
Kepercayaan itu bukan hanya tentang apa yang dia jaga di sana, tapi juga tentang apa yang kamu yakini terhadapnya di sini.
Jika ia lemah, terpisah sejengkal saja hati akan gelisah, jika ia kuat, meski dibentangkan oleh beribu-ribu benua sekali pun hati akan tenang.
⚓⚓⚓
Desiran ombak menjadi pemandangan pertama pagi itu bagi seorang pria beralis tebal. Embusan angin laut yang sudah lama tidak ia rasakan bagaikan obat penawar rindu yang begitu ampuh akan pekerjaannya. Namun, tidak dengan rindu akan sang istri yang sudah hampir sebulan tidak pernah bersua dengannya. Rasanya begitu menyiksa, andai bisa mungkin ia sudah membawa istrinya untuk ikut bersamanya.
"Cie ela, mentang-mentang dah nikah, bawaannya melamun mulu, lihat aku nih, udah lama nikah bahkan sudah berekor tapi nggak gitu amat," celoteh Agung.
"Apaan sih kau, sibuk, sana sana jangan mengganggu," usir Akmal kepada teman lamanya itu.
"Hahaha sensi amat sih, asal kau tahu yah, dulu aku juga seperti kau ini. Tapi asal kau memegang kunci hubunganmu dengan baik, maka hatimu akan tenang," jelas agung.
Akmal mengernyitkan alisnya. "Kunci? Apa maksudmu?"
"Kepercayaan dan kesetiaan, hubungan jarak jauh seperti kita ini sangat rentan. Makanya jika ingin awet, pegang kunci itu."
Akmal mengangguk menyetujui perkataan pria beranak dua itu. Selama ini ia selalu setia pada hubungannya, meski pada akhirnya ia dikhianati, tapi tidak kali ini, sebab Aisyah adalah wanita berakhlak baik, dan ia percaya wanita itu tidak akan pernah mengkhianatinya.
"Btw, bukankah istrimu itu wanita bercadar yang pernah kita lihat di dermaga waktu itu?" tanya Agung.
"Dari mana kau tahu istriku?" selidik Akmal.
"Ya dari mana lagi, waktu kau di antar istrimu ke dermaga lah, mana so sweet bangat lagi pake acara peluk-pelukan segala. Jujur saja, aku tidak menyangka dia kini menjadi istrimu, " ungkap Agung.
"Yah, kau benar, Gung, aku juga tidak menyangka bisa menikah dengannya," ucap Akmal menatap laut lepas sembari tersenyum.
⚓⚓⚓
Aisyah sedang bersiap ke sekolah pagi ini, ia berjalan turun dari kamarnya untuk sarapan bersama kedua orang tuanya. Sudah sebulan sang suami pergi berlayar, dan sudah sebulan pula wanita itu tinggal bersama ibu dan ayahnya atas izin Akmal tentu saja.
"Apa kamu tidak pernah berkomunikasi dengan suamimu, Nak? Ini sudah sebulan," tanya Ibu Lina saat mereka semua sudah berkumpul untuk sarapan bersama.
"Belum, Ummi. Sulit menemukan jaringan komunikasi di tengah laut, Aisyah memaklumi itu," jawab Aisyah.
"Semoga Akmal tidak seperti Zaid," gumam Ibu Lina lalu menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Tentu saja, abi yakin dia setia. Meski masih muda, Akmal itu teguh pendirian dan penyayang, abi bisa melihatnya saat dia menjaga Zafran di Singapura, dan saat dia tinggal di sini," ujar Kiai Rahman.
"Iya Abi, Mas Akmal memang sangat penyayang, Aisyah juga yakin Mas Akmal setia." Aisyah ikut menimpali perkataan ayahnya.
__ADS_1
Usai menyelesaikan sarapannya, Aisyah akhirnya berangkat ke sekolah seperti biasa dengan motor matic pink-nya. Jalanan yang mulai padat akan kendaraan sama sekali tak menghalangi jalannya untuk tetap melajukan motornya.
Hingga tidak terasa, Aisyah telah tiba dan memarkir motornya di halaman sekolah. Di saat ia hendak melangkahkan kakinya memasuki ruangan guru, suara cempreng anak kecil membuat wanita itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara.
"Ummiiii," panggil Khaira yang di susul oleh Ainun di belakangnya.
"Assalamu 'alaikum," ucap Aisyah sembari membungkukkan tubuhnya agar bisa memeluk gadis kecil itu.
"Wa'alaikum salam, Ummi," jawab Khaira seraya membalas pelukan Aisyah.
"Ai, kok kamu kesini? Emang tubuh kamu udah enakan?" tanya Aisyah.
