Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Tulang Rusuk


__ADS_3

"Akmal! Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" Suara teriakan seorang wanita membuat Aisyah melangkah keluar menghampiri sumber suara.


"Ada apa ini?" tanya Aisyah sembari menatap Akmal dan Via secara bergantian dengan tatapan datar.


"Ini, Mbak, Akmal memaksa memelukku, padahal aku sudah mencoba menolaknya," adu Via yang tentu saja hanya sebuah kebohongan.


"Tidak, Sayang, aku tidak melakukan apa pun kepadanya, dia bohong," sangkal Akmal cepat.


"Mbak, kami dulu memiliki hubungan kekasih, dan sepertinya dia masih menginginkan aku untuk menjadi kekasihnya, makanya dia memaksa memelukku tadi," ujar Via dengan suara yang dibuat bergetar.


"Astaghfirullah, percaya padaku, Sayang, apa yang dikatakannya semua bohong." Terlihat raut wajah sendu bercampur khawatir dari pria itu.


Memang benar, salah satu fitnah terberat dalam hidup adalah fitnah wanita, dan kini Akmal merasakannya. Ia hanya berharap semoga Aisyah mau mempercayainya.


"Mbak, apa Mbak mendengarkanku?" tanya Via yang sama sekali tidak mendapat respon dari Aisyah.


"Aku nggak menyangka, kamu tega melakukan itu," lirih Aisyah yang kini tertunduk.


"Tidak, Sayang. Tolong percaya padaku," pinta Akmal memegangi tangan Aisyah, sementara Via kini tersenyum penuh kemenangan.


"Siapa nama kamu, Mbak?" tanya Aisyah menatap wanita di hadapannya.


"Via, Mbak," jawab Via percaya diri.


"Sayang, percayalah padaku," ucap Akmal yang kini sedikit memelas.


"Sayangnya, aku tidak percaya padamu ... Mbak Via!" tegas Aisyah lalu menggenggam tangan Akmal, membuat Via membulatkan matanya menatap wanita bercadar itu.


"Mbak, tapi Akmal benar-benar memelukku tadi," ujar Via berusaha meyakinkan.


Aisyah tersenyum di balik cadarnya. "Kamu tahu, Mbak? Wanita itu sangat istimewa, Allah menciptakan mereka dari tulang rusuk pria, dekat dengan tangan untuk dilindungi dan dekat dengan hati untuk dicintai. Tapi apa jadinya jika wanita yang harusnya dilindungi justru menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam lubang fitnah? Dan bagaimana juga ia dicintai jika dengan bangganya ia merendahkan harga dirinya sendiri hanya untuk mendapatkan pria yang sudah beristri?"


Via terdiam mendengar penuturan Aisyah.


"Mbak, sebagai sesama wanita, aku ingin mengatakan, tolong jangan membuat fitnah demi merusak rumah tangga orang lain, karena pada akhirnya Mbak sendiri yang akan hancur," lanjut Aisyah.


"Kalau begitu kami permisi," pamit Aisyah lalu menarik tangan Akmal meninggalkan Via sendiri.

__ADS_1


Sementara Via kini hanya diam tertunduk dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.


"Awas kamu Aisyah," geramnya tertahan sembari meremas bajunya dengan kuat hingga urat tangannya terlihat.


⚓⚓⚓


Aisyah singgah kembali di dapur untuk mengambil air minum, berbicara panjang lebar membuat kerongkongannya terasa kering.


"Makasih, Sayang udah percaya padaku," ucap Akmal sembari menatap sang istri yang masih asik menuangkan air guna membasahi kerongkongannya sembari duduk di kursi meja makan.


"Alhamdulillah," ucap Aisyah setelah menghabiskan air minumnya dalam tiga tegukan.


"Iya, Mas. Tadi aku sempat mendengar pembicaraan Mas dengan Mbak Via, terima kasih karena telah jujur mengakui pernikahan kita," ucap Aisyah.


"Memangnya apa alasanku harus berbohong, Sayang?" Akmal menautkan kedua alis tebalnya.


"Ya siapa tahu kan, pernikahan kita masih terhitung nikah siri soalnya, belum ada bukti kuat selain cincin kita," cicit Aisyah lesu.


Akmal tersenyum melihat sikap sang istri yang tadi begitu tegar dan sekarang malah terlihat lembek.


"Memang apa bedanya? Sama aja tuh, dan aku bahagia, aku hanya minta kamu bersabar sebentar yah, kita harus berunding dengan Bang Zafran dan Tante Sofi, ini sebagai bentuk penghargaan kepada mereka yang sudah berkorban sehingga kita bisa bersatu," ujar Akmal mendekati Aisyah dan hendak memeluknya, tapi gerakannya terhenti oleh suara seseorang.


