Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab. 11 : Kenapa bisa tersebar?


__ADS_3

"Bagaimana bisa jadi seperti ini hah?" Suara menggelegar penuh amarah terdengar memenuhi sebuah ruangan.


"A—aku ti—tidak tau," jawab seorang wanita cantik berpakaian cukup minim, wanita itu menunduk kepalanya, terlihat jelas jika ia kini tengah ketakutan, bahkan berbicara pun terbata-bata.


"Bagaimana kamu tidak tau hah? Dari mana mereka dapat Poto itu, dan kini tersebar di mana-mana!" Rey menatap wanita yang ada di hadapannya itu dengan tajam, wanita tak lain adalah Lian—sekertarisnya.


Poto mereka yang tidak senonoh kini tersebar di media sosial dan menjadi viral. Di mana Rey dan Lian tengah bertautan bibir dengan kondisi tanpa busana, Rey yakin jika Poto tersebut pasti di ambil pada tempo hari lalu. Di mana ia menolong Lian yang terkena efek obat perangsang.


"Aku benar-benar tidak tau Rey. Dan mana mungkin aku menyebarkannya! Apa kamu kira aku bodoh, aku masih punya harga diri! Kamu sendiri tau bukan kondisi aku saat itu, aku setengah sadar gara-gara obat sialan itu. Mana mungkin aku mengambil Poto kita berdua!"


Rey terdiam, dengan nafas yang masih memburu, dadanya kembang kempis tak karuan. Yang di katakan Lian ada benarnya juga, tidak mungkin wanita itu yang menyebarkan. 'Sial siapa yang menyebarkan semuanya? Apa jangan-jangan gara-gara hal ini, para investor ku memutuskan kerja sama, belalang ini?' batin Reyhan.


Rey menyugar rambutnya dengan kasar, lalu ia menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruangannya itu. Lian yang sedari berdiri pun mengikuti Rey, ia duduk di samping laki-laki itu.


"Rey, tenangkan dirimu," ucap Lian, ia mengelus bahu Reyhan. Namun dengan cepat Reyhan menjauh darinya.


"Jangan sentuh aku! Ini semua gara-gara kamu Lian!" pekiknya.


"Kenapa aku yang di salahkan?" tanya Lian kesal, tentu saja ia tidak mau di salahkan. Dan mengenai Poto itu, Lian benar-benar tidak tahu siapa yang mengambilnya dan menyebarkannya sampai jadi viral. Tapi Lian tidak terlalu peduli, justru ia senang.


"Diam kamu! Kamu memang bersalah. Kamu yang sudah merayuku pada malam itu, jika saja kamu tidak merayuku, aku tidak Sudi berhubungan dengan kamu! Dan gara-gara kamu juga hubunganku dengan Tiara jadi berantakan!" bentak Rey.


"Siapa yang merayu kamu? Aku hanya minta tolong. Dan masalah hubungan kamu dengan Tiara, dia saja yang terlalu berlebihan. Bukankah kamu sudah meminta maaf padanya. Jadi jangan salahkan aku atas semua yang terjadi, karena kamu juga saat itu sama-sama menikmati!"


"Kamu dengan Lian, ini bukan hanya masalah hubunganku dengan Tiara, tapi tentang Perusahanku juga. Sebaiknya kamu keluar dari sini, berbicara denganmu hanya membuatku semakin pusing!" usir Rey pada Lian.


Wanita itu terlihat kesal, lalu ia pun beranjak keluar dari ruangan Rey.


"Sial! Kenapa jadi seperti ini? Kenapa aku bisa melakukan hal bodoh? Dan bagiamana bisa Poto itu tersebar, siapa yang memotretnya. Seingat ku di rumah saat itu tidak ada siapa-siapa!" gumam Reyhan penuh kegelisahan.


"Aku harus segara mencari tahu siapa yang menyebarkan Poto sialan itu! Seperti aku harus menghubungi seseorang juga untuk melenyapkan Poto itu dari semua media sosial!"


