Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Cerita Ainun


__ADS_3

Lantunan ayat suci Al-Qur'an dilanjutkan dengan ceramah yang menggema di seluruh kawasan pesantren membuat hati menjadi tentram, ilmu agama yang disampaikan bagaikan sebuah nutrisi yang menambah kekuatan iman dalam hati.


Aisyah dan Ibu Lina sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam bersama. Namun, sejak pertama kali masuk ke dapur hingga menyiapkan makanan di meja makan, Aisyah tampak murung dan tak banyak bicara.


Ibu Lina yang tidak lagi mampu menahan rasa penasaran akhirnya buka suara.


"Kamu kenapa, Sayang? Apa ini masih tentang Khaira?" tanya wanita paruh baya itu.


Terdengar helaan napas lesu dari sang putri. "Iya, Ummi, Aisyah khawatir sama Khaira. Dari tadi sore sampai sekarang dia tidak mau keluar kamar," jawab Aisyah sendu.


"Biar Ummi coba kesana, siapa tahu dia mau buka pintu, oh iya, coba kamu panggil Ainun, biasanya Khaira akan riang saat Ainun datang," kata Ibu Lina sembari menatap ke arah kamar Aisyah.


Wanita paruh baya itu langsung melangkah menaiki tangga menuju kamar di mana Khaira mengurung diri di dalam, sementara Aisyah lebih memilih menunggu di bawah sembari menghubungi Ainun. Ia tak ingin membuat Khaira kembali merasa tidak nyaman karena kedatangannya.


Tok tok tok


"Khaira, ini nenek, Sayang. Boleh nenek masuk?" tanya Ibu Lina pelan.


Tak ada sahutan dari kamar, tapi beberapa saat kemudian terdengar suara kunci pintu yang terbuka, dan terlihat Khaira membuka pintu itu.


"Nenek boleh masuk, Sayang?" tanya Ibu Lina lagi, tapi tak mendapat respon dari gadis kecil yang kini berlari kembali menaiki tempat tidur dan duduk di sana.


Ibu Lina yang memahami maksud Khaira meski tak bersuara akhirnya memutuskan untuk masuk dan ikut duduk di samping Khaira.


"Khaira kenapa? Kok cemberut gitu, Sayang?" tanya Ibu Lina dengan lembut.


"Khaira kecewa sama Ummi dan Om Akmal," jawab gadis kecil itu cemberut.


"Memangnya Ummi dan Om Akmal kenapa, Sayang?" Ibu Lina bertanya kembali meski ia sudah tahu jawabannya. Ia hanya ingin memancing Khaira untuk lebih banyak berbicara dan mengeluarkan semua unek-uneknya, setidaknya dengan begitu perasaannya bisa sedikit lega.


"Ummi, hiks, Ummi pernah janji sama Khaira kalau Ummi mau jadi Mama Khaira, tapi malah nikah sama Om. Om Akmal juga jahat, ambil Mama Khaira, hiks." Khaira kembali terisak sembari memeluk lututnya sendiri.


"Menangislah, Sayang, nenek juga kalau ada di posisi Khaira pasti sedih," jawab Ibu Lina sembari memeluknya dari samping.


Bukannya ingin mengompori, Ibu Lina hanya ingin memposisikan dirinya terlebih dahulu sebagaimana yang di rasakan Khaira.


"Tapi kita bisa apa Sayang kalau Allah sudah berkata 'Kun fayakun (jadilah! maka ia akan terjadi)', apa pun yang terasa mustahil pasti bisa terjadi. Sama dengan Ummi dan Om Akmal, mereka tidak bernah berniat untuk mengecewakan Khaira atau siapa pun, semuanya berlangsung secara tiba-tiba atas izin Allah," jelas Ibu Lina.

__ADS_1


Khaira tampak sesenggukan tapi tak lagi bersuara.


Tok tok tok


"Assalamu 'alaikum, Ummi, Khaira," ucap Ainun yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar itu lalu mencium punggung tangan Ibu Lina.


"Tante," panggil Khaira kembali terisak lalu menghambur memeluk Ainun.


"Uluh uluh, keponakan cantik tante kenapa cih, kangen yah sama tante? Tenang yah kan tante udah ada," cerocos Ainun sembari mengusap rambut Khaira.


"Ya udah, karena tante Ainun udah di sini, Nenek turun dulu yah, jangan lupa nanti turun makan malam," ujar Ibu Lina lalu segera keluar memberi waktu kepada mereka berdua untuk bersama.


"Tante, Khaira sedih," cicit gadis kecil itu sembari memeluk Ainun yang ikut duduk di atas kasur. Ia kembali bercerita kekecewaannya pada Aisyah.


"Sayang, sabar yah, tante punya cerita nih, Khaira mau dengar tidak?" Terasa sebuah anggukan dari gadis kecil itu.


