Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Pesta Pak Andreas


__ADS_3

Suara adzan subuh berkumandang menggama di penjuru kota, membangunkan ummat muslim untuk kembali melaksanakan kewajibannya. Beribu rasa syukur terucap saat mata masih bisa terbuka, dan raga masih bisa bernapas.


Aisyah perlahan membuka matanya yang masih terasa berat karena mengalami kesulitan tidur akhir-akhir ini. Samar-samar wajah tampan suaminya menyambut pandangan awalnya. Alis tebal, hidung mancung dan bibir yang terlihat begitu proporsional dengan hidung dan garis rahangnya yang tegas.


Sejenak Aisyah mengagumi ketampanan pria di hadapannya itu, perlahan tangannya tarangkat menyentuh rahangnya dengan begitu lembut, kemudian berpindah menyentuh matanya yang masih terpejam tapi tetap memancarkan ketampanan.


"Assalamu 'alaikum, Sayang," ucap Akmal disusul dengan mata yang membuka perlahan.


Dengan gerakan cepat, Aisyah menarik tangannya menjauhi wajah sang suami karena begitu terkejut sekaligus malu.


"Wa'alaikum salam, Mas. Bangun yuk, udah adzan tuh," ucap Aisyah hendak bangkit dari tidurnya tapi di tahan oleh Akmal.


"Tunggu dulu ...."


Cup


Sebuah kecupan hangat berhasil mendarat di kening Aisyah selama beberapa detik.


"Kecupan selamat pagi untuk istriku, dan penambah semangat untukku," ujar Akmal sembari tersenyum.


"Ada-ada aja kamu, yuk bangun, nanti kamu jadi masbuk loh di masjid," Aisyah bangkit kembali lalu menarik tangan Akmal agar ikut bangkit.


"Siap, Sayang, aku siap-siap dulu." Akmal segera beranjak dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Sembari menunggu Akmal keluar dari kamar mandi, Aisyah menyiapkan baju koko dan sarung yang akan digunakan suaminya ke masjid. Tak menunggu lama, Akmal sudah keluar dari kamar mandi dan langsung berganti pakaian.


"Satu lagi biar makin tampan," ucap Aisyah sembari memasangkan peci di kepala sang suami dengan sedikit berjinjit.


"Terima kasih, Sayang. Aku berangkat dulu yah," ucap Akmal lalu segera keluar dari kamarnya.


Bersamaan dengan itu, rupanya Zafran juga ikut keluar dari kamarnya dengan penampilan rapi sama sepertinya.


"Wah wah wah, aura orang yang udah punya bini emang beda yah, kayak ada seger-segernya gitu," sindir Akmal seraya menghampiri Zafran yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.


"Sembarangan aja kamu, emang aku es buah," balas Zafran, membuat Akmal tertawa pelan.


"Yuk," ajak Akmal dan mereka pun pergi bersama ke masjid.


-


Pagi harinya setelah sarapan bersama, Akmal dan Aisyah langsung kembali ke rumahnya karena mereka tidak membawa baju ganti sementara Akmal harus berganti pakaian untuk bekerja, begitu pun Aisyah yang harus mengajar seperti biasa.

__ADS_1


"Sayang, kamu yakin nggak mau aku antar jemput? Naik motor itu bahaya loh," ucap Akmal saat Aisyah sedang membantunya mengancingkan kemeja.


"Nggak usah, Mas. Kamu akan kerepotan kesana-kemari di jam makan siang, yang ada nanti kamu malah nggak sempat makan, lagian aku tuh lebih nyaman pake motor," tolak Aisyah halus.


"Ya udah kalau gitu, tapi kamu hati-hati yah, ingat, biar lambat asal selamat."


"Insya Allah Mas, yuk."


Mereka pun akhirnya berangkat kerja di waktu yang bersamaan tapi tidak bersama. Aisyah pergi ke sekolah dan Akmal pergi ke kantor.


Sepanjang perjalanan, Aisyah kembali mengingat jawaban sang suami atas pertanyaan yang ia ajukan semalam. Rasanya ia sangat bahagia dan sedikit lega, sebab dari sekian banyak pria yang pernah ia ajukan pertanyaan, hanya Akmal yang memberikan jawaban beda dari yang lain dan jawaban itu yang sangat di harapkan oleh Aisyah.


Tapi, bukankah yang namanya hati manusia itu dapat berubah kapan saja?


Tiba-tiba pertanyaan itu melintas di pikiranya, senyuman kebahagiaan yang tadinya terukir indah perlahan kembali memudar, percakapannya dengan bude Luna selalu saja membuatnya khawatir akan luka di masa lalunya.


"Semoga Akmal tidak seperti Zaid."


-------


Akmal kini telah berada di ruang kerjanya. Karena Zafran hari ini dan beberapa hari ke depan akan cuti, maka mau tidak mau, ia yang harus mengambil alih semua pekerjaan kakak sepupu sekaligus bosnya itu.