Rey pun mengambil ponselnya, ia menghubungi temannya, di mana temannya itu memang sangat ahli di bidang tersebut.


Setalah menelepon temannya itu, Rey pun kembali mengecek sosial medianya, syukur sudah tidak di temukan lagi Poto sialan itu.


"Kau memang sangat bisa diandalkan. Semoga saja Poto itu tidak terlihat oleh Tuan Smith, jangan sampai dia melihatnya. Bisa-bisa dia membatalkan perjanjian kontrak kerja sama dengan perusahaan ku ini. Tamatlah riwayatku, jika itu semua terjadi, hanya dia satu-satunya harapanku."


Rey menghelai nafasnya, setidaknya saat ini ia merasa sedikit lega, kerena Poto yang tersebar itu sudah musnah.


Satu lagi yang belum selesai, Rey harus mencari tahu siapa dalang di balik semua itu. Siapa yang ingin menghancurkan Reyhan? Seingatnya ia tidak punya musuh sama sekali?


"Tiara... Apa mungkin dia yang menyebarkannya semua ini?" gumamnya.

__ADS_1


"Aku harus segara menemuinya. Awas saja jika benar dia yang menyebarkannya aku tidak akan segan-segan memberikan perhitungan padamu Tiara!" garam Rey.


Rey pun beranjak dari sana, ia meninggalkan kantornya itu, pergi menuju Rumah sakit untuk menemui istrinya itu.


.


.


.


"Tiara kamu baik-baik sajakan?" Tanya Dokter Marvin pada wanita itu.


Tiara bergeming, entahlah. Mulut terasa sangat kaku, sulit untuk berkata-kata. Jelas saja Tiara terkejut, melihat Poto suami dengan Sekertarisnya itu tidak senonoh tersebut di dunia maya.


"Tiara..." Dokter Marvin menyentuh bahu Tiara, menyadarkan wanita itu dari lamunan.


Tiara tersentak, "maaf saya permisi." Hanya itu yang terlontar dari mulutnya, tanpa menunggu jawaban dari Dokter Marvin, Tiara pun berlalu dari sana.


Entahlah, Tiara tidak tau harus senang atau tidak? Sakit atau bahagia. Perasaan bercampur aduk, sakit mengingat kejadian tersebut, di mana suami bermain dengan Lian di atas ranjangnya. Namun di sisi lain, ada rasa puas di hati Tiara. Dengan tersebarnya Poto itu, pasti Rey dan Lian merasa malu. Biarlah itu menjadi pelajaran untuk mereka.


'Tapi siapa yang sudah menyebarkan Poto itu, bahkan itu Poto seperti hasil secensrut, aslinya seperti sebuah Video? Apa mungkin mereka sengaja membuat Video menjijkkan itu, dan mereka kecolongan?' batin Tiara bertanya-tanya.


'Sudahlah itu bukan urusanku. Tapi selanjutnya aku harus bagaimana? Apa aku menuruti kata Tari saja? Karena aku pun sudah tidak ingin hidup dengan Mas Rey. Tapi bagaimana nasib Tari?' batin Tiara lagi. Ia benar-benar merasa dilema.


Tiara hanya bisa menghelai nafas beratnya. Sebenernya ia merasa sangat lelah, sejak orang tuanya meninggal dunia. Tiara benar-benar merasakan hidup teramat pedih.


"Nona Tiara..."


Sontak Tiara pun langsung menghentikan langkahnya. Lalu mencari sumber suara tersebut.


Netranya menangkap pada seorang laki-laki yang kini terlihat tengah berjalan kearahnya.


"Tuan Ken?" gumam Tiara. Tiara nampak bingung, untuk apa laki-laki itu datang ke sini? Saat ini Tiara merasa menyesal, kenapa ia bisa bertemu dengan mereka, berurusan dengan orang kaya, sungguh rumit. Pikirnya.


