girang. Aisyah dan Akmal ikut tersenyum melihat kegirangan Khaira.
Tak lama kemudian mereka tiba di bandara. Hanya beberapa menit mereka menunggu, Zafran dan Ibu Sofi sudah terlihat keluar dari pintu kedatangan karena sebenarnya pesawat yang membawa mereka sudah landing sejak tadi.
"Papa ... Oma ...." teriak Khaira langsung berlari menghambur memeluk Ibu Sofi dan Zafran secara bergantian.
Bahkan terlihat gadis kecil itu menangis sesenggukan di pelukan dan gedongan sang Ayah.
__ADS_1
"Zafran, jangan menggendong dulu, ingat luka operasimu belum pulih betul," tegur Ibu Sofi sembari meminta Akmal untuk mengambil alih Khaira yang berada dalam gendongan Zafran.
Mereka semua langsung masuk ke dalam mobil, dan mobil pun melaju meninggalkan bandara, di mana Akmal menyetir, Zafran duduk di sampingnya sembari memangku Khaira yang tak ingin lepas dari sang ayah, sementara Aisyah dan Ibu Sofi duduk di jok tengah bersama.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di kediaman Zafran. Para pelayan dan security menyambut kedatangan mereka dengan antusias. Setelah sekian lama Zafran meninggalkan rumah itu, akhirnya ia bisa kembali dalam keadaan sehat.
Malam harinya, dilakukan syukuran atas kedatangan dan kesembuhan Zafran atas permintaan Zafran sendiri. Beberapa pegawai yang dekat dengan Zafran seperti Fadil, Novi dan beberapa rekan kerja lainnya di undang untuk datang ke rumahnya. Kiai Rahman, Ibu Lina dan Ainun hingga Pak Andreas tak luput dari undangannya.
Rumah yang awalnya sepi kini seketika ramai oleh kedatangan orang-orang. Banyak yang mengucapkan selamat kepada Zafran, Akmal juga senantiasa menemani sang kakak sepupu. Sementara Aisyah dan Ainun ikut berbincang ramah dengan beberapa tamu yang datang.
Hingga saat di penghujung acara, Akmal yang sedang menemani Zafran tiba-tiba dikejutkan oleh panggilan masuk di ponselnya dari nomor tak di kenal. Pria itu berusaha mengabaikan panggilan tersebut tapi ponselnya justru terus berdering tanpa henti. Hingga akhirnya Akmal memutuskan untuk pergi menjauh dari keramaian untuk mengangkat telepon tersebut.
⚓⚓⚓
Di sisi lain, Ainun dan Aisyah sedang menemani pegawai wanita di perusahaan Zafran untuk berbincang ringan termasuk Novi.
"Ngomong-ngomong Mbak ini kerabatnya Pak Zafran dan Pak Akmal yah? Kalau iya pasti Mbak tahu, apa Pak Akmal sudah memiliki kekasih?" tanya Novi kepada Aisyah dan Ainun.
Kedua wanita itu seketika terdiam dan saling pandang. Aisyah baru hendak membuka mulut tapi terhenti saat rekan kerja Novi ikut bersuara.
"Baguslah kalau belum. Mbak bantuin dong deketin aku sama Pak Akmal," pinta Novi dengan percaya dirinya.
"Maaf, Mbak. Pak Akmal itu udah nikah," ujar Aisyah yang mulai terlihat kesal.
"Masa sih, Mbak? Kapan nikahnya? Kok kita nggak tahu yah?" celetuk salah satu rekan kerja Novi.
"Kalian tunggu aja, tidak lama lagi juga Pak Akmal akan mengumumkan," ujar Aisyah lalu pergi dari tempat itu.
Sejujurnya berlama-lama di tempat tadi cukup membuat telinganya terasa panas, buka hanya karena permintaan Novi, tapi juga ungkapan kekaguman dari pegawai lain yang di tujukan kepada suaminya.
Meski begitu, ia tidak berani mengakui dirinya sebagai istri Akmal saat ini karena mereka sendiri belum memiliki bukti yang nyata atas pernikahan mereka selain cincin nikah. Biarlah resepsi pernikahan mereka nantinya yang menjadi bukti perkataan Aisyah.
⚓⚓⚓
__ADS_1
Akmal memilih halaman belakang rumah yang jauh dari kebisingan untuk mengangkat telepon. Namun, bukan suara orang di seberang telepon yang ia dengar, melainkan suara orang yang berada tidak jauh darinya saat ini.
"Akmal, aku merindukanmu," ucap seorang wanita langsung memeluk Akmal dari belakang.
Hal itu berhasil membuat Akmal begitu terkejut, ia yang menyadari bahwa pelukan itu bukan dari Aisyah dengan cepat melepaskan tangan wanita itu dengan kasar.
"Via," ucap Akmal saat menyadari siapa wanita itu.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Akmal ketus.
"Kenapa bertanya begitu? Aku dan Pak Andreas adalah tamu undangan di acara ini," jawab Via santai sembari melangkah mendekati Akmal.
"Jangan coba-coba mendekatiku, Via." Tegas Akmal.
"Kenapa kamu jahat sekali padaku, Mal. Aku masih sangat mencintaimu, kamu juga masih mencintaiku kan? Buktinya sampai saat ini kamu belum menemukan penggantiku," ungkap Via.
"Kamu salah, aku bahkan sudah menikah," jujur Akmal membuat wajah Via seketika pucat.
"Apa? Menikah?" ulang Via tidak percaya.
"Iya, aku sudah menikah dengan wanita yang aku cintai," jawab Akmal sembari memperlihatkan cincinnya kepada Via.
Wanita itu tampak menggelengkan kepalanya. "Tidak, kamu jangan bohong, aku sudah memeriksamu, dan kamu tidak memiliki catatan menikah sama sekali," sangkal Via.
"Aku sudah menikah kurang lebih tiga minggu yang lalu, dan itu sah secara agama," jelas Akmal.
"Tidak, aku tidak percaya." Lagi-lagi Via menyangkalnya.
"Kenapa kau keras kepala sekali," ucapnya frutrasi. Namun, tiba-tiba ia melihat Aisyah berada di dapur yang hanya berjarak tiga meter dari posisinya saat ini.
"Jika kau tidak percaya, lihatlah di sana, dia adalah istriku," tunjuk Akmal sembari melangkah kembali ke dapur meninggalkan Via.
Dan tanpa di duga-duga, Via langsung berlari dan memeluk tubuh Akmal dari samping.
__ADS_1
"Akmal! Apa yang kamu lakukan, lepaskan aku," teriak Via seolah Akmal yang memaksa memeluknya, membuat Aisyah yang masih berada di dapur langsung melihat ke arah mereka dengan tatapan yang sulut di artikan.
-Bersambung-