Tok tok tok


"Masuk!" titah Akmal.


Tak lama kemudian Novi masuk ke dalam ruangan Akmal sembari membawa sebuah undangan.


"Maaf, Pak, ini ada undangan untuk Bapak," ucap Novi sembari meletakkan undangan tersebut di meja Akmal.


"Undangan anniversari Pak Andreas yah?" Akmal membaca tulisan berwarna gold yang menghiasi amplop undangannya.


"Iya, Pak. Acaranya besok malam," jawab Novi.


"Baiklah, terima kasih," ucap Akmal lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.


Begitu pun dengan Novi yang langsung keluar dari ruangan itu, ia tak ingin lagi berlama-lama di dalam ruangan Akmal sebab, jiwa jomblo Novi seakan selalu ingin menarik perhatian Akmal tiap kali melihatnya. Namun, saat mengingat status pria itu yang sudah beristri, rasanya ia tidak sanggup untuk hanya sekadar bertatap muka dengannya.


Keesokan harinya.


Sebuah paket datang ke rumah Aisyah dan Akmal tepat saat Aisyah baru saja pulang dari sekolah.

__ADS_1


"Paket dari siapa yah?" monolog Aisyah sembari mencari nama si pengirim di kotak yang berukuran agak besar, tapi tak kunjung ia temukan, hanya ada namanya sebagai si penerima paket.


Merasa takut dengan kotak misterius itu, Aisyah memutuskan untuk tidak membukanya sama sekali. Ia berencana meninggalkannya begitu saja di sofa ruang tamu tanpa ingin melihatnya sebelum Akmal datang.


Tiba-tiba ponsel Aisyah berbunyi pertanda ada yang menelepon. Dengan cepat Aisyah mengangkat telepon itu saat mengetahui bahwa yang meneleponnya saat ini adalah suaminya.


"Assalamu 'alaikum," ucap Aisyah.


"Wa'alaikum salam, gimana Sayang? Apa kamu sudah menerima paketnya?" Aisyah mengerutkan keningnya lalu beralih menatap paket yang masih terbungkus rapi di atas sofa.


"Oh, jadi itu paket dari kamu?"


"Iya Sayang, tadi pagi kan aku udah bilang kalau nanti malam kita berdua akan menghadiri acara Pak Andreas, nah kamu pake gaun itu yah, nanti setelah pulang aku akan menjemput kamu dan kita pergi bersama," jelas Akmal di seberang telepon.


"Oh oke, baiklah," ucap Aisyah.


Panggilan pun berakhir setelah keduanya mengucapkan salam.


Aisyah segera mengambil kotak itu dan membukanya. Terlihat sebuah gaun pesta berwarna emerald green, dengan bagian rok yang sedikit mengembang, dan bagian atas yang tidak terlalu ketat dan juga tidak terlalu longgar. Tak hanya itu, sebuah kerudung pasmina syar'i berwarna hitam beserta cadarnya, juga sepatu high heels yang yang tidak terlalu tinggi berwarna senada dengan gaunnya sudah tersedia dalam kotak itu, membuat Aisyah hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan karena sedikit terpana dengan gaun yang simpel tapi elegan dan berkelas.


"Cantik banget gaunnya," mata Aisyah berbinar menatap gaun itu. Sangat indah tapi tidak mencolok, tidak gelap dan juga tidak terang.


-


Beberapa jam kini berlalu, Akmal tiba di rumah usai melaksanakan sholat maghrib. Pria itu lagi-lagi terlambat pulang seperti kemarin, pekerjaannya begitu banyak sejak kemarin karena Zafran yang cuti untuk bulan madu.


"Sayang?" panggil Akmal sembari memasuki rumahnya dengan langkah lebar.


"Iya, Mas. Tunggu bentar, aku udah siap kok," sahut Aisyah dari kamar.


Tak lama setelah itu, Aisyah keluar dari kamar dengan penampilan yang sangat anggun bak putri kerajaan. Akmal yang melihat istrinya hanya bisa melongo tidak percaya dengan mulut yang terbuka.


Bagaimana tidak, Aisyah terlihat sangat cocok dengan gaun yang ia berikan siang tadi. Dengan gaun berwarna emerald green debgan rok yang mengembang dan menutupi kakinya, dipadukan dengan pasmina hitam yang menutupi bagian dada dan perut pada bagian depan dan menutupi bokong pada bagian belakang. Jangan lupakan cadar hitam yang menutupi wajah cantiknya, sangat teduh dan menenangkan hati.


"Kamu cantik," puji Akmal, membuat Aisyah sedikit salah tingkah. "Ayo tuan putri," ajak Akmal sembari mengulurkan tangannya dan langsung di gandeng oleh Aisyah.


Mobil pun akhirnya melaju meninggalkan kediamannya menuju ke hotel di mana acara Pak Andreas sedang berlangsung.


"Saat tiba di sana, Aisyah langsung di sambut dengan keberadaan Via yang tersenyum penuh arti kepadanya.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2