
Usai mengangkat telepon dari seseorang, Akmal kembali menyelesaikan pekerjaannya seperti biasa, sementara Billy memilih berisitirahat sejenak, ia tidak ingin melakukan pekerjaannya di tempat temannya itu. Pria itu bersandar di sandaran sofa dan menutup wajahnya dengan topi yang selalu ia bawa di dalam tasnya untuk jaga-jaga.
Tok tok tok
"Permisi Pak, ada yang ingin bertemu dengan Bapak," ujar Agus.
Akmal mempersilahkan tamu yang tadi meneleponnya untuk segera masuk ke ruangannya.
"Halo Akmal, terima kasih sudah mempersilahkan aku masuk, kupikir kau akan mengusirki jika aku datang tanpa Pak Andreas," ucap seorang wanita yang tidak lain adalah Via.
"Katakan apa maumu kemari?" tanya Akmal dengan wajah datar.
"Ayolah, kamu jangan bersikap dingin kepadaku, Mal. Bagaimana pun kita pernah menjalin hubungan. Setidaknya persilahkan aku duduk bukan?"
Akmal membuang napas kasar sembari tersenyum menahan kekesalan. "Sofa di ruanganku sudah diisi oleh pria itu jadi tidak ada lagi tempat untukmu." Akmal mengedikkan dagunya ke arah Billy yang masih tertidur dengan wajah yang tertutup oleh topi.
Via menoleh ke arah sofa yang sebenarnya masih sangat luas untuk dirinya dengan wajah menahan kesal.
"Katakan padaku apa maumu kemari?" tanya Akmal lagi dengan ketus.
"Ck, padahal aku hanya ingin memintamu mengantarku ke rumah sakit, aku dengar istrimu semalam dilarikan ke rumah sakit." Via berdecak sembari berbicara pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Akmal.
Akmal mengernyitkan alisnya. "Darimana kau tahu istriku masuk rumah sakit?"
"Yaa dari orang-orang di acara semalam lah, apa kau tidak tahu, semua orang membicarakan istrimu yang meminum obat per****ng, entah untuk apa, mungkin untukmu atau untuk pria la...."
Brakk
Via te terperanjat saat mendengar suara gebrakan meja yang begitu keras, bahkan wajahnya sedikit pucat saat melihat Akmal yang kini sudah berdiri dengan tatapan tajam penuh amarah.
"Kau jangan coba-coba menyebarkan fitnah atas istriku, jika itu sampai terjadi maka aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu," ancam Akmal.
"Bukan aku yang mengatakan itu Akmal, itu karena memang istrimu yang meminum obat itu," kilah Via.
"Darimana kamu tahu jika Aisyah meminum obat itu?" sekidik Akmal.
Via seketika terdiam. "Da-dari orang-orang di sanalah."
Akmal tertawa pelan. "Orang-orang di mana maksud kamu? Semua yang ada di sana hanya mengira istriku meminim alkohol tanpa sengaja, sepertinya kau tahu sesuatu Via."
__ADS_1
"Oh, berarti aku salah, aku kan hanya menebak."
"Tadi katamu kau mendengar dari orang-orang, sekarang hanya menebak, ada apa sebenarnya denganmu? Sebaiknya aku mengecek CCTV di sana agar aku tahu kejadian yang sebenarnya," ujar Akmal tersenyum devil sembari memeriksa komputernya.
"Silahkan saja, kau tidak akan menemukan apa pun di sana," ucap Via begitu enteng.
"Hah, berarti kau memang sudah menghapusnya." Lagi-lagi Akmal berhasil memancing wanita itu.
"Apa? Hei Akmal, aku kesini dengan niat baik ingin menjenguk istrimu, tapi aku tidak tahu dia dirawat di mana, makanya aku ke sini, dan kenapa kau malah menuduhku," ujar Via mulai terlihat gelagapan.
"Sudahlah, lagi pula semua bukti dan pengakuanmu ini sudah sampai di polisi, sebentar lagi mereka akan menjemputmu." Akmal kembali mendudukkan tubuhnya di kursi sembari memijit pelipisnya dengan pelan.
"Akmal, kau tidak bisa sembarang tuduh!" protes Via tapi kali ini Akmal tidak menggubrisnya.
Hingga polisi masuk di ruangan Akmal dan langsung menyeret Via yang memberontak.
