
Ridwan tampak mengusap wajahnya kasar dengan raut wajah yang sudah tidak lagi bersahabat. Ia menatap tajam Ainun dan Khaira secara bergantian.
"Oh, jadi kamu ingin membohongi aku yah, hah?" tanya pria itu dengan suara yang sedikit meninggi.
"Aku tidak membohongi kamu," ujar Ainun cepat sebelum di potong lagi sama Khaira.
"Ih, kok Om marahi Mamanya Khaira, sih?" Gadis kecil itu maju ke hadapan Ridwan dan membelakangi Ainun sembari berkacak pinggang.
Bukannya menjawab, Ridwan malah membuang napas kasar sembari tertawa getir.
"Sudahlah Ainun, tadi kamu protes tawaran menikah yang ku majukan kan? Oke, kalau begitu aku batalkan sekalian, aku sangat tidak menyukai pembohong, apalagi sampai menyembunyikan status," ucapnya lalu pergi meninggalkan Ainun dan Khaira.
Ainun melongo melihat sikap Ridwan yang tidak memberinya kesempatan untuk meluruskan kesalahpahaman. Ya, kesalahpahaman yang telah dibuat oleh bocah tengil di hadapannya ini.
⚓⚓⚓
Aisyah dan Akmal sedang duduk di atas pelaminan. Dari jauh, mereka dapat melihat Ainun masuk sembari menggandeng tangan Khaira menuju ke tempat duduknya bersama para Ustadzah Pesantren sebelumnya.
Namun, saat di tengah jalan, Khaira melepaskan tangan Ainun dan langsung berlari ke atas pelaminan menemui Aisyah dan Akmal. Gadis kecil itu membisikkan sesuatu kepada pasangan pengantin itu kemudian terlihat senyuman terbit di wajah Akmal dan Aisyah.
"Tos!" ujar Akmal sembari mengangkat tangannya ke arah Khaira.
"Mission completed! Good girl," pujinya kepada Khaira sembari mengacungkan ibu jarinya. Setelah itu, Khaira kembali turun dan duduk bersama Ainun.
"Mas, apa tindakan kita ini tidak jahat, kok aku jadi kasihan sama Ustadz Ridwan?" tanya Aisyah sedikit ragu.
"Kok kasihan? Memangnya kamu nggak dengar, kata Khaira Ridwan yang membatalkan semuanya saat itu juga," jelas Akmal.
"Iya, tapi kan itu termasuk bohong, Mas, dosa loh!"
"Kita nggak berbohong, Khaira kan memang mau menjadikan Ainun Mamanya, jadi apa salahnya kalau dia memanggil Ainun dengan sebutan 'Mama'. Lagian kita hanya ingin menguji seberapa besar Ridwan siap menerima Ainun apa adanya, dan kamu lihat? Hanya mendengar perkataan anak kecil, dan tanpa ada usaha untuk mencari tahu dulu, dia langsung memutuskan pembatalan nikah secara sepihak."
Aisyah tampak memikirkan apa yang dikatakan sang suami. Dan ia mengaggukkan kepalanya setuju dengan perkataan Akmal. Jika hal kecil saja dapat membuat Ridwan langsung memutuskan hal besar, lalu bagaimana nantinya jika ia sudah menikah dan menemukan satu kekurangan Ainun yang tidak ia sukai?
"Jadi gimana sekarang?" tanya Aisyah lagi.
__ADS_1
"Yah, apalagi? Lanjut rencana selanjutnya dong," jawab Akmal sembari menaik turunkan alisnya.
⚓⚓⚓
Setelah acara resepsi selesai, semua keluarga memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing, kecuali sang pengantin baru. Mereka memutuskan untuk tinggal satu malam untuk kembali berbulan madu ala pengantin baru, meski pada kenyataannya mereka sudah tidak sebaru itu.
"Mas, tolong bantuin bukain kerudungku dong, banyak banget jarum pentulnya," pinta Aisyah.
"Siap Ratuku," ucap Akmal bersemangat sembari menggoda sang istri.
A view moments later ...
"Duh, nih orang mungkin mau nyuruh kamu jual pentul kali yah, banyak banget." Mulut Akmal senantiasa berkomat-kamit seiring dengan semakin banyaknya pentul yang ia cabut dari kerudung Aisyah yang dihias dengan mahkota dan beberapa bunga di sisi kerudungnya.