"Tuan Ken, ada apa ya?" tanya Tiara pada laki-laki berperawakan tinggi dengan tubuh yang atletis, wajahnya tidak perlu di ragukan lagi. Ia sangat tampan. Apa lagi penampilannya yang sangat rapi, membuat laki-laki terlihat sempurna.


"Tuan Smith ingin bertemu dengan Nona, ada yang ingin beliau bicarakan pada Nona. Mari Nona ikut saya," ajak Ken.


"Tapi..."


"Tenang saja Nona Tiara, saya tau Nona saat ini masih kerja. Tapi saya sudah minta izin pada yang bersangkutan untuk membawa anda," jelas Ken. Memotong ucapan Tiara.


Tanpa menunggu jawaban dari Tiara, Ken terlihat berjalan terlebih dahulu.

__ADS_1


Tiara masih diam mematung. Rasanya ia ragu untuk mengikuti langkah laki-laki itu.


Ken yang menyadari pun, ia menghentikan langkahnya kakinya itu sejenak, lalu menoleh kearah Tiara.


"Sampai kapan anda akan berdiri di sana. Tuan Smith sudah menunggu anda, saya harap anda tidak membuatnya menunggu terlalu lama!" ujar Ken, dengan ekspresi wajah datarnya.


Tiara tersenyum kaku, lalu ia pun mulai berjalan mengikuti laki-laki itu.


'Sebenarnya meraka mau apa? Kok aku jadi deg-degan gini ya?' batin Tiara.


Ken membawa Tiara ke salah satu Restoran yang jaraknya tidak jauh dari Rumah sakit tersebut.


Tuan Smith tersenyum ramah, saat melihat Ken yang bersama Tiara kini tengah menghampiri.


"Silahkan duduk Suster Tiara," ucap Tuan Smith.


Tiara hanya mengangguk pelan, lalu ia pun duduk di kursi yang ada di hadapan Tuan Smith.


"Maaf, ada apa ya Tuan?" tanya Tiara pada intinya. Tiara tidak mau berlama-lama juga berada di sana. Entahlah ia merasa tidak nyaman saja.


"Sebaiknya kita pesan minum sama makan dulu saja, bagaimana?" Bukankah menjawab pertanyaan Tiara, Tuan Smith malah menawarinya makan di sana.


"Maaf Tuan, saya masih kenyang. Dan saya tidak bisa berlama-lama di sini, karena ini masih jam kerja saya," tolak Tiara dengan halus.


"Baiklah." Tuan Smith masih menampakkan senyumnya ramahnya pada Tiara. Membuat Tiara merasa gugup, ia juga semakin penasaran, apa yang akan di bicarakan oleh laki-laki parubaya itu.


"Begini, saya ingin menawarkan sesuatu pada kamu." Tuan Smith mulai mengeluarkan suara kembali.


"Maksud Tuan?"


"Apa kamu mau berkerja pada saya?" tanya Tuan Smith.


"Kerja? Maaf kerja apa ya Tuan? Seperti saya tidak bisa, soalnya saya sekarang sedang berkerja juga." tolak Tiara dengan cepat, namun sebisa mungkin Tiara menolak secara halus.


Tuan Smith terlihat melebarkan senyumnya, "jangan menolak dulu, bahkan saya belum memberi tahu kamu, apa pekerjaan yang saya tawarkan." ucap Tuan Smith sambil terkekeh pelan.


"Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak pada saya. Tenang saja, saya di sini hanya ingin menawarkan pekerjaan pada kamu. Dan tentu saja perkerjaan ini tidak akan membuat kamu keluar dari zona keahlian kamu. Dan tentu saja sangat menguntungkan bagi kamu," sambung Tuan Smith.


Tiara terdiam, ia mencoba mencerna semua ucapan yang di lontarkan oleh laki-laki parubaya yang ada di hadapannya itu.


Dia benar-benar misterius, pikir Tiara.


Bersambung...

__ADS_1


Hay-hay, jangan lupa like, komen dan votenya. Sawer otor juga, wkwkwk


Terima kasih.


__ADS_2