Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Ungkapan Cinta


__ADS_3

Matahari perlahan terbit di ufuk timur, tetes demi tetes embun mulai membasahi permukaan tanaman yang subur. Udara segar begitu terasa menyejukkan hati, menjadi penyemangat akan indahnya mewujudkan mimpi.


Sebuah mobil melaju membelah kabut di pagi hari, kala jalanan masih tampak lenggang oleh kendaraan. Sebagaimana perkataan Akmal malam itu, hari ini pasangan suami istri itu memulai perjalanan yang agak panjang menuju ke suatu desa yang cukup jauh dari keramaian kota.


Untuk saat ini hanya Aisyah dan Akmal yang pergi, sementara Khaira dan Ainun memilih tempat jalan-jalan mereka sendiri yang tentunya lebih menyenangkan untuk anak seusianya.


Sudah satu jam berlalu sejak mobil yang di kendarai Akmal dan Aisyah meninggalkan kota. Kini mereka melalui jalanan yang lebih asri, tak banyak kendaraan, dan suasana di pinggir jalan yang dipenuhi perkebunan, sangat sejuk dan indah dipandang mata.


Perjalanan masih berlanjut hingga 2 jam kemudian, saat mobil mereka memasuki sebuah desa yang memiliki jalanan sempit dan tidak rata oleh bebatuan kecil, meski begitu pemandangan di desa itu sangat indah, rumah-rumah warga yang tidak terlalu berdekatan cukup sederhana tapi tampak begitu nyaman.


Aisyah bukanlah anak dari desa, kedua orang tuanya berasal dari kota besar yang sama dengan kehidupan modern, sehingga hanya dengan melihat pemandangan desa itu sudah cukup membuat wanita bercadar yang duduk di samping Akmal terpukau.


"Apa kamu menyukai pemandangannya?" tanya Akmal.


"Iya, aku menyukainya, Mas," jawabnya sembari tersenyum bahagia.


"Sekedar informasi, ini adalah desa almarhum ayahku, dia dilahirkan di sini, dan minta dimakamkan di sini," terang Akmal.


Aisyah menoleh ke arah sang suami dan menatapnya dalam, entah apa yang sedang dipikirkannya mengenai pria di sampingnya itu.


"Kita sudah sampai." Akmal menghentikan mobilnya di depan tempat pemakaman di desa itu.


Pria itu turun dari mobil bersamaan dengan Aisyah yang juga ikut turun.


"Kemarilah." Akmal menggandeng tangan Aisyah memasuki area pemakaman tersebut. Mereka terus melangkah hingga tiba di sebuah makam dengan batu nisan yang bertuliskan 'Almarhum Syarif'.


Akmal berjongkok lalu menyiramkan air di kuburan sang ayah lalu membacakan doa, Aisyah ikut mengikuti apa yang di lakukan sang suami hingga pria itu menyelesaikan doanya.


"Assalamu 'alaikum, Ayah, ini Akmal. Maaf karena Akmal tidak datang bersama Mama dan Aira. Mama dan Aira kemarin langsung kembali ke kota B karena Aira akan ujian skripsi. Sebagai gantinya, Akmal datang bersama Istri Akmal, namanya Aisyah. Ayah tahu, dia wanita istimewa setelah Mama. Di pertemuan pertama dia sudah membuat Akmal jatuh hati, di pertemuan kedua dia sudah membuat Akmal selalu merindukannya, dan di pertemuan ketiga dia berhasil membuat Akmal jatuh cinta."


Aisyah begitu terkejut mendengar pengakuan Akmal di hadapan kuburan ayahnya. Bahkan matanya kini berkaca-kaca karena merasa tersentuh oleh pengakuan sang suami, meski pria itu mengakui perasaannya tidak secara langsung.

__ADS_1


"Ayah, Allah sangat baik yah, padahal Akmal sempat patah hati karena ternyata waktu itu Bang Zafran sudah melamar Aisyah lebih dulu, tapi di tengah kepasrahan Akmal, Allah justru mengembalikan Aisyah kepada Akmal, bahkan dengan cara tak terduga." Akmal tampak mengusap matanya yang mulai berembun.


Aisyah merangkul tangan suaminya, air matanya bahkan ikut menetes mendengar pengakuannya pagi ini.