Akmal dan Aisyah saling memandang lalu detik berikutnya mereka tertawa bersama.


⚓⚓⚓


Beberapa hari kemudian, Aisyah dan Akmal mulai mempersiapkan resepsi pernikahan mereka yang akan berlangsung 2 minggu dari sekarang atas kesepakatan Zafran dan keluarga besar mereka.


Mulai dari hotel tempat acara akan berlangsung dan cathering makanan, hingga fitting baju telah selesai dilakukan. Undangan pun telah selesai di cetak, hanya tinggal menunggu waktu pengiriman.


"Aisyah, gimana sih rasanya menikah?" tanya Ainun.


Saat ini mereka sedang menghabiskan waktu bersama selama seharian, dan semua itu adalah permintaan Ainun. Entah kenapa gadis itu tiba-tiba ingin menghabiskan waktu berdua saja bersama sang sahabat. Mulai dari jalan-jalan bersama di Mall, hingga nongkrong di Cafe berdua seperti yang mereka lakukan saat ini, yah mumpung hari ini sedang tanggal merah.


"Gimana yah, mungkin bahagia," jawab Aisyah jujur sembari terkekeh.


"Sya, kok aku jadi pengen nikah juga yah, duh jiwa jombloku meronta-ronta," ujar Ainun secara gamblang.

__ADS_1


Ya, jika berbicara bersama Aisyah, Ainun tidak mampu untuk menyembunyikan isi hatinya, meskipun itu adalah hal memalukan yang pada akhirnya kadang membuat sahabatnya itu menertawakannya.


"Kenapa nggak nikah aja, Ainun?"


"Hah? Pertanyaan apa itu? Gimana mau nikah kalau yang mau nikahin aku aja belum datang," keluhnya malas. "Eh, ngomong-ngomong, Ustadz Ridwan itu orangnya gimana yah? Dia sering menghubungi aku soalnya," ungkap Ainun.


Aisyah mengernyitkan alisnya. "Ustadz Ridwan menghubungi kamu? Dalam rangka apa?"


"Yaa hanya tanya kabar aja sih, dia juga pernah bilang mau silaturrahmi ke rumah tapi sampai sekarang dia tidak kunjung datang tuh," jawab Ainun.


"Emm, Ainun, coba aja kamu sholat istikharah, biar kamu yakin," ujar Aisyah memberi saran.


Sejujurnya Aisyah tidak terlalu yakin jika Ainun bersama dengan Ustadz Ridwan sebab karakter pria itu hampir mirip dengan Zaid, plin-plan. Tapi walau bagaimana pun juga, ia tidak bisa menilai hanya dari satu sisi, keputusan terbaik adalah minta petunjuk dari Allah.


"Iya juga yah." Ainun tampak menganggukkan kepalanya sembari menyeruput jus jeruknya.


"Ainun, jika kamu dilamar sama Pak Zafran, kamu mau nggak?" tanya Aisyah, membuat Ainun seketika tersedak oleh minumannya.


"Uhuk uhuk, duh Sya, kalau ngomong kira-kira dong, masa iya aku sama pria yang pernah menjadi calon suami kamu," protes Ainun.


"Memangnya ada yang salah, kamu juga nggak merebut dia dari aku kan."


"Iya juga sih, tapi ...." Ainun menggantungkan kata-katanya.


"Tapi apa? Kamu nggak suka duda?" selidik Aisyah.


"Bukan gitu, aku nggak permasalahin masalah itunya, aku hanya merasa nggak sebanding dengan dia, kedua orang tuaku hanya pedagang di toko kecil-kecilan, aku sekolah hingga kuliah di Kairo pun karena beasiswa, sedangkan dia seorang CEO, terlalu jauh perbedaan kami, yang ada nanti Pak Zafran menjadi bahan gunjingan di kalangan para pebisnis karena memiliki istri sepertiku," tuturnya lesu.


Aisyah membuang napas kasar melihat Ainun yang terlalu merendahkan dirinya.


"Eh, sekarang udah jam berapa yah? Suka lupa waktu nih kalau nongkrong sama kamu, Sya," celoteh Ainun sembari memeriksa ponselnya.


Namun, matanya seketika membola saat melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dan sebuah pesan dari sang ibu.


Ibu Sayang


Assalamu 'alaikum, Nak. Kamu di mana? Ibu telepon kok nggak di angkat? Ustadz Ridwan ada di rumah sekarang, dia mencari kamu, cepat pulang sekarang yah, ibu tunggu.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2