"Alhamdulillah, udah mendingan, lagi pula udah lama aku nggak nganterin Khaira ke sekolah," jawab Ainun.
Aisyah membungkukkan tubuhnya hingga sejajar dengan perut Ainun. "Assalamu 'alaikum, Sayang. Bagaimana kabarmu di dalam, Nak? Jangan nyusahin Mama kamu yah, kasihan dia," ujar Aisyah.
Ya, Ainun saat ini tengah mengandung buah hatinya bersama Zafran. Usia kandungannya sudah memasuki 5 minggu dan itu membuat Ainun mengalami morning sickness yang cukup berat beberapa hari kemarin.
"Ummi Ummi, kata Mama, adik Khaira udah sebesar biji kacang ijo loh, wah Khaira nggak sabar mau main sama adik," ungkap gadis kecil itu begitu girang.
Aisyah tertawa melihat kegirangan Khaira, dalam hati kecilnya berharap semoga saat suaminya tiba nanti ia juga bisa segera hamil, sungguh ia sangat merindukan kehadiran buah hati saat ini.
Setelah berbincang sejenak dengan Aisyah dan memastikan Khaira masuk ke dalam kelas, Ainun memutuskan untuk segera kembali ke rumah, sementara Aisyah memilih masuk ke ruang guru terlebih dulu.
"Oh iya, Bu, insya Allah," jawab Aisyah.
"Dengar-dengar Bu Nur lagi hamil muda yah?" tanya salah satu guru yang ikut menghampiri mereka.
"Iya, Bu, alhamdulillah, ini makanya lagi istirahat total soalnya dia lagi morning sickness, oh iya kalau Bu Aisyah apa sudah isi juga?"
"Belum, Bu. Mohon doanya biar disegerakan juga yah," ucap Aisyah tersenyum.
"Aamiiin, anak itu amanah, Bu. Insya Allah kalau udah waktunya pasti dikasi sama Allah, yang penting sabar," ujar guru wanita itu.
--
Jam sekolah kini telah berakhir semua siswa dan beberapa guru sudah pulang ke rumah masing-masing. Aisyah pun hendak pulang ke rumahnya siang ini, ia berencana membersihkan rumahnya dan berisitirahat sejenak di sana.
"Aisyah," panggil seorang wanita, membuat Aisyah tidak jadi menyalakan motornya.
"Via? Mau apa dia?" batin Aisyah saat melihat Via menghampirinya.
__ADS_1
"Bisa kita bicara?" tanya Via.
Aisyah sejenak berpikir, entah kenapa perasaannya mengatakan kali ini Via datang ingin kembali membuat masalah.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanyanya.
"Ini tentang Akmal." Kali ini wajah Via mulai tampak sendu.
"Ikut aku." Aisyah berjalan lebih dulu menuju ke taman dekat sekolah itu.
"Sekarang cepat katakan apa yang ingin kamu bicarakan," kata Aisyah datar.
"Begini, sebenarnya aku tidak ingin melibatkanmu dalam masalah kami, aku terpaksa menemuimu karena sudah beberapa kali aku berusaha menghubungi Akmal tapi ponselnya tidak pernah aktif."
Aisyah masih diam mendengarkan cerita Via.
Sebenarnya, dua bulan yang lalu aku dan Akmal pernah ...." Via menggantungkan kata-katanya.
"Pernah apa?" tanya Aisyah mulai merasa tidak enak.
"Kami ... kami pernah nginap di hotel bersama dan melakukan " itu", dan sekarang aku hamil anaknya, aku ingin dia bertanggung jawab atas anaknya ini," ungkap Via dengan mata yang mulai memerah.
Degh
Jantung Aisyah seketika berdegup kencang, bahkan kepalanya saat ini bagaikan tertimpa benda berat yang membuatnya sakit dan berdenyut. Namun, dengan cepat ia berusaha menetralkan jantungnya agar tetap terlihat tenang.
"Mana buktinya?" tanya Aisyah dengan sorot mata tajam, wanita itu semakin geram dengan Via karena selalu ingin merusak rumah tangganya.
"Ini buktinya." Via mengeluarkan foto hasil USGnya dan memberikannya kepada Aisyah.
Aisyah memperhatikan semua isi yang ada di foto itu. "Ini benar punya kamu kan?" tanyanya kemudian.
"Iya, lihatlah perutku, ini adalah bukti nyata jika aku sedang hamil anak suamimu," jawab Via begitu percaya diri sembari memperlihatkan perutnya yang sedikit buncit.
Aisyah tersenyum lalu mendekati Via.
Plak
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Via, dan
Plak
__ADS_1
Tamparan kedua mendarat di pipi kiri Via, bahkan sebelum wanita itu melayangkan protesnya.
-Bersambung-