Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab 48. Jangan Bercanda!


__ADS_3

“Hah?” ucap mereka serentak, tentu saja mereka terkejut mendengar perkataan yang baru saja keluar dari pria yang kini tengah duduk di sofa single di dekat mereka itu.


“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Teo, pria itu memasang wajah datarnya, seakan apa yang ia barusan bukanlah hal yang mengejutkan.


“Kak, jangan bercanda deh, kita semua lagi serius!” tegas Zalleta.


“Apa kamu lihat Kakak bercanda, Dek? Kakak juga serius kok,” sahutnya acuh tak acuh. Tapi raut wajahnya memang tidak bisa di tebak, benar atau tidaknya pernyataannya itu.


Sementara Tuan Smith, Nyonya Henzy dan Ken terlihat tersenyum tipis, mereka bertiga memang sudah bisa menebak sejak lama, jika Teo diam-diam menyukai Suster Tiara, namun mereka juga tahu sikap egois seorang Teo, apa lagi dengan gengsinya yang tinggi, ya kali mau jujur!


Lain halnya dengan Tiara, wanita itu masih terlihat terkejut sambil menatap Tuan Mudanya itu.


“Baiklah, kita atur pernikahan kalian,” seru Nyonya Henzy.


Deg!


Tiara langsung mengalihkan pandangan pada wanita itu, kini ekspresi wajah Tiara semakin terkejut.


Menikah? Dengan Teo, si Tuan Muda yang menyebalkan dan emosian, kasar, tidak!


‘Apa-apaan mereka, kenapa situasinya jadi serumit ini, aku menikah dengan dia, hastaga! Tidak, membayangkannya saja aku tidak pernah,’ batin Tiara.


“Emm ... maaf Nyonya, saya tidak bisa keren sa...”


“Kenapa? Kerena kamu tidak mencintai saya? Begitu! Masalah cinta itu gampang, kita bisa menikah dulu, bukannya cinta itu berawal dari terus bersama dan seiring berjalanya waktu cinta itu pasti akan tiba, kamu pasti akan mencintai saya!” sela Toe, belum saja Tiara menyelesaikan ucapannya itu.


Lah, kok begini? Kenapa kesannya Teo seperti tengah memaksa, lagian Tiara belum berpikir untuk menikah lagi, pernah gagal tentu saja itu menjadi alasan bagi Tiara, terlebih ia harus menikah dengan si Tuan Muda, tidak! Apa kata dunia?


SUDAH GILAAAA!


“Benar Kak, yang dikatakan Kak Teo, masalah cinta mah gambang, aku yakin nanti Kakak juga bakalan cinta sama Kakak aku yang gentengnya kelewatan itu, ya walaupun dia menyebalkan tapi dia aslinya baik kok, aku jamin 1000 persen Kak, kalau dia macam-macam nanti Kakak suntik mati aja dia!” timpal Zalleta.


Sontak semua orang langsung menatap kearah gadis itu, Teo dengan tatapan tajamnya, Tiara dengan mata yang membuat sempurna, sementara Tuan Smith dan sang istri serta Ken, terlihat menahan tawanya.


“Tapi, maaf Dek, Kakak gak bisa,” tolak Tiara.

__ADS_1


Ia tidak tahu apa keputusannya itu benar atau tidak, tapi untuk menikah memang Tiara belum siap, ada rasa trauma di hati Tiara sebab pernikahan pertamanya dengan Reyhan gagal, kerena Reyhan-nya tidak baik. Tidak seperti yang dikatakan oleh orang-orang.


“Kak, aku tahu apa yang Kakak rasakan dan Kakak pikirkan, tapi coba pikirkan lagi. Maaf bukan aku memaksa Kakak, tapi aku juga ingin melihat Kakak bahagia, pernah gagal bukan berarti semua itu usai Kak, tidak, gagal itu salah satu cobaan dimana kita akan menemukan kebahagiaan, aku yakin Kak Teo pasti akan membahagiakan Kakak, membalut sampai sembuh luka di hati Kakak yang tertoreh akibat luka di masa lalu,” ujar Zellata, gadis itu menatap penuh harap pada Tiara yang sudah ia anggap sebagai wanita yang paling berjasa dalam hidupnya.


Tiara terdiam, entahlah.


