Dermaga Cinta Aisyah

Dermaga Cinta Aisyah
Jika Memang Jodoh


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan siang bersama, Pak Andreas memutuskan untuk langsung pamit pulang. Selain tidak ada lagi yang perlu ia bicarakan, pria paruh baya itu merasa tidak nyaman setelah mendapat jawaban menohok dari Akmal sebelumnya.


“Maaf Pak, saya minta izin sebentar, saya ingin bicara dengan Pak Akmal," ujar Via kepada Pak Andreas saat mereka ingin keluar dari ruang VIP tersebut.


Sejenak Pak Andreas menatap Akmal lalu menganggukkan kepala kepada Via. "Baiklah, saya akan menunggumu di mobil," ujar Pak Andreas lalu segera keluar dari ruangan itu.


Fadil yang mengerti akan situasi akhirnya ikut pamit keluar lebih dulu karena ingin memberikan privasi kepada bosnya.


“Akmal,” panggil Via dengan suara pelan.


"Kurasa kita tidak punya urusan yang perlu dibicarakan," ujar Akmal datar sembari melangkahkan kakinya hendak keluar dari ruangan itu.


"Tunggu, Akmal." Via dengan cepat mencekal tangan Akmal dan refleks pria itu langsung menyentakkan tangannya hingga tangan Via terlepas dari tangannya.


“Akmal, beri aku kesempatan untuk bicara!” ujar Via sedikit meninggikan suaranya.


“Tidak ada yang perlu di bicarakan,” tolak Akmal lagi.


“Aku akui dulu aku memang menduakanmu dengan Pak Andreas, aku minta maaf untuk itu. Tapi kamu harus tahu, alasanku kemarin melakukan itu karena keterpaksaan Akmal, adikku divonis penyakit langka, dan saat itu aku sangat membutuhkan uang yang banyak untuk pengobatannya, aku tidak mungkin memintanya kepadamu karena kamu juga harus membiayai ibu dan adikmu," ungkap Via dengan suara bergetar dan air mata yang mulai berkumpul di pelupuk matanya.


Akmal terdiam sejenak mencerna apa yang baru saja di katakan wanita di hadapannya itu.


Akmal membuang napas kasar. "Jadi karena itu kamu juga mengatakan bahwa aku bekerja sebagai nelayan? Tidak kusangka sebegitunya kau merendahkanku di hadapan Pak Andreas hanya untuk menarik simpatinya," sesal Akmal kepada wanita itu.


“Maafkan aku, aku benar-benar terpaksa melakukannya,” Via mulai menangis di hadapan Akmal.


“Terserah saja, apapun alasannya saat itu, aku tak memiliki urusan lagi denganmu saat ini,” ucap Akmal lalu kembali melangkah keluar dari ruangan itu.


“Akmal, beri aku kesempatan untuk kembali padamu, kumohon, aku masih mencintai kamu,” teriak Via ikut keluar dari ruangan itu, membuat semua pengunjung restoran menoleh ke arah mereka.


Akmal sedikit tertawa kecut lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Via tanpa menoleh lagi ke belakang. Membuat wanita itu menangis tersedu-sedu. Ia tak peduli jika saat ini ia menjadi tontonan semua orang di restoran itu.

__ADS_1


⚓⚓⚓


Sepanjang perjalanan pulang, Akmal lebih banyak diam, tampak jelas mood pria itu sedang kurang baik. Sementara Fadil yang sejak tadi menyetir hanya bisa memperhatikan bos yang duduk di sampingnya itu menggunakan ekor matanya.


Sejujurnya ia merasa penasaran dengan pekerjaan bosnya itu sebelum masuk di perusahaan, apa benar dia adalah seorang nelayan?


“Apa kau juga penasaran dengan pekerjaanku sebelum masuk ke perusahaan?” tanya Akmal seolah tahu rasa penasaran yang sedang hinggap di pikiran Fadil saat ini.


“Maaf, Pak,” ucapnya tidak enak.


Akmal tersenyum sejenak lalu membuang napas kasar. “Aku memang tidak memiliki basic dalam dunia bisnis, aku dulu kuliah di sekolah tinggi pelayaran, dan aku bekerja sebagai jurumudi di kapal tugboat, kapal yang mengangkut batu bara dari daerah tertentu untuk selanjutnya di pindahkan di bulk carier setelah ada yang membelinya," jelas Akmal.