Aisyah hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi lucu Akmal di balik cermin. "Mas masih banyak yah?"
"Entahlah, Sayang, sepertinya masih ada satu box pentul yang tersembunyi di sini," jawabnya dengan wajah serius dan alis yang bertautan karena fokus mencari pentul yang berukuran kecil.
Hingga beberapa menit berlalu, Akmal kini telah menyelesaikan urusannya dengan pentul. Ia membantu Aisyah membuka kerudung dan gaun sang Istri.
Setelah semuanya beres dan Aisyah sudah lebih dulu masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, kini giliran Akmal yang membuka setelan jasnya lalu memakai baju kaos dan celana selutut, ia duduk di tempat tidur sembari mencari kata-kata indah di gugel yang akan ia gunakan untuk menggoda sang istri di malam pengantin mereka.
"Ah, lebay sih ini," ucapnya lagi sembari mencari gombalan lain. Entah kenapa malam ini ia semakin bertambah semangat untuk menjalankan ibadah bersama sang istri.
"Mas," teriakan Aisyah dari dalam kamar mandi.
"Iya, Sayang. Ada apa?" tanya Akmal mendekati kamar mandi.
"Mas, tolong belikan aku pembalut dong, aku dapet nih," seru Aisyah tanpa membuka pintu kamar mandi.
"Hah? Dapet apa, Sayang?" tanya Akmal masih belum paham dengan permintaan Aisyah.
"Aku datang bulan, Mas. Tolong belikan aku pembalut yah," pinta Aisyah lagi.
"Apa?" Bagaikan tertimpa reruntuhan, tubuh Akmal seketika terasa lemas.
__ADS_1
"Gagal deh persiapanku," lirih Akmal tak bersemangat, lalu berjalan gontai keluar kamar untuk membelikan Aisyah pembalut.
⚓⚓⚓
Akmal sudah berada di minimarket, ia berdiri tepat di depan rak tempat berkumpulnya pembalut dengan berbagai merek dan model.
"Aku harus beli merek apa dan model yang mana yah?" batinnya menyisir semua jenis pembalut dengan matanya.
"Dengan sayap? Wih keren nih, kayak merpati bersayap aja, bisa terbang dong."
"Panjang 30 cm, 32 cm, 45 cm? Dih banyak banget ukurannya, udah kayak diapers anak bayi aja."
"Siang dan malam? Apa ini aturan pakainya? Ribet amat."
Dan 30 menit berlalu, Akmal masih setia mengamati satu per satu keterangan di pembalut tersebut.
⚓⚓⚓
"Papa, bacain Khaira cerita sebelum tidur dong," pinta Khaira saat Zafran mengantar sang putri ke kamarnya.
"Boleh, boleh, Khaira mau di bacakan cerita apa, Sayang?" tanya Zafran.
"Cerita tentang Nabi Muhammad saat masih kecil," jawab Khaira.
"Oke, Papa cari bukunya dulu yah." Zafran melangkah ke lemari buku yang berada di kamar Khaira. Ia mengambil sebuah buku yang sesuai dengan permintaan sang putri.
Zafran membaringkan tubuh Khaira lalu ia duduk di sampingnya, lalu perlahan ia mulai membacakan cerita.
Hingga beberapa menit berlalu.
"Papa, kasihan yah Nabi Muhammad, saat masih di dalam perut Ayahnya meninggal, saat masih kecil Ibunya lagi yang meninggal, Khaira mengerti perasaannya, hiks, pasti Nabi sedih dan kesepian, iya kan, Papa?" ungkap Khaira dengan sebulir air mata yang berhasil menerobos dari matanya.
"Iya, Sayang. Tapi meski begitu, banyak yang menyayangi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Sayang. Karena beliau baik dan suka menolong sesama," jelas Zafran.
"Khaira juga mau jadi anak yang baik, biar semua orang sayang Khaira," katanya. "Oh iya, Papa, kapan Papa kasi Mama Khaira? Papa udah janji loh," tanya Khaira, seketika membuat lidah Zafran terasa kelu dan tenggorokannya terasa kering. Ia bahkan tidak tahu jawaban apa yang harus ia berikan kepada sang putri.
__ADS_1
"Maafkan papa, Nak. Lagi-lagi Papa harus merelakan calon Mama kamu untuk orang yang sudah melamarnya lebih dulu," batin Zafran lesu.
-Bersambung-