“Saya akan memberikan kamu waktu, kita mulai semuanya dari nol dulu, aku dan kamu bukan atasan dan majikan, bukan suster dan bayi gede, yang sering kamu bilang. Saya tidak akan memaksa kamu, jika kamu cocok setalah mengenal bagaimana saya, mari kita lanjutkan, jika tidak, saya serahkan semua sama kamu,” ucap Teo.


Namun sayangnya perkataannya tersebut, malah mendapatkan gelak tawa dari orang tuanya, adik dan Ken.


Tapi tidak dengan Tiara, wanita itu masih terdiam sambil menundukkan kepalanya.


Teo keheranan, padahal ia sudah merangkai kata-kata tersebut sebaik mungkin, kenapa mereka malah tertawa?


Ya, bagaimana tidak tertawa? Kata-kata Teo memang cukup dramatis tapi mengapa harus ada kata ‘Bayi gede’ tentu saja kata tersebut menimbulkan gelak tawa.


“Aku tidak sedang melawak! kenapa kalian tertawa?” kesal Teo.


“Lah ngakgak, bisa-bisanya kata-kata dramatis dibikin lawak, dasar bayi gede!” sahut Zalleta.


Teo kembali menatap kearah Tiara yang kini masih menundukkan kepalanya, ada sedikit geram di hati Teo, melihat wanita itu hanya diam saja. ‘Awas saja kalau dia menolakku, apa pun caranya aku harus bisa mendapatkan dia, titik!’ ucap Teo dalam hatinya.


“Baiklah, ayo kita bicarakan semua ini dengan serius!” Tuan Smith membuka suara, lalu pria parubaya itu menatap menatap Teo dan Tiara secara bergantian.


Jujur Tuan Smith memang merasa bahagia saat Teo mengatakan jika putranya itu ingin menikah Suster Tiara, tapi minat reaksi Suster Tiara, ia tidak yakin wanita itu mau dengan putra.


Sebisa mungkin Tuan Smith memutar otaknya, mencari cara agar Tiara tidak bisa menolaknya, setidaknya memberikan dulu kesehatan pada mereka untuk saling mengenal lebih dalam lagi.


“Suster Tiara, dan kamu Teo, ikut keruangan saya sekarang,” pinta Tuan Smith pada mereka.


Tiara pun langsung mengangkat kepalanya, ia terlihat bingung, untuk apa? Sumpah Tiara benci posisi seperti ini, ia sudah bisa menebak, seperti Tian Smith akan melakukan negosiasi padanya.


“Ayo," ajaknya.


Teo terlihat mengangguk kepalanya, begitu pun Tiara, ia terpaksa mengikuti langkah Tuan Smith. Mereka bertiga pun menuju ruangan orang pribadi milik pria parubaya itu.

__ADS_1


“Mah, kok Papa malah bawa mereka sih?” protes Zellata, “kan semuanya belum selesai,” sambungnya gadis itu terlihat kesal.


“Sudahlah, biar Papa yang urus, yakin aja kita, Suster Tiara sama Teo pasti bakalan menikah," sahut Nyonya Henzy sambil tersenyum merekah.


“Mamah mau ke kamar dulu, mau ganti baju, dah,” sambungnya lalu beranjak dari sana.


Kini hanya tinggal Zellata dan Ken yang masih berada di sana. Tiba-tiba saja suasana menjadi hening, mereka terlihat sama-sama gugup.


“Gimana Nona, apa ada semuanya baik-baik saja?” tanya Ken, basa-basi memecah keheningan tersebut.


“Emm ... baik, kenapa bertanya seperti itu?”


“Apa tidak boleh?” Ken menatap kearah gadis itu.


Ah sial, kenapa detak jantung Zellata jadi tidak karuan!


“Mau melihat ke sekitar? Sudah lama bukan tidak melihat suasana rumah ini?” tawar Ken.


“Emm ... bo—boleh.”


Mereka pun beranjak dari sana, Ken mengajak Zalleta berjalan-jalan di sekitar rumah tersebut.


Sementara itu, Tiara, Teo dan Tuan Smith kini sudah berada di ruangan milik Tuan Smith.


“Maaf, sebenernya ada apa ya Tuan saya diajak ke sini?” tanya Tiara, dengan ragu-ragu ia membuka percakapan diantara mereka.


Bersambung...


Like


komen


vote


Jangan lupa yaaaa...

__ADS_1


__ADS_2