Sementara Fadil masih fokus menyetir sembari menyimak cerita bosnya.


"Yah, pendapatannya tentu saja berbeda dengan menjadi CEO di perusahaan tapi aku bersyukur karens dengan itu aku bisa menyekolahkan adikku dan memenuhi kebutuhan harian Ibu dan Adikku tiap bulannya,” lanjut Akmal menjelaskan.


“Aku bukan nelayan, tapi aku sangat tidak suka orang yang merendahkan orang lain hanya karena pekerjaannya," terang Akmal, membuat Fadil langsung mengangguk paham.


⚓⚓⚓


Di Singapura, Zafran sedang menonton TV bersama sang ibu. Pria itu tampak begitu santai seolah ia tak memiliki beban apapun dipikirannya.


"Nak, Mama penasaran dengan hatimu saat ini," ujar Ibu Sofi membuka percakapan di antara mereka.


"Mama penasaran tentang apa?" tanya Zafran disertai senyuman di wajahnya.


"Apa hatimu baik-baik saja setelah melepaskan Aisyah?" tanya Ibu Sofi.


"Tentu saja, bahkan Zafran merasa lega bisa menyatukan Aisyah dengan pria yang tulus mencintainya tanpa mempermasalahkan status dan kekurangannya," jawab Zafran begitu tenang.


"Lalu kamu bagaimana, Nak?"

__ADS_1


"Ma, jodoh tidak akan kemana, setelah kejadian ini, Zafran semakin yakin bahwa Aisyah memang bukanlah jodoh Zafran. Buktinya, perjuangan Zafran untuk mendapat kata 'iya' dari Aisyah membutuhkan waktu lama, belum lagi sakit yang kemarin membuat Zafran merasa semakin jauh dari Aisyah. Sangat berbeda dengan Akmal yang tidak membutuhkan waktu lama untuk sekadar mendapat kata 'iya' dari Aisyah." Akmal menghentikan perkataannya sejenak.


"Jika Allah menakdirkan Zafran bertemu dengan jodoh di dunia ini, insya Allah pasti akan bertemu, mengenai kapan dan di mana, kita serahkan saja semuanya kepada Allah," lanjut Zafran.


"Hatimu terlampau lapang, Nak. Mama banyak belajar dari kamu. Semoga jodohmu kelak tidak jauh berbeda dengan Aisyah, bahkan lebih baik dari Aisyah."


"Aamiiin, terima kasih Ma karena tidak menentang keputusan Zafran melepaskan Aisyah waktu itu."


"Iya, Nak, mama mengerti situasi kamu saat itu," ucap Ibu Sofi. "Oh iya ngomong-ngomong, apa kamu tidak tertarik dengan Ainun? Mama lihat dia baik banget, donor ginjal kamu kan dia yang nyariin, padahal kita bukan siapa-siapa dia," lanjut Ibu Sofi sembari senyum-senyum sendiri membayangkan wajah gadis yang cantik nan teduh itu.


"Hahaha, Mama bisa aja, kalau dia memang jodohnya Zafran, pasti kami akan bersatu, dan kalau bukan pasti kami akan semakin menjauh," ujar Zafran di sela tawanya.


⚓⚓⚓


 


Hari semakin sore, langit biru kini berganti menjadi jingga yang cukup indah dan menenangkan saat dipandang. Angin sepoy-sepoy sore itu bertiup begitu lembut membuat cadar seorang wanita yang sedang duduk di ayunan depan rumahnya tampak melambai pelan.


"Ummiii," panggil Khaira menghampiri Aisyah yang tampak sedang duduk menikmati suasana sore itu.


"Iya, Sayang, sini duduk di samping Ummi," ajak Aisyah sembari menarik tangan Khaira untuk duduk bersama di ayunan.


"Ummi, Papa dan Oma kok belum pulang sih, Khaira kangen banget nih," adu Khaira dengan wajah sendunya.


"Sabar yah, Sayang, insya Allah tidak lama lagi Papa dan Oma pulang kok, yang penting Khaira selalu berdoa setelah sholat untuk kesembuhan Papa," ujar Aisyah sembari merangkul pundak kecil Khaira dan dijawab dengan anggukan oleh gadis kecil itu.


Aisyah sejenak terdiam, ia kemudian teringat akan sesuatu.


"Oh iya, Sayang, Ummi mau ngomong sesuatu sama kamu."


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2