"Akmal, kau tidak bisa begini padaku. Kau tidak tahu siapa aku hah? Lihat saja, kau akan menerima balasannya," ancam Via sebelum akhirnya diseret keluar dari ruangan Akmal.
Prok prok prok
Billy bertepuk tangan sembari bangkit dari sofa. "Luar biasa, bravo. Jadi apakah urusan kita sudah selesai?"
"Tentu saja, Bro. Hubungi aku, kapan pun kau membutuhkan bantuanku. Kalau begitu aku pergi dulu."
Usai mengucapkan itu, Billy langsung keluar dari ruangan Akmal. Sementara Akmal kini sudah bisa bernapas lega. Karena wanita yang membuat ia dan Aisyah tidak tenang sudah ditahan polisi.
Akmal melirik arloji yang melingkar di tangannya. Pukul 12.00, itu artinya saat ini sudah masuk jam makan siang. Pria itu pun memutuskan untuk ke rumah sakit, ia ingin makan siang bersama istrinya.
--
Akmal memasuki rumah sakit. Ia berjalan dengan langkah lebar menuju ke ruang rawat istrinya sembari menenteng paper bag berisi beberapa kotak makanan.
Usai mengetuk pintu dan mengucapkan salam, Akmal masuk ke dalam kamar, di mana sudah ada Ibu Lina, Ibu Sofi dan Khaira.
"Nah, yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kemarilah, Nak. Aisyah dari tadi menolak untuk makan," ujar Ibu Lina sembari membawa Akmal untuk duduk tepat di samping tempat tidur Aisyah.
Akmal membuang napas lesu sembari menggenggam tangan Aisyah lalu mengecupnya dengan begitu lembut.
"Kenapa tidak mau makan, hm?" tanya Akmal dengan suara pelan.
__ADS_1
"Perutku masih sedikit mual, Mas," jawab Aisyah.
"Makan sedikit saja, setidaknya jangan biarkan perutmu kosong, Sayang," bujuk pria itu.
"Tapi, Mas ...."
"Aku membawakanmu nasi padang kesukaan kamu, mau kan?" Akmal kini mengeluarkan sebuah kotak makanan yang berisi nasi padang, aromanya sungguh menggugah selera.
"Mama, tante dan Khaira belum makan kan? Ini Akmal bawa nasi padang untuk dimaka bersama." Akmal membagikan kotak nasi itu satu per satu hingga semuanya kebagian dan tak ada lagi yang tersisa.
"Terima kasih, Om," ucap Khaira begitu riang, karena ia juga menyukai nasi padang.
"Untukmu mana, Nak?" tanya tante Sofi.
"Akmal gampang kok tante, nanti tinggal beli lagi kalau mau kembali ke kantor," jawab Akmal begitu santai.
"Kamu makan yang ini saja, Mas, aku nggak nyaman makan soalnya," lirih Aisyah.
"Kita makan sama-sama kalau begitu, sekarang tolong buka mulut kamu, aaaaa ...." Akmal mengarahkan sendok berisi makanan ke mulut Aisyah.
"Tapi ...."
"Aaaaaa." Seolah tidak ingin menerima penolakan, Akmal tetap menginstruksikan Aisyah untuk membuka mulut. Mau tidak mau, Aisyah akhirnya membuka mulut dan satu suapan berhasil masuk ke dalam mulutnya.
Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Aisyah dan Akmal secara bergantian, pria itu benar-benar makan bersama sang istri.
"Sudah, Mas. Aku udah kenyang," ucap Aisyah menutup mulutnya dengan tangan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menghabiskannya," ujar Akmal lalu kembali melanjutkan makannya hingga makanan tersebut tandas tak tersisa.
"Kata dokter, besok Aisyah sudah boleh pulang," ucap Ibu Lina.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu," ucap Akmal lalu mengecup kepala Aisyah karena begitu lega, itu artinya keadaan sang istri sudah semakin membaik.
--
Keesokan harinya, seorang wanita dengan begitu percaya diri melangkahkan kakinya keluar dari kantor polisi. Ia menatap kantor polisi di hadapannya sembari tersenyum penuh kemenangan.
"Kau tidak akan bisa memenjarakanku, lihat saja balasan apa yang akan aku berikan padamu. Anggap saja itu adalah kejutan istimewa dariku untukmu," ucapnya sembari tersenyum devil.
__ADS_1
-Bersambung-