"Dulu tante juga berada di posisi yang hampir sama dengan Khaira. Waktu masih kecil, tante mau banget punya adik perempuan biar bisa main boneka sama-sama, tapi Qadarullah, adik tante yang lahir malah laki-laki. Awalnya tante sama seperti Khaira kecewa sama Mama karena Mama dulu bilang mau kasi adik perempuan, dan ternyata yang lahir beda. Tapi semakin adik tante besar, tante sadar, kalau ternyata adik laki-laki tidak kalah baik dari adik perempuan karena adik laki-laki tante justru menjadi penjaga tante kalau ada yang mau ganggu tante."


Ainun menghentikan ceritanya sejenak, ia menunduk melihat Khaira yang masih setia menyimak cerita dalam pelukannya.


Ia kemudian melepas pelukan Khaira lalu menatap matanya.


"Khaira percayakan sama pilihan Allah? Pilihan Allah itu tidak pernah salah," tukasnya.


Gadis kecil itu terlihat mengangguk sembari menghapus jejak air mata di pipinya.


"Nah, jadi tidak ada yang perlu disalahkan, dan tidak perlu menyalahkan, cukup terima semua yang sudah Allah takdirkan dengan ikhlas." Lagi-lagi gadis kecil itu mengangguk paham.


"Karena sudah paham, yuk kita makan dulu, tante lapar nih," rengek Ainun dengan suara yang dibuat manja, membuat seutas senyuman terbit di wajah Khaira.


"Nah, gitu dong, itu baru namanya Khaira, yuk." Ainun mengulurkan tangan kepada Khaira dan langsung di sambut oleh Gadis kecil itu.


Mereka pun akhirnya keluar dari kamar dan turun menuju ruang makan, di mana sudah ada Kiai Rahman, Ibu Lina, Aisyah dan Akmal yang menunggu. Semua tampak diam saat Khaira ikut duduk di samping Ainun, tak ada yang berani bicara. Hanya Ainun yang sejak tadi berbicara kepadanya. Namun, semuanya tampak tersenyum melihat Khaira yang mulai kembali tersenyum.


Diam-diam Aisyah mengacungkan ibu jarinya kepada Ainun dan dibalas dengan kerlingan mata oleh gadis itu.


⚓⚓⚓

__ADS_1


Kini malam semakin larut, Ainun memutuskan untuk menemani Khaira tidur di kamar Aisyah, sementara Akmal dan Aisyah tidur di kamar tamu, dikarenakan Khaira masih sedikit gengsi untuk memulai berbicara setelah ngambek sebagaimana anak-anak pada umumnya.


Sementara di kamar tamu, lagi-lagi kecanggungan menyelimuti kedua pasangan suami istri itu. Akmal dan Aisyah sama-sama telah berbaring, keduanya terlentang menghadap langit-langit kamar yang tamaram. Jarak di antara mereka pun hanya satu jengkal karena ukuran kasur yang tidak terlalu besar.


"Ekhem." Akmal berdehem untuk mencairkan suasana. "Kamu udah ngantuk?" tanya Akmal dengan tatapan yang tidak berpaling dari langit-langit kamar.


"Belum, aku kepikiran Khaira, kenapa dia masih nggak mau bicara sama aku?" jawab Aisyah pelan juga tanpa mengalihkan tatapannya dari langit-langit kamar.


Akmal memposisikan dirinya menghadap ke arah Aisyah. "Khaira sudah bisa menerima kenyataan, hanya saja dia masih malu dan gengsi untuk mulai berbicara seperti biasa, begitulah sifatnya.


Kini giliran Aisyah yang menoleh ke arah Akmal.


"Kamu nggak usah khawatir," tukas Akmal membuat Aisyah sedikit merasa tenang.


"Terima kasih," lirih Aisyah dan di angguki oleh Akmal.


"Besok kan tanggal merah, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, apa kamu mau?"


"Kemana?"


"Besok pagi kamu akan tahu," jawab Akmal membuat Aisyah semakin penasaran.


"Baiklah," katanya pasrah.


"Aisyah, kemarilah." Akmal membuka tangannya memberikan kode kepada Aisyah untuk mendekat ke arahnya.


Dan dengan patuhnya Aisyah mendekat dan masuk ke dalam dekapan sang suami.


"Apa kamu akan selalu memakai kerudung saat bersama denganku?" bisik Akmal di dekat telinga sang istri, membuat tubuh Aisyah seketika seolah membeku.


"Eh, i-iya, maaf aku lupa," ucap Aisyah sedikit malu lalu membukanya perlahan.


Akmal semakin terpesona akan keindahan yang selalu tertutupi oleh kain bernama kerudung selama ini. "Kamu cantik," pujinya membuat wajah Aisyah memerah karena malu, ditambah tatapan Akmal yang bagai magnet membuatnya semakin salah tingkah dan menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang sang suami, pria itu tersenyum melihat tingkah sang istri yang sangat menggemaskan menurutnya.


"Tidurlah, besok kita harus bangun lebih awal untuk memulai perjalanan kita."


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2