"Assalamu 'alaikum, Ayah, ini Aisyah, menantu Ayah. Aisyah mau cerita, satu tahun lalu, Aisyah mendengar suara seseorang mengaji, suaranya indah sekali, beberapa hari selanjutnya Aisyah mendengarnya adzan dan mengaji lagi, saking indahnya suara itu, Aisyah tidak sadar sudah jatuh hati sama si pemilik suara."


Akmal merasa sedikit kecewa mendengar cerita Aisyah, sepertinya memang Aisyah tidak mencintainya, begitu pikir Akmal saat ini.


"Tapi, setelah sekian lama Aisyah tidak mendengar suaranya, akhirnya beberapa hari yang lalu Aisyah mendengarnya lagi di balkon kamar hotel tengah malam, dan Ayah tahu siapa dia? Ternyata dia putra Ayah."


Akmal langsung menoleh menatap Aisyah yang juga menatapnya sembari tersenyum di balik cadarnya.


"Allah Maha baik, mempertemukan dan menjadikan orang yang Aisyah kagumi menjadi suami Aisyah," tukasnya sembari menatap lekat manik mata Akmal yang kini kembali berkaca-kaca. Di usapnya mata pria itu dengan lembut agar tak sampai mengeluarkan air mata.


Keduanya saling menatap dalam diam, kini terlihat jelas tatapan penuh cinta di antra keduanya. Cinta yang selama ini mereka pendam dalam diam, kini berhasil di ungkapkan.


⚓⚓⚓


"Setelah ini kita mau ke mana, Sayang?" tanya Ainun bersemangat.


"Khaira capek, Tante. Khaira mau telepon Papa boleh?" tanya Khaira yang secara tidak langsung meminta Ainun untuk menghubungi ayahnya karena dia belum diberi izin memiki ponsel.


"Oh, boleh, kamu hafal kan nomor Papa kamu?" Khaira mengangguk menjawab pertanyaan Ainun.


Khaira pun mulai melakukan video call kepada Zafran menggunakan ponsel milik Ainun.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya terlihat wajah Zafran di dalam layar ponsel tersebut.


"Assalamu 'alaikum, Papa," ucap Khaira dengan senyuman yang merekah di wajah mungilnya.


"Wa'alaikum salam, Sayang. Khaira menelepon pake ponsel siapa ini? Kok bukan ponsel nenek atau Ummi Aisyah?" tanya Zafran di seberang telepon.

__ADS_1


"Khaira lagi pake ponselnya tante Ainun, soalnya lagi jalan-jalan sama tante Ainun, nih tante Ainun." Khaira mengarahkan ponselnya kepada Ainun yang sedang duduk di sampingnya sembari meminum air di botol.


"Assalamu 'alaikum, Ainun," sapa Zafran begitu ramah.


"Wa'alaikum salam, Pak Zafran," sahut Ainun tak kalah ramah.


Zafran baru hendak membuka mulut untuk kembali berbicara dengan Ainun, tapi dengan cepat Khaira kembali mengarahkan ponsel ke wajahnya.


"Papa kapan pulang?" tanya Khaira dengan suara manjanya.


"Insya Allah minggu depan, Sayang. Tunggu Papa dan Oma, yah," jawab Zafran.


"Yeeee, sebentar lagi dong, asikkk," pekik Khaira begitu girang.


Terdengar suara tawa Zafran dan Ibu Sofi di seberang telepon mendengar ocehan kegembiraan dari Khaira.


Seakan teringat akan sesuatu, Khaira seketika terdiam.


"Oh iya, kalau Papa pulang ke sini, Papa harus bawa Mama untuk Khaira, kalau tidak tante Ainun yang akan jadi Mama Khaira," ancam Khaira seketika membuat Ainun yang kembali meminum airnya tersedak hingga batuk-batuk.


"Hah? Insya Allah, Sayang," jawab Zafran kebingungan. "Ya udah, sudah dulu yah Sayang, Assalamu 'alaikum," ucap Zafran mengakhiri video call-nya sebelum ancaman lain keluar dari mulut putrinya itu.


⚓⚓⚓


Sementara di Singapura, Zafran dan ibu Sofi yang mendengar ancaman Khaira kini saling pandang, dan di detik berikutnya Ibu Sofi tertawa lepas, dan Zafran hanya tersenyum sembari geleng-geleng kepala.


"Ma, cucu Mama kok ada bakat jadi mak comblang yah," canda Zafran.


"Itu karena kamu nggak kunjung kasi Khaira Mama," jawab Ibu Sofi di sela tawanya.


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2